Jumat, 21 Juli 2017

18 Langkah Menulis Novel

18 Langkah Menulis Novel
oleh: Rosi L. Simamora

   Kalian suka menulis? Ingin menulis novel? Berikut ini adalah 18 langkah yang saya dapatkan dari akun Facebook Mbak Rosi L. Simamora.

Baca buku sebanyak-banyaknya. Kualitasmu banyak tergantung dari mutu bacamu.
Kalimat ini selalu saya ingat baik-baik karena saya pengin tulisan saya berkualitas. Dan akhirnya saya mulai memilih bacaan yang sekiranya bisa saya pelajari, bukan cuma untuk menghibur. Tapi saya juga kadang membaca buku untuk hiburan kok.

Sediakan waktu untuk menulis. Jangan menulis menuruti mood.
Apa kalian termasuk penulis moody? Kalau iya, saya juga mungkin (?). Saya nggak tahu sih termasuk penulis moody atau bukan. Ada saatnya saya tidak menulis karena ingin membaca seharian. Ada juga saatnya saya mencari buku untuk membantu saya menulis, dan ada saatnya saya nggak nulis tanpa alasan jelas. Apa ini termasuk moody

Kenali pembaca dan pasar
Kalau sasaran saya sih biasanya 16-20 tahunan. Ya jenis teenit atau Young Adult gitu. Pernah coba untuk 21-28, tapi kayaknya kurang sreg sih. Lebih nyaman remaja, hehe..

Kembangkan dulu ide sebelum dituliskan
Nah ini nih, kadang saya muncul ide langsung bikin draft baru dan akhirnya terbengkalai. Nggak bisa dicatat dulu karena saya punya rasa takut buku catatan diintip orang, hahaha. Tapi kayaknya mulai sekarang mesti dicatat dulu deh.

Tulis dalam satu kalimat, ceritamu tentang apa? Tentukan pertanyaan besar yang dituju plot atau ceritamu.
Saya biasanya nggak sampai ditulis, langsung aja bablas. Dan kayaknya itu yang bikin tulisan saya sering kali ngalor-ngidul dan lupa tujuan awal. 

Ciptakan karakter
Seringkali saya menulis saat menemukan satu karakter yang “pantas” diungkap dan nggak pakai riset kenapa dia begini-begitu. Jadinya nggak logis karakternya. Tapi sekarang-sekarang saya mulai coba untuk konsisten dengan membuat catatan karakter, jadi kalau melenceng bisa saya ubah. Setelah naskah selesai kadang saya merasa karakter kurang kuat, dan sepertinya saya masih harus banyak belajar.

Bangun latar (karakter, tempat, waktu)
Ini yang cukup sulit buat saya, terutama latar tempat. Dalam membuat narasi, rasanya saya terlalu kaku dan nggak “keluar”. Deskripsi tempat seadanya dan membuat tulisan nggak hidup. Jadinya banyak dialog. Hahaha. Saya harus banyak belajar lagi supaya bisa seimbang.

Susun plot, tambahkan sub-plot
Ini penting banget lho, Teman. Supaya nggak terjadi plot yang bolong. Kayak gimana plot bolong itu? Kalau saya sih bayanginnya gini: Saya membaca buku. Tokohnya mengalami banyak kejadian, tapi ada yang belum selesai atau belum jelas dari kejadian itu. Mengambang, membuat kita bertanya-tanya. Bener nggak ya bayangan saya? Hihi. Maaf kalau salah.

Tentukan POV (POV pertama membuat cerita lebih dalam, POV ketiga membuat cerita lebih luas)
POV mana yang lebih kamu suka? Kalau saya POV ketiga. Pernah coba pakai POV pertama kok rasanya nggak ada yang mau “diomongin”. XD

Tulis draft pertama sampai selesai
Hayooo ... siapa yang draft-nya nggak beres-beres malah numpuk di lappy? Saya!! Hahaha. Saya belum bisa konsisten untuk ngerjain satu naskah lalu beresin. Saya masih sering kena penyakit “muncul ide-buat naskah baru”.

Cek POV apakah sudah tepat?

Cek plot

Cek karakter

Cek setting

Cek tema

Edit dan revisi. Buang yang tidak perlu.
Saya termasuk yang nggak tegaan untuk buang yang nggak perlu. Makanya, kadang kalau revisi nggak beres-beres karena saya maunya yang begitu. Tapi saya mulai belajar untuk bikin file draft sebagai tempat “pembuangan” yang nggak perlu. Dan ini membantu sekali. Serius. Waktu saya nulis naskah GWP3 dan suatu saat bingung melanjutkan, saya buka file “pembuangan” lalu dapat ide, masuk-masukin lagi yang dibuang dan diganti sana-sini.

Poles lalu cek typo
Ini penting nih, Teman. Jangan sampai halaman-halaman awal kalian banyak typo. Dijamin editor males lanjutin meski sebenernya menarik. (Curcol proofreader yang bete karena lihat banyak typo. Hahaha.)
Tapi saya nggak bisa salahkan juga tentang typo ini. Kalau lihat dari sisi sebagai penulis, typo ini nyebelin banget! Adaaa aja yang terlewat. Kadang saya mengakalinya dengan pakai zoom waktu self-editing. Tapi kadang tetep aja sih, suka ada yang lolos. ๐Ÿ˜‘๐Ÿ˜‘

Kirim!
Untuk ngirim ini saya sering galau juga. *halah
Saya bingung kirim ke mana ya? Penerbit mana ya? Yang sering jadi pertimbangan adalah, kira-kira ada konfirmasi nggak ya? Kira-kira bakalan digantung kayak yang dulu-dulu nggak ya? Itu, sih.
Tapi akhirnya kita bakalan ngerasa ... sebutlah “sesuatu” yang bikin kita akhirnya milih penerbit “itu”. Setelah kirim, ya kita harusnya berdoa dan bersabar menunggu sambil menulis naskah lain. Tapi kadang saya malah kepikiran pengin revisi.. *lho baru aja kirim, haha.. ๐Ÿ˜‚
Sekarang sih saya coba untuk menahan keinginan itu dan kerjain naskah lain.
Saat ini ada satu naskah saya yang selama tiga tahun digantung penerbit ternama. Saya udah dua kali nanya sama editornya sih katanya nanti dikabarin. Tapi nggak ada kabar sampai tahun lalu saya menyerah bertanya dan nggak mau diblacklist karena bawel, wkwkwk. Sudahlah ya, mungkin ditolak.
Intinya, setelah kirim kalian jangan diam aja. Nulis lagi!

Nah, itu tips dari Mbak Rosi yang saya dapatkan. Awalnya saya cuma tulis di buku catatan sih, tapi rasanya pengin berbagi juga sama yang lain. Siapa tahu bermanfaat. ๐Ÿ˜Š 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar