Judul buku: Love, Life, and Choir
Penulis: Kiky Aurora
Penerbit: Stiletto Indie Books
237 halaman
Aku tahu
Mbak Kiky Aurora sebagai traveler. Selalu jatuh cinta sama foto-fotonya yang
ada di luar negeri. Jadi, waktu tahu Mbak Kiky terbitin buku indie, langsung
tertarik. Ditambah lagi ternyata ada lomba bikin review. Sebagai orang yang
hobi baca, hadiah yang didapat dari baca buku bukan hal yang utama. Yang paling
penting adalah punya bukunya. :D
Awalnya
aku pikir novel ini bersetting luar negeri atau kisah yang berhubungan dengan
hobi traveling penulisnya, tapi ternyata settingnya di Jogja dan isinya tentang
cinta. Ya, okelah, nggak masalah. Toh, Jogja salah satu kota yang aku suka...
<3
Langsung
masuk ke review ya.
Novel ini
memiliki tiga judul cerita. Judul pertama adalah Kali ini Bukan Tentang Ariel.
Bercerita tentang Reni yang masih sulit move on dari Ariel, kekasihnya
yang sudah tiada. Pertemuan dengan Andro di kampus membuat Reni merasakan
sesuatu yang baru. Semakin sering bertemu, Reni semakin sulit mengendalikan
perasaannya. Perasaan yang ia ingin simpan hanya untuk Ariel. Sama dengan Reni,
Andro pun tertarik dengan gadis itu. Ia bahkan rela datang ke rumah Reni untuk
menunjukkan keseriusannya. Namun Reni tetap sulit menerima Andro. Sekeras apa
pun usaha Andro, Reni tetap tidak mau mengkhianati Ariel. Apakah Reni akhirnya
menerima Andro? Hm, baca sendiri, ya. :D
Judul
kedua adalah Akhir Penantian Tara. Dalam judul ini penulis bercerita tentang
Tara yang mencoba mendekati Nicko. Karakter mereka bertolak belakang. Tara yang
berani menunjukkan perasaan dan Nicko yang pemalu (serius, ini bikin gereget).
Karena Nicko tidak juga mengatakan perasaanya, akhirnya Tara menyatakan
perasaan lebih dulu. Bagaimana tanggapan Nicko? Baca sendiri juga, ya. Yang
pasti ada kejutan menjelang ending!
Judul
ketiga adalah Mengejar Cinta Nugie. Bercerita tentang Devi yang jatuh cinta
pada Nugie, padahal Nugie lebih muda dari dia. Hubungan mereka dekat, tetapi
Nugie tidak ingin menjalin yang lebih jauh dengan Devi. Menurut Devi, ini ada
hubungannya dengan Alvin. Hm, siapa Alvin? Yang jelas, Nugie dan Alvin ini
membuat Devi menjadi sedih. Setiap kesedihan ada obatnya. Dan obat itu adalah
Pram. Laki-laki yang menjadi penghuni kost di belakang rumah yang dikontrak
Devi bersama teman-temannya.
Cover
Aku suka
pemilihan warna pada cover novel ini. Menarik dan terang. Penuh semangat.
Tetapi, aku agak kurang suka sama ilustrasinya. Menurutku kurang meremaja. :)
Tokoh dan
Karakter
Aku
menyukai karakter-karakter yang dibuat penulis. Kuat dan konsisten. Reni yang
galau. Andro yang penuh semangat. Tara yang berani. Nicko yang pemalu. Lalu ada
Devi yang terus mengejar Nugie, dan Nugie yang menghindar. Pokoknya semua pas. Ngena
banget. Hanya saja, yang aku sayangkan adalah di sini terlalu banyak tokoh
pembantu yang (menurutku, sih) sebenarnya kalau beberapa dihilangkan nggak jadi
masalah.
Konflik
Setiap
judul memiliki konfliknya tersendiri. Konflik dalam novel ini cukup kuat. Yang
sedikit mengganggu adalah porsi pembahasan tentang “cinta” yang terlalu banyak.
Mungkin ini masalah selera, ya. Aku sendiri lebih suka yang konfliknya beragam.
Misanya, ada cinta, persahabatan, keluarga. Di cerita ketiga, Mengejar Cinta
Nugie, aku dipuaskan karena penulis membuat konflik antara Devi dengan
teman-temannya yang tidak suka Devi pulang malam.
Gaya
Bahasa
Gaya
bahasa dalam novel ini ringan, tetapi ada beberapa bagian yang bahasanya
menjadi baku. Ini cukup mengganggu menurutku karena bahasa baku dan non baku
menjadi tercampur.
Contoh
bahasa non-baku dalam novel ini:
“Aku mengenal dia, Mbak. Dia baik
banget. Udah kayak abangku sendiri. Mbak tahu kan, aku nggak pernah
dekat sama abang kandungku. Lagian Mas Alvin itu pinter, pernah ikut
pertukaran mahasiswa ke Jepang. Dia pinter bahasa Jepang. Aku juga pengen
bisa, pengen tahu Budaya Jepang.” (hal. 164)
Contoh
bahasa baku dalam novel ini:
“Aku tak hendak ke mana-mana,” sahut
Devi, heran. (hal. 179) “Aku masih berpikir, apakah aku sungguh
akan menjadikanmu kekasihku, ataukah tetap sebagai kakakku.” (hal.
180)
Kesimpulan
Secara
keseluruhan, aku suka novel ini karena menghibur dan memiliki tema yang beda.
Cinta dan paduan suara. Serasa balik ke dunia—eh usia—remaja. Hohoho. Cocok
untuk kalian yang sedang falling in love. Untuk yang susah move on, yang
jatuh cinta sama orang super dingin, atau malah sama yang anggap kalian cuma
kakak.. XD. Aku hanya butuh waktu satu hari untuk menyelesaikannya.
Ah ya,
dari ketiga cerita yang ada dalam novel ini, aku lebih suka cerita ketiga.
Alasannya, seperti yang sudah dibahas, konfliknya lebih banyak. Malah aku
berharap untuk judul ketiga ini dibuat satu novel utuh sama Mbak Kiky.
*dilemparkeTurkiii* ^^V
Finally, 3
bintang untuk novel Love, Life, and Choir. Semangat Mbak Kiky, semoga ada
kelanjutan kisah Devi sama Pram *tetepmaksa* :v :v
