Gramedia
Writing Project Batch 3
Halooo...
saya mau bercerita tentang Expert Class yang baru saya ikuti kemarin, 22 Juli
2017 yang bertempat di Jakarta Creative Hub, Jakarta Pusat.
Ini
adalah sebuah pengalaman yang benar-benar menyenangkan dan istimewa buat saya
karena bisa lolos seleksi tahap 1 dan 2 saat mengikuti Lomba GWP 3 serta bisa
bertemu dengan para coach yang keren.
Siapa
saja mereka? Apa saja yang diajarkan oleh masing-masing coach?
1.
Tere Liye
Siapa sih yang nggak
tahu Tere Liye? Kayaknya yang nggak suka baca buku pun minimal pernah mendengar
namanya. Yap, kemarin beliau menjadi coach dan memegang kelas Ide dan
Karakter.
Dari penjelasan selama
45 menit kemarin saya mendapatkan beberapa inti:
-
Segala sesuatu di
sekitar kita bisa menjadi ide
-
Penulis yang baik
dapat melihat sesuatu dengan sudut pandang yang spesial
-
Jangan memasukkan
karakter yang tidak dibutuhkan
-
Buat karakter
yang diingat pembaca
Saya
pikir, belajar dengan beliau akan menegangkan. Nyatanya nggak. Saya malah asyik
dan dari penyampaian beliau saya merasa sangat tidak aneh karyanya selalu “meledak”
di pasaran, terlepas ada orang yang suka dan tidak suka terhadap suatu buku
tertentu.
Saya
juga baru tahu bahwa beliau tidak menulis menggunakan outline. Dan
menurut beliau, ini bukan hal yang harus diperdebatkan. Setiap penulis punya
gaya masing-masing.
2.
Aan Mansyur
Sejujurnya ... saya baru
tahu Aan Mansyur ini sejak di Instagram orang banyak mengunggah cover Tidak Ada
New York Hari Ini. Saya pikir itu kumpulan cerpen, tapi ternyata puisi.
Dan apakah di Expert
Class beliau mengajarkan puisi? Nggak. Beliau mengajar tentang Narasi.
Dari penjelasan beliau,
ada beberapa catatan. Sebenarnya cukup banyak sih, kalau di kelas Bang Tere
Liye lebih ke praktik jadi catatannya nggak banyak, hehe.
Ini adalah yang sempat
saya catat:
-
Satu kalimat harus
membuat pembaca ingin membaca kalimat berikutnya
-
Setiap kalimat
memiliki cerita
-
Dalam satu
paragraf harus ada inti cerita dan terasa plotnya
-
Dalam satu
paragraf ada tiga hal:
Bagian penting (1)
Bagian agak penting (2)
Bagian nggak penting (3)
Saat menulis, gunakan
rumus: 2-3-1
- Menulis ulang bukan hanya membuat tulisanmu menjadi
bagus, tapi juga mengubahmu jadi penulis bagus. *Mantap!
3.
Rosi L. Simamora
Mbak Rosi ini dulunya
editor di Gramedia Pustaka Utama, sekarang juga masih menjadi editor (kabarnya freelance?) sekaligus
penulis. Di Facebook banyak sekali tips menulis yang saya dapatkan dan catat. Insya
Allah kalau sedang senggang saya juga akan memasukkannya ke blog, seperti yang
saya unggah sebelumnya, tentang 18 Langkah Menulis Novel.
Dalam acara Expert Class
kemarin, Mbak Rosi memegang kelas Plot. Beliau menganalogikan seperti ini:
Rumah punya ruangan,
cerita punya bab.
Rumah ada penghuni,
cerita ada tokoh atau karakter.
Rumah punya alamat,
cerita punya setting.
Dan rumah punya fondasi
(penyangga), cerita punya plot.
Sudah kebayang kan, plot
itu bagaimana?
Apa saja catatan saya di
kelas Plot ini?
-
Plot nggak bisa
dilihat, tapi bisa dirasa oleh pembaca yang peka.
-
Plot menyangga
cerita dari awal sampai akhir
-
Dalam plot ada
tiga bagian: awal, tengah (klimaks), dan akhir.
-
Plot berbicara
tentang fokus cerita
-
Plot merangkum
semua hal dalam cerita, mulai dari tokoh, setting, dan lain-lain.
-
Dalam plot,
logika harus jalan, tidak boleh ada kebetulan.
-
Karakter harus
berubah saat diberi konflik
4.
Hetih Rusli
Ada yang tahu Mbak Hetih
Rusli? Beliau adalah editor Gramedia Pustaka Utama yang sempat saya pikir ...
galak. *Maaf Mbak
Saat beliau datang saya
sudah deg-degan tapi ternyata ... ceria sekaliii! Benar-benar menghibur dan
belajar sama beliau itu nggak terasa waktunya. 45 menit serasa 10 menit. Asik
banget!!
Beliau membahas tentang
Editing. Yang sempat saya catat hanya sedikit karena lebih asyik melihat beliau
berbicara karena seru!!
-
Baca
Jangan malas membaca. Kalau
seorang penulis malas baca, dia nggak akan punya waktu atau cara untuk menulis.
Ini dikutip dari ucapan Stephen King. Dan pesan yang beliau sampaikan adalah: Baca
di luar zona nyaman! Yap, ini yang sedang saya lakukan. 😉
-
Observasi
Penulis harus tahu
kenapa dia menulis. Umumnya orang menjawab:
a.
Ingin mengisi
kekosongan dalam jiwa
b.
Ingin
mengeluarkan ide
c.
Ingin berbagi
-
Killing Your Darling!
Jangan masukkan yang “cuma
kamu suka” ke tulisan kalau itu nggak penting. Hapus!!
-
Editing
Jangan malas ngedit!
-
Re-write
Nulis ulang itu penting,
lho. Kalau kata Mbak Hetih, dengan menulis ulang kita bakalan sadar, “Tulisan
gue busuk, ya!” 😂
Jadi jangan bosan
menulis ulang sampai bener-bener yakin itu layak kirim.
5.
Bernard Batubara
Nah ... siapa sih, yang
nggak tahu Abang satu ini? Banyak banget fansnya! Saya sendiri sudah baca
novelnya yang Cinta. dan langsung suka dengan gaya menulisya. Bang Benz ini
aktif banget di sosial media dan berbagi tentang bagaimana penulis seharusnya menggunakan
sosial media.
- Nggak semua
penulis yang followersnya banyak tapi tulisannya biasa aja, maka buku itu laku
di pasaran. Jadi nggak usah sedih untuk yang followersnya cuma 200an. *Bang,
followers saya aja nggak sampai 20 gimana nggak sedih? 😢 Maklum, saya baru
aktifin lagi Twitter sejak pertama kali bikin..
- Jangan semua
sosial media yang dipunya dijadikan alat untuk promosi. Nanti followers kalian
bosan karena isinya itu-itu aja.
-
Untuk promosi
buku, jangan ujug-ujug cover. Coba mulai dari quotes yang ada di buku
itu, dan terakhir cover.
-
Pasang foto muka
di media sosial. Ini penting karena banyak pembaca yang pengin tahu wajah
penulisnya. *Saya yang ini ragu soalnya malu 😂
-
Jangan malu
mengakui diri sebagai penulis. Tulis di bio kalau kamu penulis.
- Dua hal yang
harus diingat, harus responsif dan reaktif sama pembaca. Responsif berarti
ramah pada mereka, balas mention atau sekadar like. Reaktif
berarti nggak langsung merespons saat ada yang nggak suka sama tulisan kita. Biarkan
saja karena itu masalah selera.
- Penulis harus siap dengan kenyataan dicaci maki saat
ada yang nggak suka karyanya
Okeee,
itu adalah pelajaran yang saya dapatkan dalam acara kemarin. Bangun tidur
barusan rasanya kayak mimpi udah ketemu sama para coach keren. Btw saya
nggak punya foto kegiatan kemarin karena kondisi hape yang ... nggak cukup layak
untuk foto di dalam ruangan. Sempet sedih sih, liat yang lain foto-foto, tapi
ya sudahlah. Nanti saya coba minta foto dari peserta lain untuk dimasukkan ke
blog ini, ya.
Dan
... di Expert Class ini pesertanya nggak cuma dari Jakarta, lho. Bahkan ada
dari Surabaya, Jogja, Malang, Solo, Padang, Pekanbaru, Medan, Jambi, Makassar,
Pontianak, sampai Samarinda. Dan siapa pemenang GWP 3???
Bukan,
bukan saya, hahaha... mereka adalah...
Juara
1: M. Dwipatra (Jawa Tengah)
Juara
2: Indah Erminawati (Jawa Tengah)
Juara
3: Vevina Aisyahra (Jambi)
Harapan
1: Lia Isvaricha Nurida (Banten)
Harapan
2: Anastasye Natanael (Banten)
Selamat
ya buat para pemenang GWP 3. Alhamdulillah saya sama sekali nggak sedih dan
kecewa kemarin, soalnya sempat baca beberapa punya peserta lain yang oke. Jadi sadar
diri, hahaha. Yang jelas saya nggak akan berhenti nulis dan pengalaman kemarin pastinya nggak akan terlupakan. 💕


Keren Yessii ��������
BalasHapusKeren Yessii ��������
BalasHapus