Rabu, 03 Mei 2017

[Review] Cintaku itu Kamu, Halalku


Judul: Cintaku itu Kamu, Halalku
Penulis: Merry Maeta Sari
Penerbit: Laiqa (Elexmedia Komputindo)
Editor: Pradita Seti Rahayu
Jumlah halaman: 219 halaman
ISBN: 978-602-04-1182-8
Cetakan Pertama, 2017
Genre: Novel Islami

BLURB

Tiga kali Mama berusaha menjodoh-jodohkanku dengan lelaki yang ... duh, istilah tepatnya apa ya ... ajaib pokoknya! Tiga kali pula aku menolak dengan cara halus, sampai konfrontasi dengan Mama.
Aku sampai tidakpeduli ketika Mama masih bersikeras menjodohkanku dengan anak dari sahabat SMA Mama yang tinggal di Bandung. Gila aja, si Abay-Abay ini, yang umurnya empat tahun di bawahku, terakhir bertemu denganku ya waktu dia dikhitan dulu! Ya ampun, dia masih imut-imut, gendut, dan menggemaskan.

Eh, eh, tapi ... waktu janjian sama Abay versi dewasa di sebuah kafe, kok dia beda? Kok ... dia betulan jadi laki-laki dewasa yang berkarisma dan penuh pesona? Tunggu! Apa tadi kamu bilang, Fika?

Uh-oh, jangan sampai aku kembali menjatuhkan hati untuk sesuatu yang enggak pasti!


CUPLIKAN KISAH

Rafiqoh Khairiyanti alias Fika, seorang gadis 28 tahun, berkali-kali dijodohkan oleh mamanya dengan orang yang bisa dikatakan ... aneh semua! Fika jelas menolak. Sampai akhirnya tercetus ide aneh dari kepala Tante Sri, sahabat mamanya, yang hari itu berkunjung ke rumah. Ide untuk menjodohkan Fika dengan anaknya Tante Sri, Abay, yang usianya empat tahun lebih muda dari Fika.

Fika yang sebelumnya membayangkan sosok Abay yang unyu, kaget begitu pertemuan berlangsung dan ternyata Abay sudah tumbuh menjadi laki-laki yang dewasa. Seperti pada blurb-nya: dewasa, berkarisma, penuh pesona. Melihat Abay dari segi fisik jelas membuat Fika tertarik. Tapi masalahnya, Abay lebih muda. Selain itu, Abay juga sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada Fika. Cowok itu tidak banyak bicara. Kalaupun bicara, hanya singkat-singkat. Berbeda dengan Fika yang cerewet.

Jadi ... bisa dibayangkan kan, bagaimana kagetnya Fika ketika Abay menyebutnya calon istri dan akhirnya benar-benar datang melamar?

Namanya Fika,” sahut Abay merujuk pada gadis itu, tapi matanya lurus menatapku. “Calon istri saya....“ (hal. 63)

Proses lamaran yang berlangsung cepat rasanya benar-benar seperti mimpi. Ditambah lagi, Fika masih ragu akan perasannya pada cowok itu.

Di saat pernikahan semakin dekat, cobaan mulai berdatangan. Mulai dari anak ABG yang nekat ingin bunuh diri jika Fika dan Abay menikah, dokter tampan yang mengajak menikah, sampai mantan yang muncul menawarkan kebahagiaan.

Mampukah Fika dan Abay melalui semua cobaan itu di tengah keraguan yang melanda?


REVIEW

Novel keempat karya Merry Maeta Sari yang saya miliki ini memiliki cover yang lucu sekaliii!! Saya suka, saya sukaaa!! 

Dalam novel ini Meta menggunakan POV 1 dari sisi Fika. Konsisten dan bikin saya nyaman. Tema yang diangkat adalah masalah perjodohan dan calon suami yang lebih muda. Meskipun klasik, tetapi Meta berhasil membuat kisah Fika dan Abay begitu menarik.

Meskipun tidak sampai membuat saya merinding dan banyak tertawa, tapi saya menyukai novel ini. Saya bisa membayangkan bagaimana bingungnya Fika menghadapi Abay yang super-duper dingin. Terlalu cuek. Sebenarnya tipe Abay begini memang menarik (cool dan ganteng), tetapi saya jadi merasa karakter Abay kurang tergali karena dia lebih banyak diam. Malah, karakter Dylan (dalam Unperfect Marriage) terasa lebih kuat padahal mereka sama-sama kaku.

Tidak seperti novel-novel Meta yang pernah saya baca sebelumnya, alur novel ini terasa cepat. Dan itu sama sekali tidak mengganggu.

Saya malah terganggu dengan kata-kata “gimana ... gitu” yang diulang sampai tiga atau empat kali dengan jarak yang tidak begitu jauh. Kesan humor juga rasanya kurang natural. Dan lagi, saya sedikit menyayangkan konfliknya karena tidak terlalu mengigit.

Meskipun begitu, saya tetap menyukai novel ini karena kembali memberikan pelajaran kepada pembaca tentang agama Islam.


QUOTES

  • Semua pekerjaan selalu punya risiko masing-masing. (hal. 133)
  • Masa lalu ada untuk dijadikan pelajaran, masa sekarang ada untuk ladang kebaikan, masa depan baiknya tetap berusaha dalam penjagaan. Sebab yang dinilai nanti adalah akhirnya. Bagaimana pun masa lalunya. (hal. 135)
  • Laki-laki yang paham agama itu, kalau cinta, dia akan memuliakan. Kalau nggak cinta, dia juga nggak akan merendahkan. (hal. 146)
  • Selalu ada obat untuk setiap luka. (hal. 150)
  • Keraguan itu datangnya dari syaitan. (hal. 158)



RATING

Cover: 5/5
Tema: 3.5/5
Karakter: 3.5/5
Gaya bahasa: 3.8/5
Konflik: 3/5
Plot: 4/5
Overall: 3.5/5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar