Selasa, 09 Mei 2017

[Review] Happy Little Soul



Judul Buku: Happy Little Soul
Penulis: @retnohening
Penerbit: Gagasmedia
Jumlah halaman: 202 halaman
Cetakan kelima, 2017
ISBN: 978-979-780-886-0


BLURB

Ndak apa-apa, itu namanya be-la-jar.” Atau, “Sorry...,” seru Kirana sambil tersenyum dengan tatapan mata teduhnya yang siapa pun pasti tak bisa menolaknya.

Please ... sorry ... thank you ... adalah kata-kata tulus nan menggemaskan yang kerap disampaikan oleh Kirana ketika bermain. Baginya, belajar dari kesalahan is okay. Dan bagi Ibuk, dia justru banyak belajar tentang sabar dari sang anak, Mayesa Hafsah Kirana.

Life is an adventure. Cerita petualangan Ibuk dan Kirana di Happy Little Soul ini mengajak kita semua—kakak, adik, orangtua, calon ayah atau ibu, dan sebagai apa pun perannya—untuk belajar hal-hal sederhana mengenai kasih sayang dan bersama mewarnai kehidupan dengan lebih baik.


ISI BUKU

Seorang ibu pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Seorang ibu pasti ingin memiliki anak yang bukan hanya pintar, tetapi juga cerdas dan memiliki akhlak yang baik. Akan tetapi, tidak banyak yang paham bahwa untuk memiliki anak yang baik, maka ibu juga harus bersikap baik. Karena anak, akan selalu meniru apa yang dilakukan oleh orangtuanya.
Buku ini bukan novel, bukan pula biografi. Tetapi sebuah buku yang berisi pengalaman Retno Hening dalam mendidik anaknya, Kirana. Retno Hening, atau yang akrab disapa “Ibuk”, bukan penulis, akan tetapi beliau begitu menginspirasi karena memiliki anak yang sangat cerdas. Hal itu terlihat dari video tentang keseharian Kirana yang diunggah di akun Instagram-nya @retnohening.
Buku ini berisi sebelas bab dimulai dari kelahiran Kirana sampai usia Kirana saat ini (tiga tahun). Sebelum mengandung Kirana, Ibuk sempat keguguran dan membuatnya bersedih. Tetapi kemudian ia yakin, Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih kuat dan lebih baik. (hal. 5)
Beberapa bulan kemudian, sang suami dipindahtugaskan ke Muscat, Oman dan tidak diperbolehkan untuk membawa keluarga dalam waktu dekat. Ibuk yang memang ingin segera memiliki anak, terus berdoa kepada Allah agar diberikan. Dan alhamdulillah, Allah pun mengabulkan. Dan di minggu ke-39, lahirlah bayi kecil yang diberi nama Mayesa Hafsah Kirana.
Sejak usia Kirana 0 bulan, Ibuk tidak pernah bosan mengajaknya berbicara. Beliau yakin bahwa suara apa pun yang Kirana buat adalah sebuah komunikasi, sehingga dengan terus merespons Kirana, akan membuat hubungan mereka semakin dekat. 
Misalnya, ketika Kirana baru bangun tidur, Retno Hening akan menyapa, “Assalamu’alaikum, Nak, udah bangun, ya? ...” 
Di usia 6-12 bulan, Ibuk mulai memberikan Kirana buku yang terbuat dari kain dan berbagai macam kartu bergambar. Di saat ini, Kirana juga mulai belajar mengucapkan kata. Jika salah, Ibuk dengan cepat mengoreksinya agar tidak menjadi kebiasaan. Misalnya, ketika Kirana mengucapkan, “Yayah”, Ibuk membalasnya dengan, “Oh, Ayah. Ayah, ya.” 
Di usia 1-2 tahun, Ibuk mulai mengajak Kirana berinteraksi tanya-jawab. Bertanya tentang gambar tertentu, meminta tolong sesuatu, atau menceritakan ulang isi buku yang sudah diceritakan. Di usia 2-3 tahun, Kirana mulai banyak bertanya. Di sini, Ibuk mulai mengajak Kirana berdiskusi.
Zaman sekarang, smartphone adalah barang yang biasa. Banyak anak-anak yang diberikan smartphone agar tidak mengganggu aktivitas orangtua. Apakah Ibuk juga melakukannya?
Ya. Dengan catatan, Ibuk selalu mengawasi.
Ibuk harus memastikan bahwa apa yang Kirana tonton memanglah layak untuk ditonton anak-anak. Ketika usia Kirana masuk tiga tahun, Ibuk juga mulai mengunduh beberapa permainan edukasi di tablet. Meskipun demikian, sekali lagi, Ibuk tetap mengawasi.
Jika Ibuk terus bermain dan menemani Kirana, bagaimana dengan rumah? Siapa yang merapikan rumah?
Tentu saja Ibuk. Dan beliau mengajak Kirana berperan serta dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Beliau percaya dengan melibatkan anak, sang anak akan merasa penting. Misalnya, ketika Ibuk harus membersihkan lantai, beliau meminta Kirana mengelap lemari. Hasilnya tentu tidak bersih, tetapi di sinilah Kirana belajar untuk menolong ibunya. Kirana juga belajar memahami perintah.
Sebagaimana anak-anak pada umumnya, Kirana pun terkadang tidak mau mendengarkan perkataan Ibuk. Misalnya, ketika Kirana tidak merapikan mainannya, perintah biasa tidak akan berpengaruh. Salah satu cara Ibuk adalah dengan bernyanyi sambil merapikan mainan Kirana perlahan, membuat Kirana tertarik dan ikut merapikan mainannya.
Ibuk juga mengajarkan Kirana tiga kalimat ajaib sejak kecil: please, sorry, dan thank you. Mudahkah mengajarkan ini? Tentu saja tidak. Tetapi Ibuk tidak pernah menyerah.
Di saat sedang bermain bersama Kirana, Ibuk meminjam mainan dengan mengatakan please, lalu setelah mendapatkannya Ibuk mengatakan thank you. Lambat laun, anak akan mengerti sendiri dan terbiasa.
Ketika Kirana dapat melakukan sesuatu, Ibuk tidak lupa memujinya. Pujian akan membuat anak merasa percaya diri. Selain itu, Ibuk juga tidak ragu untuk menunjukkan rasa cintanya kepada Kirana. Beliau tidak bosan untuk mengatakan bahwa beliau menyayangi Kirana. Dengan demikian, Kirana akan merasa disayangi. Kirana juga tidak malu mengungkapkan perasaannya.
Sebagai manusia biasa, terkadang Ibuk juga merasa lelah. Adakalanya Ibuk marah ketika Kirana “mengganggu”. Misalnya, ketika Ibuk masak, lalu Kirana mengajak bermain. Atau ketika malam tiba, Ibuk mengantuk, namun Kirana tidak dapat tidur. Ibuk marah, tetapi kemudian Ibuk sadar bahwa itu tidak membuat keadaan menjadi membaik. 
Satu hal yang Ibuk tekankan dalam buku ini, yaitu pentingnya komunikasi antara orangtua dan anak. Bagaimana Kirana dapat menjadi anak yang peduli terhadap sesama? Karena Ibuk sering mengajaknya bercerita. Bagaimana Kirana dapat menjadi anak yang mau berbagi? Karena Ibuk sering mengingatkannya bahwa berbagi itu penting. Semua dilakukan dengan berkomunikasi.
Dengan komunikasi yang intensif, suara yang lembut, serta kesabaran yang penuh, seorang ibu akan dapat memahami anaknya. Berusaha untuk memahami tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa. Dari buku ini, kita bisa belajar untuk memahami anak dengan penuh cinta.

Untuk buku ini saya berikan 5 bintang!! Begitu menginspirasi.

[Review] Everything, Everything



Judul Buku: Everything, Everything
Penulis: Nicola Yoon
Penerjemah: Airien Kusumawardani
Penerbit: Spring
Jumlah halaman: 336 halaman
Cetakan pertama, 2016


BLURB

Penyakitku langka, dan terkenal.

Pada dasarnya, aku alergi terhadap seluruh dunia. Aku tidak bisa meninggalkan rumahku, dan belum pernah keluar dari rumah selama tujub belas tahun. Orang yang aku temui hanyalah ibuku dan Carla, perawatku.

Tapi suatu hari, sebuah truk pindahan tiba di rumah sebelah. Aku melongok keluar dari jendela dan aku melihat cowok itu. Dia tinggi, kurus, dan mengenakan baju serba hitam. Dia memergokuku sedang menatapnya dan dia balik memelototiku. Namanya Olly.

Mungkin kita tidak bisa memperkirakan masa depan, tapi kita bisa memperkirakan satu atau dua hal. Seperti misalnya, aku yakin aku akan jatuh cinta pada Olly. Tapi, hal itu hanya akan menjadi bencana.


CUPLIKAN KISAH

Everything, Everything, menceritakan seorang gadis 17 tahun bernama Madeline Whittier atau Maddy yang menderita penyakit langka—SCID atau Severe Combined Immunodeficiency. Bisa dibilang, Maddy alergi pada dunia dan itu membuatnya tidak pernah keluar rumah selama 17 tahun.

Seperti yang disebutkan dalam blurb-nya, hanya ada dua orang yang ditemuinya. Ibunya, yang juga seorang dokter, dan Carla, perawatnya. Awalnya, semua berjalan baik-baik saja sampai akhirnya ia bertemu dengan Olly, anak laki-laki yang menjadi tetangga barunya,

Bagaimana mereka berkenalan?

Seperti yang ada di film-film, jendela kamar mereka berseberangan dan dengan membuat tulisan pada jendela mereka bertukar alamat email. Di sinilah hubungan mereka bermula.

Lambat laun, Maddy ingin mereka bertemu. Bukan hanya sekadar chatting. Melalui bantuan Carla, dan tentunya tanpa sepengetahuan ibu Maddy, pertemuan mereka pun terlaksana. Dan satu hal yang Carla pesan adalah, tidak boleh ada sentuhan.

Cinta selalu membuat manusia menjadi berubah. Begitu pula Maddy. Perubahan sikap Maddy membuat ibunya curiga sampai akhirnya ibu Maddy mengetahui semuanya dan memecat Carla. Ibu Maddy menghadirkan perawat baru yang begitu menyebalkan dan hubungan Maddy-Olly pun merenggang.

Lambat laun, Maddy tidak tahan. Ia nekat keluar rumah dan meminta Olly membawanya ke Hawai. Maddy sudah mempersiapkan segalanya. Tiket pesawat dan penginapan. Agar Olly yakin bahwa ia akan baik-baik saja, ia bercerita tentang pil yang akan membuat tubuhnya sehat saat keluar rumah. Cerita bohong, tentu saja.

Di Hawai, mereka bersenang-senang. Dan bencana pun terjadi. Maddy sakit. Olly panik.

Bagaimana cerita selanjutnya? Silakan baca. :D


REVIEW

Novel ini bisa dibilang novel ringan. Tetapi saya masih kesulitan membaca buku terjemahan dan membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk menyelesaikannya. :D

Tapi saya puas.

Kata orang, novel ini biasa saja. Saya? Suka!!

Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama dari sisi Maddy, saya ikut terhanyut dalam ceritanya. Saya dapat membayangkan bagaimana perasaan Maddy saat ada tetangga baru yang menarik untuk diakrabi. Saya dapat membayangkan bagaimana Maddy menantikan email baru dan berbicara langsung pada Olly. Dan ketika akhirnya mereka bertemu, saya dapat membayangkan bagaimana Maddy ingin menyentuh Olly. Pokoknya, semua yang dirasakan Maddy, saya rasakan juga.

Akan tetapi, karena sangat berpusat pada Maddy, saya kurang menyelami perasaan tokoh lain. Ini memang menjadi kekurangan dalam menggunakan POV 1 sudut tertentu, sebenarnya, jadi tidak masalah. Dan karena itulah saya tidak dapat menjelaskan bagaimana karakter tokoh lain.

Untuk konflik sebenarnya tidak begitu pelik, tetapi cukup menegangkan. Dan bukan hanya itu, menjelang akhir saya merasa sangat sedih dengan kenyataan yang sebenarnya. Rasanya seperti hati ini diremas. Serius. Entah saya yang berlebihan membaca buku ini atau bagaimana, tapi rasanya memang seperti itu.


QUOTES

  • Kita tidak bisa selalu mendapatkan apa yang kita mau. (hal. 74)
  • Perbedaan antara tahu dengan melihat secara langsung sama seperti perbedaan antara mimpi terbang dengan benar-benar terbang. (hal. 82)
  • Waktu berharga. Dan tidak sopan kalau kita membuang-buang waktu orang lain. (hal. 102)
  • Hidup adalah anugrah. Jangan lupa untuk menjalani hidup. (hal. 152)
  • Jadilah gadis yang berani. (hal. 153)
  • Ada beberapa hal yang memang harus kau alami sendiri. (hal. 271)


RATING

Cover: 4.5/5
Tema: 4/5
Karakter tokoh: 3.8/5
Plot: 3.5/5
Gaya bahasa: 3.8/5
Overall: 3.8/5