Rabu, 11 Januari 2017

[Review] Critical Eleven


Judul: Critical Eleven
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-1892-9
Cetakan kesepuluh, Februari 2016
Jumlah halaman: 339 halaman

Blurb
Dalam dunia penerbangan, dikenal istiah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu.  

It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger.
In a way, it’s kinda the same with meeting people.

Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Review

Jujur, ini adalah kali pertama saya membaca buku karya Ika Natassa. Setiap kali saya ke toko buku dan melihat novel ini, saya sebenarnya selalu melirik, namun merasa bahwa ini adalah novel terjemahan dan saya mengulur-ulur waktu untuk membelinya. Saat melihat salah satu teman saya membeli buku ini, saya langsung bertanya pendapatnya. Dan dia langsung merekomendasikan buku ini untuk segera saya miliki. Jadi, setelah menabung cukup lama, saya pun akhirnya memilik si Biru yang Cantik ini.

Cerita dimulai dengan kisah Tanya Laetitia Baskoro—Anya—yang bertemu dengan Aldebaran Risjad—Ale—di pesawat dalam penerbangan menuju Sydney. Baru beberapa lembar membaca, dan hanya dari dialog antara Anya dan Ale, saya sudah dibuat jatuh hati oleh sosok Ale.

Sejak awal saya tahu akan ada hubungan spesial dari Anya dan Ale ini. Membaca blurb novelnya, saya pikir yang menjadi konflik di antara mereka adalah jarak. Ale yang berprofesi sebagai Petroleum Engineer (saya lebih suka dengan sebutan Tukang Minyak, sama seperti ketika Ale menyebut dirinya sendiri Tukang Minyak, hehe) membuatnya berjauhan dengan Anya yang bekerja sebagai konsultan. Namun ternyata saya salah menduga. Jarak sama sekali bukan penghalang karena cinta mereka begitu kuat.

Keduanya mengalami ujian yang begitu besar hingga tanpa sengaja Ale menyudutkan Anya. Membuat istri yang amat dicintainya itu memilih untuk menjauh. Tinggal satu atap, saling mengenal, namun seperti orang lain. Rasanya benar-benar menyakitkan
Cerita disajikan dengan menggunakan sudut pandang (POV) orang pertama. Bergantian dari sisi Ale dan Anya. Saya selalu mengagumi setiap penulis yang menggunakan POV orang pertama dan berhasil membuat pembaca masuk ke dalam cerita. Tetapi, biasanya kekuatan mereka hanya di salah satu sisi. Namun Ika Natassa mampu membuat semuanya seimbang.

Dari sisi Anya, saya bisa merasakan kekecewaan, sakit hati, putus asa, sekaligus benci.

Dari sisi Ale, saya bisa merasakan penyesalan yang mendalam dan cinta yang besar.

Penulis benar-benar berhasil membuat saya memahami setiap emosi yang dirasakan baik oleh Anya maupun Ale.

Bukan hanya dari sisi karakter tokoh, penulis juga berhasil dalam cara penyampaian cerita. Gaya bahasa yang digunakan penulis ringan dan mudah dipahami. Narasi ditemukan lebih dominan, namun karena penulis mengemasnya dengan amat sangat baik, saya sama sekali tidak merasa lelah membacanya. Justru menikmati. Padahal, biasanya, saya cukup sering skip setiap menemukan novel yang narasinya banyak.

Alur maju-mundur dalam novel ini juga tidak membuat saya bingung. Bahkan dari sisi konflik yang kalau diingat-ingat sebenarnya cukup kompleks, saya merasa nyaman. Sama sekali tidak pusing dibuatnya. Semua terasa natural dan tidak dibuat-buat. Termasuk penjelasan tentang kopi yang ilmunya saya dapatkan di sini. ^^

Dari semua tokoh yang ada, saya mengidolakan Ale. Bukan hanya mencintai dan menyayangi istrinya, dia juga menyayangi keluarganya. Ayahnya, ibunya, adik-adiknya, dan juga Nino—keponakannya. Ale benar-benar calon suami idaman. Ale juga sosok yang penyabar. Kalau tidak, bagaimana mungkin dia tahan tinggal satu atap dengan istrinya tanpa interaksi berarti?

Saat hubungan Ale dan Anya terlihat mulai membaik, saya ikut merasa senang. Seperti menemukan setitik cahaya dalam kegelapan. Namun saat Anya kembali meminta menjauh, saya kembali merasakan hancurnya Ale. Tetapi saya ikut mengerti bahwa Anya belum bisa menerima semuanya meski ia cinta. Karena, mengutip kata-kata Anya, kadang cinta saja nggak cukup.

Ada banyak sekali hal yang saya suka dari novel ini selain ceritanya. Pertama, covernya berwarna biru (warna favorit saya). Kedua, gaya bahasanya ringan. Ketiga, nama “Ale” cool banget. Keempat, karakter Ale yang bikin jatuh cintaaa. Kelima, ada bagian yang menjelaskan Anya dan Ale shalat. Keenam, adanya kutipan ayat dari surat Adh-Dhuha. Ketujuh, ada banyak sekali quote keren dalam novel ini.

Ini adalah beberapa quotes keren yang saya tandai dan saya pindahkan ke buku catatan khusus quotes 

  • Berani menjalin hubungan berarti berani menyerahkan sebagian kendali atas perasaan kita kepada orang lain. (hal. 8) 
  • Mau tahu apa yang lebih menakutkan? Bahwa kita sebenarnya tidak punya kendali untuk memilih mana yang bisa terus kita ingat, dan mana yang bisa kita lupakan. (hal. 22)
  • Hidup ini jangan dibiasakan menikmati yang instan-instan. (hal. 31)
  • Hal-hal terbaik dalam hidup justru seringnya harus melalui usaha yang lama dan menguji kesabaran dulu. (hal. 31)
  • Hidup memang tidak pernah sedrama di film, tapi hidup juga tidak pernah segampang di film. (hal. 40)
  • Ada banyak hal dalam hidup ini yang mungkin tidak akan dimengerti orang-orang yang belum mengalami sendiri. (hal. 93)
  • Jika sudah takdir, nggak akan ada yang bisa menghentikan seluruh semesta ini berkonspirasi untuk membuat yang harusnya terjadi itu terjadi. (hal. 210)
  • Orang yang membuat kita paling terluka biasanya adalah orang yang memegang kunci kesembuhan kita. (hal. 252)
  • Kalau memang benar-benar sayang dan cinta sama perempuan, jangan bilang rela mati buat dia. Justru harusnya kuat hidup untuk dia. (hal. 324)

Selain yang disebutkan di atas tadi, ada bagian cerita yang saya suka. Yaitu, ketika Anya berpura-pura kabur saat Ale berulangtahun. Ini semua sebenarnya adalah rencana Harris—salah satu adik Ale yang tengil. Ale (dan saya) benar-benar sangat panik. Apalagi ketika sampai di restoran tempat semua keluarga berkumpul, Anya tidak ada di sana. Rasanya hati ini benar-benar sesak (apalagi hati Ale, ya?).

Bagian ini saya bisa bayangin Reza Rahadian (pemeran Ale di film nanti) yang panik setengah mati!!

Lalu, ketika H-1 Ale akan melangsungkan pernikahan dengan Anya!! OMG!! Kalau saya jadi Anya, dan tahu semua ituuu, pasti udah pingsan.

Duuuh, nggak sabar pengin segera nonton jadinya. >_<

Dan pastinya, kali ini nontonnya lebih berkesan karena untuk pertama kalinya saya akan nonton bersama suami. ^^

Dari semua kelebihan dalam novel yang telah saya sebutkan, saya merasa porsi bahasa Inggris yang digunakan terlalu banyak. Agak kesulitan bagi orang yang pemahaman bahasa Inggrisnya setengah-setengah seperti saya ini, hehehe. Kalau sedang santai saya akan mencari tahu arti dari kata yang tidak saya mengerti. Sambil belajar juga, jadinya. Tapi it's okay. Hal ini sama sekali tidak mengurangi kekerenan novel ini.

Untuk novel yang berhasil mengaduk-aduk perasaan dan jadi ketagihan membaca karyanya Ika Natassa ini, saya berikan 4.8 bintang dari 5. Semoga saja film-nya memuaskan, seperti novelnya. Aaamiiin... :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar