Judul: A
Little Princess
Penulis: Frances
Hodgson Burnett
Penerjemah:
Teguh Hari
Penyunting:
Jia Effendie dan Ida Wajdi
Penerbit:
Atria
Jumlah
halaman: 336 halaman
ISBN:
978-602-71458-1-8
Tahun terbit:
2015
BLURB
Sara Crewe dikirim
dari India untuk bersekolah di Sekolah Asrama Nona Minchin di London. Ayahnya,
Kapten Crewe, luar biasa kaya dan membelikan Sara gaun-gaun yang indah serta
meminta agar anaknya diberi fasilitas mewah di sekolah itu.
Meski selalu
dimanja dan bergelimang harta, Sara adalah anak yang cerdas, sopan, dan murah
hati. Beberapa siswa yang lebih tua cemburu pada keberuntungan Sara dan
mengejek dengan memberinya julukan “Putri Sara” mengacu pada sikapnya yang
sempurna. Tetapi dia justru menjadikan hal itu sebagai pengingat untuk bermurah
hati kepada orang lain.
Kemudian,
Kapten Crewe meninggal dan kekayaannya habis. Keadaan berbalik 180 derajat bagi
Sara. Tetapi karakternya yang kuat membuatnya mampu bertahan menghadapi
kemiskinan yang tiba-tiba dan penghinaan dari teman-temannya.
CUPLIKAN KISAH
Sebenarnya, blurb
novel ini sudah begitu jelas menggambarkan apa isi novel ini. Seorang gadis
kecil bernama Sara, dikirim oleh ayahnya untuk bersekolah di Asrama Nona
Minchin, di London. Memiliki ayah yang kaya raya dan amat menyayanginya tidak
membuat Sara menjadi gadis manja yang menyebalkan. Sebaliknya, Sara tumbuh
menjadi anak yang cerdas, sopan, baik hati, dan selalu ramah pada siapa saja.
Ada hal yang
membuat Sara istimewa dari anak-anak seumurannya. Sara pintar berimajinasi. Dia
sering mengkhayal dan menceritakan khayalannya pada orang-orang. Bagi ayahnya
dan beberapa orang, Sara menyenangkan. Tetapi bagi sebagian yang lain, Sara
anak aneh.
Sara memiliki
dua teman baik. Mereka adalah Ermengarde yang tidak pintar, dan Lottie, gadis
kecil yang cengeng. Sara sering menceritakan khayalannya kepada mereka berdua.
Beberapa anak juga ikut mendengarkan, termasuk Becky, seorang pesuruh di
Asrama. Meskipun banyak yang menyukai Sara, ada juga yang iri pada Sara:
Lavinia dan Jessie. Mereka tidak suka dengan Sara yang memakai gaun-gaun mahal
dan bersikap sangat sopan, seolah Sara adalah seorang puteri dari kerajaan.
Bahkan, Nona Minchin pun tidak menyukai Sara.
Hidup Sara
yang bergelimang harta berubah ketika ayahnya, Kapten Crewe, meninggal dunia.
Sara bersedih, tetapi ia dapat menerimanya dengan dewasa. Bahkan ketika ia
harus berubah status dari siswi menjadi pesuruh pun ia rela. Bersama Becky, ia
tinggal di loteng.
Rasa sedih
Sara seringkali muncul, tetapi ia berusaha berpikir positif dengan berkhayal
seolah-olah ia adalah seorang puteri yang sedang ditahan di dalam penjara.
Pikiran positif itulah yang membuat Sara bertahan. Meski sudah bukan lagi gadis
kaya, Ermengarde dan Lottie masih mau berteman dengannya. Tetapi yang paling
sering mengunjungi Sara di loteng adalah Ermengarde. Itu pun diam-diam, setelah
semua orang tidur.
Suatu ketika,
Sara yang sedang berada di jalan, merasa kedinginan dan lapar. Ia menemukan
empat penny dan tentu saja ia merasa senang. Dengan uang itu ia dapat
membeli roti kismis dan mengisi perutnya yang keroncongan karena belum diberi
makan. Tetapi, ketika Sara akan masuk ke toko roti, ia melihat anak kecil yang
juga kelaparan.
Ketika ia
masuk ke toko roti, ia tidak langsung membeli, tetapi bertanya terlebih dahulu
apakah penjual roti itu kehilangan uang sebesar empat penny. Mungkin,
sikap Sara yang jujur inilah yang membuat si penjual roti memberikan enam roti
kepada Sara, padahal seharusnya empat roti saja.
Setelah
mendapatkan enam roti kismis, Sara menemui anak kecil kelaparan tadi. Ia
memberikan lima roti dan pergi. Hal ini diketahui oleh penjual roti. Ketika ia
bermaksud mengejar Sara dan memberikan roti lagi, Sara sudah tidak terlihat.
Sara
benar-benar baik, bukan?
Dan
kebaikannya menular pada si penjual roti itu.
Hidup Sara
yang menyedihkan ini kembali berubah ketika khayalannya perlahan menjadi nyata.
Bagaimana itu
bisa terjadi?
Apakah Sara
hanya bermimpi?
REVIEW
Jujur saja
tidak banyak yang akan saya review dari novel terjemahan ini. Saya yang belum
lama mengenal buku terjemahan merasa kecewa dengan novel ini.
Novel ini
memiliki cerita yang sangat bagus. Berisi pesan bahwa seharusnya, kita
mencontoh Sara yang selalu berpikir positif. Dia selalu melihat semua hal dari
sisi positif dan itu yang membuatnya selalu bahagia.
Akan tetapi,
saya menemukan ketidaknyamanan saat membacanya. Selain banyak paragraf yang
terlalu panjang (sampai dua halaman penuh), saya menemukan typo yang
bertebaran layaknya ceres di atas donat. Bedanya, kalau ceres enak, kalau typo
nggak!
Kebanyakan typo
pada tanda kutip tutup yang tidak ada dalam dialog. Dan yang paling parah,
ada kesalahan nama tokoh yang membuat saya sempat berpikir sebenarnya yang
dibicarakan adalah tokoh lain.
Untuk orang
yang suka membaca, typo pasti menganggu. Termasuk pada saya. Terlebih
saya pernah menjadi proofreader dan juga editor beberapa buku,
jadi typo yang berkali-kali membuat saya kesal dan bertanya-tanya, “Ini
siapa sih, proofreader-nya? Apa editornya nggak cek lagi?”
Saya biasanya
agak halus dalam mengkritisi buku, tapi kali ini rasanya kata-kata halus nggak
cukup mewakili kekecewaan saya. Mohon maaf. T.T
Beberapa typo
sempat saya tandai. Untuk typo kutip tutup, ada di halaman 20, 24,
25. Kesalahan nama tokoh seharusnya Sara menjadi Sarah pada halaman 34, 61, 64,
67. Spasi sebelum titik pada halaman 65. Huruf kapital pada kata ‘dia’ di
halaman 67. Pengulangan huruf ‘k’ pada halaman 111. Pengulangan kata ‘tidak’
pada halaman 119.
Meski begitu,
saya tidak memungkiri bahwa novel ini bagus dan untuk yang tidak peduli typo
silakan membacanya. Semoga berikutnya pihak penerbit bisa memperbaiki novel
ini menjadi lebih baik.
QUOTES
Walau banyak typo,
tapi buku ini memuat quotes menarik juga, lho.
Kita
seharusnya bersyukur jika kita disukai. (hal. 40)
Kalau kau
bercerita, tidak ada yang lebih menyenangkan selain bercerita pada orang-orang
yang mau mendengarnya dengan senang hati. (hal. 69)
Menjadi
seorang puteri itu tidak ada hubungannya dengan penampilanmu atau apa yang
kaumuliki, tetapi apa yang kaupikirkan dan apa yang kaulakukan. (hal. 73)
Segala
sesuatu adalah sebuah kisah. (hal. 156)
Ketika orang
menghinamu, tidak ada cara yang lebih tepat untuk membalasnya selain diam.
(hal. 166)
Ketika
emosimu mudah terpancing, orang akan tahu kamu lebih kuat dibandingkan mereka
karena kamu mampu menahan kemarahanmu, sedangkan mereka tidak. (hal. 166)
RATING
Cover: 3/5
Tema: 3/5
Karakter tokoh: 3/5
Gaya bahasa: 2.8/5
Plot: 3/5
Overall: 2.8/5

