Judul: One Little Thing Called Hope
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: Gagasmedia
Jumlah halaman: 419 halaman
Cetakan pertama: 2016
Genre: Teenlit
BLURB
AERYN
Hidup Aeryn
seolah nyaris sempurna. Cantik, pintar, populer. Namun, setelah kehilangan
ibunya, Aeryn menyadari bahwa kebahagiaan tidak pernah berlangsung terlalu
lama. Selalu ada sesuatu yang terjadi. Kehadiran Flo dan Tante Hera dalam
hidupnya membuat segalanya berubah. Bahagia ternyata tak seperti yang ia duga.
FLO
Bagi Flo, hidup
adalah makanan manis, kue, tas perca dan aksesori buatan tangan, kotak-kotak
susu aneka rasa. Juga Genta dan Theo—dua cowok paling berarti baginya. Bahagianya
hampir terasa lengkap ketika ia memiliki Aeryn sebagai kakak perempuan yang ia
idamkan. Namun, bahagia ternyata tak seperti yang ia duga.
Ini kisah
persahabatan yang tak terduga di antara orang-orang yang dipertemukan secara
tak sengaja, keteguhan hati untuk bertahan pada pilihan meski itu sulit. Juga tentang
cinta dan harapan yang harus dibagi dan direlakan pergi.
CUPLIKAN KISAH
Novel ini bercerita
tentang Aeryn dan Flo yang tinggal satu rumah tetapi hubungan di antara keduanya
tidak begitu harmonis. Setelah ibu Aeryn meninggal dunia, ayahnya menikahi
Tante Hera dan membawa serta Flo ke rumah mereka. Aeryn tidak pernah menerima
mereka dengan tulis. Ia bersikap dingin dan tidak sopan terhadap Tante Hera, juga
tidak ramah terhadap Flo meskipun satu sekolah.
Berbeda dengan pandangan Aeryn tentang keluarga barunya, Flo justru merasa senang. Senang karena akhirnya hari-hari kelam bersama ayah kandungnya selesai. Senang karena ibunya dapat tertawa kembali. Senang karena tidak ada tangis lagi. Dan senang memiliki Aeryn sebagai seorang kakak yang diidamkan.
Karakter yang bertolak belakang antara Aeryn dan Flo membuat novel ini begitu berwarna meski suasananya terasa kelam. Kekelaman yang saya dapatkan dari setiap tokohnya. Mulai dari Aeryn yang kehilangan ibunya, Flo yang ditinggalkan oleh Genta, Theo yang harus melepaskan kesempatan emas untuk kuliah di universitas bergengsi, bahkan Genta yang dituntut untuk selalu sempurna oleh orangtuanya.
Hubungan Aeryn dan Flo semula tidak begitu dekat. Kedekatan terjadi ketika Aeryn mulai mengetahui rahasia yang Flo berusaha sembunyikan. Flo hamil. Dan Genta, ayah dari janin yang dikandung Flo, tidak mau bertanggung jawab.
Keputusan Flo untuk mempertahankan kandungannya mendapat dukungan penuh dari keluarga. Sementara Genta lebih mementingkan dirinya sendiri untuk meraih cita-cita dan memenuhi ambisi yang tinggi. Di sini, saya dapat merasakan perubahan sikap Aeryn secara natural dan refleks membuat saya tersenyum.
Kenyataan bahwa Flo hamil diketahui oleh sekolah. Saya merasa sangat prihatin terhadap gadis lugu ini. Menghadapi bully dan tatapan menghakimi dari orang-orang tentu tidaklah mudah. Tetapi gadis ini sangat kuat. Itu karena Flo masih memiliki orang-orang yang menyayanginya. Selain keluarga, ada juga Theo, sahabatnya sejak kecil. Theo selalu ada untuk Flo. Dan ini mengusik hati Aeryn perlahan.
REVIEW
Bukan pertama
kali saya membaca karya Winna Efendi dan juga bukan yang pertama kalinya saya
dibuat suka pada karyanya. Sampai sekarang, saya belum pernah kecewa meski
tidak semua karyanya menjadi favorit saya. Bagaimana pun juga saya harus
objektif, kan?
Tentang novel yang satu ini, judulnya agak panjang sebenarnya. Saya lebih suka menyebutnya Hope. Mohon izin untuk menyebut Hope ya, supaya terdengar lebih simpel. :D
Novel HOPE memberikan warna baru dalam karya Winna Efendi menurut saya pribadi. Biasanya saya membaca karyanya yang ringan, tetapi kali ini sedikit berat dan kelam. Kekelaman kisah setiap tokoh ditambah dengan karakter yang konsisten berhasil membuat saya terhanyut saat membaca cerita ini.
Beberapa kali membaca karya Winna membuat saya terbiasa dan tidak lagi terpengaruh (untuk berhenti membaca) saat plot terasa lambat. Tetapi ini hanya bagian awal-awal saja. Setelah beberapa bab, temponya mulai cepat.
Tidak seperti karya Winna sebelumnya yang sudah saya baca (Refrain, Remember When, Ai, dan Tomodachi), novel Hope ini sudah menyajikan konflik sejak lembar awal. Menurut saya itu bagus untuk memunculkan rasa penasaran terhadap certa berikutnya.
Gaya bahasa dalam novel ini ringan, khas Winna Efendi. Hanya bagian-bagian kesehatan yang terkesan berat, tetapi memang menunjang dalam memperkaya cerita.
Dan terakhir saya ingin mengatakan bahwa saya sangaaat suka dengan bookmark-nya yang bergambar sepatu rajut bayi. Seperti di bawah ini:
QUOTES
Seperti biasa,
saya akan membagikan quotes yang terdapat dalam novel ini:
- Berhenti sesali apa yang sudah berlalu. (hal. 66)
- Selangkah demi selangkah, Ryn. Langkah-langkah kecil, tapi tetap membawamu maju. Itu lebih baik daripada diam di tempat. (hal. 121)
- Kebahagiaan nggak bisa dipaksakan. (hal. 185)
- Ada yang bilang, setiap hal yang baik datang dengan menunggu. (hal. 189)
- Menjadi cinta terbesar dalam hidup seseorang adalah hal paling membahagiakan sekaligus menyakitan. Membahagiakan karena dunia kita lengkap dengan kehadirannya. Menyakitkan karena tanpanya, kita tak lagi utuh. (hal. 236)
- Memikirkan versi seandainya nggak akan bawa kita ke mana-mana. Yang ada kita cuma jalan di tempat, terperosok dalam kemungkinan-kemungkinan yang nggak bakal terjadi. (hal. 266)
RATING
-
Cover: 5/5
-
Tema: 4/5
-
Karakter tokoh:
4/5
-
Gaya bahasa: 4/5
-
Plot: 3.8/5
-
Overall: 4/5

