Rabu, 17 Januari 2018

[Review] Holy Mother



Judul: Holy Mother
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerjemah: Andry Setiawan
Jumlah halaman: 284 halaman
Penerbit: Haru

Blurb

Terjadi pembunuhan mengerikan terhadap seorang anak laki-laki di kota tempat Honami tinggal. Korban bahkan diperkosa setelah dibunuh.
Berita itu membuat Honami mengkhawatirkan keselamatan putri satu-satunya yang dia miliki. Pihak kepolisian bahkan tidak bisa dia percayai.
Apa yang akan dia lakukan untuk melindungi putri tunggalnya itu?

Sekilas Kisah dan Ulasan

Holy Mother bercerita tentang pembunuhan tragis yang menimpa seorang anak laki-laki di kota Aiide. Padahal sebelumnya kota tersebut bisa dibilang kota yang tenang. Tetapi sejak kasus pembunuhan itu tersebar, banyak orangtua yang khawatir terhadap anaknya. Termasuk Honami.
Dulunya, Honami sulit memiliki anak. Berbagai cara telah dia lakukan, namun selalu saja gagal. Di usia yang tidak lagi muda, barulah dia berhasil hamil dan akhirnya melahirkan. Karena susahnya mendapatkan buah hati itulah dia jadi sangat mengkhawatirkan keselamatan putrinya setelah pembunuhan mengerikan terjadi.

Anak ini, putrinya, harus dia lindungi. Demi itu, dia rela melakukan apa pun. Seorang ibu yang melindungi anaknya akan mengerahkan seluruh kekuatannya. – hal. 18

Ini adalah ketiga kalinya saya membaca tulisan Akiyoshi Rikako (setelah Girls in The Dark dan The Dead Returns) dan sejauh ini saya selalu merasa puas. Akiyoshi memang dikenal sebagai penulis yang memiliki twist keren di setiap ending novelnya, itulah yang membuat saya ketagihan membaca karyanya.
Kabarnya, Holy Mother ini adalah novel yang menipu. Sebenarnya bukan menipu, tetapi pembaca yang tertipu. Saya pun termasuk yang tertipu. Akiyoshi sangat pandai menyembunyikan sesuatu di dalam tulisannya dan itu menjadi poin plus bagi saya pribadi.
Novel ini diceritakan menggunakan sudut pandang orang ketiga serbatahu, dari sisi Honami, dua detektif, dan si pembunuh itu sendiri. Dengan POV 3, pembaca dapat dengan mudah menyelami semua yang dirasakan dan dipikirkan oleh setiap tokohnya.
Dengan menggunakan gaya bahasa terjemahan yang ringan dan mengalir, saya sangat menikmati kisah dalam novel ini. Hal lain yang saya kagumi dari novel ini adalah informasi mengenai kedokteran yang sangat detail. Terlihat sekali kalau Holy Mother dibuat dengan sangat teliti dan risetnya saya yakin tidak mudah.

Tuba fallopii itu sangat penting. Pertama, dia bertugas untuk menerima sel telur yang dikeluarkan oleh indung telur. Kemudian, dia juga bertugas menerima sperma yang berenang-renang di tuba fallopii. Dia juga bertugas untuk menumbuhkembangkan sel telur yang sudah dibuahi, dan mengeluarkannya ke rahim. Meskipun Anda bisa menghasilkan sel telur yang bagus, kalau tuba fallopiinya ada masalah, kehamilan akan sangat sulit. –hal. 57

Dengan menggunakan alur maju-mundur, Akiyoshi Rikako berhasil membuat pembaca geregetan dengan tulisannya. Kalau dalam Girls in The Dark dan The Dead Returns kita diajak menebak siapa pelaku pembunuhan, dalam Holy Mother ini lain. Pembunuhnya sudah diungkap sejak awal dan jujur saja ini sempat membuat saya bengong: (Hah? Serius ini pembunuhnya disebut duluan?). Jadi, kita diajak untuk menebak apa sih yang menjadi alasan si pembunuh melakukan perbuatan kejinya.
Novel ini menggambarkan kalau perjuangan seorang ibu tidaklah mudah. Dan saya yakin seorang ibu memang pasti akan melakukan apa pun demi melindungi anaknya.

Quotes Favorit
Ini adalah salah satu quotes favorit saya dari Holy Mother:
Seorang ibu sampai kapan pun akan mendukung anaknya. –hal. 217

Rating

Cover: 4/5
Tema: 5/5
Karakter: 4/5
Alur: 4/5
Konflik: 5/5
Overall: 4.5/5