Jumat, 14 April 2017

[Review] Girls in the Dark

 

Judul: Girls in the Dark
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerjemah: Andry Setiawan
Penerbit: Haru
Jumlah halaman: 289 halaman
Cetakan Kesembilan 2016
Genre: Thriller/Horror


BLURB

Apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu?

Gadis itu mati.
Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati.
Di tangannya ada setangkai bunga lily.
Pembunuhan? Bunuh diri?
Tidak ada yang tahu.

Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkharisma itu.
Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh sebenarnya. Keenamgadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi ...

Kau ... pernah berpikir ingin membunuh seseorang?

CUPLIKAN CERITA

Cerita dibuka oleh Sumikawa Sayuri yang mendeskripsikan Klub Sastra dan salah satu kegiatan yang diberi nama yami-nabe. Secara harfiah artinya adalah panci dalam kegelapan. Dalam kegiatan ini peserta akan membawa bahan makanan yang dirahasiakan dari orang lain. Semua orang harus memasukkannya ke dalam panci berisi air mendidih dan kemudian memakannya. Karena saling tidak tahu bahan masing-masing, biasanya rasanya jadi tidak keruan. Kalau beruntung, jadi enak. (hal.9-10) Sambil menikmati yami-nabe, setiap anggota akan membacakan naskah berupa cerita pendek yang sudah ditulis. (hal. 10)

Anggota Klub Sastra yang ada di dalam ruangan itu adalah: Sumikawa Sayuri, Nitani Mirei, Kominami Akane, Diana Detcheva, Koga Sonoko dan Takaoka Shiyo.

Kenapa anggotanya hanya sedikit?

Karena memang Klub Sastra dinilai sebagai klub yang ekslusif dan tidak sembarang orang bisa masuk ke sana. Hanya orang-orang tertentu yang beruntung, yang diundang langsung oleh Shiraishi Itsumi, ketua Klub yang mati.

Pertemuan ini dibuka oleh wakil ketua Klub, yaitu Sumikawa Sayuri. Bisa dibilang, dia menjadi moderator acara ini. Sebuah cerita pendek dibawakan secara berurutan oleh masing-masing anggota. Dalam kegelapan dan hanya diterangi oleh lilin di dekat tempat membaca.

Setiap anggota menuliskan bagaimana pertemuan pertama mereka dengan Itsumi dan bagaimana pandangan mereka tentang gadis cantik itu. Setiap anggota memiliki pengalaman berbeda, dan saya bisa merasakan betapa pantasnya Itsumi menjadi pusat perhatian. Tetapi di bagian akhir setiap cerpen, selalu ada analisis tentang bagaimana Itsumi mati.

Ada yang berterus terang siapa pembunuhnya, ada pula yang dengan melakukan sindiran.

Yang jelas, semua cerita mereka terasa nyata.

Dan uniknya, setiap orang saling menuduh dalam karya mereka, tetapi tidak ada yang menyanggah. Terlihat sekali bagaimana mereka saling menghargai di sini.

Kalau saya ada di antara mereka dan menjadi yang tertuduh, pastinya sudah emosi dan melampiaskan semua itu dengan berbagai cara. Tetapi anggota Klub Sastra tidak melakukan itu.

Saya tidak akan menjelaskan bagaimana cerita setiap anggota karena pastinya review ini akan menjadi sangat panjang dan berujung pada spoiler. ^^


REVIEW

Ini adalah novel bergenre misteri pertama yang saya baca untuk mengikuti Challenge yang diadakan oleh Manager Haru di Instagram. Dan ini adalah karya Akiyoshi Rikako yang pertama juga yang saya baca.

Meskipun ini adalah sebuah novel, tetapi isinya kumpulan cerita pendek setiap anggota Klub dan analisis mereka bagaimana Itsumi mati.

Setiap tokoh bercerita dengan gaya masing-masing. Ada yang menggunakan bahasa baku, ada pula yang tidak. Dan karena tokoh dalam novel ini saling “menuduh” tokoh lain, saya tidak bisa mengetahui seperti apa karakter mereka sebenarnya.

Sebenarnya, novel ini tidak begitu seram. Yang membuat seram adalah ketika Sayuri berbicara. Itu rasanya ... seperti saya berada di tengah-tengah mereka dalam kegelapan.

Konfliknya tidak membuat emosi seperti novel romance pastinya, tetapi membuat kita terus bertanya-tanya, “Jadi siapa sih yang bunuh Itsumi? Jadi Itsumi mati dibunuh atau bunuh diri, sih?”

Begitulah.

Novel ini unik. Saya belum pernah membaca buku dengan konsep seperti ini. Novel yang saya rekomendasikan untuk kalian yang suka ending yang nggak biasa.


QUOTES

Sebenarnya kali ini bukan quotes, sih, karena saya nggak sempat menandai kata-kata yang mengetuk jiwa (#halah). Jadi ini adalah kalimat yang mudah-mudahan bikin kalian penasaran pengin baca:
  1. Cerita yang didengar di tengah kegelapan. Indra penglihatan direnggut. Cerita yang didengar di tengah tipuan panca indra. Tidakkah kalian pikir ini suasana yang sangat bagus? (hal. 15)
  2. Ada hal-hal yang tak bisa dibicarakan justru karena sahabat. (hal. 58)
  3. Kalau ada di dalam kegelapan seperti ini, rasanya susah sekali membedakan antara kebenaran dan tipu muslihat. (hal. 98)
  4. Kau selalu memandang rendah aku. Aku tidak akan memaafkanmu. Kubunuh kau. (hal. 137)
  5. Kuku yang baru saja ditata itu sudah panjang sampai kalau terkena saja sudah sakit. Kalau diperhatikan lebih lagi, rambutnya juga cepat menjadi panjang. (hal. 180)
  6. Hanya gadis itu yang menunjukkan wajah puas di tengah-tengah kerumunan gadis yang menangis sampai tersungkur. (hal. 187)
  7. Naskah yang akan saya baca ini, bukanlah naskah milik saya sendiri. Naskah ini ditulis sendiri oleh Shiraishi Itsumi. (hal. 224)
  8. Ada hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang. Pengorbanan diri. Kesetiaan. Budak yang absolut. (hal. 239)
  9. Jangan berteriak-teriak lagi seperti itu. Lagi pula, tidak ada yang bisa mendengar. Memalukan bukan, seorang putri berteriak? (hal. 270)

RATING

Cover: 5/5
Tema: 5/5
Karakter: 4/5
Gaya bahasa: 4/5
Plot: 4/5
Overall: 4.5/5