Selasa, 17 Januari 2017

[Review] (Me)mories


Judul Buku: (Me)mories
Penulis: Nay Sharaya
Penerbit: Grasindo
Jumlah halaman: 280 halaman

Blurb

Kau menganggapku seorang putri, bukan? Lalu, apa jadinya jika kau tahu, sosok putri yang diam-diam menyergap hatimu ini hanya seorang makhluk aneh kesepian, yang kehilangan jati dirinya. Apakah cinta akan tetap sama?

Ternyata, ini hanyalah tentang sepenggal kisah-kisah di ujung hari yang menunggu akhir. Tapi, saat ia ingin menyerah, seseorang tiba-tiba membuat janji.

“Membuat kamu aman adalah kegemaranku yang baru. Jadi siap-siap saja aku lindungi, oke?”

Hanya karena sebuah janji, sesuatu berubah. Sebuah janji yang membuatnya mulai percaya dan berharap. Namun kemudian, ia sadar bahwa sebuah janji tak akan pernah bertahan lama. Karena itu, ia memutuskan untuk menjauh dan bertahan dengan caranya sendiri.

“Pernah suatu saat aku mencoba membayangkan masa depanku. Kau tahu? Membayangkan masa depanku tanpa ada kau di dalamnya, rasanya sangat aneh.”

Review

Novel dengan cover elegan ini sudah menarik perhatian saja sejak pertama kali melihatnya. Tapi, baru sekarang saya memilikinya.

Ini adalah novel Nay Sharaya yang kedua yang saya baca setelah Take off My Red Shoes.
Novel (Me)mories dibuka dengan cerita tentang masa-masa orientasi SMA yang dialami oleh Mories (tokoh utama dalam novel ini). Bagaimana ia sering melakukan kesalahan hingga menjadi sasaran empuk panitia MOS untuk dihukum.

Berteman dengan Tiyanna yang sering membangkang panitia dan menunjukkan sikap pemberani membuat posisi Mories semakin buruk. Apalagi Alan (ketua OSIS) sangat sering bertengkar dengan Tiyanna. Sementara itu, Mories sering mendapatkan perlakuan sinis dari Chandra (ketua panitia MOS) karena setiap kali dihukum, Alan selalu menyelamatkannya. Ia sama sekali tidak sadar bahwa ia terlihat menarik di mata Alan.

Menarik karena selalu terlihat pasrah saat diperlakukan buruk oleh orang. Menarik karena memiliki ekspresi yang luar biasa datar. Cewek dingin yang membuat seorang playboy penasaran.

Alan memang dikenal sebagai Playboy di sekolah itu. Ia sendiri tidak pernah serius dalam menjalani hubungan. Saat ia tertarik pada Mories pun ia tengah berpacaran dengan Miranda. Sikap Alan yang tampak mengistimewakan Mories membuat gosip pun menyebar dengan cepat. Bahwa Alan menyukai Mories hingga memutuskannya. Dan itu terdengar oleh Miranda hingga akhirnya Miranda menyuruh teman-teman dekatnya untuk mengancam Mories.

Bukan hanya mengancam, teman-teman Miranda memperlakukan Mories dengan buruk hingga tulang hidung gadis itu patah. Mories pun segera dilarikan ke rumah sakit oleh Chandra. Karena sebelumnya sering berdebat dengan Chandra, tentu saja Mories menaruh curiga mengapa laki-laki itu sampai mau mengantarnya ke rumah sakit. Kemudian diketahui bahwa Chandra adalah orang yang mendapatkan tugas dari Pak Aksana (Papa Mories) untuk menjaga Mories.

“Kadang-kadang kita pengen membantu seseorang yang menurut kita butuh bantuan. Kadang kita pengen berada di samping seseorang dan melindungi dia sebisa kita. Tapi ternyata nggak semua orang ngerti isi hati kita.” (hal. 191)

Sebagai orangtua tunggal yang kaya raya dan merupakan pimpinan Yayasan, Pak Aksana ingin keamanan Mories terjamin. Untuk itu beliau memerintahkan Chandra untuk menjaga Mories. Ditambah lagi, beliau khawatir Mories tidak dapat mengendalikan dirinya dan membuat kekacauan seperti sebelumnya.

Mories mengidap penyakit Urbach-Wiethe disease, sebuah penyakit yang membuat penderitanya tidak memiliki perasaan takut terhadap apa pun. Inilah yang membuatnya terlihat selalu pasrah saat diperlakukan tidak baik. Namun, tindakan teman-teman Miranda terhadapnya membuat sisi jahat Mories kembali muncul. Ia akan membalas dendam kepada mereka.

“Bukankah setiap pilihan pasti akan mengorbankan pilihan yang lain?”
(hal. 265)

Seperti novel Take off My Red Shoes, novel ini memiliki sisi kelam yang cukup kuat. Saya dapat merasakan perubahan karakter Mories sebelum dan setelah ia di-bully oleh teman-teman Miranda yang cukup kuat. Selain dari sisi karakter, saya suka karena penulis tampaknya selalu mencari sesuatu yang “baru” yang belum diangkat oleh penulis lain. Meski dikemas dengan gaya teenlit, namun memasukkan unsur penyakit langka yang diderita Mories adalah ide yang segar. Saya sendiri baru tahu bahwa ada penyakit ini. XD

Hanya saja, di awal-awal, saya merasa kebingungan yang amat sangat ketika membaca novel ini. Saya baru mulai paham setelah melewati bagian Mories patah hidung. Ini setelah lewat delapan bab. Saya memang dibuat penasaran dengan sesuatu di balik sikap Mories, namun bagi saya pribadi, rasanya terlalu bertele-tele.

Dan saya rasa, cerita tentang Tiyanna di awal cerita bahwa dia itu sering membuat masalah tidak diungkap dengan total. Saya jadi bertanya-tanya sebenarnya masalah seperti apa yang dibuat oleh Tiyannya hingga membuat panitia tidak menyukainya?

Saya juga merasa ada bagian-bagian yang agak terlalu dipaksakan dan tidak dijelaskan sampai tuntas. Seperti ketika Alan membuat karya tulis, ketika Mories berhasil melampiaskan dendam dan tidak jelas nasib teman-teman Miranda berikutnya, juga ketika munculnya murid baru bernama Refan yang sepertinya hanya “bertugas” menjelaskan keadaan Mories pada Alan. Dan juga ... bagaimana nasib si dia (yang namanya tidak akan saya sebutkan)?

Meski begitu, saya dipuaskan begitu sampai di bagian ending. Penulis berhasil mengecoh saya. Tapi, mengapa settingnya harus Korea? Apakah kalau settingnya tetap Indonesia akan merusak cerita? Entahlah, penulis yang tahu. :)


Finally, saya berikan 3 bintang untuk novel pertama yang saya baca di Januari 2017 ini. ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar