Judul Novel:
Kaliluna: Luka di Salamanca
Penulis: Ruwi
Meita
Penerbit: Moka
Media
Jumlah Halaman:
270 halaman
Blurb
Mimpi Kaliluna
sebagai atlet panahan berakhir setelah jiwa dan raganya tergores di sebuah
malam kelam. Ia percaya, satu-satunya tempat yang dapat menyembuhkan jiwanya
yang pecah adalah tempat yang asing, seperti Salamanca, Spanyol.
Tetapi berada di
kota di mana sungai Tormes mengalir dan chuche memanjakan lidah, tak kunjung
membuat jiwa Kali tenang. Ia harus berhadapan dengan Frida, ibu yang
meninggalkannya saat kecil dan Ibai, pemuda berdarah Vasco dengan sejuta mimpi
dan sebuah rahasia.
Di antara desau
dedaunan pohon ceri dan harapan yang tergantung pada gembok di Pozo de los
Deseos, dapatkah Kali kembali memanah bintang seperti dalam dongeng masa
kecilnya atau haruskah ia remuk terinjak seperti semak conyza di pinggir
dermaga?
Review
Sebelum masuk
review, saya ingin mengatakan bahwa cover novel ini manis sekali. Nama tokoh
utama juga unik, Kaliluna. Dan bookmark-nya ... oooh lucuuu.
Oke, kita mulai
review-nya. : )
Novel ini
bercerita tentang seorang gadis yang meninggalkan Indonesia untuk melupakan
sesuatu yang telah mengubah hidupnya. Dan tempat yang ia tuju adalah Salamanca,
Spanyol.
Cerita dimulai
ketika Kaliluna untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di bandara Barajas,
Spanyol. Ia dijemput oleh Frida, ibu kandung Kaliluna. Selama ini, Kaliluna
tidak pernah mengenal ibu kandungnya. Yang ia kenali sebagai ibu adalah Nadia,
yaitu ibu tirinya yang baik hati.
Tinggal bersama
seseorang yang tidak kita kenal tentu rasanya tidak nyaman. Begitu pula yang
dirasakan Kaliluna dan Frida. Kaliluna lebih banyak menghabiskan waktunya untuk
berdiam diri. Seringnya, Frida yang memulai obrolan dan itu membuat Kaliluna tidak
nyaman.
Semula Kaliluna
senang berdiri di pinggir jendela kamarnya, menatap pemandangan di luar, lalu
kemudian beralih ke dermaga Sungai Tormes. Setiap hari ia selalu berada di
sana. Memandang permukaan air dengan tatapan kosong. Tidak ia sadari bahwa ada
seseorang yang memperhatikannya, yaitu Ibai.
Ibai diceritakan
sebagai laki-laki berdarah Vasco. Ibunya memiliki penyakit mata, sehingga
seringkali tidak mengenali wajah seseorang. Sejak pertama kali melihat
Kaliluna, Ibai merasa tertarik. Hingga akhirnya Ibai memberanikan diri untuk
menyapa Kaliluna.
Saat itu, Ibai
sedang membawa busur Pilar. Ketika melihat ada yang menyapanya, Kaliluna
tersentak kaget. Ditambah lagi ia melihat busur yang dibawa Ibai. Kenangan
pahit seolah muncul begitu jelas di matanya. Kaliluna histeris dan akhirnya
pingsan. Ibai lalu membawa Kaliluna ke dokter. Dokter mengatakan Kaliluna hanya
syok. Gadis itu juga kurang makan dan memerlukan banyak istirahat.
Tidak adanya
Kaliluna di rumah saat Frida pulang membuat ibu kandung Kalilunan itu panik
bukan main. Untung saja Kaliluna dan Ibai datang tak lama kemudian. Kaliluna
langsung beristirahat sementara Ibai berbincang dengan Frida, yang sebenarnya
adalah bibi Ibai. Frida menikah dengan paman Ibai, jadi posisi Ibai dan Kaliluna
sebenarnya adalah sepupu.
Ibai tidak
menyerah meski Kaliluna tidak mau bertemu dengannya. Lambat laun, usaha Ibai
berhasil. Kaliluna mulai mau bertemu dengan Ibai. Bahkan, saat Ibai tidak
datang ke dermaga, Kaliluna menantikannya. Hubungan Kaliluna dengan Ibai ini
membuat Frida khawatir. Wanita itu takut Kaliluna akan marah jika tahu bahwa
Ibai adalah sepupunya. Menurut Frida, akan lebih baik jika Ibai mengatakan
semua sejak awal. Namun Ibai menolak. Menurutnya, Kaliluna nyaman dengan Ibai
yang bukan siapa-siapa.
Bersama Ibai,
Kaliluna mengunjungi tempat-tempat di Salamanca. Salah satunya adalah Pozo de
los Deseos, yaitu sumur pengharapan. Di bagian atas kiri-kanan sumur, terdapat
kerangka besi dengan bentuk melengkung. Pada lengkungan itu tergantung banyak sekali
gembok. Ibai menunjukkan pada Kaliluna gembok yang pernah ia pasang di sana.
Gembok itu bertuliskan dua nama. Ada nama Ibai, dan satu lagi tulisannya tidak
begitu jelas. Kaliluna mengira tulisannya adalah Lana. Padahal sebenarnya,
Luna. Kaliluna.
Ibai memiliki
teman yang ahli memanah, namanya Pilar, seorang gadis 9 tahun yang ayahnya
adalah pelatih olahraga panahan di sebuah klub panah. Di klub inilah Kaliluna
berusaha keras untuk menaklukkan rasa takutnya. Membuang traumanya. Dengan
bantuan Ibai, Kaliluna akhirnya berhasil memegang kembali busur dan panah.
Dengan bantuan Ibai, Kaliluna tidak takut lagi.
Namun kemudian,
sesuatu membuat Kaliluna marah besar pada Ibai. Bagaimana kelanjutan cerita
ini? Sebaiknya kalian baca saja, ya. :D
Membaca lembar
demi lembar novel ini rasanya begitu kelam. Penulis mampu membuat saya merasa
trauma Kali, rasa sedih Frida, juga semangat Ibai. Setiap karakter terasa
begitu kuat. Ditambah lagi, tema “memanah” yang diambil penulis saya rasa
sangatlah tepat, mengingat selama ini penulis lain jarang memakainya.
Novel disajikan
dengan menggunakan sudut pandang (POV) orang ketiga serba tahu. Bergantian
penulis menceritakan dari sisi Kaliluna, Ibai, Frida, dan tokoh lain yang diperlukan
Gaya bahasa yang
digunakan penulis baku, namun tidak berat. Penulis juga tidak terlalu banyak
menggunakan istilah asing, sehingga tidak membuat pembaca pusing, hehehe.
Ditambah, informasi mengenai tempat-tempat di Salamanca dan sedikit sejarah
kota itu, sangat memberikan pengetahuan baru bagi pembaca. Porsinya tidak
terlalu banyak, juga tidak sedikit. Pas.
Saya rasa yang
menjadi kekurangan di sini hanya feel yang kurang nendang.
Konfliknya tidak meledak-ledak, kurang membuat gereget. Dan lagi terdapat typo
yang cukup banyak. Sayangnya, saya lupa memberi tanda sehingga tidak dapat
disebutkan di sini. Misalnya, tidak ada tanda spasi setelah titik. Lalu ada
dialog yang salah satunya tidak ada tanda kutip.
Quotes
“Kadang seseorang harus memilih salah satu,
meskipun itu akan menghancurkan pilihan satunya.” (hal. 61)
“Bukan tempat yang membuatmu tenang tapi dirimu
sendiri. Bukan tempat yang mengontrol dirimu tapi dirimu sendiri.” (hal. 150)
“Kita mungkin sama-sama tidak tahu. Tapi bukankah
ketidaktahuan adalah alasan untuk mencoba sesuatu?” (hal. 179)
“Hanya kamu yang tahu kapan ketakutan itu muncul.
Kamu harus kembali ke titik itu dan melawannya.” (hal. 190)
“Memulai sesuatu memang berat. Percayalah setelah
kamu memulai kamu akan sadar bahwa ini tidak seberat yang kamu bayangkan.”
(hal. 196)
Oke, saatnya
memberi bintang. Untuk novel ini saya berikan 3.8 dari 5 bintang. Sangat cocok
untuk dibaca oleh kalian yang menyukai cerita-cerita lembut dan tenang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar