18 Langkah Menulis Novel
oleh: Rosi L. Simamora
Kalian suka menulis? Ingin menulis novel? Berikut ini
adalah 18 langkah yang saya dapatkan dari akun Facebook Mbak Rosi L. Simamora.
Baca buku sebanyak-banyaknya. Kualitasmu banyak
tergantung dari mutu bacamu.
Kalimat ini selalu saya ingat baik-baik karena saya pengin tulisan saya berkualitas. Dan akhirnya saya mulai memilih bacaan yang sekiranya bisa saya pelajari, bukan cuma untuk menghibur. Tapi saya juga kadang membaca buku untuk hiburan kok.
Kalimat ini selalu saya ingat baik-baik karena saya pengin tulisan saya berkualitas. Dan akhirnya saya mulai memilih bacaan yang sekiranya bisa saya pelajari, bukan cuma untuk menghibur. Tapi saya juga kadang membaca buku untuk hiburan kok.
Sediakan waktu untuk menulis. Jangan menulis menuruti mood.
Apa kalian termasuk penulis moody?
Kalau iya, saya juga mungkin (?). Saya nggak tahu sih termasuk penulis moody
atau bukan. Ada saatnya saya tidak menulis karena ingin membaca seharian. Ada
juga saatnya saya mencari buku untuk membantu saya menulis, dan ada saatnya saya nggak nulis tanpa alasan jelas. Apa ini termasuk moody?
Kenali pembaca dan pasar
Kalau sasaran saya sih biasanya 16-20
tahunan. Ya jenis teenit atau Young Adult gitu. Pernah coba untuk 21-28, tapi kayaknya kurang sreg sih. Lebih nyaman remaja, hehe..
Kembangkan dulu ide sebelum dituliskan
Nah ini nih, kadang saya muncul ide
langsung bikin draft baru dan akhirnya terbengkalai. Nggak bisa dicatat dulu
karena saya punya rasa takut buku catatan diintip orang, hahaha. Tapi kayaknya
mulai sekarang mesti dicatat dulu deh.
Tulis dalam satu kalimat, ceritamu tentang apa? Tentukan
pertanyaan besar yang dituju plot atau ceritamu.
Saya biasanya nggak sampai ditulis,
langsung aja bablas. Dan kayaknya itu yang bikin tulisan saya sering kali
ngalor-ngidul dan lupa tujuan awal.
Ciptakan karakter
Seringkali saya menulis saat menemukan satu
karakter yang “pantas” diungkap dan nggak pakai riset kenapa dia begini-begitu.
Jadinya nggak logis karakternya. Tapi sekarang-sekarang saya mulai coba untuk
konsisten dengan membuat catatan karakter, jadi kalau melenceng bisa saya ubah.
Setelah naskah selesai kadang saya merasa karakter kurang kuat, dan sepertinya
saya masih harus banyak belajar.
Bangun latar (karakter, tempat, waktu)
Ini yang cukup sulit buat saya, terutama
latar tempat. Dalam membuat narasi, rasanya saya terlalu kaku dan nggak “keluar”.
Deskripsi tempat seadanya dan membuat tulisan nggak hidup. Jadinya banyak
dialog. Hahaha. Saya harus banyak belajar lagi supaya bisa seimbang.
Susun plot, tambahkan sub-plot
Ini penting banget lho, Teman. Supaya nggak
terjadi plot yang bolong. Kayak gimana plot bolong itu? Kalau saya sih
bayanginnya gini: Saya membaca buku. Tokohnya mengalami banyak kejadian, tapi
ada yang belum selesai atau belum jelas dari kejadian itu. Mengambang, membuat
kita bertanya-tanya. Bener nggak ya bayangan saya? Hihi. Maaf kalau salah.
Tentukan POV (POV pertama membuat cerita lebih dalam, POV
ketiga membuat cerita lebih luas)
POV mana yang lebih kamu suka? Kalau saya
POV ketiga. Pernah coba pakai POV pertama kok rasanya nggak ada yang mau “diomongin”.
XD
Tulis draft pertama sampai selesai
Hayooo ... siapa yang draft-nya nggak
beres-beres malah numpuk di lappy? Saya!! Hahaha. Saya belum bisa konsisten
untuk ngerjain satu naskah lalu beresin. Saya masih sering kena penyakit “muncul
ide-buat naskah baru”.
Cek POV apakah sudah tepat?
Cek plot
Cek karakter
Cek setting
Cek tema
Edit dan revisi. Buang yang tidak perlu.
Saya termasuk yang nggak tegaan untuk buang
yang nggak perlu. Makanya, kadang kalau revisi nggak beres-beres karena saya
maunya yang begitu. Tapi saya mulai belajar untuk bikin file draft
sebagai tempat “pembuangan” yang nggak perlu. Dan ini membantu sekali. Serius. Waktu
saya nulis naskah GWP3 dan suatu saat bingung melanjutkan, saya buka file “pembuangan”
lalu dapat ide, masuk-masukin lagi yang dibuang dan diganti sana-sini.
Poles lalu cek typo
Ini penting nih, Teman. Jangan sampai
halaman-halaman awal kalian banyak typo. Dijamin editor males lanjutin
meski sebenernya menarik. (Curcol proofreader yang bete karena lihat
banyak typo. Hahaha.)
Tapi saya nggak bisa salahkan juga tentang typo
ini. Kalau lihat dari sisi sebagai penulis, typo ini nyebelin banget! Adaaa
aja yang terlewat. Kadang saya mengakalinya dengan pakai zoom waktu self-editing.
Tapi kadang tetep aja sih, suka ada yang lolos. 😑😑
Kirim!
Untuk ngirim ini saya sering galau juga.
*halah
Saya bingung kirim ke mana ya? Penerbit mana
ya? Yang sering jadi pertimbangan adalah, kira-kira ada konfirmasi nggak ya? Kira-kira
bakalan digantung kayak yang dulu-dulu nggak ya? Itu, sih.
Tapi akhirnya kita bakalan ngerasa ...
sebutlah “sesuatu” yang bikin kita akhirnya milih penerbit “itu”. Setelah
kirim, ya kita harusnya berdoa dan bersabar menunggu sambil menulis naskah
lain. Tapi kadang saya malah kepikiran pengin revisi.. *lho baru aja kirim,
haha.. 😂
Sekarang sih saya coba untuk menahan
keinginan itu dan kerjain naskah lain.
Saat ini ada satu naskah saya yang selama
tiga tahun digantung penerbit ternama. Saya udah dua kali nanya sama editornya
sih katanya nanti dikabarin. Tapi nggak ada kabar sampai tahun lalu saya
menyerah bertanya dan nggak mau diblacklist karena bawel, wkwkwk. Sudahlah ya,
mungkin ditolak.
Intinya, setelah kirim kalian jangan diam
aja. Nulis lagi!
Nah, itu tips dari Mbak Rosi yang saya dapatkan. Awalnya saya cuma tulis di buku catatan sih, tapi rasanya pengin berbagi juga sama yang lain. Siapa tahu bermanfaat. 😊