Senin, 13 Februari 2017

[Resensi] Table for Two


Judul: Table for Two
Penulis: Dy Lunaly
Penerbit: Bentang Pustaka
Jumlah halaman: 260 halaman
Cetakan pertama, Desember 2016

Blurb

“Dia memang teman masa kecilku. Tapi, dia sudah bukan lagi bocah kurus yang ada dalam ingatanku, melainkan seorang pria. Seorang pria yang, sungguh tidak ingin aku akui, sangat menarik.”

Asha benci tinju sebesar dia membenci Arga, pria yang pernah disebutnya sebagai sahabat. Tragedi yang merenggut nyawa Papa membuat hubungan Asha dan Arga merenggang. Bertemu lagi dengan Arga nggak pernah terpikirkan olehnya. Tapi, itu yang terjadi.permintaan Mama memaksanya untuk bertemu dengan Arga sekaligus menjadi pengawas diet petinju super-menyebalkan itu.

Menjadi pengawas diet Arga berarti pertengkaran tanpa henti, rencana diet yang berantakan dan berkurangnya waktu untuk dinikmati bersama Kak Rama, dietisen di klinik kesehatan Mama. Namun, Asha nggak punya pilihan. Ia harus profesional dan berusaha berdamai dengan trauma masa lalunya.

Tapi ... bisakah?

CUPLIKAN KISAH

Novel ini bercerita tentang tinju. Asha yang benci tinju karena dunia itu merenggut nyawa papanya. Dan Arga yang ingin menjadi petinju karena kagum dengan papa Asha.

Penulis memulai cerita dengan kisah kedekatan Asha dengan Kak Rama, dietisen di klinik Mama Asha. Kemudian berlanjut ketika Asha bertemu dengan Om Bima. Dia adalah sahabat orangtua Asha dan juga Om-nya Arga.

Bertemu dengan Om Bima tentu saja membuat Asha senang. Namun inilah yang mempertemukan kembali Asha dengan Arga, sosok yang sempat menjadi sahabat Asha tapi kini menjadi sosok yang dibenci.

Siapa bilang kalau bertemu dengan sahabat lama pasti menyenangkan? Tidak selalu. Apalagi jika yang terjadi pada pertemuan terakhir adalah pertengkaran. Ya, setidaknya begitulah yang dirasakan Asha saat bertemu kembali dengan Arga. Sikap Arga yang dingin membuat Asha seperti tidak mengenali laki-laki itu.

Mama Asha kemudian menjelaskan tentang kondisi Arga yang sebenarnya, bahwa berat badan Arga melebihi limit kelas bantam. Itu sebabnya Arga diet dan sayangnya cara diet Arga tidak tepat. Mama Asha pun meminta Asha untuk menjadi pengawas diet Arga.

Lalu Asha mau? Oh, tidak secepat itu.

Asha bimbang. Setelah mengeluarkan semua kegelisahannya pada Kak Rama dan melihat Arga dehidrasi, Asha akhirnya memutuskan untuk membantu Arga. Hanya agar laki-laki itu tidak mengalami hal yang dialami papanya.

Tapi ternyata menjadi pengawas diet Arga tidaklah mudah. Asha harus sabar menghadapi Arga yang bandel. Namun ada saatnya seseorang merasa kesabaran telah habis. Pertengkaran hebat yang terjadi antara Asha dan Arga membuat Asha memutuskan untuk berhenti menjadi pengawas diet cowok itu.
Tidak bertemu dengan Arga seperti melegakan Asha. Karena itu artinya tidak perlu ada perdebatan dan tidak juga ada rasa kesal. Tapi Asha tidak bisa berbohong bahwa dia mengkhawatirkan dengan keadaan Arga. Dan kekhawatirannya terbukti ketika mendengar kabar Arga pingsan. Kejadian ini yang akhirnya membuat hubungan Asha dengan Arga menjadi lebih baik.

Dekat dengan Arga, jauh dengan Rama.

Saat Arga menyatakan rasa, Asha harus memilih. Sahabat masa kecilnya yang telah kembali, atau laki-laki yang selama ini ada di sisinya? Bagaimana pun juga, Asha harus memilih salah satu.

Karena cinta selalu milik berdua, nggak lebih.


REVIEW

Oke, sudah mengikuti ceritanya di atas? Saya nggak spoiler, kan? Bikin kamu penasaran, kan? Hehehe.

Kalau kamu mencari bacaan ringan yang segar tapi bikin emosi naik-turun dan ending yang nggak bisa ditebak, kamu wajib baca novel ini.

Gaya bahasanya mengalir, enak dibaca. Bikin nggak mau berhenti. Kalau aja waktu membaca novel ini nggak sambil kerja, saya yakin bisa menamatkan novel ini dalam wakut satu hari, saking enaknya gaya menulis Dy Lunaly.

Saya suka dengan karakter yang dibuat oleh penulis. Asha yang pantang menyerah. Rama yang loveable. Dan Arga yang keras kepala. Karakter tokoh-tokoh dalam novel ini seperti nyata, atau jika meminjam istilah salah seorang penulis, membumi.

Sayangnya, saya merasa perubahan sikap Arga pada Asha terlalu cepat. Mungkin kalau hubungan mereka perlahan membaik, itu lebih oke, mengingat bagaimana sikap Arga sebelumnya pada Asha yang sangat kasar. Ya, ini pendapat saya sih, belum tentu pendapat pembaca yang lain, hehehe.

Jujur, saya baru ingat kalau novel ini termasuk salah satu seri olahraga setelah selesai membaca, hehehe. Dan saya merasa pembahasan tentang dunia tinju hanya sedikit. Lebih membahas tentang diet.

Tapiii, kalau kita melupakan unsur “seri olahraga”, novel ini menarik. Selain banyak quotes keren, novel ini juga mengajarkan kita banyak hal. Mulai dari sabar, mencintai tubuh, sampai ketegasan dalam memilih.


REVIEW
  • Ternyata kenangan bahagia, tidak peduli selama apa pun tersimpan, selalu menghadirkan getar kerinduan ketika mengingatnya. (hal. 7)
  • Waktu selalu bisa mengubah apa pun, termasuk karakter seseorang. (hal. 35)
  • Kenangan tidak tersimpan dalam ingatan atau hati. Tetapi, pada benda atau tempat kenangan itu terjadi. (hal. 64)
  • Tubuh itu nggak bisa diperlakuin seenaknya. (hal. 131)
  • Sebesar apa pun kita menyesalinya, kita nggak akan pernah bisa mengubah masa lalu. (hal. 145)
  • Siapa yang tidak ingin menjadi anak yang bisa dibanggakan oleh orangtuanya? (hal. 151)
  • Manusia itu sama seperti istana pasir, mau dibangun sebagus atau setinggi apa pun akan ada saatnya untuk hancur. (hal. 161)
  • Cuma manusia lemah yang tunduk sama emosinya. (hal. 185)
  • Mengingat kenangan buruk tidak pernah menyenangkan. (hal. 186)
  • Jangan sampai kamu kehilangan orang yang berarti buat kamu cuma karena masa lalu. (hal. 246)
  • Satu orang yang bahagia jauh lebih baik daripada dua orang yang menderita karena cinta, kan? (hal. 251)

Untuk novel yang menjadi bacaan kedua di bulan Februari 2017 ini, saya berikan 3.8 bintang. :)