Judul Buku:
(Me)mories
Penulis: Nay
Sharaya
Penerbit:
Grasindo
Jumlah halaman:
280 halaman
Blurb
Kau menganggapku
seorang putri, bukan? Lalu, apa jadinya jika kau tahu, sosok putri yang
diam-diam menyergap hatimu ini hanya seorang makhluk aneh kesepian, yang
kehilangan jati dirinya. Apakah cinta akan tetap sama?
Ternyata, ini
hanyalah tentang sepenggal kisah-kisah di ujung hari yang menunggu akhir. Tapi,
saat ia ingin menyerah, seseorang tiba-tiba membuat janji.
“Membuat kamu
aman adalah kegemaranku yang baru. Jadi siap-siap saja aku lindungi, oke?”
Hanya karena
sebuah janji, sesuatu berubah. Sebuah janji yang membuatnya mulai percaya dan
berharap. Namun kemudian, ia sadar bahwa sebuah janji tak akan pernah bertahan
lama. Karena itu, ia memutuskan untuk menjauh dan bertahan dengan caranya
sendiri.
“Pernah suatu
saat aku mencoba membayangkan masa depanku. Kau tahu? Membayangkan masa depanku
tanpa ada kau di dalamnya, rasanya sangat aneh.”
Review
Novel dengan
cover elegan ini sudah menarik perhatian saja sejak pertama kali melihatnya.
Tapi, baru sekarang saya memilikinya.
Ini adalah novel
Nay Sharaya yang kedua yang saya baca setelah Take off My Red Shoes.
Novel (Me)mories
dibuka dengan cerita tentang masa-masa orientasi SMA yang dialami oleh Mories
(tokoh utama dalam novel ini). Bagaimana ia sering melakukan kesalahan hingga
menjadi sasaran empuk panitia MOS untuk dihukum.
Berteman dengan
Tiyanna yang sering membangkang panitia dan menunjukkan sikap pemberani membuat
posisi Mories semakin buruk. Apalagi Alan (ketua OSIS) sangat sering bertengkar
dengan Tiyanna. Sementara itu, Mories sering mendapatkan perlakuan sinis dari
Chandra (ketua panitia MOS) karena setiap kali dihukum, Alan selalu
menyelamatkannya. Ia sama sekali tidak sadar bahwa ia terlihat menarik di mata
Alan.
Menarik karena
selalu terlihat pasrah saat diperlakukan buruk oleh orang. Menarik karena
memiliki ekspresi yang luar biasa datar. Cewek dingin yang membuat seorang
playboy penasaran.
Alan memang dikenal sebagai Playboy di sekolah
itu. Ia sendiri tidak pernah serius dalam menjalani hubungan. Saat ia tertarik
pada Mories pun ia tengah berpacaran dengan Miranda. Sikap Alan yang tampak
mengistimewakan Mories membuat gosip pun menyebar dengan cepat. Bahwa Alan
menyukai Mories hingga memutuskannya. Dan itu terdengar oleh Miranda hingga
akhirnya Miranda menyuruh teman-teman dekatnya untuk mengancam Mories.
Bukan hanya
mengancam, teman-teman Miranda memperlakukan Mories dengan buruk hingga tulang
hidung gadis itu patah. Mories pun segera dilarikan ke rumah sakit oleh
Chandra. Karena sebelumnya sering berdebat dengan Chandra, tentu saja Mories
menaruh curiga mengapa laki-laki itu sampai mau mengantarnya ke rumah sakit.
Kemudian diketahui bahwa Chandra adalah orang yang mendapatkan tugas dari Pak
Aksana (Papa Mories) untuk menjaga Mories.
“Kadang-kadang kita pengen membantu seseorang yang
menurut kita butuh bantuan. Kadang kita pengen berada di samping seseorang dan
melindungi dia sebisa kita. Tapi ternyata nggak semua orang ngerti isi hati
kita.” (hal. 191)
Sebagai orangtua
tunggal yang kaya raya dan merupakan pimpinan Yayasan, Pak Aksana ingin
keamanan Mories terjamin. Untuk itu beliau memerintahkan Chandra untuk menjaga
Mories. Ditambah lagi, beliau khawatir Mories tidak dapat mengendalikan dirinya
dan membuat kekacauan seperti sebelumnya.
Mories mengidap
penyakit Urbach-Wiethe disease, sebuah penyakit yang membuat
penderitanya tidak memiliki perasaan takut terhadap apa pun. Inilah yang
membuatnya terlihat selalu pasrah saat diperlakukan tidak baik. Namun, tindakan
teman-teman Miranda terhadapnya membuat sisi jahat Mories kembali muncul. Ia
akan membalas dendam kepada mereka.
“Bukankah setiap pilihan pasti akan mengorbankan
pilihan yang lain?”
(hal. 265)
Seperti novel
Take off My Red Shoes, novel ini memiliki sisi kelam yang cukup kuat. Saya
dapat merasakan perubahan karakter Mories sebelum dan setelah ia di-bully oleh
teman-teman Miranda yang cukup kuat. Selain dari sisi karakter, saya suka
karena penulis tampaknya selalu mencari sesuatu yang “baru” yang belum diangkat
oleh penulis lain. Meski dikemas dengan gaya teenlit, namun memasukkan unsur
penyakit langka yang diderita Mories adalah ide yang segar. Saya sendiri baru
tahu bahwa ada penyakit ini. XD
Hanya saja, di awal-awal,
saya merasa kebingungan yang amat sangat ketika membaca novel ini. Saya baru
mulai paham setelah melewati bagian Mories patah hidung. Ini setelah lewat
delapan bab. Saya memang dibuat penasaran dengan sesuatu di balik sikap Mories,
namun bagi saya pribadi, rasanya terlalu bertele-tele.
Dan saya rasa,
cerita tentang Tiyanna di awal cerita bahwa dia itu sering membuat masalah
tidak diungkap dengan total. Saya jadi bertanya-tanya sebenarnya masalah
seperti apa yang dibuat oleh Tiyannya hingga membuat panitia tidak menyukainya?
Saya juga merasa
ada bagian-bagian yang agak terlalu dipaksakan dan tidak dijelaskan sampai
tuntas. Seperti ketika Alan membuat karya tulis, ketika Mories berhasil
melampiaskan dendam dan tidak jelas nasib teman-teman Miranda berikutnya, juga
ketika munculnya murid baru bernama Refan yang sepertinya hanya “bertugas”
menjelaskan keadaan Mories pada Alan. Dan juga ... bagaimana nasib si dia (yang
namanya tidak akan saya sebutkan)?
Meski begitu,
saya dipuaskan begitu sampai di bagian ending. Penulis berhasil mengecoh
saya. Tapi, mengapa settingnya harus Korea? Apakah kalau settingnya tetap
Indonesia akan merusak cerita? Entahlah, penulis yang tahu. :)
Finally, saya
berikan 3 bintang untuk novel pertama yang saya baca di Januari 2017 ini. ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar