Rabu, 10 Mei 2017

[Review] Dessert


Judul: Dessert
Penulis: Elsa Puspita
Penerbit: Bentang Pustaka
Jumlah halaman: 318 halaman
Cetakan pertama, 2016
ISBN: 978-602-291-121-0

BLURB

Bagi sebagian orang, cinta SMA hanyalah salah satu kenangan masa remaja yang mudah saja untuk dilupakan. Namun, bagaimana jika ia kembali hadir di masa kini? Sosoknya yang sekarang jauh berbeda dibandingkan dulu. Ia lebih tampan, lebih berkarisma, dan lebih berpotensi kembali mencuri hati.

Naya begitu kaget ketika melihat Dewa kembali ke Tanah Air, setelah selama delapan tahun sekolah dan bekerja di Australia. Karena campur tangan Lulu, sahabat sekaligus partner bisnis Naya, pria itu kini membantu calon resto baru Naya dan Lulu, sebagai pastry chef. Namun, semuanya jadi tidak mudah. Di tengah kesibukan jelang pembukaan Dapoer Ketje, keduanya justru melancarkan aksi perang dingin dengan ego masing-masing.

Suasana makin parah dengan kehadiran Ava, mantan kekasih Dewa yang datang dari Australia. Juga Dipati, mantan Naya yang seorang artis. Perang dingin di antara mereka tampaknya akan meledak, memuntahkan segala ganjalan yang telah tersimpan selama bertahun-tahun. Sesuatu yang menyadarkan mereka bahwa masa lalu itu belum selesai sepenuhnya.

CUPLIKAN KISAH

Tidak seperti orang kebanyakan yang begitu mudah melupakan cinta masa SMA, Naya justru sulit. Delapan tahun berlalu dan Naya masih belum bisa move on dari Dewa. Bukan. Dewa bukan cinta pertama Naya. Dewa hanyalah laki-laki culun yang berbeda dari laki-laki lain yang pernah menjadi kekasih Naya.
Usia Dewa yang lebih muda setahun dari Naya dan karakternya yang pendiam tidak membuat Naya minder. Justru Nayalah yang mengungkapkan secara langsung perasannya kepada Dewa. Zaman sekarang perempuan memang berani, bukan?
Saat Dewa melanjutkan sekolah ke Australia, Naya terpaksa menjalani hubungan jarak jauh. Tahun pertama, baik-baik saja. Tahun kedua, Dewa mulai sulit dihubungi. Naya tidak percaya Dewa hanya sibuk. Bagaimana mungkin untuk mengirim pesan seminggu sekali saja sulit?
Dewa menghilang.
Hubungan berakhir begitu saja. Tanpa penjelasan.
Hingga akhirnya mereka dipertemukan kembali di Palembang. Naya yang resign dari pekerjaannya sebagai presenter acara kuliner, memutuskan bergabung dengan Lulu dan Arfan, yang akan membuat resto. Di sanalah ia bertemu kembali dengan Dewa.
Perang dingin terjadi. Dan cerita mengalir begitu saja hingga suasana mulai mencair. Belum cair sepenuhnya, masalah kembali muncul dengan kehadiran Dipati dan Ava di tengah-tengah mereka.
Naya tidak ingin penjelasan. Semua yang ada di antara mereka sudah usai meskipun hatinya merindukan sosok Dewa.
Namun, apakah bisa masalah selesai tanpa dibicarakan?

REVIEW

Sejak awal saya tahu akan ada seri Yummylit yang terbit, saya tidak begitu antusias. Kenapa? Karena saya tidak begitu suka membaca buku yang bertema makanan. Apa, ya ... rasanya giung gitu. Tapi serius, cover-covernya menarik sekaliii. Saya jadi penasaran juga akhirnya.
Sebelum membeli, saya mencari tahu dulu dari #booklovers yang menjadi teman saya di Instagram, buku mana yang harus lebih awal dibeli. Dan ternyata banyak sekali yang merekomendasikan buku ini.
Sebenarnya saya memang sudah tertarik dengan buku ini karena covernya yang cute sekali. Yah, meskipun saya bukan orang yang suka warna jreng, tapi tetap saja saya perempuan yang menyukai hal-hal menarik. Judulnya juga hanya satu kata, sehingga mudah diingat. Jadi, saya segera membeli ini.
Ini adalah kali pertama saya membaca tulisan Elsa Puspita. Dan bisa dibilang, saya tidak kecewa membeli buku ini. Saya setuju, buku ini bagus.
Seperti judul serinya, Yummylit, novel ini bertema makanan. Konsep makanan yang digambarkan oleh penulis begitu jelas, bukan sekadar tempelan. Karakter setiap tokohnya juga begitu kuat, didukung oleh point of view yang digunakan penulis, yaitu POV ketiga serba tahu.
Naya, digambarkan sebagai perempuan yang keras kepala, cuek, dan hobi makan. Lula, sahabat Naya yang super duper peduli pada Naya. Dewa yang irit bicara dan cool. Arfan, yang tegas namun juga cerewet. Ada juga Damar, kakak Naya, yang jail namun amat menyayangi adiknya. Dan beberapa tokoh lain yang karakternya begitu tercermin baik secara show maupun tell.
Untuk plot, saya merasakan temponya cepat, tetapi tepat. Tidak ada hal-hal yang muncul dan sia-sia. Semua berkaitan dan seimbang.
Cara penulis mendeskripsikan setting tempat cukup saya kagumi. Saya sampai dapat membayangkan dengan jelas bagaimana bentuk Dapoer Ketje secara fisik dan penasaran untuk berada di sana. Benar-benar terkesan nyata.
“Meja bar,” Naya berjalan ke salah satu sudut, “kabinet di belakangnya, semua dibikin kayak yang biasa ada di dapur. Meja-kursi di ruang makan keluarga.” – hal. 36
“Interiornya bisa pakai peralatan dapur!” tambah Lulu. “Panci, wajan, spatula, semacamnya, dipajang di dinding. Terus duplikasi bumbu-bumbu masak dari styrofoam atau apa gitu, juga digantung jadi hiasan.” – hal. 36
“Pintu dapur ada tiga. Pintu belakang, langsung mengarah ke luar; pintu depan, ada di belakang meja bar, tempat pramusaji ngasih dan ngambil pesanan buat dikasih ke pelanggan; pintu tambahan, semacam connecting door antara dapur sama ruang manajer.” – hal. 38
Yang saya sayangkan dari novel ini hanya dua hal. Pertama, ada pengulangan tentang bagaimana sosok Dewa yang sama-sama dicantumkan dalam bentuk narasi.
Sosok Dewa digambarkan sebagai laki-laki yang memiliki lesung pipit di sebelah kanan. Sebenarnya lesung pipit itu ada dua, tetapi yang sebelah kiri hanya terlihat ketika dia tersenyum lebar. Penjelasan mengenai ini diulang dua kali dan nyaris sama.
... dan satu lesung pipit di sebelah kanan. Dua, sebenarnya. Hanya saja yang sebelah kiri baru terlihat saat Dewa benar-benar tertawa lebar, yang sangat jarang dilakukannya. – hal. 56
Dewa punya dua lesung pipit sebenarnya. Hanya saja, lesung pipit di kiri tidak sejelas di kanan hingga hanya muncul saat Dewa tersenyum lebar atau tertawa lepas, tidak seperti di sebelah kanan. – 167
Sebenarnya, jika pembaca tidak begitu sadar, ini bukan masalah. Tetapi bagi yang sadar seperti saya, jujur saja ini sedikit mengganggu.
Dan kedua, saya tidak melihat korelasi yang kuat antara judul novel dengan isi. Novel ini berjudul Dessert, tetapi pembahasan tentang dessert tidak begitu banyak dan baru muncul lumayan intens di bagian tengah menjelang akhir. Ada, tetapi tidak banyak. Mungkin kalau sejak awal sudah dijelaskan, baru akan terasa pas. Ini pendapat pribadi lho, ya.
Tapi meskipun begitu, overall saya menyukai novel ini. Suka sekali, malah. ^^

QUOTES


  • Doa buruk memang tidak pernah terkabul. (hal. 55)
  • Kalau mood buruk sudah mengambil alih, mengendalikan diri menjadi pekerjaan yang cukup sulit. (hal. 64)
  • Nikahi perempuan yang menurut kamu pantas buat kamu sayangi, lindungi, dan hormati seumur hidup kamu. Nikahi dia karena kamu mau, bukan karena harus. (hal. 224)
  • Satu hubungan itu harus berjalan dua arah. (hal. 243)

RATING
Cover: 5/5
Tema: 3.5/5
Karakter tokoh: 4/5
Plot: 4/5
Gaya bahasa: 4/5
Overall: 4/5