Minggu, 23 Juli 2017

Pengalaman Expert Writing Class di GWP 3

Expert Writing Class
Gramedia Writing Project Batch 3

Halooo... saya mau bercerita tentang Expert Class yang baru saya ikuti kemarin, 22 Juli 2017 yang bertempat di Jakarta Creative Hub, Jakarta Pusat.
Ini adalah sebuah pengalaman yang benar-benar menyenangkan dan istimewa buat saya karena bisa lolos seleksi tahap 1 dan 2 saat mengikuti Lomba GWP 3 serta bisa bertemu dengan para coach yang keren.
Siapa saja mereka? Apa saja yang diajarkan oleh masing-masing coach?


1.     Tere Liye
Siapa sih yang nggak tahu Tere Liye? Kayaknya yang nggak suka baca buku pun minimal pernah mendengar namanya. Yap, kemarin beliau menjadi coach dan memegang kelas Ide dan Karakter.
Dari penjelasan selama 45 menit kemarin saya mendapatkan beberapa inti:
-       Segala sesuatu di sekitar kita bisa menjadi ide
-       Penulis yang baik dapat melihat sesuatu dengan sudut pandang yang spesial
-       Jangan memasukkan karakter yang tidak dibutuhkan
-       Buat karakter yang diingat pembaca
Saya pikir, belajar dengan beliau akan menegangkan. Nyatanya nggak. Saya malah asyik dan dari penyampaian beliau saya merasa sangat tidak aneh karyanya selalu “meledak” di pasaran, terlepas ada orang yang suka dan tidak suka terhadap suatu buku tertentu.
Saya juga baru tahu bahwa beliau tidak menulis menggunakan outline. Dan menurut beliau, ini bukan hal yang harus diperdebatkan. Setiap penulis punya gaya masing-masing.

2.    Aan Mansyur
Sejujurnya ... saya baru tahu Aan Mansyur ini sejak di Instagram orang banyak mengunggah cover Tidak Ada New York Hari Ini. Saya pikir itu kumpulan cerpen, tapi ternyata puisi. 
Dan apakah di Expert Class beliau mengajarkan puisi? Nggak. Beliau mengajar tentang Narasi.
Dari penjelasan beliau, ada beberapa catatan. Sebenarnya cukup banyak sih, kalau di kelas Bang Tere Liye lebih ke praktik jadi catatannya nggak banyak, hehe.
Ini adalah yang sempat saya catat:
-       Satu kalimat harus membuat pembaca ingin membaca kalimat berikutnya
-       Setiap kalimat memiliki cerita
-       Dalam satu paragraf harus ada inti cerita dan terasa plotnya
-       Dalam satu paragraf ada tiga hal:
Bagian penting (1)
Bagian agak penting (2)
Bagian nggak penting (3)
Saat menulis, gunakan rumus: 2-3-1
-   Menulis ulang bukan hanya membuat tulisanmu menjadi bagus, tapi juga mengubahmu jadi penulis bagus. *Mantap!

3.    Rosi L. Simamora
Mbak Rosi ini dulunya editor di Gramedia Pustaka Utama, sekarang juga masih menjadi editor (kabarnya freelance?) sekaligus penulis. Di Facebook banyak sekali tips menulis yang saya dapatkan dan catat. Insya Allah kalau sedang senggang saya juga akan memasukkannya ke blog, seperti yang saya unggah sebelumnya, tentang 18 Langkah Menulis Novel.

Dalam acara Expert Class kemarin, Mbak Rosi memegang kelas Plot. Beliau menganalogikan seperti ini:
Rumah punya ruangan, cerita punya bab.
Rumah ada penghuni, cerita ada tokoh atau karakter.
Rumah punya alamat, cerita punya setting.
Dan rumah punya fondasi (penyangga), cerita punya plot.
Sudah kebayang kan, plot itu bagaimana?
Apa saja catatan saya di kelas Plot ini?
-       Plot nggak bisa dilihat, tapi bisa dirasa oleh pembaca yang peka.
-       Plot menyangga cerita dari awal sampai akhir
-       Dalam plot ada tiga bagian: awal, tengah (klimaks), dan akhir.
-       Plot berbicara tentang fokus cerita
-       Plot merangkum semua hal dalam cerita, mulai dari tokoh, setting, dan lain-lain.
-       Dalam plot, logika harus jalan, tidak boleh ada kebetulan.
-       Karakter harus berubah saat diberi konflik

4.    Hetih Rusli
Ada yang tahu Mbak Hetih Rusli? Beliau adalah editor Gramedia Pustaka Utama yang sempat saya pikir ... galak. *Maaf Mbak
Saat beliau datang saya sudah deg-degan tapi ternyata ... ceria sekaliii! Benar-benar menghibur dan belajar sama beliau itu nggak terasa waktunya. 45 menit serasa 10 menit. Asik banget!!
Beliau membahas tentang Editing. Yang sempat saya catat hanya sedikit karena lebih asyik melihat beliau berbicara karena seru!! 
-       Baca
Jangan malas membaca. Kalau seorang penulis malas baca, dia nggak akan punya waktu atau cara untuk menulis. Ini dikutip dari ucapan Stephen King. Dan pesan yang beliau sampaikan adalah: Baca di luar zona nyaman! Yap, ini yang sedang saya lakukan. 😉
-       Observasi
Penulis harus tahu kenapa dia menulis. Umumnya orang menjawab:
a.    Ingin mengisi kekosongan dalam jiwa
b.    Ingin mengeluarkan ide
c.     Ingin berbagi
-       Killing Your Darling!
Jangan masukkan yang “cuma kamu suka” ke tulisan kalau itu nggak penting. Hapus!!
-       Editing
Jangan malas ngedit!
-       Re-write
Nulis ulang itu penting, lho. Kalau kata Mbak Hetih, dengan menulis ulang kita bakalan sadar, “Tulisan gue busuk, ya!” 😂
Jadi jangan bosan menulis ulang sampai bener-bener yakin itu layak kirim.

5.    Bernard Batubara
Nah ... siapa sih, yang nggak tahu Abang satu ini? Banyak banget fansnya! Saya sendiri sudah baca novelnya yang Cinta. dan langsung suka dengan gaya menulisya. Bang Benz ini aktif banget di sosial media dan berbagi tentang bagaimana penulis seharusnya menggunakan sosial media.
-    Nggak semua penulis yang followersnya banyak tapi tulisannya biasa aja, maka buku itu laku di pasaran. Jadi nggak usah sedih untuk yang followersnya cuma 200an. *Bang, followers saya aja nggak sampai 20 gimana nggak sedih? 😢 Maklum, saya baru aktifin lagi Twitter sejak pertama kali bikin..
-    Jangan semua sosial media yang dipunya dijadikan alat untuk promosi. Nanti followers kalian bosan karena isinya itu-itu aja.
-       Untuk promosi buku, jangan ujug-ujug cover. Coba mulai dari quotes yang ada di buku itu, dan terakhir cover.
-       Pasang foto muka di media sosial. Ini penting karena banyak pembaca yang pengin tahu wajah penulisnya. *Saya yang ini ragu soalnya malu 😂
-       Jangan malu mengakui diri sebagai penulis. Tulis di bio kalau kamu penulis.
-    Dua hal yang harus diingat, harus responsif dan reaktif sama pembaca. Responsif berarti ramah pada mereka, balas mention atau sekadar like. Reaktif berarti nggak langsung merespons saat ada yang nggak suka sama tulisan kita. Biarkan saja karena itu masalah selera.
-   Penulis harus siap dengan kenyataan dicaci maki saat ada yang nggak suka karyanya

Okeee, itu adalah pelajaran yang saya dapatkan dalam acara kemarin. Bangun tidur barusan rasanya kayak mimpi udah ketemu sama para coach keren. Btw saya nggak punya foto kegiatan kemarin karena kondisi hape yang ... nggak cukup layak untuk foto di dalam ruangan. Sempet sedih sih, liat yang lain foto-foto, tapi ya sudahlah. Nanti saya coba minta foto dari peserta lain untuk dimasukkan ke blog ini, ya.
Dan ... di Expert Class ini pesertanya nggak cuma dari Jakarta, lho. Bahkan ada dari Surabaya, Jogja, Malang, Solo, Padang, Pekanbaru, Medan, Jambi, Makassar, Pontianak, sampai Samarinda. Dan siapa pemenang GWP 3???

Bukan, bukan saya, hahaha... mereka adalah...
Juara 1: M. Dwipatra (Jawa Tengah)
Juara 2: Indah Erminawati (Jawa Tengah)
Juara 3: Vevina Aisyahra (Jambi)
Harapan 1: Lia Isvaricha Nurida (Banten)
Harapan 2: Anastasye Natanael (Banten)


Selamat ya buat para pemenang GWP 3. Alhamdulillah saya sama sekali nggak sedih dan kecewa kemarin, soalnya sempat baca beberapa punya peserta lain yang oke. Jadi sadar diri, hahaha. Yang jelas saya nggak akan berhenti nulis dan pengalaman kemarin pastinya nggak akan terlupakan. 💕