Jumat, 04 November 2016

Lomba Resensi Novel Love, Life, and Choir

Ini adalah cerita saya saat mengikuti lomba resensi novel Love, Life, and Choir yang diadakan oleh penulisnya, Kiky Aurora. :)

Saya mengenal Mbak Kiky lewat foto-fotonya yang diunggah di Facebook dan selalu merasa 'iri'. Kapaaan saya bisa berkunjung ke luar negeri. Hingga akhirnya saya mendapatkan info tentang lomba resensi novel pertamanya dengan hadiah sebagai berikut:

Juara 1: Tiket PP ke Kualalumpur
Juara 2: Biaya pembuatan paspor
Juara 3: Uang tunai/pulsa 100 ribu rupiah

Tanpa banyak pikir, saya langsung beli ke penerbit. Nggak muluk-muluk, target saya adalah juara 2. Saya pengin punya paspor meski entah kapan saya bisa pergunakan. Yang penting punya dulu, begitu mikirnya waktu itu.. XD

Begitu novel saya baca, saya berencana untuk langsung posting resensinya. Tapi begitu melihat resensi peserta lain, saya minder. Beberapa hari hasil resensi saya teronggok begitu saja di laptop, berpikir untuk apa saya ikutan kalau hanya untuk mengecewakan diri sendiri? Mustahil menang.
Tapi pada akhirnya saya kirim juga dengan pemikiran, "Lakukan ini untuk penulisnya. Sebagai bentuk penghargaan untuk penulis."

Hari demi hari berlalu. Saya lupa dengan lomba itu.

Hingga akhirnya, pada 26 September 2016, saya tiba-tiba ingat lomba itu. Masih teringat jelas di benak saya, saat itu pagi hari. Saya sedang bersiap-siap ke sekolah, sambil memakai jilbab.

"Kalau nggak salah pengumuman lomba resensi belum diumumin, deh."

"Eh, udah, jangan mikir apa-apa. Kamu itu kalau inget lomba yang kamu ikutin, pasti kalah. Selalu gitu. Stop. Jangan pikirin lagi. Kamu udah kalah."

Kata-kata itu hanya berasal dari hati. Saya pun melupakan kembali lomba itu.

Siang harinya, saat saya sedang mengetik naskah, laptop tiba-tiba mati. Padahal sudah bagian ending. Dan belum saya save. Jadi, apa yang saya tulis, hilang begitu saja. Saya kesal saat itu. Rasanya ingin menangis. Dan saya pun kembali menulis dengan sisa ingatan yang ada.

Saat akan tidur siang dan saya masih kepikiran naskah itu, tiba-tiba ada notifikasi email. Tercantum bahwa Mbak Kiky menandai saya dalam fotonya.

Ah, ini pasti titipan foto novel di Istanbul, pikir saya saat itu. Tapi bukannya Mbak Kiky baru berangkat Oktober, ya?

Jadi saya pun membuka Facebook (masih dalam posisi tiduran). Coba melihat foto apa yang di-tag. Daaan. ta-daaa ....



Begitu melihat fotonya, saya langsung terduduk. Ya Allah ... ini beneran? Saya baca berkali-kali. Takutnya mimpi. Keempat kalinya baca, saya yakin itu bukan mimpi. Saya malah bolak-balik di rumah, bingung harus gimana saking kagetnya. Saya bahkan nggak bisa komen apa-apa.

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

Alhamdulillah ...

Bisa ke luar negeri adalah salah satu resolusi saya di tahun 2016. Resolusi yang saya buat asal-asalan. Maksudnya, termasuk hal yang mustahil terwujud. Tapi apa sih, yang nggak mungkin bagi Allah? Semua mungkin. Kita tinggal perlu percaya pada mimpi-mimpi kita. Cita-cita kita. Harapan kita.

Mengutip kata-kata A. K. dalam buku Aku Doamu,

"God is always on time." Allah selalu tepat waktu.

Hari ini, 4 November 2016, saya selesai mengurus paspor. Sekarang menabung untuk bekal di sana dan terus berdoa agar dimudahkan. Perjuangan belum selesai. Tidak akan pernah selesai. Kembali berserah kepada-Nya.