Kamis, 18 Mei 2017

[Review] A Little Princess


Judul: A Little Princess
Penulis: Frances Hodgson Burnett
Penerjemah: Teguh Hari
Penyunting: Jia Effendie dan Ida Wajdi
Penerbit: Atria
Jumlah halaman: 336 halaman
ISBN: 978-602-71458-1-8
Tahun terbit: 2015


BLURB

Sara Crewe dikirim dari India untuk bersekolah di Sekolah Asrama Nona Minchin di London. Ayahnya, Kapten Crewe, luar biasa kaya dan membelikan Sara gaun-gaun yang indah serta meminta agar anaknya diberi fasilitas mewah di sekolah itu.
Meski selalu dimanja dan bergelimang harta, Sara adalah anak yang cerdas, sopan, dan murah hati. Beberapa siswa yang lebih tua cemburu pada keberuntungan Sara dan mengejek dengan memberinya julukan “Putri Sara” mengacu pada sikapnya yang sempurna. Tetapi dia justru menjadikan hal itu sebagai pengingat untuk bermurah hati kepada orang lain.
Kemudian, Kapten Crewe meninggal dan kekayaannya habis. Keadaan berbalik 180 derajat bagi Sara. Tetapi karakternya yang kuat membuatnya mampu bertahan menghadapi kemiskinan yang tiba-tiba dan penghinaan dari teman-temannya.


CUPLIKAN KISAH

Sebenarnya, blurb novel ini sudah begitu jelas menggambarkan apa isi novel ini. Seorang gadis kecil bernama Sara, dikirim oleh ayahnya untuk bersekolah di Asrama Nona Minchin, di London. Memiliki ayah yang kaya raya dan amat menyayanginya tidak membuat Sara menjadi gadis manja yang menyebalkan. Sebaliknya, Sara tumbuh menjadi anak yang cerdas, sopan, baik hati, dan selalu ramah pada siapa saja.
Ada hal yang membuat Sara istimewa dari anak-anak seumurannya. Sara pintar berimajinasi. Dia sering mengkhayal dan menceritakan khayalannya pada orang-orang. Bagi ayahnya dan beberapa orang, Sara menyenangkan. Tetapi bagi sebagian yang lain, Sara anak aneh.
Sara memiliki dua teman baik. Mereka adalah Ermengarde yang tidak pintar, dan Lottie, gadis kecil yang cengeng. Sara sering menceritakan khayalannya kepada mereka berdua. Beberapa anak juga ikut mendengarkan, termasuk Becky, seorang pesuruh di Asrama. Meskipun banyak yang menyukai Sara, ada juga yang iri pada Sara: Lavinia dan Jessie. Mereka tidak suka dengan Sara yang memakai gaun-gaun mahal dan bersikap sangat sopan, seolah Sara adalah seorang puteri dari kerajaan. Bahkan, Nona Minchin pun tidak menyukai Sara.
Hidup Sara yang bergelimang harta berubah ketika ayahnya, Kapten Crewe, meninggal dunia. Sara bersedih, tetapi ia dapat menerimanya dengan dewasa. Bahkan ketika ia harus berubah status dari siswi menjadi pesuruh pun ia rela. Bersama Becky, ia tinggal di loteng.
Rasa sedih Sara seringkali muncul, tetapi ia berusaha berpikir positif dengan berkhayal seolah-olah ia adalah seorang puteri yang sedang ditahan di dalam penjara. Pikiran positif itulah yang membuat Sara bertahan. Meski sudah bukan lagi gadis kaya, Ermengarde dan Lottie masih mau berteman dengannya. Tetapi yang paling sering mengunjungi Sara di loteng adalah Ermengarde. Itu pun diam-diam, setelah semua orang tidur.
Suatu ketika, Sara yang sedang berada di jalan, merasa kedinginan dan lapar. Ia menemukan empat penny dan tentu saja ia merasa senang. Dengan uang itu ia dapat membeli roti kismis dan mengisi perutnya yang keroncongan karena belum diberi makan. Tetapi, ketika Sara akan masuk ke toko roti, ia melihat anak kecil yang juga kelaparan.
Ketika ia masuk ke toko roti, ia tidak langsung membeli, tetapi bertanya terlebih dahulu apakah penjual roti itu kehilangan uang sebesar empat penny. Mungkin, sikap Sara yang jujur inilah yang membuat si penjual roti memberikan enam roti kepada Sara, padahal seharusnya empat roti saja.
Setelah mendapatkan enam roti kismis, Sara menemui anak kecil kelaparan tadi. Ia memberikan lima roti dan pergi. Hal ini diketahui oleh penjual roti. Ketika ia bermaksud mengejar Sara dan memberikan roti lagi, Sara sudah tidak terlihat.
Sara benar-benar baik, bukan?
Dan kebaikannya menular pada si penjual roti itu.
Hidup Sara yang menyedihkan ini kembali berubah ketika khayalannya perlahan menjadi nyata.
Bagaimana itu bisa terjadi?
Apakah Sara hanya bermimpi?


REVIEW

Jujur saja tidak banyak yang akan saya review dari novel terjemahan ini. Saya yang belum lama mengenal buku terjemahan merasa kecewa dengan novel ini.
Novel ini memiliki cerita yang sangat bagus. Berisi pesan bahwa seharusnya, kita mencontoh Sara yang selalu berpikir positif. Dia selalu melihat semua hal dari sisi positif dan itu yang membuatnya selalu bahagia.
Akan tetapi, saya menemukan ketidaknyamanan saat membacanya. Selain banyak paragraf yang terlalu panjang (sampai dua halaman penuh), saya menemukan typo yang bertebaran layaknya ceres di atas donat. Bedanya, kalau ceres enak, kalau typo nggak!
Kebanyakan typo pada tanda kutip tutup yang tidak ada dalam dialog. Dan yang paling parah, ada kesalahan nama tokoh yang membuat saya sempat berpikir sebenarnya yang dibicarakan adalah tokoh lain.
Untuk orang yang suka membaca, typo pasti menganggu. Termasuk pada saya. Terlebih saya pernah menjadi proofreader dan juga editor beberapa buku, jadi typo yang berkali-kali membuat saya kesal dan bertanya-tanya, “Ini siapa sih, proofreader-nya? Apa editornya nggak cek lagi?”
Saya biasanya agak halus dalam mengkritisi buku, tapi kali ini rasanya kata-kata halus nggak cukup mewakili kekecewaan saya. Mohon maaf. T.T
Beberapa typo sempat saya tandai. Untuk typo kutip tutup, ada di halaman 20, 24, 25. Kesalahan nama tokoh seharusnya Sara menjadi Sarah pada halaman 34, 61, 64, 67. Spasi sebelum titik pada halaman 65. Huruf kapital pada kata ‘dia’ di halaman 67. Pengulangan huruf ‘k’ pada halaman 111. Pengulangan kata ‘tidak’ pada halaman 119.
Meski begitu, saya tidak memungkiri bahwa novel ini bagus dan untuk yang tidak peduli typo silakan membacanya. Semoga berikutnya pihak penerbit bisa memperbaiki novel ini menjadi lebih baik.


QUOTES

Walau banyak typo, tapi buku ini memuat quotes menarik juga, lho.

Kita seharusnya bersyukur jika kita disukai. (hal. 40)

Kalau kau bercerita, tidak ada yang lebih menyenangkan selain bercerita pada orang-orang yang mau mendengarnya dengan senang hati. (hal. 69)

Menjadi seorang puteri itu tidak ada hubungannya dengan penampilanmu atau apa yang kaumuliki, tetapi apa yang kaupikirkan dan apa yang kaulakukan. (hal. 73)

Segala sesuatu adalah sebuah kisah. (hal. 156)

Ketika orang menghinamu, tidak ada cara yang lebih tepat untuk membalasnya selain diam. (hal. 166)

Ketika emosimu mudah terpancing, orang akan tahu kamu lebih kuat dibandingkan mereka karena kamu mampu menahan kemarahanmu, sedangkan mereka tidak. (hal. 166)


RATING

Cover: 3/5
Tema: 3/5
Karakter tokoh: 3/5
Gaya bahasa: 2.8/5
Plot: 3/5

Overall: 2.8/5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar