Senin, 09 Juli 2018

[Review] Mayday, Mayday



Judul: Mayday, Mayday
Penulis: Laili Muttamimah
Proofreader: Abdurraafi Andrian
Jumlah halaman: 344 halaman
Tahun terbit: 2018


Blurb

Dalam dunia penerbangan, istilah mayday digunakan oleh pilot ketika pesawat sedang dalam keadaan darurat. Dalam kehidupan, setiap orang pasti pernah mengalami momen itu. Bagi Alana, momen tersebut terjadi pada usianya yang kedelapan belas.

Tadinya hidup Alana nyaris sempurna. Dia diterima di sekolah calon pramugari, punya Roby si pacar setia, juga dikelilingi oleh teman dan keluarga yang selalu mendukung. Namun dia tak pernah menduga akan dilecehkan oleh kawanan perampok.

Awalnya Alana hanya memberitahu hal itu pada Benji, sahabatnya. Tapi ternyata masalahnya belum selesai. Belakangan Alana tahu dirinya hamil. Dia makin tertekan karena Roby meminta putus dan keluarganya amat murka.

Lantas, apa yang harus Alana lakukan untuk mengatasi momen mayday dalam hidupnya?

Ulasan

Mayday, Mayday berkisah tentang Alana memiliki mimpi menjadi pramugari. Dia harus menjalani tes calon pramugari dan setelah lulus harus mengikuti pelatihan selama beberapa bulan. Dengan penyampaian yang lugas saya merasakan kalau penulis tidak main-main dalam riset.

Alana adalah tokoh utama dalam novel ini. Dia perempuan cantik, berambisi menjadi pramugari dan akhirnya lolos seleksi hanya dalam sekali tes! Sayang, kebahagiaan Alana sirna ketika dia mengalami pelecehan seksual dan... hamil.

Roby, kekasih Alana yang sebenarnya dia baik, tapi ternyata membuat saya kecewa. Saya benar-benar kesal respons Roby ketika dia tahu apa yang terjadi dengan Alana. Padahal saya sempat berharap dia ini tokoh cowok yang bakalan saya suka nantinya. :(

Lalu Glo, sahabat Alana yang mengambil jurusan Hukum di salah satu kampus di Malang bersama Roby. Glo ini sempat membuat saya merasa... terkecoh (?), yah semacam itulah. Oh ya, saya merasa peran Glo ini kurang sih, padahal kan dia sahabat Alana dan menurut saya semestinya dia agak menonjol.

Kemudian ada Benji, teman kecil Alana yang kuliah jurusan kedokteran. Cowok intovert ini suka musik klasik dan bisa main piano. Keren kan ya!! Waktu baca bab-bab awal, saya agak mengabaikan dia. Siapa sangka ternyata saya malah suka sama dia.

Menurut saya konflik novel ini cukup berat. Alana bukan hanya menjadi korban pelecehan seksual, dia juga diputuskan oleh Roby dan dijauhi Glo. Bahkan, dia diacuhkan oleh ayahnya sendiri. Belum lagi dia harus menghadapi tatapan sinis para tetangga. Duuuh, pokoknya nggak enak banget.

Alana memang sempat merasa sangat down, tapi dia bisa bertahan karena ada ibu dan Benji yang mendukungnya. Saya bisa melihat secara jelas kasih sayang ibu Alana dan teman kecilnya itu.

Meskipun konfliknya cukup berat, tapi penulis menyampaikan dengan gaya bahasa yang ringan, sehingga kisah Alana ini mudah diikuti. Jadi nggak perlu khawatir.
Dari beberapa tokoh dalam novel ini, sosok yang paling saya suka adalah Benji. Dia calon dokter, pintar, bisa main piano, dan selalu ada di samping Alana. Gimana nggak suka, kan?

Novel ini memakai PoV 1 (Alana) dan menurut saya sebenarnya ini adalah pilihan yang sangat tepat karena penulis bisa dengan leluasa menggambarkan perasaan tokoh utama. Sayangnya, dengan masalah yang datang bertubi-tubi, ‘kehancuran’ Alana kurang terasa untuk saya pribadi. Feel-nya kurang nendang gitu.

Meski begitu, saya tetap menyukai novel ini dan mengharapkan ada kelanjutan kisah Alana, entah itu tentang mimpinya yang sempat terkubur atau tentang kisah cintanya. Hihihi.

Oh ya, novel ini mengingatkan saya pada Dark Love karya Ken Terate. Kalau kalian pernah baca Dark Love dan suka, kemungkinan besar kalian juga bakalan suka novel ini.

Quotes Favorit

“Kalau orang-orang terdekat lo memang sayang sama lo, mereka nggak akan pernah biarin lo berjuang sendirian.” –hal. 130

“Kita nggak bisa tutup mulut orang lain ketika mereka mencela kita, tapi kita bisa tutup telinga kita buat nggak dengerin celaan itu.” –hal. 275

“Kita memang nggak bisa menyenangkan semua orang dan nggak dilahirkan buat melakukan itu. Tapi, akan selalu ada orang-orang yang bahagia karena kita hadir dalam hidup mereka, walaupun kita merasa nggak pernah melakukan hal yang hebat buta orang-orang itu.” –hal. 287

Rating

Cover: 4
Tema: 4
Tokoh: 3
Konflik: 3
Gaya bahasa: 4
Overall: 3.5

[Review] Arial vs Helvetica




Judul: Arial vs Helvetica
Penulis: Nisa Rahmah
Editor: Aditiyo Haryadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 248 halaman
Tahun terbit: 2018

Blurb

Arial punya cara unik menganalogikan seseorang; dengan menggunakan karakteristik font style. Meski bernama Arial, dia sendiri ingin menjadi Helvetica yang disenangi dan menjadi favorit desainer.

Omong-omong soal Helvetica, Arial cukup terkejut saat bertemu kembali dengan cewek pemilik nama itu. Setelah tiga tahun, Helvy masih saja mendendam atas kejadian saat mereka bertarung dalam final cerdas cermat Fisika. Cewek itu terlihat begitu serius, seperti merasa perlu membuktikan kemampuannya. Apalagi setelah kecelakaan yang menimpa dirinya dan mengakibatkan ayahnya meninggal dunia, Helvy terlihat sinis memandang kehidupan dan mimpi.

Arial sendiri juga merasa perlu membuktikan kemampuannya dalam desain grafis patut dibanggakan. Agar pilihannya masuk jurusan multimedia demi menentang keinginan sang ayah yang seorang dokter, dimaklumi.

Selain pembuktian diri, lomba desain poster juga menjadi reuni bagi Arial dan Helvetica. Ajang yang membuka kelanjutan kisah keduanya. Kisah yang membuat mereka mempertanyakan kembali mimpi masing-masing.

*

Ulasan

Arial vs Helvetica berkisah tentang cowok bernama Arial yang suka menganalogikan seseorang berdasarkan font style. Kebiasaan uniknya ini muncul karena dia menggeluti bidang desain grafis. Suatu hari, dia bertemu dengan cewek bernama Helvetica yang lebih suka dipanggil Helvy.

Ada momen buruk di antara mereka yang berkaitan dengan perlombaan yang mereka ikuti beberapa tahun sebelumnya. Siapa sangka mereka akan dipertemukan kembali dalam perlombaan lain?

Kedua tokoh utama ini memiliki ambisi yang sama, yaitu membuktikan kepada seseorang bahwa mereka mampu menjadi yang terbaik.

*

Saat novel ini akan terbit, saya sempat main ke website www.gwp.co.id dan membaca sekilas bab awal di sana, jadi sudah memiliki bayangan novel ini tentang apa. Kak Nisa benar-benar memiliki kepekaan yang kuat. Bagaimana tidak, ide novel ini berasal dari jenis font! Hal kecil yang jujur saja sering saya abaikan juga.

Setiap tokohnya memiliki karakter yang memorable. Arial yang jago dalam bidang desain, to the point dalam menyatakan sesuatu, tapi dia memiliki karakter kurang baik, yaitu sulit menolak permintaan orang lain. Lalu ada Helvy yang sangat pintar namun sinis. Dia memiliki trauma mendalam di masa lalu yang membuatnya jadi menutup diri. Ada pula Fanny, sahabat Arial, yang cuek dan strong. Fanny ini tipe sahabat baik yang susah ditemukan deh pokoknya.

Selain keunikan ide, saya juga merasa unik melihat pembagian bab-nya yang menggunakan kutipan yang diambil dari cerita. Menarik. Untuk alurnya sendiri cukup padat, semua masalah terselesaikan dengan baik meskipun ada beberapa bagian yang bagi saya terlalu cepat.

Btw tentang judulnya, mungkin kalian akan berpikir akan ada banyak sekali permusuhan antara Arial dan Helvetica, sama seperti dugaan awal saya. Tapi kenyataannya porsi itu tidak terlalu banyak kok. Justru saya lebih melihat persahabatan mereka.

Kalau kalian ingin membaca novel teenlit yang nggak banyak membahas cinta tapi lebih tentang mimpi dan keluarga, Arial vs Helvetica harus kalian baca.
Sebagai orang yang baru membaca tulisan Kak Nisa, saya cukup dibuat puas dan jadi penasaran sama novel sebelumnya: Carisa dan Kiana.

*

Quotes Favorit

“Sebuah kesalahan harus bertemu dengan kata maaf agar menjadi ringan.”
–hal. 95

“Seseorang bisa dengan mudah menerima kebenaran yang menyenangkan. Namun, butuh keberanian yang besar untuk mengakui sebuah kebenaran yang pahit.”
–hal. 157

Rating
Cover: 4
Tema: 4.5
Tokoh: 4
Konflik: 4
Gaya bahasa: 4
Overall: 4


[Review] Breaking Point




Judul: Breaking Point
Penulis: Pretty Angelia
Editor: Didiet
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 240 halaman
Tahun terbit: 2017

Blurb

[Geta, 17 tahun]

Gue terpaksa ikutan program paket C karena dikeluarkan dari sekolah. Mungkin lo semua heran mantan ketua OSIS kayak gue bisa tersandung kasus berat. Ini masalah prinsip dan gue yakin, gue nggak bersalah. Sebenernya gue sempat malu karena gue pikir bakal ketemu sama orang-orang gagal. Namun setelah masuk kelas itu gue tahu... kata gagal nggak tepat diberikan untuk mereka.

[Vierro, 18 tahun]

Nggak ikut UN gara-gara nggak bisa ninggalin kompetisi catur di Roma. Tetangga ada yang nyeletuk, sepenting itu pertandingan gue sampai rela ikutan paket C yang isinya orang-orang payah? Seenaknya aja dia bilang payah. Gue jelasin juga akan percuma. Gue tahu sebenarnya mereka memang nggak suka sama gue yang punya banyak uang gara-gara catur doang.

[Daniar, 17 tahun]

Penyakit ini nggak akan mengambil semua dariku. Aku bakal sembuh dan kejar cita-citaku dengan sekolah setinggi-tingginya. Program paket C membantuku mewujudkan hal itu.

[Bogel, 20 tahun]

Gue emang dulu bandar narkoba, keluar-masuk penjara. Terus, lo pikir gue nggak boleh punya ijazah?! Enak aja lo ngomong!

*

Ulasan

Breaking Point berkisah tentang beberapa tokoh yang mengikuti program Paket C, ujian keseteraan. Ada Geta, yang ikut Paket C karena dikeluarkan dari sekolah. Ada Daniar, yang mengikuti Paket C karena sakit. Meskipun duduk di kursi roda, namun dia tetap riang dan memiliki semangat tinggi untuk kuliah. Kemudian ada Vierro, yang lebih mementingkan lomba catur di Roma daripada UN. Tidak heran jika orang banyak mencibirnya. Lalu ada Bogel, mantan narapidana. Dulunya, dia adalah bandar narkoba dan sering keluar-masuk penjara. Namun, dia ingin memperbaiki hidup dan salah satu caranya dengan mengambil program Paket C.

Keempat tokoh ini memiliki karakter yang unik, sehingga mereka seolah hidup. Geta, contohnya. Karena keberanian yang dimilikinya, dia berusaha mengungkap kasus korupsi yang dilakukan pihak sekolah terkait dana beasiswa. Namun, karena itu pula dia dikeluarkan.

Selain karakter yang membekas, Breaking Point ini termasuk novel yang mengangkat tema menarik: tentang korupsi, bahaya menyebarkan berita hoax, proses hukum di Indonesia, persahabatan, cinta, dan cita-cita. Paket lengkap, sebutlah begitu. Penulis saya anggap sangat berani mengangkat tema ini. Apalagi, penulis menggunakan bahasa yang ringan sehingga mudah dimengerti pembaca.

Pembagian bab yang pendek-pendek serta bagian akhir bab yang memunculkan tanda tanya, menurut saya adalah poin plus dari novel ini karena membuat pembaca tidak bisa berhenti membalikkan halaman sebelum teka-teki tertebak.

Tapi saya sedikit terganggu dengan penggunaan kata “kita” di halaan 95, sewaktu Geta menjelaskan hubungannya dengan Rajen kepada Daniar. Sepertinya itu lebih tepat kalau menggunakan kata “kami”? Mohon maaf kalau salah. :D

Quotes Favorit

“Kesempatan kedua memang ada buat yang mau memperjuangkannya.” –hal. 49

“Setiap lo salah pilih, lo bisa mulai dari awaldengan milih pilihan lain. Yang dulu emang masih ada bekasnya tapi karena berbekas itulah dia bisa dijadikan pelajaran.” –hal. 135

“Kalau gue nggak menghadapi risiko, gue nggak akan bisa maju.” –hal. 170

Rating

Cover: 4.5
Tema: 5
Tokoh: 4.5
Konflik: 5
Gaya bahasa: 5
Overall: 4.5