Minggu, 07 Agustus 2016

Review: Malam-Malam Terang



Judul: Malam-Malam Terang
Penulis: Tasniem Fauzia Rais dan Ridho Rahmadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
244 halaman

Hadiah Giveaway via Instagram





Aku dapat novel ini gara-gara menang GA yang diadain di Intagram.
Waktu tahu ternyata penulisnya anak keempat Bapak Amin Rais, aku kaget dan bangga, soalnya keluargaku pengagum beliau. ^^

Waktu baca review novel ini, aku langsung ngerasa, lho, ini gue banget!

Tokoh Tasniem yang pintar tapi ujian akhir malah nggak bisa masuk ke sekolah favorit, terus lanjutin ke luar negeri dan di sana kebingungan karena bahasa terbatas, kangen keluarga, ditambah harus kerja sampingan supaya bisa pulang ke Indonesia. Semua itu gue banget meski aku sendiri nggak ngalamin semuanya. :v

Maksudnya, dulu, nilai ujian akhir aku pun jelek.

Sedikit curhat, dulu bergitu lulus SD, aku sekolah di pesantren. Di sana, harusnya aku lanjutin sampai tamat SMA, tapi karena NEM-ku anjlok waktu SMP, aku pindah sekolah. Malu. Kalau Tasniem ke luar negeri, aku sih masih di dalam negeri, hehe.

Di SMA, nilaiku mulai membaik. Lanjut kuliah di dalam negeri. Alhamdulillah sekarang udah selesai. Aku pengin banget bisa lanjutin kuliah di luar negeri, tapi terkendala bahasa. Jujur, bahasa Inggrisku jelek banget. Ditambah lagi aku nggak biasa jauh dari rumah. Bayangan tentang aku yang ada di luar negeri, seolah tergambar lewat cerita Tasniem.

Sekarang, yuk, kita kupas tentang buku ini.

Di atas udah digambarkan sedikit ya, tentang isi buku ini. Aku nggak akan bahasa ceritanya detail karena nanti malah spoiler. :v

Aku nggak tahu ini bisa disebut novel atau autobiografi. Kayaknya sih autobiografi, karena ini rasanya kisah nyata Tasniem. Terlihat dari banyak narasi yang dituliskan di sini dan sedikit dialog. Apakah ada unsur fiksinya atau nggak, aku nggak tahu.

Nggak ada buku yang sempurna. Akan selalu ada kelebihan dan kekurangan.

Buatku, kelebihan buku ini karena bisa memberikan motivasi kepada pembaca yang ingin berhasil. Amanatnya amat sangat kuat, agar kita nggak diam saja kalau mau berhasil. Selalu ada usaha sebelum kita sampai di puncak.

Karena aku menganggap buku ini adalah autobiografi, aku nggak akan bahas tentang unsur intrinstiknya terlalu banyak.

Buku ini memakai sudut pandang orang pertama. Memang, rata-rata penulis yang pakai POV pertama akan lebih banyak bercerita tentang dirinya, itu sudah pasti. Tapi untuk pembaca yang lebih suka banyak dialog sepertiku, membaca narasi berlembar-lembar rasanya lelah.

Penulis lebih banyak telling daripada showing. Ada bagian-bagian yang menurutku akan lebih ‘terasa’ dengan cara showing. Seperti ketika Tasniem menjelaskan watak sahabat-sahabatnya, bangunan sekolahnya, itu semua dijabarkan dalam narasi. Akan lebih baik jika pembaca tidak ‘tahu segalanya’ di awal.

Aku juga menyayangkan tidak adanya footnote padahal ada bahasa asing (bahasa Jawa dan Inggris) dalam buku ini. Di awal-awal,  Tasniem, menjelaskan kembali arti bahasa asing itu dalam paragraf. Rasanya, lebih enak jika diberi footnote saja.

“40 taon kepungkur deweke pindah menyang Singapura karo bojone, Nduk. Saiki wes dadi wong kono.” 40 tahun sudah sahabatnya itu pindah ke Singapura bersama suaminya. (hal. 22)

Nah, kalau terjemahannya dibuat footnote, akan lebih enak dibaca, sepertinya.

Penulis juga menulis beberapa pengulangan cerita yang menurut aku sih nggak begitu diperlukan. Seperti pada halaman 74, saat Tasniem mengingat kembali misteri Mr. Fawson, pada halaman 82 saat Tasniem teringat bagaimana ia bisa sampai ke Singapura, dan pada halaman 197 tentang perbedaan keyakinan antara Tasniem dan ketiga sahabatnya.

Dalam beberapa bagian juga ada paragraf yang terlalu panjang. Aku pernah dikasih saran oleh seorang penulis, katanya usahakan menulis satu paragraf nggak lebih dari 6 baris. Seorang editor juga mengatakan, paragraf yang terlalu panjang akan membuat pembaca menjadi lelah.

Oh ya, bagian yang paling aku suka dari buku ini adalah kisah Tasniem lulus ujian dengan nilai terbaik. Waktu Tasniem di wisuda, rasanya ikut deg-degan. Juga saat Tasniem ketemu sama Ridho. Aaah, sweet banget. Malah pengen ada lanjutan kisah Tasniem dan Ridho, hehehe.

Buku ini juga memuat banyak quote keren.

“... Dan yang namanya memulai, bagi siapa saja, tidaklah mudah.” (hal. 34)

“... jangan takut karena benar. Angkat dagumu, katakan pada dunia bahwa kamu benar, kalau tidak orang jahat akan senang menunjukkan bahwa kamu salah.” (hal. 51)

“Jangan takut gagal, kecuali kalau kamu takut sukses.” (hal. 66)


Meskipun ada beberapa hal yang bikin aku lelah bacanya (ini urusan selera kok), aku rekomen banget buku ini untuk kalian yang pengin dapat motivasi. Serius.

Finally ... 3,5 bintang untuk Malam-Malam Terang. ^^