Kamis, 18 Mei 2017

[Review] Forever and Always


Judul: Forever and Always
Penulis: Jenny Thalia Faurine
Penerbit: Elexmedia Komputindo
Jumlah halaman: 218 halaman
ISBN: 978-602-02-7968-8
Tahun terbit: 2016


BLURB

Aku selalu menatap kamu dari dulu
lebih dari yang seharusnya
sehingga aku terluka sendirian.
Jika aku sudah bisa hidup tanpa menatapmu,
haruskah aku kembali menatamu?
Aku bukan seseorang
yang suka menyakiti diriku sendiri, Ren.
*
Dan ternyata mencintai seseorang lebih menyakitkan dibanding yang selama ini mereka duga. Seva dan Ren, dua orang teman lama yang tak pernah bertemu sejak lima tahun lalu, sore itu akhirnya mereka dipertemukan kembali.
Ada cerita di antara mereka yang belum usai. Perpisahan tak selalu jadi garis akhir sebuah hubungan.


CUPLIKAN KISAH

Cerita dimulai dengan masa saat ini. Di mana Ren dan Seva, sepasang sahabat lama, bertemu kembali di shelter TransJakarta. Mereka sepakat untuk mengobrol lebih santai di kafe Coffee Meter.
Alur pun mundur ke lima tahun sebelumnya. Saat Ren dan Seva berteman pertama kali.
Ketika itu mereka masih SMA. Ren mendekati Seva bukan karena menyukai gadis itu. Ia hanya penasaran karena Seva sangat pendiam dan jarang bicara. Berawal dari berlajar bersama, lambat laun pertemanan mereka semakin erat. Dan perlahan, Seva merasakan sesuatu yang berbeda pada Ren. Ia menyukai Ren. Sayangnya, Ren menyukai Anggi. Dan Anggi, hanya menganggap Ren teman baik. Bagi Anggi, Ren bukanlah tipenya. Tipenya adalah Vito, sahabat Ren.
Setelah lulus SMA, Ren dan Seva kuliah di tempat berbeda. Seva mulai bertemu dengan orang-orang baru. Kegan, salah satunya. Seorang laki-laki yang mengutarakan perasaannya pada Seva namun ditolak. Meski demikian, mereka tetap berteman baik.
Seva masih berharap banyak pada Ren. Namun nyatanya, perasaan Ren pada Anggi tidak pernah hilang bahkan setelah bertahun-tahun kemudian. Kenyataan bahwa Anggi akan menikah dengan Vito membuat Ren berubah.
Seva yang datang ke apartemen Ren melihat sahabatnya itu merokok dan minum alkohol. Ren patah hati. Seva, sebenarnya juga patah hati. Mereka sama-sama minum alkohol malam itu dan hal yang seharusnya tidak dilakukan pun dilakukan.
Hal yang kemudian membuat Ren dan Seva menjadi canggung.
Kecanggungan mereka hilang ketika Ren mengatakan akan menerima perjodohan yang direncanakan orangtuanya. Seva semakin terpuruk. Pernyataan cinta pun tak dapat ditahan. Ren marah, dan menjauh.
Tanpa Ren, Seva seperti hilang arah. Ada Kegan, namun kehadirannya tidak cukup menggantikan Ren.
Sampai akhirnya Ren kembali lima tahun kemudian menyatakan penyesalan.
Haruskah Seva menerima Ren kembali setelah luka yang ditorehkan laki-laki itu?
Dan bagaimana dengan Kegan?


REVIEW

Novel ini memiliki cover yang sangat manis. Bukankah begitu?
Sejak pertama kali terbit, saya sudah tertarik membelinya. Alhamdulillah ada rezeki jadi bisa beli novel ini.
Novel bertema friendzone ini ... jujur saja dan mohon maaf, tidak begitu istimewa untuk saya pribadi. Maaf sekali. T.T
Ekspektasi saya mungkin terlalu tinggi. Berharap novel ini dapat membuat saya merasa sesak berkali-kali. Namun nyatanya, tidak. Saya tidak merasakan letupan kecil atau sesak atau apa pun itu namanya saat membaca novel ini. Dari awal sampai akhir.
Di bagian tengah, di saat konflik besar muncul, saya memang kesal pada Ren. Tapi itu tidak berlangsung lama. Setelahnya biasa saja. Dan karakter para tokohnya, nyaris semua baik. Itu membuat cerita kurang greget. Oke, Ren berubah di saat konflik itu muncul, tapi pada dasarnya dia baik.
Bukan maksud saya suka pada tokoh antagonis yang alay dan hobi merisak tokoh lainnya seperti di sinetron, tetapi untuk membuat cerita semakin gereget, mungkin tokoh antagonis juga diperlukan. Dan Ren, tidak cukup untuk membuat saya merasa gereget.
Ditambah lagi, kenapa kesannya semua tokoh dalam novel ini susah move on, ya? Saya baru sadari saat mereview di Instagram, lho. Ren yang susah move on dari Anggi, Seva dari Ren, Kegan dan Seva. Hm...
Padahal, gaya bahasa dalam novel ini begitu mudah dicerna. Meski terkadang tercampur antara bahasa baku dan non-baku dalam dialog, it’s okay, karena tidak mengganggu. Saya juga menyukai banyaknya quotes dalam novel ini. Dan alur maju-mundur digunakan penulis sangat tepat. Saya bisa merasakan bagaimana ingatan masa lalu mereka muncul.


QUOTES

  • Menatap masa lalu bukanlah hal yang baik jika kamu ingin melangkah terus ke depan dengan bahu tegak tanpa kesedihan yang menggelayuti. (hal. 4)
  • Tidak ada yang lebih menyedihkan selain menjadi pengganti sementara. Yang bisa didatangi dan kemudian ditinggalkan begitu saja. (hal. 24)
  • Kadang, kebahagiaan bisa mengubah seseorang menjadi lebih baik. (hal. 33)
  • Apa manusia mampu bertahan dengan seseorang yang hatinya tak utuh lagi? (hal. 39)
  • Perempuan spesial akan selalu mendapat perlakuan spesial dan berbeda dari laki-laki yang menyukainya. (hal. 54)
  • Kalau menyangkut perasaan, jangan disamain kayak games. (hal. 57)
  • Orang jatuh cinta memang terkadang lebih mementingkan perasaan orang yang dicintainya. (hal. 80)
  • Cinta dan obsesi hanya disekat oleh dinding yang tipis. (hal. 89)
  • Pendiam bukan berarti ia tak punya hal untuk dibagi, kan? (hal. 95)
  • Perasaan itu nggak ada tolok ukur untuk untung atau ruginya. (hal. 131)
  • Ketika kita mencintai seseorang, dialah kelemahan sekaligus kekuatan kita. (hal. 159)
  • Kalau kamu tak punya alasan untuk mencintai seseorang, kamu tak butuh alasan untuk menyingkirkan perasaan itu. (hal. 170)
  • Sahabat itu bukan berarti yang selalu mendukung kamu. Dia yang memberi tahu kapan kamu harus berputar balik ke arah yang tepat. (hal. 186)


RATING

Cover: 4/5
Tema: 3/5
Karakter tokoh: 3/5
Gaya bahasa: 3/5
Plot: 4/5
Overall: 3/5



Tidak ada komentar:

Posting Komentar