Judul: Labirin
Penulis: Aci Baehaqie
Penerbit: Bhuana Sastra
Penyunting: Jia Effendi
Jumlah halaman: 356 halaman
Blurb
Berbagai episode hidup telah dilewati Ayla, hingga pada
suatu saat, ia membuat suatu keputusan yang membawanya pada penyesalan panjang
dan menyeretnya menuju sebuah labirin yang rumit.
Labirin masa lalu itu harus ia lewati satu per satu,
sehingga pada akhirnya, ia bisa menemukan jalan keluar, dan dengan rela
melepaskan bagian yang amat berharga dalam hidupnya.
Ulasan Kisah dan
Kesan
Pertama-tama, saya ucapkan kepada Kak Aci karena sudah
mempercayai saya untuk mereview novel ini.
Baiklah, kita mulai mengulas novel ini. Oh ya, saya tidak akan terlalu rinci menjelaskan jalan ceritanya ya, karena sangat rawan spoiler. ^^
Labirin berkisah tentang Ayla, seorang arsitek, yang
pergi ke tempat-tempat di Indonesia dan dunia untuk melupakan masa lalu. Ayla
memiliki dua sahabat, Kayla dan Emi. Mereka bertiga memiliki permasalahan
masing-masing.
Ayla dengan kekasihnya Anthony yang berbeda keyakinan,
Kayla yang memiliki kekasih kasar, dan Emi yang menggunakan narkoba. Ada satu
cowok lagi bernama Igo, sahabat Ayla juga, yang mengaku gay.
Masalah setiap tokoh dalam novel Labirin begitu rumit,
pelik. Saya bahkan merasa masalah-masalah mereka tidak bisa diselesaikan dengan
mudah. Apalagi tema-tema sensitif begini cukup jarang diangkat. Tetapi saya acungi
empat jempol untuk keberanian penulis dan cara penulis menyelesaikannya.
Awalnya, saya sedikit kesulitan dengan alur maju-mundur
yang digunakan. Tapi setelah membaca lembar demi lembar, saya mulai terbiasa.
Dari semua tokoh yang ada, saya merasa karakter paling
kuat adalah Ayla, Anthony, Igo, dan Emi. Karakter mereka konsisten, terasa
nyata. Apalagi Emi, yang sikapnya berubah-ubah dan emosinya tidak stabil
setelah mengonsumsi obat-obatan terlarang.
Saya suka dengan pemilihan POV 1 yang digunakan penulis.
Membuat saya merasakan bagaimana karakter Ayla berkembang. Gaya bahasa yang
digunakan sebenarnya ringan, meskipun sesekali ada ketidakkonsistenan. Saya lupa
menandai halaman berapa, tapi itu bukan masalah karena saya tetap dapat
menikmati novel ini.
Hanya saja, ada hal yang membuat saya kurang puas. Karakter
Kayla kurang tereksplore. Saya juga merasakan kehadirannya mulai berkurang di
sepertiga menjelang ending. Sayang sekali. Dia seperti tiba-tiba hilang.
Saya berani bilang novel ini bukan sembarang bacaan.
Kenapa? Karena ada banyak informasi yang bisa kita dapatkan. Bahkan juga
tentang tempat-tempat yang Ayla kunjungi, seperti Milan, Florence, Granada,
sampai Flores. Saya juga mendapatkan banyak sekali kalimat-kalimat perenungan
dalam novel ini. Bahkan saya merasa novel ini mengisi sesuatu yang kosong di
hati. Sulit dijelaskan, tapi itulah yang saya rasakan.
Quotes
Kenangan dapat membantingmu tanpa ampun ke masa lalu,
meskipun dengan susah payah kau mencoba melupakannya. –hal. 2
Dalam hidup, terkadang tidak penting bagaimana kamu
memulainya, yang terpenting adalah bagaimana kamu mengakhirinya. Berhasil atau
tidak tergantung perspektifmu. –hal. 92
Jangan pernah melepaskan kesempatan karena waktu atau
kesempatan itu tidak akan terulang lagi. –hal. 92
Hal terbaik dari ikut sayembara kan dapat pengalaman dan
pengetahuan yang baru. –hal. 97
Kita akan bertemu Tuhan, masa tidak mengenakan pakaian
yang terbaik? –hal. 134
Laki-laki yang baik, enggak akan menggunakan tangannya
untuk berbicara, untuk didengarkan. –hal. 141
Cinta itu bukan soal membebaskan, tapi juga mengenai
keegoisan. Egoislah untuk mencintai seseorang. Karena, ketika lo egois, lo bisa
melakukan segala hal. Melindunginya, menyayanginya, dan menjaganya. –hal. 183
Keserakahan selalu hanya akan menghancurkan seseorang.
–hal. 218
Belajar itu enggak harus di sebuah institusi. Kamu bisa
belajar lewat mana saja. Lewat buku atau berbincang dengan orang asing....
–hal. 232
Selalu harus ada harga yang dibayar dari sebuah pilihan.
–hal. 272
Cara untuk bahagia yang paling mudah adalah berdamai
dengan masa lalu. –hal. 281
Jangan pernah menyesali semua keputusan yang kamu telah
kamu ambil, karena ketika kamu sudah ada di jalan itu, there’s no way to
turn back. –hal. 302
Air mata bukan lambang dari kelemahan. Di saat-saat yang
tepat, di saat seperti ini, air mata bisa berbicara pada dunia mengenai betapa
kuat si pemiliknya. –hal. 315
Kadang kala, di sebuah kehidupan, ada beberapa hal yang
tidak ada jawabannya. –hal. 324
Terkadang, tidak semua hal butuh alasan, bukan? –hal. 324
Ada begitu banyak hal yang indah ketika kita tersesat,
yaitu saling menemukan. –hal. 340
Rating
Cover: 5/5
Tema: 4/5
Karakter: 3.8/5
Konflik: 4/5
Gaya bahasa: 4/5
Overall: 4/5
