Judul: Malam-Malam Terang
Penulis: Tasniem Fauzia Rais dan Ridho Rahmadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
244 halaman
Hadiah Giveaway via Instagram
Aku dapat novel ini gara-gara menang GA yang diadain di
Intagram.
Waktu tahu ternyata penulisnya anak keempat Bapak Amin
Rais, aku kaget dan bangga, soalnya keluargaku pengagum beliau. ^^
Waktu baca review novel ini, aku langsung ngerasa, lho, ini
gue banget!
Tokoh Tasniem yang pintar tapi ujian akhir malah nggak bisa
masuk ke sekolah favorit, terus lanjutin ke luar negeri dan di sana kebingungan
karena bahasa terbatas, kangen keluarga, ditambah harus kerja sampingan supaya
bisa pulang ke Indonesia. Semua itu gue banget meski aku sendiri nggak
ngalamin semuanya. :v
Maksudnya, dulu, nilai ujian akhir aku pun jelek.
Sedikit
curhat, dulu bergitu lulus SD, aku sekolah di pesantren. Di sana, harusnya aku
lanjutin sampai tamat SMA, tapi karena NEM-ku anjlok waktu SMP, aku pindah
sekolah. Malu. Kalau Tasniem ke luar negeri, aku sih masih di dalam negeri,
hehe.
Di SMA, nilaiku mulai membaik. Lanjut kuliah di dalam
negeri. Alhamdulillah sekarang udah selesai. Aku pengin banget bisa lanjutin
kuliah di luar negeri, tapi terkendala bahasa. Jujur, bahasa Inggrisku jelek
banget. Ditambah lagi aku nggak biasa jauh dari rumah. Bayangan tentang aku
yang ada di luar negeri, seolah tergambar lewat cerita Tasniem.
Sekarang, yuk, kita kupas tentang buku ini.
Di atas udah digambarkan sedikit ya, tentang isi buku
ini. Aku nggak akan bahasa ceritanya detail karena nanti malah spoiler. :v
Aku nggak tahu ini bisa disebut novel atau autobiografi. Kayaknya
sih autobiografi, karena ini rasanya kisah nyata Tasniem. Terlihat dari banyak
narasi yang dituliskan di sini dan sedikit dialog. Apakah ada unsur fiksinya
atau nggak, aku nggak tahu.
Nggak ada buku yang sempurna. Akan selalu ada kelebihan
dan kekurangan.
Buatku, kelebihan buku ini karena bisa memberikan
motivasi kepada pembaca yang ingin berhasil. Amanatnya amat sangat kuat, agar
kita nggak diam saja kalau mau berhasil. Selalu ada usaha sebelum kita sampai
di puncak.
Karena aku menganggap buku ini adalah autobiografi, aku nggak akan bahas tentang unsur intrinstiknya terlalu banyak.
Buku ini memakai sudut pandang orang pertama. Memang,
rata-rata penulis yang pakai POV pertama akan lebih banyak bercerita tentang
dirinya, itu sudah pasti. Tapi untuk pembaca yang lebih suka banyak dialog
sepertiku, membaca narasi berlembar-lembar rasanya lelah.
Penulis lebih banyak telling daripada showing. Ada
bagian-bagian yang menurutku akan lebih ‘terasa’ dengan cara showing. Seperti
ketika Tasniem menjelaskan watak sahabat-sahabatnya, bangunan sekolahnya, itu
semua dijabarkan dalam narasi. Akan lebih baik jika pembaca tidak ‘tahu
segalanya’ di awal.
Aku juga menyayangkan tidak adanya footnote padahal ada
bahasa asing (bahasa Jawa dan Inggris) dalam buku ini. Di awal-awal, Tasniem, menjelaskan kembali arti bahasa
asing itu dalam paragraf. Rasanya, lebih enak jika diberi footnote saja.
“40 taon kepungkur deweke pindah menyang Singapura karo
bojone, Nduk. Saiki wes dadi wong kono.” 40 tahun sudah
sahabatnya itu pindah ke Singapura bersama suaminya. (hal. 22)
Nah, kalau terjemahannya dibuat footnote, akan lebih enak
dibaca, sepertinya.
Penulis juga menulis beberapa pengulangan cerita yang
menurut aku sih nggak begitu diperlukan. Seperti pada halaman 74, saat Tasniem
mengingat kembali misteri Mr. Fawson, pada halaman 82 saat Tasniem teringat bagaimana
ia bisa sampai ke Singapura, dan pada halaman 197 tentang perbedaan keyakinan
antara Tasniem dan ketiga sahabatnya.
Dalam beberapa bagian juga ada paragraf yang terlalu
panjang. Aku pernah dikasih saran oleh seorang penulis, katanya usahakan
menulis satu paragraf nggak lebih dari 6 baris. Seorang editor juga mengatakan,
paragraf yang terlalu panjang akan membuat pembaca menjadi lelah.
Oh ya, bagian yang paling aku suka dari buku ini adalah
kisah Tasniem lulus ujian dengan nilai terbaik. Waktu Tasniem di wisuda,
rasanya ikut deg-degan. Juga saat Tasniem ketemu sama Ridho. Aaah, sweet
banget. Malah pengen ada lanjutan kisah Tasniem dan Ridho, hehehe.
Buku ini juga memuat banyak quote keren.
“... Dan yang namanya memulai, bagi siapa saja, tidaklah
mudah.” (hal. 34)
“... jangan takut karena benar. Angkat dagumu, katakan
pada dunia bahwa kamu benar, kalau tidak orang jahat akan senang menunjukkan
bahwa kamu salah.” (hal. 51)
“Jangan takut gagal, kecuali kalau kamu takut sukses.” (hal.
66)
Meskipun ada beberapa hal yang bikin aku lelah bacanya (ini
urusan selera kok), aku rekomen banget buku ini untuk kalian yang pengin dapat
motivasi. Serius.
Finally ... 3,5 bintang untuk Malam-Malam Terang. ^^
