Kamis, 11 Oktober 2018

Buku Mengantarkanku ke Negeri Jiran

Alhamdulillah, Sabtu (6 Oktober 2018) lalu saya dan suami akhirnya menginjakkan kaki di negaranya Upin dan Ipin. Yap! Kualumpur, Malaysia.

Ngapain ke sana? Main?

Uhm, biar gampang anggap saja begitu.

Gaya bener main sampai Malaysia! Banyak duit, ya?

Duh, jangan nyinyir dulu deh. Saya ceritain deh ya kenapa saya bisa sampai ke sana.

SEMUA BERAWAL DARI MEMBACA BUKU!

Dua tahun lalu saya mengikuti lomba menulis resensi yang diadakan oleh Kiky Aurora. Saya membeli buku Mbak Kiky, lalu memberikan ulasan tentang bukunya. Singkat cerita, saya menang! Alhamdulillaaah... Saya yang baca pengumuman sambil tiduran langsung jingkrak-jingkrak dan cerita sama orangtua.

Tapi... saya nggak bisa berangkat di tahun itu karena akan menikah. Akhirnya saya undur ke tahun 2017. Dan ternyata... ada banyak sekali halangan di tahun itu.

Saya sempat bilang sama Mbak Kiky, saya nggak akan ambil hadiahnya karena merasa nggak mungkin bisa berangkat. Supaya Mbak Kiky pun plong. Tapi alhamdulillah saya bisa berangkat di tahun 2018.

Waktu Mbak Kiky membelikan tiket, saya dan suami masih tinggal di Jakarta. Kami sepakat beli tiket dari Jakarta langsung ke KL. Daripada pulang ke Bandung dulu, nanti ribet. Siapa menduga kalau Allah punya kehendak lain? Beberapa bulan setelah beli tiket, saya dan suami justru pindah ke Bandung. Mau nggak mau deh kami harus ke Jakarta dulu.

Hal pertama yang saya rasakan ketika sampai di Kualumpur adalah... panas! Seperti di Jakarta. Dan banyak banget orang India atau Bangladesh. Di mana-mana! Awal-awal saya malah merasa ada di India, bukan di KL. Hahaha.

Jalanannya sepiii. Jauh deh sama Bandung, apalagi Jakarta. Jalan raya rasa jalan tol. Mobil ngebut-ngebut. Motor cuma sedikit dan nggak ada angkot. Kendaraan umumnya ya bus, taksi, atau kereta. Eh, ini yang saya temukan lho ya. Entah di tempat lain begini juga atau nggak.

Kami menginap di Hotel Newton, daerah Subang, Selangor, agar dekat dengan tante. Lagi pula, kami memang nggak bawa banyak bekal. Pas-pasan banget. Alhamdulillah tante traktir kami makan selama di sana. Hehe.

Hari Sabtu, saya dan suami nggak ke tempat wisata. Hanya sempat mencari tempat makan dan ke hotel untuk istirahat.

Hari Minggu, 7-Oktober-2018, barulah kami jalan-jalan ke Batu Caves. Cuma sempat datang ke satu tempat doang karena lamaaa banget dapet bus.


Untuk sampai ke Batu Caves, dari hotel saya harus jalan dulu ke halte, naik bus Rapid yang datangnya lamaaa banget. Ongkosnya 3RM. Oh ya, uangnya juga harus pas. Kalau nggak pas, kita harus nukerin uang dulu gitu.


Setelah naik bus Rapid tujuan Pasar Seni, kami naik MRT. Beli kartu dulu 20RM. Untungnya kartunya bisa dipake apa aja, jadi bisa dibilang agak hemat gitu. Naik MRT ke KL Central, lalu lanjut LRT ke Batu Caves. Di Batu Caves pun nggak lama. Cuma naik aja, liat yang lagi ibadah, terus pulang karena sudah terlalu sore.

Oh ya, ada sedikit pengalaman yang sebaiknya kalian nggak tiru.

Jadi, waktu pulang dari Batu Caves itu, saya dan suami mencari mushala. Kami sampai di stasiun Batu Caves dan nanya ke sekuriti. Terus dikasih arahan deh untuk masuk tanpa tap kartu alias nggak bayar. Ya udah, kami masuk aja, lalu ke mushala. Pas selesai shalat, LRT ke arah KL Central datang. Kami langsung aja naik. Dan saat kami sampai di KL Central, kami tap kartu untuk keluar, nggak bisa dong! Tulisannya kena pinalti gitu. Langsung deh laporan ke sekuriti. Katanya harus isi saldo lagi, padahal saldonya masih banyak.

Saya dan suami muter-muter KL Central untuk ngisi kartu. Berkali-kali nanya, berkali-kali juga dikasih arahan yang salah. Entah memang ada kesalahpahaman atau kami lagi dikerjai. Yang jelas, saya bete banget. Setelah isi saldo, kami balik lagi ke sekuriti dan disuruh bayar langsung ke... ya sebutlah loket. Kami pikir bakalan dapat denda gitu, nggak taunya nggak. Bayar ongkos dari Batu Caves ke KL Central aja, udah. Petugasnya juga nggak introgasi kenapa kami sampai kena pinalti, kayaknya mereka udah biasa aja gitu. So, jangan coba-coba curang ya, Teman. 



Lalu... Senin, 8 Oktober 2018, kami ke Petronas. Setelah foto-foto, langsung ke Masjid Jamek. Jaraknya ternyata deketan. Sayangnya, hujan. Daripada nunggu hujan lama, kami akhirnya ke Central Market. Tinggal jalan sedikit.




Di Central Market ini kami betah banget. Keliling sana-sini untuk beli beberapa titipan. Oleh-oleh? Karena kami bawa uangnya sedikit, oleh-oleh pun nggak banyak dibeli.

Kami juga sempat makan di Restoran Yusoof & Zakheer di sekitaran Central Market. Menunya nasi briyani (kata suami sih itu namanya) dan ayam goreng. Enak! Harganya standar sih, standar kalau kita makan di tempat wisata. 2 kali lipat. Wkwkwk.

Habis dari Central Market? Pulang. Itu pun udah malam dan lagi-lagi hujan besar. Begitu sampai hotel, langsung deh beres-beres karena besoknya harus meluncur ke bandara.

Selasa, 9 Oktober 2018, kami siap pulang. Sempat mengalami kejadian horor sih, di hotel. Jadi jam 2 malam tiba-tiba bel bunyi. Saya sama suami sama-sama bangun. Saya suruh suami cek, siapa di luar. Tapi ternyata nggak ada siapa-siapa. Hahaha. Kalau orang iseng, rasanya nggak mungkin deh. Jam 2 malam gitu lho. >_<

Paginya, sebelum dijemput taksi, kami makan di restoran dekat hotel. Jom Makan, namanya. Menunya nasi lemak, ayam goreng, dan 1 bakwan. Minum teh o hangat. Total jadi 9RM. Kalau pakai rupiah ya sekitar 35 ribuan.

Duuuh, rasanya belum puas di KL. Kayak mimpi ada di sana. Semoga suatu saat bisa ke sana lagi. Sopir taksi pun mendoakan agar kami ke sana lagi setelah punya anak. Aaaamiiiin!! ^^

Selasa, 10 Juli 2018

[Review] Twinwar



Judul: Twinwar
Penulis: Dwipatra
Penyunting: Miranda Malonka
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 296 halaman
Tahun terbit: 2017


Blurb

Gara dan Hisa kembar identik. Penampilan kedua cowok itu persis sama. Kerennya pun sama. Tapi minat dan kemampuan? Beda jauh! Gara berotak encer dan kemampuan akademiknya gemilang. Sementara itu, Hisa jago olahraga dan sederet trofi kejuaraan berhasil ia raih. Walaupun bersekolah di SMA berbeda, persaingan mereka tak pernah surut.

Dalam keluarga mereka, ada satu aturan yang tidak boleh mereka langgar. “Gara dan Hisa tidak boleh pacaran sebelum lulus SMA dan diterima masuk di perguruan tinggi.” Kalau sampai aturan itu dilanggar, konsekuensi yang akan mereka terima tidak main-main.

Kisah ini bermula ketika Hisa mengetahui ada foto cewek di handphone Gara. Ya, diam-diam Gara memang berpacaran dengan Dinar. Mendapati rahasia Gara, Hisa seolah mendapat senjata ampuh untuk “menghancurkan” saudara kembarnya.

Jadi, siapa bilang saudara kembar nggak bisa perang?


Ulasan

Twinwar bercerita tentang kehidupan Gara dan Hisa, saudara kembar yang selalu saja bertengkar. Pembaca langsung disuguhkan persaingan mereka berdua dan dari sana sudah bisa langsung ditebak bagaimana karakter keduanya.

Ketika Hisa memiliki rahasia Gara, dia meminta kembarannya itu untuk menggantikannya dalam ulangan sekolah. Yah, wajar sih. Hisa kan nggak pintar kayak Gara. Diancam seperti itu, tentu saja Gara pasrah. Pertukaran peran pun dimulai. Namun, inilah yang menjadi awal masalah demi masalah muncul kemudian dan semakin pelik—sampai membuat salah satu dari mereka terluka dan juga mendapatkan skorsing dari sekolah.

Sebelum membeli novel ini, saya sempat membaca lima bab awal di Gramedia Digital dan langsung suka. Gaya bahasa yang digunakan penulis sederhana, ringan dan begitu mengalir. Interaksi antara Hisa dan Gara begitu natural dan persaingan mereka begitu kental.

Ada banyak sekali pesan moral yang terdapat dalam novel ini, begitu juga sindiran.

Dan yang paling membuat saya puas adalah ketika tahu apa yang menyebabkan Gara dan Hisa bertengkar. Jujur, saya sempat berpikir akan zonk, sempat khawatir alasannya kurang kuat atau gimana... tapi ternyata itu nggak terjadi. Alhamdulillah. Hihi. Pokoknya rapi banget.

Kalau ada yang saya rasa kurang, itu adalah kemunculan tokoh bernama Akbar. Entahlah... rasanya terlalu dipaksakan gitu sih untuk saya pribadi. Tapi secara keseluruhan, saya suka.

Quotes Favorit

“Ketidakjujuran, sekecil apa pun, tetap merusak.” –hal. 154

“Lakukan aja yang terbaik yang kamu bisa. Hasilnya nggak usah kamu pikirin dulu. Seburuk apa pun hasilnya nanti, kalau kamu udah ngelakuin yang terbaik, akan jauh lebih mudah diterima dan disyukuri.” –hal. 166


Rating

Cover: 4/5
Tema: 3/5
Tokoh: 4/5
Konflik: 4/5
Gaya bahasa: 4/5
Overall: 3.8/5

[Review] Seventeen Once Again




Judul: Seventeen Once Again
Penulis: Handi Namire
Penyunting: Tri Saputra Sakti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 288 halaman
Tahun terbit: 2017


Blurb

Big news!

Raka membalas perasaan Briana. Ya, Raka, ketua OSIS yang digandrungi banyak siswi di sekolah. Raka yang juga pacar Tara, sahabat baiknya! Eh, bukankah itu artinya Briana merebut pacar sahabatnya sendiri? Ah, entahlah! Saat study tour, Raka berjanji akan membuat hubungan mereka jelas.

Sayangnya, saat semua akan terjawab, Briana mengalami kecelakaan di India. Sejak kecelakaan itu Briana sulit mengingat hal-hal yang terjadi. Lebih menyebalkan lagi, Mama malah memindahkannya ke Bandung—jauh dari Raka, Tara, dan teman-teman dekatnya.

Selain itu, di sekolah barunya Briana dihadapkan pada drama menyebalkan. Ben—ketua klub penyiaran—ngotot merekrut Briana jadi anggota! Di sisi lain, Alisha—cewek sok berkuasa—memintanya untuk menjauhi Ben!

Seolah semuanya belum cukup, Briana mulai merasakan keganjilan pada hidupnya. Kenapa keberadaan Raka misterius? Kenapa teman-teman Briana tidak menghubunginya lagi? Dan... benarkah Briana berusia tujuh belas tahun?


Ulasan

Hilang ingatan. Itu adalah inti dari novel bercover pink ini. Seventeen Once Again berkisah tentang Briana yang mengalami kecelakaan di India dan mengalami amnesia parsial. Dia melupakan apa yang terjadi selama lima tahun terakhir dan yang diingatnya adalah, dia berusia 17 tahun, duduk di bangku SMA dan masih berpacaran dengan Raka.

Bukannya memberitahu Briana tentang kondisinya yang amnesia, sang Mama malah sengaja menyembunyikan kenyataan itu. Beliau malah memindahkan Briana ke Bandung dan memasukkannya ke sekolah di kota itu. Briana tentu saja tidak terima, apalagi itu membuatnya berpisah dari Raka dan sahabat-sahabatnya. Namun, semua sudah diatur dan Briana tidak bisa lagi menolak.

Di sekolah, Briana didekati cowok bernama Ben. Dia adalah ketua klub penyiaran yang memaksa Briana menjadi anggota klubnya. Dan gara-gara didekati Ben, Briana jadi dimusuhi Alisha—cewek yang sudah lama menyukai Ben. Namun kemudian, Alisha mengajak Briana berteman. Dari sinilah perlahan kebenaran terkuak. Tentang siapa sebenarnya Briana dan apa yang terjadi dengan Raka serta sahabat-sahabatnya.

*

Ini kali pertama saya membaca tulisan Kak Handi Namire. Jujur, awal membaca saya sempat dibuat bingung dengan alurnya yang maju-mundur dan tokohnya yang banyak. Setidaknya dua bab awal. Tapi masuk di bab ketiga, saya mulai paham dan menikmati kisah yang disampaikan penulis.

Penulis mengambil tema yang menarik. Setiap karakternya berkesan dan plotnya rapi. Kebingungan Briana dengan lingkungan barunya, reaksinya saat sekelebat ingatan muncul, sampai emosinya ketika mengetahui kebenaran begitu natural. Sama sekali tidak terkesan dipaksakan.

Meskipun saya sedikit kurang puas dengan peran mama Briana yang hanya sekilas, tapi bukan masalah besar sih. Oh ya, saya juga sempat menemukan kesalahan ketik pada setting waktu yang membuat saya kebingungan. Yah, semoga saat cetak ulang bisa diperbaiki. :D

Penulis menggunakan dua sudut pandang (PoV). Untuk prolog menggunakan PoV 1, sementara isi sampai epilog menggunakan PoV 3. Pemilihan sudut pandang yang saya rasa sangat tepat untuk mengungkap setiap rahasia.

Penjelasan tentang dunia penyiaran juga begitu lengkap. Rasanya saya seperti diajak mengenal klub penyiaran yang diketuai oleh Raka dan penasaran pengin masuk ke sana. Hahaha. Tapi serius lho. Penasaran.

Quotes Favorit

“Mimpi terkadang bisa sangat kejam. Terlebih mimpi indah. Mimpi yang membuat si pemimpi merasa terlena hingga merasa kesepian begitu membuka mata dan menyadari kebahagiaan yang dirasakannya hanya bunga tidur semata.” –hal. 238

Rating

Cover: 3/5
Tema: 4/5
Tokoh: 4/5
Konflik: 4.5/5
Gaya bahasa: 4/5
Overall: 4/5

Senin, 09 Juli 2018

[Review] Mayday, Mayday



Judul: Mayday, Mayday
Penulis: Laili Muttamimah
Proofreader: Abdurraafi Andrian
Jumlah halaman: 344 halaman
Tahun terbit: 2018


Blurb

Dalam dunia penerbangan, istilah mayday digunakan oleh pilot ketika pesawat sedang dalam keadaan darurat. Dalam kehidupan, setiap orang pasti pernah mengalami momen itu. Bagi Alana, momen tersebut terjadi pada usianya yang kedelapan belas.

Tadinya hidup Alana nyaris sempurna. Dia diterima di sekolah calon pramugari, punya Roby si pacar setia, juga dikelilingi oleh teman dan keluarga yang selalu mendukung. Namun dia tak pernah menduga akan dilecehkan oleh kawanan perampok.

Awalnya Alana hanya memberitahu hal itu pada Benji, sahabatnya. Tapi ternyata masalahnya belum selesai. Belakangan Alana tahu dirinya hamil. Dia makin tertekan karena Roby meminta putus dan keluarganya amat murka.

Lantas, apa yang harus Alana lakukan untuk mengatasi momen mayday dalam hidupnya?

Ulasan

Mayday, Mayday berkisah tentang Alana memiliki mimpi menjadi pramugari. Dia harus menjalani tes calon pramugari dan setelah lulus harus mengikuti pelatihan selama beberapa bulan. Dengan penyampaian yang lugas saya merasakan kalau penulis tidak main-main dalam riset.

Alana adalah tokoh utama dalam novel ini. Dia perempuan cantik, berambisi menjadi pramugari dan akhirnya lolos seleksi hanya dalam sekali tes! Sayang, kebahagiaan Alana sirna ketika dia mengalami pelecehan seksual dan... hamil.

Roby, kekasih Alana yang sebenarnya dia baik, tapi ternyata membuat saya kecewa. Saya benar-benar kesal respons Roby ketika dia tahu apa yang terjadi dengan Alana. Padahal saya sempat berharap dia ini tokoh cowok yang bakalan saya suka nantinya. :(

Lalu Glo, sahabat Alana yang mengambil jurusan Hukum di salah satu kampus di Malang bersama Roby. Glo ini sempat membuat saya merasa... terkecoh (?), yah semacam itulah. Oh ya, saya merasa peran Glo ini kurang sih, padahal kan dia sahabat Alana dan menurut saya semestinya dia agak menonjol.

Kemudian ada Benji, teman kecil Alana yang kuliah jurusan kedokteran. Cowok intovert ini suka musik klasik dan bisa main piano. Keren kan ya!! Waktu baca bab-bab awal, saya agak mengabaikan dia. Siapa sangka ternyata saya malah suka sama dia.

Menurut saya konflik novel ini cukup berat. Alana bukan hanya menjadi korban pelecehan seksual, dia juga diputuskan oleh Roby dan dijauhi Glo. Bahkan, dia diacuhkan oleh ayahnya sendiri. Belum lagi dia harus menghadapi tatapan sinis para tetangga. Duuuh, pokoknya nggak enak banget.

Alana memang sempat merasa sangat down, tapi dia bisa bertahan karena ada ibu dan Benji yang mendukungnya. Saya bisa melihat secara jelas kasih sayang ibu Alana dan teman kecilnya itu.

Meskipun konfliknya cukup berat, tapi penulis menyampaikan dengan gaya bahasa yang ringan, sehingga kisah Alana ini mudah diikuti. Jadi nggak perlu khawatir.
Dari beberapa tokoh dalam novel ini, sosok yang paling saya suka adalah Benji. Dia calon dokter, pintar, bisa main piano, dan selalu ada di samping Alana. Gimana nggak suka, kan?

Novel ini memakai PoV 1 (Alana) dan menurut saya sebenarnya ini adalah pilihan yang sangat tepat karena penulis bisa dengan leluasa menggambarkan perasaan tokoh utama. Sayangnya, dengan masalah yang datang bertubi-tubi, ‘kehancuran’ Alana kurang terasa untuk saya pribadi. Feel-nya kurang nendang gitu.

Meski begitu, saya tetap menyukai novel ini dan mengharapkan ada kelanjutan kisah Alana, entah itu tentang mimpinya yang sempat terkubur atau tentang kisah cintanya. Hihihi.

Oh ya, novel ini mengingatkan saya pada Dark Love karya Ken Terate. Kalau kalian pernah baca Dark Love dan suka, kemungkinan besar kalian juga bakalan suka novel ini.

Quotes Favorit

“Kalau orang-orang terdekat lo memang sayang sama lo, mereka nggak akan pernah biarin lo berjuang sendirian.” –hal. 130

“Kita nggak bisa tutup mulut orang lain ketika mereka mencela kita, tapi kita bisa tutup telinga kita buat nggak dengerin celaan itu.” –hal. 275

“Kita memang nggak bisa menyenangkan semua orang dan nggak dilahirkan buat melakukan itu. Tapi, akan selalu ada orang-orang yang bahagia karena kita hadir dalam hidup mereka, walaupun kita merasa nggak pernah melakukan hal yang hebat buta orang-orang itu.” –hal. 287

Rating

Cover: 4
Tema: 4
Tokoh: 3
Konflik: 3
Gaya bahasa: 4
Overall: 3.5

[Review] Arial vs Helvetica




Judul: Arial vs Helvetica
Penulis: Nisa Rahmah
Editor: Aditiyo Haryadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 248 halaman
Tahun terbit: 2018

Blurb

Arial punya cara unik menganalogikan seseorang; dengan menggunakan karakteristik font style. Meski bernama Arial, dia sendiri ingin menjadi Helvetica yang disenangi dan menjadi favorit desainer.

Omong-omong soal Helvetica, Arial cukup terkejut saat bertemu kembali dengan cewek pemilik nama itu. Setelah tiga tahun, Helvy masih saja mendendam atas kejadian saat mereka bertarung dalam final cerdas cermat Fisika. Cewek itu terlihat begitu serius, seperti merasa perlu membuktikan kemampuannya. Apalagi setelah kecelakaan yang menimpa dirinya dan mengakibatkan ayahnya meninggal dunia, Helvy terlihat sinis memandang kehidupan dan mimpi.

Arial sendiri juga merasa perlu membuktikan kemampuannya dalam desain grafis patut dibanggakan. Agar pilihannya masuk jurusan multimedia demi menentang keinginan sang ayah yang seorang dokter, dimaklumi.

Selain pembuktian diri, lomba desain poster juga menjadi reuni bagi Arial dan Helvetica. Ajang yang membuka kelanjutan kisah keduanya. Kisah yang membuat mereka mempertanyakan kembali mimpi masing-masing.

*

Ulasan

Arial vs Helvetica berkisah tentang cowok bernama Arial yang suka menganalogikan seseorang berdasarkan font style. Kebiasaan uniknya ini muncul karena dia menggeluti bidang desain grafis. Suatu hari, dia bertemu dengan cewek bernama Helvetica yang lebih suka dipanggil Helvy.

Ada momen buruk di antara mereka yang berkaitan dengan perlombaan yang mereka ikuti beberapa tahun sebelumnya. Siapa sangka mereka akan dipertemukan kembali dalam perlombaan lain?

Kedua tokoh utama ini memiliki ambisi yang sama, yaitu membuktikan kepada seseorang bahwa mereka mampu menjadi yang terbaik.

*

Saat novel ini akan terbit, saya sempat main ke website www.gwp.co.id dan membaca sekilas bab awal di sana, jadi sudah memiliki bayangan novel ini tentang apa. Kak Nisa benar-benar memiliki kepekaan yang kuat. Bagaimana tidak, ide novel ini berasal dari jenis font! Hal kecil yang jujur saja sering saya abaikan juga.

Setiap tokohnya memiliki karakter yang memorable. Arial yang jago dalam bidang desain, to the point dalam menyatakan sesuatu, tapi dia memiliki karakter kurang baik, yaitu sulit menolak permintaan orang lain. Lalu ada Helvy yang sangat pintar namun sinis. Dia memiliki trauma mendalam di masa lalu yang membuatnya jadi menutup diri. Ada pula Fanny, sahabat Arial, yang cuek dan strong. Fanny ini tipe sahabat baik yang susah ditemukan deh pokoknya.

Selain keunikan ide, saya juga merasa unik melihat pembagian bab-nya yang menggunakan kutipan yang diambil dari cerita. Menarik. Untuk alurnya sendiri cukup padat, semua masalah terselesaikan dengan baik meskipun ada beberapa bagian yang bagi saya terlalu cepat.

Btw tentang judulnya, mungkin kalian akan berpikir akan ada banyak sekali permusuhan antara Arial dan Helvetica, sama seperti dugaan awal saya. Tapi kenyataannya porsi itu tidak terlalu banyak kok. Justru saya lebih melihat persahabatan mereka.

Kalau kalian ingin membaca novel teenlit yang nggak banyak membahas cinta tapi lebih tentang mimpi dan keluarga, Arial vs Helvetica harus kalian baca.
Sebagai orang yang baru membaca tulisan Kak Nisa, saya cukup dibuat puas dan jadi penasaran sama novel sebelumnya: Carisa dan Kiana.

*

Quotes Favorit

“Sebuah kesalahan harus bertemu dengan kata maaf agar menjadi ringan.”
–hal. 95

“Seseorang bisa dengan mudah menerima kebenaran yang menyenangkan. Namun, butuh keberanian yang besar untuk mengakui sebuah kebenaran yang pahit.”
–hal. 157

Rating
Cover: 4
Tema: 4.5
Tokoh: 4
Konflik: 4
Gaya bahasa: 4
Overall: 4


[Review] Breaking Point




Judul: Breaking Point
Penulis: Pretty Angelia
Editor: Didiet
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 240 halaman
Tahun terbit: 2017

Blurb

[Geta, 17 tahun]

Gue terpaksa ikutan program paket C karena dikeluarkan dari sekolah. Mungkin lo semua heran mantan ketua OSIS kayak gue bisa tersandung kasus berat. Ini masalah prinsip dan gue yakin, gue nggak bersalah. Sebenernya gue sempat malu karena gue pikir bakal ketemu sama orang-orang gagal. Namun setelah masuk kelas itu gue tahu... kata gagal nggak tepat diberikan untuk mereka.

[Vierro, 18 tahun]

Nggak ikut UN gara-gara nggak bisa ninggalin kompetisi catur di Roma. Tetangga ada yang nyeletuk, sepenting itu pertandingan gue sampai rela ikutan paket C yang isinya orang-orang payah? Seenaknya aja dia bilang payah. Gue jelasin juga akan percuma. Gue tahu sebenarnya mereka memang nggak suka sama gue yang punya banyak uang gara-gara catur doang.

[Daniar, 17 tahun]

Penyakit ini nggak akan mengambil semua dariku. Aku bakal sembuh dan kejar cita-citaku dengan sekolah setinggi-tingginya. Program paket C membantuku mewujudkan hal itu.

[Bogel, 20 tahun]

Gue emang dulu bandar narkoba, keluar-masuk penjara. Terus, lo pikir gue nggak boleh punya ijazah?! Enak aja lo ngomong!

*

Ulasan

Breaking Point berkisah tentang beberapa tokoh yang mengikuti program Paket C, ujian keseteraan. Ada Geta, yang ikut Paket C karena dikeluarkan dari sekolah. Ada Daniar, yang mengikuti Paket C karena sakit. Meskipun duduk di kursi roda, namun dia tetap riang dan memiliki semangat tinggi untuk kuliah. Kemudian ada Vierro, yang lebih mementingkan lomba catur di Roma daripada UN. Tidak heran jika orang banyak mencibirnya. Lalu ada Bogel, mantan narapidana. Dulunya, dia adalah bandar narkoba dan sering keluar-masuk penjara. Namun, dia ingin memperbaiki hidup dan salah satu caranya dengan mengambil program Paket C.

Keempat tokoh ini memiliki karakter yang unik, sehingga mereka seolah hidup. Geta, contohnya. Karena keberanian yang dimilikinya, dia berusaha mengungkap kasus korupsi yang dilakukan pihak sekolah terkait dana beasiswa. Namun, karena itu pula dia dikeluarkan.

Selain karakter yang membekas, Breaking Point ini termasuk novel yang mengangkat tema menarik: tentang korupsi, bahaya menyebarkan berita hoax, proses hukum di Indonesia, persahabatan, cinta, dan cita-cita. Paket lengkap, sebutlah begitu. Penulis saya anggap sangat berani mengangkat tema ini. Apalagi, penulis menggunakan bahasa yang ringan sehingga mudah dimengerti pembaca.

Pembagian bab yang pendek-pendek serta bagian akhir bab yang memunculkan tanda tanya, menurut saya adalah poin plus dari novel ini karena membuat pembaca tidak bisa berhenti membalikkan halaman sebelum teka-teki tertebak.

Tapi saya sedikit terganggu dengan penggunaan kata “kita” di halaan 95, sewaktu Geta menjelaskan hubungannya dengan Rajen kepada Daniar. Sepertinya itu lebih tepat kalau menggunakan kata “kami”? Mohon maaf kalau salah. :D

Quotes Favorit

“Kesempatan kedua memang ada buat yang mau memperjuangkannya.” –hal. 49

“Setiap lo salah pilih, lo bisa mulai dari awaldengan milih pilihan lain. Yang dulu emang masih ada bekasnya tapi karena berbekas itulah dia bisa dijadikan pelajaran.” –hal. 135

“Kalau gue nggak menghadapi risiko, gue nggak akan bisa maju.” –hal. 170

Rating

Cover: 4.5
Tema: 5
Tokoh: 4.5
Konflik: 5
Gaya bahasa: 5
Overall: 4.5