Rabu, 06 September 2017

[Review] The Number You Are Trying to Reach is not Reachable



Judul: The Number You are Trying to Reach is not Reachable
Penulis: Adara Kirana
Penyunting: MB Winata
Penerbit: Bukune
Tahun terbit: 2016
Jumlah halaman: 298 halaman


Blurb

Kata orang-orang, aku ini genius dan kelewat serius.
Oke, memang koleksi piala dan medali olimpiadeku sedikit lebih banyak dari jumlah perempuan yang dilirik Zeus. Aku masih seusia anak kelas sepuluh, tapi sudah ikut beberapa try out SBMPTN, dan dapat nilai paling tinggi.
Namun, Kak Zahra—guru homeschooling-ku—menganggapku perlu bersosialisasi. Katanya, biar “nyambung” sama orang-orang.
Untuk apa? Aku punya teman kok: Mama, Kak Zahra, Hera, dan ... saudara-saudara yang sering kulupa namanya.

*

The Thirteen Books of Euclid’s Elements. Buku itu bisa kamu dapat asal kamu mau masuk SMA,” tantang Kak Zahra suatu hari.
Tidak mungkin. Itu kan, buku legendaris yang ditulis sejak abad ketiga sebelum Masehi. Aku ingin sekali mengoleksi dan mempelajarinya sendiri. Rasanya pasti memuaskan.
“Oke, aku coba satu semester, ya,” jawabku mantap.
Demi buku itu, bolehlah aku jalani hidup sebagai anak SMA biasa. Lagi pula, sesulit apa “nyambung” sama orang-orang?


Cuplikan Kisah dan Review

Novel dengan judul yang sangat panjang (yang saya punya) ini bercerita tentang Aira, seorang cewek antisosial yang ditantang masuk SMA agar mendapatkan buku impiannya.
Selama ini Aira homeschooling. Dia hanya pernah sekolah satu kali, yaitu ketika SD. Tetapi karena dia tidak sebanding dengan teman-teman sebaya dan sering dibilang aneh karena sangat genius, dia pun mulai homeschooling. Awalnya Aira tidak mau masuk sekolah biasa, tapi karena buku impiannya hanya bisa didapat jika dia mengikuti lomba cerdas cermat, dia pun setuju.
Ada tiga teman Aira yang menjadi pusat dalam cerita ini. Mereka adalah Kalila yang jago melukis, Rio si Guru Bahasa Gaul Aira, dan Arka, guru kelas tambahan.
Selama bersekolah, Aira lebih banyak berinteraksi dengan mereka. Awalnya dia banyak tidak mengerti bahasa-bahasa gaul seperti cabut, kuy, modus, dan lain sebagainya. Untung saja ada Rio yang bersedia mengajarinya jadi Aira bisa mengikuti obrolan orang, alias nyambung.

“Aira, kayaknya si Rio modus sama lo, deh,” kata Kesha tiba-tiba.
“Nilai terbanyak?” tanyaku.
“Hah?”
“Modus,” ulangku, menatap Kesha dengan bingung. (hal.43)

Karena tidak mau dinilai aneh oleh teman-temannya dan dijauhi, Aira sengaja menutup diri dan tidak menunjukkan kalau dia sebenarnya (sangat) pintar. Sampai akhirnya dia mengikuti tes seleksi cerdas cermat dan mendapat nilai sempurna. Kalila, yang juga mengikuti tes itu merasa dibohongi. Begitu juga dengan Rio yang mendaftarkan Aira ke kelas tambahan. Tapi bedanya, Rio memaafkan Aira, dan Kalila tidak.
Sejujurnya, saya agak pemilih dalam membeli “novel Wattpad”. Masalahnya, kali pertama saya membaca novel Wattpad, saya dibuat kecewa karena tanda baca yang berantakan. Tapi kemudian saya mendapat rekomendasi teman tepercaya untuk membeli novel yang sejak terbit sudah menarik perhatian saya dengan cover dan judul panjangnya ini.
Dan apa yang saya rasakan?
Asyik.
Novel ini ditulis dengan bahasa yang sangat ringan dan mengalir, sampai-sampai saya tidak terasa membacanya tahu-tahu sudah setengah buku. Karakter Aira saya rasakan sangat kuat. Adara Kirana benar-benar menunjukkan kepada pembaca kalau Aira ini genius, antisosial, dan nyata.
Sebelum membeli novel ini saya sudah pernah membaca tulisan Adara Kirana berupa cerpen yang terbit di akun Wattpad sebuah penerbit. Satu hal yang saya tahu sejak membaca tulisannya adalah, ada pesan yang ingin dia sampaikan. Hal itu saya temukan dalam novel ini.
Novel ini menyimpan banyak pesan, mulai dari menjadi diri sendiri, jangan takut bersosialisasi, dan berani untuk jujur. Masih banyak pesan-pesan lainnya yang membuat kita merasa diingatkan.
Hanya saja saya kurang nyaman dengan konfliknya. Ceritanya memang mengalir, tapi saking mengalirnya, saya tidak merasakan sesuatu yang menggebu-gebu saat membaca atau bisa dibilang ... datar. Saya juga merasa kecerdasan mamanya Aira tampak tidak natural, berbeda dengan Aira. Dan saya menemukan beberapa saltik (typo) dalam novel ini, yang paling sering adalah mendengkus. Setahu saya seharusnya mendengus.
Meski demikian, secara keseluruhan, saya menyukai novel ini karena menyimpan banyak pesan yang jarang saya temukan dalam novel remaja lain.

Quotes

Percuma kalau kamu pintar, tapi kamu enggak bisa bersosialisasi dengan baik. Hal. 4

Memangnya kalau kita membicarakan orang-orang—apalagi yang buruk-buruknya—
kita akan memperoleh manfaat? Hal. 13

Hidup enggak selalu tentang nilai. Hal. 18

Lagian, pelajaran enggak cuma didapetin dari buku. Lo juga bisa belajar dari orang-orang di sekitar lo. Bahkan, ada beberapa pelajaran yang cuma bisa lo dapetin dari pengalaman langsung. Hal. 20

Lo lebih percaya sama beberapa lembar uang buat kunci jawaban dibanding kemampuan otak lo sendiri? hal. 30

Siapa tahu aja, kalau kamu milih buat keluar dan jadi diri kamu sendiri, kamu malah bisa lebih baik. Hal. 202

Orang yang bener-bener temen kita, enggak bakal mungkin marah lama-lama. Hal. 206

Kalau kita panik, kemampuan berpikir kita juga akan menurun. Hal. 209

Rating

Cover: 5/5
Tema: 5/5
Tokoh: 4/5
Plot: 3/5
Gaya bahasa: 4/5

Overall: 3.8/5