Kamis, 01 Juni 2017

Aku Ingin (Berhenti) Menulis

"Saya ingin berhenti menulis."

Pernah berpikiran seperti itu saat down dalam menulis?

Saya pribadi sebisa mungkin untuk nggak mengucapkan kalimat itu karena--jujur saja--saya nggak mau sampai tersugesti dan akhirnya benar-benar berhenti menulis.

Sebagai orang yang suka menulis dan ingin memiliki buku karya sendiri yang mejeng di toko buku se-Indonesia, ada saatnya saya down. Ada saatnya iri terhadap teman-teman lain yang naskahnya ACC penerbit mayor. Iri dengan cara bercerita mereka yang indah. Tapi saya nggak mau sampai mengatakan untuk berhenti dmenulis.

Saya selalu berusaha ingat bagaimana perjuangan saya sampai saat ini. Mulai dari kurangnya dukungan orangtua, mood yang naik-turun, naskah yang menggantung atau ditolak. Apa harus saya menyerah setelah semua perjuangan itu? Bagaimana perasaan "mereka" jika saya sebagai "penciptanya" menyerah?

Setiap kali ada yang mengatakan ingin berhenti menulis, saya terkadang ingin menangis. Kesal karena ... oh, ya ampuuun, perjuangan kamu mungkin belum seberapa.

Sudah berapa kali naskahmu ditolak?

Sudah berapa kali kamu dikritik?

Saya juga selalu memikirkan itu untuk diri sendiri jika sedang down.

Saya selalu berpikir, mungkin saja kalau saja berusaha satu kali lagi, saya akan berhasil. Mungkin saja kalau ditolak sekali lagi, setelahnya saya akan berhasil.

"Habiskan kuota gagalmu." Kalimat itu saya pegang sampai saat ini.

Saya nggak tahu udah berapa kali naskah saya ditolak. Lebih dari 20 kali pastinya. Dan setiap ditolak, saya akan sedih, kecewa, merasa sangat buruk, lalu akhirnya diam. Melampiaskan kemarahan dengan banyak-banyak membaca. Saya butuh waktu untuk mengumpulkan semangat menulis lagi. Dan saya berpikir, mungkin saja setelah penolakan ke 25 atau 30 saya baru berhasil? Artinya saya harus terus menulis, kan?

"Kenapa hanya saya yang gagal?"

Saya yang naskahnya masih ditolak terus ini sering berpikir demikian.

Kenapa sih, ditolak lagi? Kenapa sih, editor nggak lihat naskah saya idenya bagus? Kenapa sih, dia tulisannya terbit terus? Kenapa hanya saya yang nggak bisa?

Saya juga merasakan semua itu.

Dan sebagai satu-satunya orang yang menyukai fiksi dan menulis dalam keluarga bahkan lingkungan pertemanan, saya mencoba berpikir positif:

"Benar, nih saya doang? Yakin? Kenapa saya nggak melihat ke samping, ya? Banyak yang sama-sama berjuang seperti saya. Dan kalau mereka nggak menyerah, kenapa saya harus menyerah?"

Apa yang saya lalukan kemudian?

Baca, baca, dan baca. Setelah beberapa waktu saya buka lagi si Naskah, keegoisan pun hilang. Saya akhirnya mengerti mengapa naskah saya ditolak. Ada yang kurang dan seringnya saya nggak tahu apa itu. Yang saya tahu, wajar ditolak. Jadi saya harus menambal bolong itu dengan cara apa pun. Entah itu mengedit beberapa bagian atau bahkan re-write.

Naskah saya pernah dikritik oleh seseorang. Sakit hati? Iya. Saya udah kerjain naskah itu berbulan-bulan, lalu dia bilang feel-nya nggak ada dan terlalu banyak kebetulan. Saya sedih, dong. Tapi setelah direnungkan saya sadar, harusnya saya bersyukur dia memberi tahu kesalahan saya di mana, karena dengan begitu saya bisa memperbaiki yang kurang. Iya, kan?

Jujur saja, sebenarnya saya orang yang mudah sekali putus asa. Tapi untuk hal menulis ini, tempat saya bercerita hanya suami (yang lebih suka non fiksi), jadi saya harus bisa bertahan sendiri dan mencari cara untuk bisa menyemangati diri.

Setiap kali down, saya akan bercerita pada suami. Responnya bisa dibilang biasa aja, nggak ada yang istimewa, tapi membuat saya sadar saya harus banyak belajar. Selalu seperti itu. Dia selalu menyuruh saya belajar dan belajar. Selalu.

Saya serius dalam menulis, jadi saya harus menerima konsekuensinya, kan?

1. Mau membaca buku berbagai macam genre tapi berkualitas
2. Mau belajar
3. Mau dikritik

Ya, jadi penulis emang nggak gampang. Tapi memangnya ada yang instan? Mie instan aja harus diproses dulu sebelum dimakan. Begitu juga menulis.

Jadi, kalau kalian serius mau menulis dan cinta menulis, tolong jangan katakan ingin berhenti. Cinta itu harus diperjuangkan. Kecuali, kalian memang nggak cinta menulis, ya sudah, tinggalkan. Karena cinta nggak bisa dipaksakan.