Judul: A Thing Called Us
Penulis: Andry Setiawan
Penyunting: Ayuning
Penerbit: Haru
Jumlah halaman: 290 halaman
Blurb
Ini kisah cinta yang biasa.
Tentang tiga orang sahabat.
Tentang mereka yang memendam perasaan masing-masing.
Shun, Kotoha, dan Shinji sudah berteman sejak kecil.
Sampai suatu saat, Shinji tiba-tiba memutuskan untuk
menghilang dari kehidupan mereka tanpa memberi kabar secuil pun.
Setelah lima tahun berlalu, Kotoha masih menunggu Shinji
pulang.
Sementara itu, Shun menunggu Kotoha melupakan pria itu.
Namun, mau sampai kapan mereka saling menunggu?
Mereka hanya bisa berharap, kisah cinta yang biasa ini
tidak berakhir dengan penyesalan.
Ulasan Kisah dan
Kesan
Kisah dimulai setelah lima tahun Shinji menghilang. Shun
dan Kotoha yang masih bersama, sulit untuk melupakan. Apalagi Kotoha, yang bisa
dibilang cinta mati kepada Shinji. Sementara Shun, tidak berhenti berharap
Kotoha akan memahami perasaannya. Sebenarnya Shun sudah mengungkapkan perasaan,
tetapi Kotoha selalu mengabaikan. Tidak menerima, juga tidak menolak.
Posisi Shun di sini benar-benar menyakitkan karena Kotoha
mempermainkan perasaannya. Apalagi saat dia tahu ada perempuan yang menyukai
Shun. Di satu sisi, dia tidak mau kehilangan Shun. Tapi di sisi lain, dia tidak
bisa menerima Shun menjadi kekasihnya. Padahal, Shun selalu ada untuk Kotoha. Dia
selalu menemani gadis itu. Tapi Kotoha bahkan tidak mau membaca apalagi
mengangkat telepon dari Shun. Menyebalkan!
Dari awal membaca novel ini saya sudah merasakan
kemuraman yang sangat kental karena langsung ditunjukkan bagaimana kondisi Shun
dan Kotoha setelah lima tahun Shinji menghilang. Tapi bukan berarti suasana
kelam membuat bosan, karena ada dua tokoh periang di antara mereka, yaitu Aki
dan Hayato.
Aki diceritakan sebagai rekan kerja Shun, dan Hayato bos
mereka. Karakter mereka yang cuek, seenaknya, menjadi pewarna tersendiri dalam
novel ini.
Dengan menggunakan POV 3 serba tahu, penulis berhasil
menggambarkan perasaan setiap tokoh sehingga pembaca mampu menyelami karakter
mereka. Gaya bahasa yang digunakan seperti terjemahan, tapi ringan dan mengalir.
Jadi tidak perlu khawatir kalau kalian tidak suka baca buku terjemahan.
Oh ya, karakter yang paling saya suka adalah Aki, seorang
cewek mungil, ceriwis, dan suka susu stroberi. Sedangkan karakter yang tidak
saya suka adalah Kotoha, karena yang dia lakukan kepada Shun sangat kejam!
Saya menyukai novel ini, nyaris semuanya! Cover, tema, gaya
bahasa, alur, sampai penyelesaian masalah di antara mereka. Apalagi ketika
bagian Shun dan keluarganya, itu benar-benar natural dan menguras emosi. Tapi,
yang saya lihat kurang adalah porsi untuk Shinji. Ini kisah mereka bertiga,
tapi kenapa Shinji sedikit sekali diceritakan? Bukan berarti novel ini
diselesaikan dengan terburu-buru, hanya saja saya merasa kurang saja di bagian
Shinji.
Meski demikian, saya suka novel ini!
Salah satu novel terbaik yang pernah saya baca.
Saya bahkan mungkin akan membacanya sekali lagi. Atau dua
kali? Atau malah lebih?
Quotes Keren
Tetap saja, diabaikan itu rasanya tidak menyenangkan.
–hal. 46
Murung tidak akan menyelesaikan masalah, kan? –hal. 48
Kita tidak bisa menahan perasaan kita sendiri, kan?
Apalagi memaksakan perasaan kita. –hal. 50
Ada segelintir orang yang tidak ingin dibantu. –hal. 51
Kita tidak bisa tidak melakukan apa-apa jika kita
menyukai seseorang, kan? –hal. 61
Dan lagi, perasaanbukan mainan. –hal. 86
Ada hubungan di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan
hanya dengan satu kata ‘suka’. –hal. 89
Rating
Cover: 5/5
Tema: 3.5/5
Karakter: 4/5
Gaya bahasa: 4/5
Konflik: 4/5
Overall: 4/5
