Judul: Cintaku
itu Kamu, Halalku
Penulis: Merry
Maeta Sari
Penerbit: Laiqa
(Elexmedia Komputindo)
Editor: Pradita
Seti Rahayu
Jumlah halaman:
219 halaman
ISBN:
978-602-04-1182-8
Cetakan Pertama,
2017
Genre: Novel Islami
BLURB
Tiga kali Mama
berusaha menjodoh-jodohkanku dengan lelaki yang ... duh, istilah tepatnya apa
ya ... ajaib pokoknya! Tiga kali pula aku menolak dengan cara halus,
sampai konfrontasi dengan Mama.
Aku sampai
tidakpeduli ketika Mama masih bersikeras menjodohkanku dengan anak dari sahabat
SMA Mama yang tinggal di Bandung. Gila aja, si Abay-Abay ini, yang umurnya
empat tahun di bawahku, terakhir bertemu denganku ya waktu dia dikhitan dulu!
Ya ampun, dia masih imut-imut, gendut, dan menggemaskan.
Eh, eh, tapi ...
waktu janjian sama Abay versi dewasa di sebuah kafe, kok dia beda? Kok ... dia
betulan jadi laki-laki dewasa yang berkarisma dan penuh pesona? Tunggu! Apa
tadi kamu bilang, Fika?
Uh-oh, jangan
sampai aku kembali menjatuhkan hati untuk sesuatu yang enggak pasti!
CUPLIKAN KISAH
Rafiqoh
Khairiyanti alias Fika, seorang gadis 28 tahun, berkali-kali dijodohkan oleh
mamanya dengan orang yang bisa dikatakan ... aneh semua! Fika jelas menolak.
Sampai akhirnya tercetus ide aneh dari kepala Tante Sri, sahabat mamanya, yang
hari itu berkunjung ke rumah. Ide untuk menjodohkan Fika dengan anaknya Tante
Sri, Abay, yang usianya empat tahun lebih muda dari Fika.
Fika yang
sebelumnya membayangkan sosok Abay yang unyu, kaget begitu pertemuan
berlangsung dan ternyata Abay sudah tumbuh menjadi laki-laki yang dewasa.
Seperti pada blurb-nya: dewasa, berkarisma, penuh pesona. Melihat Abay dari
segi fisik jelas membuat Fika tertarik. Tapi masalahnya, Abay lebih muda.
Selain itu, Abay juga sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada Fika.
Cowok itu tidak banyak bicara. Kalaupun bicara, hanya singkat-singkat. Berbeda
dengan Fika yang cerewet.
Jadi ... bisa
dibayangkan kan, bagaimana kagetnya Fika ketika Abay menyebutnya calon istri
dan akhirnya benar-benar datang melamar?
“Namanya Fika,”
sahut Abay merujuk pada gadis itu, tapi matanya lurus menatapku. “Calon
istri saya....“ (hal. 63)
Proses lamaran
yang berlangsung cepat rasanya benar-benar seperti mimpi. Ditambah lagi, Fika
masih ragu akan perasannya pada cowok itu.
Di saat
pernikahan semakin dekat, cobaan mulai berdatangan. Mulai dari anak ABG yang
nekat ingin bunuh diri jika Fika dan Abay menikah, dokter tampan yang mengajak
menikah, sampai mantan yang muncul menawarkan kebahagiaan.
Mampukah Fika
dan Abay melalui semua cobaan itu di tengah keraguan yang melanda?
REVIEW
Novel keempat
karya Merry Maeta Sari yang saya miliki ini memiliki cover yang lucu sekaliii!!
Saya suka, saya sukaaa!!
Dalam novel ini
Meta menggunakan POV 1 dari sisi Fika. Konsisten dan bikin saya nyaman. Tema
yang diangkat adalah masalah perjodohan dan calon suami yang lebih muda.
Meskipun klasik, tetapi Meta berhasil membuat kisah Fika dan Abay begitu
menarik.
Meskipun tidak
sampai membuat saya merinding dan banyak tertawa, tapi saya menyukai novel ini.
Saya bisa membayangkan bagaimana bingungnya Fika menghadapi Abay yang
super-duper dingin. Terlalu cuek. Sebenarnya tipe Abay begini memang menarik (cool
dan ganteng), tetapi saya jadi merasa karakter Abay kurang tergali karena
dia lebih banyak diam. Malah, karakter Dylan (dalam Unperfect Marriage) terasa
lebih kuat padahal mereka sama-sama kaku.
Tidak seperti
novel-novel Meta yang pernah saya baca sebelumnya, alur novel ini terasa cepat.
Dan itu sama sekali tidak mengganggu.
Saya malah
terganggu dengan kata-kata “gimana ... gitu” yang diulang sampai tiga atau
empat kali dengan jarak yang tidak begitu jauh. Kesan humor juga rasanya kurang
natural. Dan lagi, saya sedikit menyayangkan konfliknya karena tidak terlalu
mengigit.
Meskipun begitu,
saya tetap menyukai novel ini karena kembali memberikan pelajaran kepada
pembaca tentang agama Islam.
QUOTES
- Semua pekerjaan selalu punya risiko masing-masing. (hal. 133)
- Masa lalu ada untuk dijadikan pelajaran, masa sekarang ada untuk ladang kebaikan, masa depan baiknya tetap berusaha dalam penjagaan. Sebab yang dinilai nanti adalah akhirnya. Bagaimana pun masa lalunya. (hal. 135)
- Laki-laki yang paham agama itu, kalau cinta, dia akan memuliakan. Kalau nggak cinta, dia juga nggak akan merendahkan. (hal. 146)
- Selalu ada obat untuk setiap luka. (hal. 150)
- Keraguan itu datangnya dari syaitan. (hal. 158)
RATING
Cover: 5/5
Tema: 3.5/5
Karakter: 3.5/5
Gaya bahasa:
3.8/5
Konflik: 3/5
Plot: 4/5
Overall: 3.5/5
