Judul: Critical Eleven
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia
Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-1892-9
Cetakan kesepuluh,
Februari 2016
Jumlah halaman: 339
halaman
Blurb
Dalam dunia penerbangan,
dikenal istiah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam
pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena
secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam
rentang waktu sebelas menit itu.
It’s when the aircraft is most vulnerable
to any danger.
In a way, it’s kinda
the same with meeting people.
Tiga
menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu
ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk,
dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal
sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.
Ale dan Anya pertama kali
bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat,
tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat
percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia
menginginkan Anya.
Kini, lima tahun setelah
perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat
mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan
pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.
Review
Jujur, ini adalah kali
pertama saya membaca buku karya Ika Natassa. Setiap kali saya ke toko buku dan
melihat novel ini, saya sebenarnya selalu melirik, namun merasa bahwa ini
adalah novel terjemahan dan saya mengulur-ulur waktu untuk membelinya. Saat
melihat salah satu teman saya membeli buku ini, saya langsung bertanya
pendapatnya. Dan dia langsung merekomendasikan buku ini untuk segera saya miliki.
Jadi, setelah menabung cukup lama, saya pun akhirnya memilik si Biru yang
Cantik ini.
Cerita dimulai dengan
kisah Tanya Laetitia Baskoro—Anya—yang bertemu dengan Aldebaran Risjad—Ale—di
pesawat dalam penerbangan menuju Sydney. Baru beberapa lembar membaca, dan
hanya dari dialog antara Anya dan Ale, saya sudah dibuat jatuh hati oleh sosok
Ale.
Sejak awal saya tahu akan
ada hubungan spesial dari Anya dan Ale ini. Membaca blurb novelnya, saya
pikir yang menjadi konflik di antara mereka adalah jarak. Ale yang berprofesi
sebagai Petroleum Engineer (saya lebih suka dengan sebutan Tukang Minyak, sama
seperti ketika Ale menyebut dirinya sendiri Tukang Minyak, hehe) membuatnya
berjauhan dengan Anya yang bekerja sebagai konsultan. Namun ternyata saya salah
menduga. Jarak sama sekali bukan penghalang karena cinta mereka begitu kuat.
Keduanya mengalami ujian
yang begitu besar hingga tanpa sengaja Ale menyudutkan Anya. Membuat istri yang
amat dicintainya itu memilih untuk menjauh. Tinggal satu atap, saling mengenal,
namun seperti orang lain. Rasanya benar-benar menyakitkan
Cerita disajikan dengan
menggunakan sudut pandang (POV) orang pertama. Bergantian dari sisi Ale dan
Anya. Saya selalu mengagumi setiap penulis yang menggunakan POV orang pertama
dan berhasil membuat pembaca masuk ke dalam cerita. Tetapi, biasanya kekuatan
mereka hanya di salah satu sisi. Namun Ika Natassa mampu membuat semuanya
seimbang.
Dari sisi Anya, saya bisa
merasakan kekecewaan, sakit hati, putus asa, sekaligus benci.
Dari sisi Ale, saya bisa
merasakan penyesalan yang mendalam dan cinta yang besar.
Penulis benar-benar
berhasil membuat saya memahami setiap emosi yang dirasakan baik oleh Anya
maupun Ale.
Bukan hanya dari sisi
karakter tokoh, penulis juga berhasil dalam cara penyampaian cerita. Gaya
bahasa yang digunakan penulis ringan dan mudah dipahami. Narasi ditemukan lebih
dominan, namun karena penulis mengemasnya dengan amat sangat baik, saya sama
sekali tidak merasa lelah membacanya. Justru menikmati. Padahal, biasanya, saya
cukup sering skip setiap menemukan novel yang narasinya banyak.
Alur maju-mundur dalam
novel ini juga tidak membuat saya bingung. Bahkan dari sisi konflik yang kalau diingat-ingat sebenarnya cukup kompleks, saya merasa nyaman. Sama sekali tidak pusing dibuatnya. Semua terasa natural dan tidak dibuat-buat. Termasuk penjelasan tentang kopi yang ilmunya saya dapatkan di sini. ^^
Dari semua tokoh yang
ada, saya mengidolakan Ale. Bukan hanya mencintai dan menyayangi istrinya, dia
juga menyayangi keluarganya. Ayahnya, ibunya, adik-adiknya, dan juga Nino—keponakannya.
Ale benar-benar calon suami idaman. Ale juga sosok yang penyabar. Kalau tidak,
bagaimana mungkin dia tahan tinggal satu atap dengan istrinya tanpa interaksi
berarti?
Saat hubungan Ale dan
Anya terlihat mulai membaik, saya ikut merasa senang. Seperti menemukan setitik
cahaya dalam kegelapan. Namun saat Anya kembali meminta menjauh, saya kembali
merasakan hancurnya Ale. Tetapi saya ikut mengerti bahwa Anya belum bisa
menerima semuanya meski ia cinta. Karena, mengutip kata-kata Anya, kadang
cinta saja nggak cukup.
Ada banyak sekali hal
yang saya suka dari novel ini selain ceritanya. Pertama, covernya
berwarna biru (warna favorit saya). Kedua, gaya bahasanya ringan. Ketiga,
nama “Ale” cool banget. Keempat, karakter Ale yang bikin jatuh
cintaaa. Kelima, ada bagian yang menjelaskan Anya dan Ale shalat. Keenam, adanya kutipan ayat dari surat Adh-Dhuha. Ketujuh, ada banyak sekali
quote keren dalam novel ini.
Ini adalah beberapa quotes keren yang saya tandai dan saya pindahkan ke buku catatan khusus quotes
Ini adalah beberapa quotes keren yang saya tandai dan saya pindahkan ke buku catatan khusus quotes
- Berani menjalin hubungan berarti berani menyerahkan sebagian kendali atas perasaan kita kepada orang lain. (hal. 8)
- Mau tahu apa yang lebih menakutkan? Bahwa kita sebenarnya tidak punya kendali untuk memilih mana yang bisa terus kita ingat, dan mana yang bisa kita lupakan. (hal. 22)
- Hidup ini jangan dibiasakan menikmati yang instan-instan. (hal. 31)
- Hal-hal terbaik dalam hidup justru seringnya harus melalui usaha yang lama dan menguji kesabaran dulu. (hal. 31)
- Hidup memang tidak pernah sedrama di film, tapi hidup juga tidak pernah segampang di film. (hal. 40)
- Ada banyak hal dalam hidup ini yang mungkin tidak akan dimengerti orang-orang yang belum mengalami sendiri. (hal. 93)
- Jika sudah takdir, nggak akan ada yang bisa menghentikan seluruh semesta ini berkonspirasi untuk membuat yang harusnya terjadi itu terjadi. (hal. 210)
- Orang yang membuat kita paling terluka biasanya adalah orang yang memegang kunci kesembuhan kita. (hal. 252)
- Kalau memang benar-benar sayang dan cinta sama perempuan, jangan bilang rela mati buat dia. Justru harusnya kuat hidup untuk dia. (hal. 324)
Selain yang disebutkan di
atas tadi, ada bagian cerita yang saya suka. Yaitu, ketika Anya berpura-pura
kabur saat Ale berulangtahun. Ini semua sebenarnya adalah rencana Harris—salah
satu adik Ale yang tengil. Ale (dan saya) benar-benar sangat panik. Apalagi
ketika sampai di restoran tempat semua keluarga berkumpul, Anya tidak ada di
sana. Rasanya hati ini benar-benar sesak (apalagi hati Ale, ya?).
Bagian ini saya bisa
bayangin Reza Rahadian (pemeran Ale di film nanti) yang panik setengah mati!!
Lalu, ketika H-1 Ale akan
melangsungkan pernikahan dengan Anya!! OMG!! Kalau saya jadi Anya, dan tahu
semua ituuu, pasti udah pingsan.
Duuuh, nggak sabar pengin
segera nonton jadinya. >_<
Dan pastinya, kali ini
nontonnya lebih berkesan karena untuk pertama kalinya saya akan nonton bersama
suami. ^^
Dari semua kelebihan dalam novel yang telah saya sebutkan, saya merasa porsi bahasa Inggris yang digunakan terlalu banyak. Agak kesulitan bagi orang yang pemahaman bahasa Inggrisnya setengah-setengah seperti saya ini, hehehe. Kalau sedang santai saya akan mencari tahu arti dari kata yang tidak saya mengerti. Sambil belajar juga, jadinya. Tapi it's okay. Hal ini sama sekali tidak mengurangi kekerenan novel ini.
Untuk novel yang berhasil
mengaduk-aduk perasaan dan jadi ketagihan membaca karyanya Ika Natassa ini, saya
berikan 4.8 bintang dari 5. Semoga saja film-nya memuaskan, seperti novelnya.
Aaamiiin... :)
