Selasa, 17 Januari 2017

[Review] Kaliluna: Luka di Salamanca



Judul Novel: Kaliluna: Luka di Salamanca
Penulis: Ruwi Meita
Penerbit: Moka Media
Jumlah Halaman: 270 halaman

Blurb

Mimpi Kaliluna sebagai atlet panahan berakhir setelah jiwa dan raganya tergores di sebuah malam kelam. Ia percaya, satu-satunya tempat yang dapat menyembuhkan jiwanya yang pecah adalah tempat yang asing, seperti Salamanca, Spanyol.

Tetapi berada di kota di mana sungai Tormes mengalir dan chuche memanjakan lidah, tak kunjung membuat jiwa Kali tenang. Ia harus berhadapan dengan Frida, ibu yang meninggalkannya saat kecil dan Ibai, pemuda berdarah Vasco dengan sejuta mimpi dan sebuah rahasia.

Di antara desau dedaunan pohon ceri dan harapan yang tergantung pada gembok di Pozo de los Deseos, dapatkah Kali kembali memanah bintang seperti dalam dongeng masa kecilnya atau haruskah ia remuk terinjak seperti semak conyza di pinggir dermaga?

Review

Sebelum masuk review, saya ingin mengatakan bahwa cover novel ini manis sekali. Nama tokoh utama juga unik, Kaliluna. Dan bookmark-nya ... oooh lucuuu.

Oke, kita mulai review-nya. : )

Novel ini bercerita tentang seorang gadis yang meninggalkan Indonesia untuk melupakan sesuatu yang telah mengubah hidupnya. Dan tempat yang ia tuju adalah Salamanca, Spanyol.

Cerita dimulai ketika Kaliluna untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di bandara Barajas, Spanyol. Ia dijemput oleh Frida, ibu kandung Kaliluna. Selama ini, Kaliluna tidak pernah mengenal ibu kandungnya. Yang ia kenali sebagai ibu adalah Nadia, yaitu ibu tirinya yang baik hati.

Tinggal bersama seseorang yang tidak kita kenal tentu rasanya tidak nyaman. Begitu pula yang dirasakan Kaliluna dan Frida. Kaliluna lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berdiam diri. Seringnya, Frida yang memulai obrolan dan itu membuat Kaliluna tidak nyaman.

Semula Kaliluna senang berdiri di pinggir jendela kamarnya, menatap pemandangan di luar, lalu kemudian beralih ke dermaga Sungai Tormes. Setiap hari ia selalu berada di sana. Memandang permukaan air dengan tatapan kosong. Tidak ia sadari bahwa ada seseorang yang memperhatikannya, yaitu Ibai.

Ibai diceritakan sebagai laki-laki berdarah Vasco. Ibunya memiliki penyakit mata, sehingga seringkali tidak mengenali wajah seseorang. Sejak pertama kali melihat Kaliluna, Ibai merasa tertarik. Hingga akhirnya Ibai memberanikan diri untuk menyapa Kaliluna.

Saat itu, Ibai sedang membawa busur Pilar. Ketika melihat ada yang menyapanya, Kaliluna tersentak kaget. Ditambah lagi ia melihat busur yang dibawa Ibai. Kenangan pahit seolah muncul begitu jelas di matanya. Kaliluna histeris dan akhirnya pingsan. Ibai lalu membawa Kaliluna ke dokter. Dokter mengatakan Kaliluna hanya syok. Gadis itu juga kurang makan dan memerlukan banyak istirahat.

Tidak adanya Kaliluna di rumah saat Frida pulang membuat ibu kandung Kalilunan itu panik bukan main. Untung saja Kaliluna dan Ibai datang tak lama kemudian. Kaliluna langsung beristirahat sementara Ibai berbincang dengan Frida, yang sebenarnya adalah bibi Ibai. Frida menikah dengan paman Ibai, jadi posisi Ibai dan Kaliluna sebenarnya adalah sepupu.

Ibai tidak menyerah meski Kaliluna tidak mau bertemu dengannya. Lambat laun, usaha Ibai berhasil. Kaliluna mulai mau bertemu dengan Ibai. Bahkan, saat Ibai tidak datang ke dermaga, Kaliluna menantikannya. Hubungan Kaliluna dengan Ibai ini membuat Frida khawatir. Wanita itu takut Kaliluna akan marah jika tahu bahwa Ibai adalah sepupunya. Menurut Frida, akan lebih baik jika Ibai mengatakan semua sejak awal. Namun Ibai menolak. Menurutnya, Kaliluna nyaman dengan Ibai yang bukan siapa-siapa.

Bersama Ibai, Kaliluna mengunjungi tempat-tempat di Salamanca. Salah satunya adalah Pozo de los Deseos, yaitu sumur pengharapan. Di bagian atas kiri-kanan sumur, terdapat kerangka besi dengan bentuk melengkung. Pada lengkungan itu tergantung banyak sekali gembok. Ibai menunjukkan pada Kaliluna gembok yang pernah ia pasang di sana. Gembok itu bertuliskan dua nama. Ada nama Ibai, dan satu lagi tulisannya tidak begitu jelas. Kaliluna mengira tulisannya adalah Lana. Padahal sebenarnya, Luna. Kaliluna.

Ibai memiliki teman yang ahli memanah, namanya Pilar, seorang gadis 9 tahun yang ayahnya adalah pelatih olahraga panahan di sebuah klub panah. Di klub inilah Kaliluna berusaha keras untuk menaklukkan rasa takutnya. Membuang traumanya. Dengan bantuan Ibai, Kaliluna akhirnya berhasil memegang kembali busur dan panah. Dengan bantuan Ibai, Kaliluna tidak takut lagi.

Namun kemudian, sesuatu membuat Kaliluna marah besar pada Ibai. Bagaimana kelanjutan cerita ini? Sebaiknya kalian baca saja, ya. :D

Membaca lembar demi lembar novel ini rasanya begitu kelam. Penulis mampu membuat saya merasa trauma Kali, rasa sedih Frida, juga semangat Ibai. Setiap karakter terasa begitu kuat. Ditambah lagi, tema “memanah” yang diambil penulis saya rasa sangatlah tepat, mengingat selama ini penulis lain jarang memakainya.

Novel disajikan dengan menggunakan sudut pandang (POV) orang ketiga serba tahu. Bergantian penulis menceritakan dari sisi Kaliluna, Ibai, Frida, dan tokoh lain yang diperlukan

Gaya bahasa yang digunakan penulis baku, namun tidak berat. Penulis juga tidak terlalu banyak menggunakan istilah asing, sehingga tidak membuat pembaca pusing, hehehe. Ditambah, informasi mengenai tempat-tempat di Salamanca dan sedikit sejarah kota itu, sangat memberikan pengetahuan baru bagi pembaca. Porsinya tidak terlalu banyak, juga tidak sedikit. Pas.

Saya rasa yang menjadi kekurangan di sini hanya feel yang kurang nendang. Konfliknya tidak meledak-ledak, kurang membuat gereget. Dan lagi terdapat typo yang cukup banyak. Sayangnya, saya lupa memberi tanda sehingga tidak dapat disebutkan di sini. Misalnya, tidak ada tanda spasi setelah titik. Lalu ada dialog yang salah satunya tidak ada tanda kutip.

Quotes

“Kadang seseorang harus memilih salah satu, meskipun itu akan menghancurkan pilihan satunya.” (hal. 61)

“Bukan tempat yang membuatmu tenang tapi dirimu sendiri. Bukan tempat yang mengontrol dirimu tapi dirimu sendiri.” (hal. 150)

“Kita mungkin sama-sama tidak tahu. Tapi bukankah ketidaktahuan adalah alasan untuk mencoba sesuatu?” (hal. 179)

“Hanya kamu yang tahu kapan ketakutan itu muncul. Kamu harus kembali ke titik itu dan melawannya.” (hal. 190)

“Memulai sesuatu memang berat. Percayalah setelah kamu memulai kamu akan sadar bahwa ini tidak seberat yang kamu bayangkan.” (hal. 196)

Oke, saatnya memberi bintang. Untuk novel ini saya berikan 3.8 dari 5 bintang. Sangat cocok untuk dibaca oleh kalian yang menyukai cerita-cerita lembut dan tenang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar