Jumat, 02 Juni 2017

Menjadi Penulis Muda (?)

Saya sudah menulis sejak duduk di bangku Sekolah Dasar.

Menulis cerpen dan dimuat pertama kali saat SMA.

Menerbitkan novel pertama kali saat kuliah.

Sekarang? Saya masih menulis dengan harapan yang sama: menjadi penulis.

Kalian ingat, apa cita-cita kalian ketika kecil? Saya, banyak!

Mulai dari guru, dokter, perawat, arsitek, pilot, semua saya sebut. Tapi, hanya ada tiga yang nggak pernah berubah:

1. Membahagiakan orangtua
2. Masuk surga
3. Menjadi penulis

Untuk poin satu dan dua, sekarang udah bukan lagi cita-cita. Karena menurut saya (versi sekarang, yang udah lulus kuliah), itu adalah kewajiban.

Jadi, mari kita bahas tentang menjadi penulis.

Menjadi penulis, kenapa?

Karena dengan menulis saya bisa membuat dunia saya sendiri. Dengan menulis saya bisa mengubah cerita apa pun yang saya nggak suka. Dengan menulis saya bisa melampiaskan perasaan dengan lebih baik. Dan dengan menulis, saya ingin berbagi.

Tetapi nyatanya, menjadi penulis itu nggak mudah.

Ada perjuangan berat!

Ada kritikan pedas!

Ada penolakan menyakitkan!

Dan ada pula editor yang menggantung naskah kita.

Menjadi penulis harus bermental baja. Alurnya kurang lebih begini:

Dihina - sakit hati - bangkit - menulis lagi.

Dikritik - putus asa - bangkit - menulis lagi.

Diabaikan - marah - bangkit - menulis lagi.

Ditolak - sedih - bangkit - menulis lagi.

Bisa dibilang, tulisan ini sebenarnya saya buat untuk menyugesti diri sendiri setiap kali merasa down. 

Sejak kuliah sampai ... sebulan yang lalu, ambisi saya masih menjadi penulis muda. Saya sering kesal setiap kali teman penulis kembali menerbitkan karyanya. Saya kecewa karena yang lain bisa menerbitkan buku di usia kurang dari 25 tahun. Tapi kemudian saya sharing dengan teman yang hobi membaca. Dan kata-katanya membuat saya merenung,

"Semua orang bisa nulis, tapi nggak semua orang bisa jadi penulis."

Saya tertegun. Dia benar.

"Di luar negeri, orang menjadi penulis di usia yang matang. Masa muda mereka dihabiskan dengan membaca buku. Di Indonesia, orang justru berlomba-lomba menjadi penulis, tapi minim baca buku. Di sini, semakin muda orang menjadi penulis, semakin dianggap hebat. Tapi, coba tanyakan buku apa saja yang mereka baca. Kebanyakan buku "biasa". Nggak heran kalau tulisannya biasa aja. Memang, ada yang tulisan dan bacaannya bagus, tapi nggak banyak."

Saya tersindir. Tapi dia benar.

Dan setelah diskusi ini tujuan saya berubah. Saya nggak lagi berambisi menjadi penulis muda. Tujuan saya sekarang adalah membaca - belajar - menulis.

Saya nggak menjami beberapa tahun yang akan datang saya telah menjadi penulis. Karena masa depan Allah yang tahu. Tapi saya yakin, beberapa tahun ke depan, tulisan saya lebih baik dari sekarang.

Karena itulah, saya nggak lagi membeli buku yang biasa aja untuk memotivasi diri dan menjadi pembanding tulisan.

Istilah melihat ke bawah sekarang nggak berlaku lagi bagi saya dalam hal ini.

Kali ini saya membeli buku yang benar-benar bagus, berkualitas, hanya direkomendasikan pecinta buku.

Saya mulai menyeleksi buku yang saya beli dan baca.

Bukankah untuk menjadi sehat harus mengonsumsi makanan sehat?

Saya pikir, hal yang sama berlaku dalam menulis.

Kalau saya ingin tulisan saya berkualitas, maka saya harus membaca buku berkualitas.

Dan latihan!!!

Bismillah. Nggak ada perjuangan yang mudah. Dan nggak ada perjuangan yang sia-sia. Insya Allah. Aaaamiiin.