PENAKA
Penulis: Altami ND
Penerbit: Gramedia Pustaka
Utama
Tahun Terbit: 2022
Blurb
Pernikahannya
memang baru berumur dua tahun, tapi Sofia sudah mau menyerah saja. Suaminya tidak
hanya kecanduan game online, tapi juga super berantakan. Laksana bahkan
beberapa kali membahayakan anak mereka tanpa sadar. Ngawur!
Karena
tidak mau terjebak lebih lama, Sofia minta cerai. Ia bertekad mewujudkan
impiannya agar tidak lagi merasa ketinggalan dari orang-orang di sekelilingnya.
Namun, sehari setelah berikrar siap menjadi single parent, Sofia
terbangun dan menyadari dirinya berubah menjadi... botol minum!
Sofia
panik. Ia tiba-tiba berubah menjadi kucing, anjing, atau orang asing. Situasi ini
membingungkan. Apalagi ketika ia menemukan rahasia-rahasia tak terduga dari
orang-orang terdekatnya.
Lalu,
bagaimana dengan rencana-rencana hidupnya? Bagaimana nasib anak semata
wayangnya yang masih balita? Sofia harus segera menemukan cara untuk bisa
kembali ke wujud asalnya.
Ulasan
Diceritakan Sofia adalah seorang ibu rumah tangga dengan satu anak balita yang sebal karena suaminya, Laksana, terlalu fokus dengan ponselnya untuk main game. Sofia gemas terhadap kebiasaan sang suami, apalagi ketika dititipkan Raisa, anak mereka, Laksana malah lalai sampai membuat anak itu terluka. Gara-gara suaminya sudah keterlaluan, akhirnya Sofia minta cerai.
“Hobi itu kegiatan sampingan, Jen. Kalau sampai mengganggu yang utama, itu sudah nggak bisa disebut hobi, tapi distraksi. Kalau udah nikah harus punya prioritas dong.” (hal. 41)
Setelah minta cerai, dia malah berubah menjadi botol minum Laksana
yang ikut pergi ke kantor. Di sana dia melihat bagaimana sang suami melewati
pekerjaan. Setelah itu dia berubah lagi menjadi kucing, Jena (sahabatnya),
anjing, nenek-nenek, gadis remaja... yah pokoknya random! Terkesan random,
padahal Sofia itu berubah menjadi hal-hal yang muncul di kehidupannya. Ini
keren sih, karena tokoh tambahan pun punya peranan penting dalam plot.
Di awal membaca novel ini, saya benar-benar dibuat kesal oleh
Laksana. Dia tuh nggak peka dan sibuuuk terus sama hapenya! Saya pernah sih ada
di posisi Sofia. Lagi butuh waktu untuk sekadar mandi atau makan, tapi ngelihat
suami malah sibuk pegang hape, dan akhirnya saya bilang, “Kalau sibuk sama hape
terus, nikah aja sama hape!”. Wkwk.
Balik ke novel Penaka, di sini tuh kalau Sofia dan Laksana
ngobrol, selalu aja ending-nya malah bertengkar. Kebetulan saya memang
dibesarkan oleh keluarga yang buruk komunikasinya. Yang satu pengennya dimengerti
tanpa bilang, yang satu lagi nggak pekanya kebangetan. Akhirnya bertengkar tuh
udah bukan lagi bumbu penyedap rumah tangga, tapi menu utama! Jadinya, ketika
‘melihat’ kehidupan Sofia dan Laksana di Penaka ini, ya benar-benar nyata.
Berasa jadi Raisa! Wkwk.
Duh, maafkan nih, diselingi curcol, hehe.
Gaya bahasa di novel ini ngalir banget, jadinya pas baca tuh nggak
terasa tahu-tahu udah halaman atau bab sekian. Apalagi memang konflik rumah
tangga yang memang nggak mengada-ada. Karena banyak teman-teman saya juga yang
mengeluh suaminya kalau udah main game atau nonton bola, main futsal,
lupa segalanya.
Tadinya saya sempat khawatir ceritanya bakalan pincang karena
novel ini dilihat dari sudut pandang Sofia, tetapi ternyata Laksana ikut berubah
juga, lho! Dia berubah jadi anak kecil, petugas kebersihan, bahkan monyet.
Gara-gara Laksana ikut berubah, pandangannya tentang rumah tangga dan repotnya
seorang istri di rumah pun akhirnya diketahui. Jadinya bisa saling paham.
Karena memang ya... komunikasi itu penting!
Dan novel ini tuh jadi penting juga untuk dibaca untuk kalian kaum
Adam maupun Hawa.
Kalian belum nikah? Baca ini! Supaya dapat gambaran kalau menikah
tuh nggak cuma uwu-uwu doang.
Kalian udah nikah? Baca ini! Ada banyak quotes keren yang
bikin kita merenung dan tertampar, lalu bikin kita pengen introspeksi diri demi
mempertahankan pernikahan.
“Semua orang punya medan perangnya masing-masing. Pun yang terlihat bahagia, bukan berarti mereka selalu baik-baik saja.” (hal. 181)