Kamis, 13 April 2017

[Resensi] Being Henry David


Judul: Being Henry David
Penulis: Cal Armistead
Penerjemah: Dewi Sunarni
Penerbit: Spring
Jumlah halaman: 281 halaman
Cetakan Pertama, 2016

BLURB

‘Hank’ tersadar di Stasiun Penn, New York tanpa ingatan. Pemuda berumur tuju belas tahun itu tidak tahu namanya, siapa dirinya, dan dari mana ia berasal. Satu-satunya petunjuk yang ia miliki adalah sebuah buku berjudul ‘Walden’ karya Henry David Thoreau yang ada di tangannya.
Menggunakan buku itu, ia mencoba mencari jati dirinya. Dapatkah ia mengingat kembali siapa dirinya?
Atau lebih baik ia tidak mengingatnya sama sekali?

CUPLIKAN KISAH

Seperti pada blurbnya, novel ini bercerita tentang seorang laki-laki muda yang tersadar dai Stasiun Penn tanpa ingatan dan identitas apa pun. Satu-satunya barang yang ada di dekatnya adalah sebuah buku tua berjudul Walden karya Henry David Thoreau. Laki-laki itu yakin bahwa buku Walden akan membuat ingatannya pulih.

Setelah sempat berebut Walden dengan orang aneh bernama Frankie di Stasiun, laki-laki itu bertemu dengan Jack di salah satu toilet. Dan di sanalah laki-laki itu menjadi Henry. Henry David.

“Henry,” ucap Jack bimbang, mencoba melafalkan. “Kau tidak terlihat seperti seorang Henry. Aku akan memanggilmu Hank.”

Sejak saat itu, laki-laki itu menyebut dirinya sendiri Hank.

Berteman dengan Jack yang tinggal di sebuah gubuk di balik bak sampah, membawa Hank bertemu dengan Nessa, adik Jack. Namun ternyata pertemanan ini tidaklah baik karena Hank terjerat masalah besar yang dapat menjebloskannya (serta Jack dan Nessa) ke penjara.

Hank, Jack, dan Nessa berpisah. Hank yang masih tidak tahu apa-apa pergi ke Concord. Berdasarkan buku Walden, itu adalah tempat di mana Danau Walden berada.

Mengalami perjalanan yang cukup panjang, Hank pun sampai di Danau Walden. Ia mendapatkan arahan dari seorang gadis SMA bernama Hailey yang kemudian menjadi temannya. Di danau itulah ia bertemu dengan Henry David Thoreau yang mengajaknya berbicara namun hilang begitu saja. Dan perlahan, ingatan Hank pun mulai kembali meski hanya berupa sekelebat bayangan.

Selain bertemu dengan penulis Walden yang seperti mimpi, Henry juga bertemu dengan Thomas. Kepada Thomas dia menceritakan semuanya. Thomas lalu mengusulkan agar Hank mencari di daftar nama orang hilang. Dan benar. Dia menemukan fotonya di daftar itu. Ingatan mulai kembali seutuhnya. Tetapi Hank ragu, haruskah dia kembali?


REVIEW

Sejak awal melihat novel ini dan membaca blurbnya, saya sudah dibuat penasaran. Apalagi bookmark nya lagi-lagi okeee banget. Berbentuk sepatu gitu. Lucu.

Membaca novel ini membuat saya banyak dibuat bertanya siapa sebenarnya Hank? Pertanyaan yang bertahan sampai lewat dari setengah buku. Saya tidak tahu ini bisa dibilang bagus atau tidak. Di satu sisi, penulis memang membuat pembaca penasaran, tetapi di sisi lain, jujur saja saya merasa sedikit bosan dan gemas.

Karena tokoh dalam novel ini bisa dibilang banyak, saya merasa tidak semua karakter tereskplor dengan baik. Hanya Hank satu-satunya yang menurut saya sempurna.

Dan yang saya sayangkan adalah, bagian plotnya yang entah mengapa saya rasa banyak yang bolong. Ini jelas menimbulkan banyak tanda tanya untuk saya pribadi. Saya tidak tahu pendapat pembaca novel ini yang lain, tetapi bagi saya ya begitu.

Meski tidak sesuai dengan ekspektasi saya, saya tidak menyesal membaca buku ini karena penuh dengan renungan dalam hidup. Sebagian orang menilai buku ini memakai bahasa filsafat, mungkin benar juga, dan mungkin itu sebabnya banyak yang saya kurang pahami.

QUOTES

Ini adalah beberapa quotes yang sempat saya tandai dalam novel Being Henry David:
  1. Jika seseorang bergerak dengan penuh keyakinan diri menuju mimpi-mimpinya, dan berusaha keras untuk menjalani hidup yang dia bayangkan, dia akan meraih keberhasilan yang tak terduga kelak. (hal. 62)
  2. Dunia ini penuh dengan kebetulan-kebetulan yang sangat aneh. (hal. 145)
  3. Menghadapinya lebih baik daripada melarikan diri. (hal. 189)
  4. Jangan mengambil lebih dari apa yang kau butuhkan di dunia ini. Jangan membutuhkan lebih dari apa yang kau ambil. (hal. 213)

RATING

Cover: 4/5
Tema: 4/5
Karakter: 3/5
Gaya bahasa: 3/5
Plot: 3/5
Overall: 3.5/5