Kamis, 29 Desember 2016

[Review] Seruak


Judul buku: Seruak
Penulis: Vinca Callista
Penerbit: Grasindo
Jumlah halaman: 433 halaman

Blurb
Mau tidak mau, Bonie harus berurusan dengan teman-teman barunya di Desa Angsawengi. Macam-macam pribadi, dari anak yang sangat menyenangkan sampai yang selalu menyebalkan, berinteraksi di rumah yang sama, karena kelompok mahasiswa ini sedang menjalani program Kuliah Kerja Nyata.

Di kelompok anak muda ini hadir Arbil Radeagati—seorang aktor muda yang bermaksud melarikan diri dari tekanan keluarganya, penyakit yang menggerogoti jiwanya. Dan ada pula Mada Giofrasan, sahabat masa kecilnya yang mengetahui Bonie tumbuh dari masa lalu yang gelap dan menjijikkan.

Pada awalnya, hubungan di antara kesebelas pribadi ini hanya seputar program kerja di desa serta perkembangan chemistry yang bercabang jadi persahabatan dan permusuhan. Namun, nyatanya Desa Angsawengi terlalu terkonsep. Ada orang-orang yang sengaja menakut-nakuti mereka, sistem kehidupan di sana lama-lam menjadi mencekam jiwa Bonie dan kawan-kawan. Tidak ada remaja yang tinggal di sana, malah ada kawanan anjing besar yang sering kali muncul bersama anak kecil berkepala botak, ada pula pira misterius yang selalu mengganggu dengan mesin pemotong rumputnya. Anak-anak ini terus diteror oleh penguakan rahasia yang menggiring mereka ke misteri yang nyatanya melibatkan pribadi Bonie.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ini adalah kali pertama saya membaca novel bergenre psychothiler. Jujur, awalnya agak berat bagi saya pribadi, apalagi dengan jumlah halaman yang hampir 500. Sempat pesimis tidak bisa menyelesaikannya. Kalau bukan karena even Baca Bareng di Instagram, mungkin saya akan menunda untuk membaca novel ini.


Untung saja saya tidak menunda. Karena saya pasti akan menyesal. Novel ini menarik. Membuat saya keluar dari zona nyaman namun tetap merasa nyaman.

Dari segi cover, jelas novel ini memiliki aura mistik yang kental. Warna dan ilustrasinya pas—mengerikan.

Saat membuka lembar pertama novel ini, saya menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan berat. Alasannya? Karena saya berhadapan dengan narasi yang begitu banyak dan panjang. Setelah saya lewati halaman demi halaman, perlahan saya mulai merasa asik. Mulai bisa memahami ceritanya meski kesan berat tercipta. Dan juga novel ini sangat khas ilmu psikologinya.

Kebetulan skripsi saya juga membahas Id, ego, dan super ego, jadi lumayan paham. :D (sedikit curcol boleh dong XD)

Siapa saja sebelas anak KKN di Desa Angsawengi?

Mereka adalah mahasiswa dari Universitas Palagon.

Ada Bonie yang introvert. Mada Giofrasan yang bijaksana. Kalima Faye (kekasih Mada) yang seperti seorang detektif. Nafiloka Arbil Radeagati, artis yang ingin ketenangan. Firsta Alula yang kaya raya. Fabyan Sadamelik yang menyenangkan. Jiana Aryon yang supel. Chamae Trileon yang jago masak. India Catur yang katanya memiliki indera keenam. Dwi Dwayanto yang ambisius, dan Natanina yang menarik.

Dari sebelas tokoh yang memiliki karakter kuat itu, saya tertarik pada Fabyan. Dia kocak banget! Memang beneran sih yang karakternya kayak Fabyan gitu bikin orang gampang suka dan sayang. Ya, ya, ya, saingan saya banyak, ada Lula, Jiana, Nina, India, dan mungkin juga kamu. Haha. But I don’t care. XD

Banyak kejadian aneh yang dialami oleh kelompok itu. Mulai dari Nenek Layli yang terkesan menyeramkan, berlanjut pada anjing-anjing yang mengejar, lalu Arbil yang melihat seorang laki-laki dengan pemotong rumput di tangannya. Juga Nenek Golok, yang tampak lemah namun ternyata sangat kuat saat melempar goloknya.

Saya juga tidak menyangka bahwa akan ada nyawa yang hilang di antara mereka. Saya pikir, itu tidak akan terjadi. Tapi benar-benar mengerikan. Dan saya merasa mual saat ada tokoh (di luar anak KKN) yang dengan santainya merekam setiap nyawa yang hilang.

Siapa sangka kejadian demi kejadian itu nyatanya sudah direncanakan?

Penulis menggunakan dua sudut pandang pada novel ini. Sudut pandang orang pertama dengan memakai kata ganti “saya” dan sudut pandang orang ketiga yang menceritakan kesebelas mahasiswa KKN.

Seperti dalam cuplikan berikut:

“Jendela kamar ini tidak ditutup rapat, entah siapa yang terakhir kali ingat untuk menutupnya sebelum tidur, otak saya pun terlalu lelah untuk sekadar mengacuhkan apakah angin malam yang menyeruak lewat jendela akan menyakiti engsel-engsel pinggang dan kaki saya atau tidak. Jadi, setelah tidak berhasil membangunkan Nina, Arbil berguling menghadap ke dinding kamar, lalu sudut matanya tertarik oleh goyangan gorden yang meliuk-liuk pasrah dikontrol semilir angin penyelinap, sampai akhirnya Arbil mendapati gambaran samar sosok manusia yang berdiri di luar jendela kamar.”  (hal. 346)

Saat penulis menggunakan POV pertama, saya terus berpikir, siapa sebenarnya “saya” yang dimaksud penulis—yang membuat kelompok itu mengalami hal buruk? Semula, saya menduga “saya” adalah orang lain. Bukan salah satu dari sebelas mahasiswa KKN. Lambat laun (seperti cuplikan di atas) saya disadarkan bahwa dugaan saya salah.

“Saya” pastilah salah satu dari mereka. Tapi siapa? Sungguh, saya penasaran.

Ada hal-hal yang masih menjadi tanda tanya bagi saya pribadi. Kenapa semua tokoh yang ternyata punya hubungan di masa lalu ini bisa berada dalam kelompok yang sama? Settingan atau kebetulan? Lalu bagaimana kisah Nenek Golok berikutnya? Sayang sekali kalau dihilangkan begitu saja. Dan kejadian tsunami, rasanya agak terkesan dipaksakan.

Sepertinya saya harus baca ulang novel ini untuk menyempurnakan pemahaman tentang hubungan setiap tokoh. Belum tahu kapan, tapi sudah saya niatkan untuk baca ulang. :D

Di balik kelebihan novel ini, kekurangannya hanyalah kebetulan yang menurut saya sangatlah banyak. Bagaimana mungkin orang-orang yang memang memiliki keterkaitan satu sama lain bisa berada dalam satu kelompok? Kalau saja diungkap bahwa ada dalang di balik pembuatan anggota kelompok itu, mungkin bisa lebih masuk akal? (Hihihi, maafkan pembaca yang sok tahu ini.)

Selain karakter dan konflik yang saya sukai, novel ini juga memiliki banyaaak quote keren.
  •  Ketakutan lebih gampang diciptakan daripada kebahagiaan. (hal. 4)
  • Menjadi berbeda itu tidak selalu salah. (hal. 24)
  • Siapa dirimu adalah apa yang temanmu ceritakan tentangmu kepada temannya. (hal. 31)
  • Ada tipe teman yang menyenangkan sejak awal perkenalan. (hal. 32)
  • Katanya mahasiswa, kok percaya takhayul. (hal. 46)
  • Manusia memang berharga, selalu ada yang memiliki harga lebih bagi seseorang. (hal. 104)
  • Sugesti memang luar biasa. Kita pikir bahagia, kita bahagia. Kita pikir kita bisa, kita bisa. Kita pikir kita cinta, kita mencinta. (hal. 130)
  • Perempuan bukanlah mutlak simbol kelemahan. (hal. 143)
  • Orang ketiga dalam komunikasi kerap menjadi pemicu kesalahpahaman. (hal. 282)
  • Rumah, tempat manusia merasa selamat. (hal. 416)
  • Seseorang menyebut orang lain jahat itu karena enggak sejalan sama pemikirannya, padahal dia juga bisa jadi jahat karena bertentangan sama pola pikir orang lain. (hal. 428)


Finally, saya berikan 3,8 bintang dari 5 untuk novel genre thiller pertama yang saya baca dan miliki. ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar