Judul Buku:
Unperfect Marriage
Penulis: Merry
Maeta Sari
Penerbit:
Elexmedia Komputindo
Jumlah halaman:
232 halaman
Cetakan kedua,
2016
BLURB
Dylan
Aku berharap
kamulah yang menolak perjodohan ini. Tapi kamu menerimanya. Bahkan setelah
menikah, berkali-kali aku menyakitimu, tak menganggapmu. Tapi kamu tak peduli.
Kenapa kamu tak meninggalkanku? Mencari kebahagiaanmu sendiri, kamu berhak
untuk berbahagia, Nin...!
Nina
Sebab di dekatmulah
aku merasa bahagia, Mas. Dengan atau tanpa kepedulianmu kepadaku. Bahkan
sekalipun pada akhirnya setiap tarikan napasku hanya untuk menghirup luka. Tak
apa. Sebab aku terlebih dulu memilihmu. Memilih untuk mencintaimu. Dan semuanya
bertambah ketika pernikahan kita, aku hanya perlu taat padamu, dengan atau
tanpa cintamu.
CUPLIKAN KISAH
Manusia tidak
pernah tahu apa yang akan terjadi. Termasuk dengan siapa akan menikah. Nina pun
begitu. Ia tidak pernah menyangka bahwa laki-laki yang akan dijodohkan
dengannya adalah Dylan, kakak kelasnya ketika sekolah yang memang sempat Nina
sukai.
Bertemu dengan Dylan kembali seperti sebuah mimpi bagi Nina. Apalagi dapat menjadi istrinya. Otomatis cinta lama bersemi kembali. Tapi sayangnya, itu hanya terjadi hanya pada Nina. Bukan Dylan.
Bagaimanakah rasanya jika seseorang mengabaikanmu?
Sakit, pastinya. Itulah yang dirasakan Nina setelah menjadi istri seorang Dylan Adhiatmaja. Mereka tinggal di rumah mungil milik Dylan, tetapi layaknya orang asing. Mereka melakukan aktivitas masing-masing dan berbicara seperlunya. Bukan hanya itu, mereka juga tidur di kamar yang berbeda.
Nina sadar, rumah tangganya tidak harmonis. Tetapi karena terlanjur mencintai Dylan, ia rela tersakiti. Sampai akhirnya ia memergoki Dylan sedang berduaan dengan Winda. Hati Nina hancur berkeping-keping.
[“Pernikahan
ini nggak utuh, Nina.”
Kamu
yang membuatnya nggak utuh. Batin Nina pilu. Atau jusru aku? – hal.
53]
Meskipun Dylan
telah mengakui hubungan terlarangnya dengan Winda, Nina tidak peduli. Karena
hanya bersama Dylan ia merasa bahagia, sekalipun harus menahan luka. Nina pun
meminta waktu tiga bulan kepada Dylan agar ia dapat membuat Dylan jatuh cinta.
Nina percaya, bahwa mereka hanya belum mencoba—lebih tepatnya Dylan yang belum
mencoba menerima Nina.
Di sisi lain, Nina mendapatkan perhatian dari Andika, guru Olahraga di tempat Nina mengajar. Kalau bukan karena sahabatnya yang memberi tahu (Rara), Nina tidak akan sadar bahwa Andika memang memperhatikannya. Tetapi Nina tidak peduli. Yang ada di hatinya hanyalah Dylan. Sosok yang dingin, tetapi sebenarnya hangat. Manusia tanpa ekspresi namun terkadang romantis.
Sementara itu Andika digambarkan sebagai sosok yang supel, penuh gombal, dan sangat percaya diri. Memiliki masa lalu yang buruk namun berubah begitu mengenal Nina. Lambat laun ia berubah karena memang sadar bahwa semua yang dilakukannya dulu adalah salah.
[Entah sejak
kapan akhirnya aku mulai bertobat, pelan-pelan menjalankan kewajiban shalat
lima waktu, walau masih kesulitan di subuh dan isya. – hal. 70]
Ketika Andika
tahu bahwa Nina sudah menikah, ia patah hati. Ia nyaris masuk ke lubang hitam
sekali lagi kalau guru mengajinya tidak menelepon dan membicarakan soal
ta’aruf. Ya, Andika memang sedang mencoba move on dengan cara itu.
[Ya
barangkali Pak Andika minat menikah dengan gadis baik-baik, ya harus diawali
dengan cara yang baik, tho, Pak. Ya salah satunya ta’aruf itu. – hal. 138]
Tapi siapa yang
mengira kalau Andika akan menjalani proses ta’aruf dengan Rara? Andika sudah
tahu dari proposal Rara, sebenarnya. Tetapi Rara tidak. Rara yang terkejut
begitu melihat Andika. Tanpa mau menunda-nunda, Andika langsung meng-khitbah
Rara. Tanggal pernikahan pun telah ditetapkan.
Di saat hubungan Dylan dan Nina membaik, juga Andika dan Rara yang berbahagia, masalah kembali muncul. Dan itu tepat ketika Dylan bertemu dengan Andika. Mereka saling menyerang karena satu nama: Winda.
REVIEW
Novel ketiga
milik Merry Maeta Sari yang saya baca ini terbit tahun 2015, sebenarnya. Tetapi
karena saya baru punya, otomatis baru baca.
Tema novel ini adalah pernikahan bernuansa islami. Sepertinya memang buku-buku karya Meta selalu betema pernikahan, hehe. Tokoh-tokohnya yang selalu memiliki kekurangan membuat karakter mereka terlihat nyata. Karena tidak ada manusia sempurna. Termasuk tokoh fiksi. :D
Dengan menggunakan POV campuran (1 dan 3) dan gaya bahasa yang santai, saya rasa Meta berhasil memberikan pengetahuan tentang agama kepada pembaca. Sama sekali tidak terkesan menggurui. Selain itu, Meta juga memasukkan unsur komedi di dalamnya. Terlihat dari sosok Andika yang memang gemar menggombal dan mengeluarkan celetukan lucu.
Yang saya sayangkan adalah ada ketidakkonsistenan dalam penggunaan bahasa. Di saat tertentu baku, di saat lain tidak. Seperti dalam cuplikan berikut:
Baku: “Sebab di dekatmulah aku merasa bahagia, Mas. Dengan atau tanpa
kepedulianmu kepadaku. Bahkan sekalipun pada akhirnya setiap tarikan napasku
hanya untuk menghirup luka. Tak apa.” (hal. 56)
Tidak baku: “Mas, mau makan apa? Maaf Nina tadi telat pulang, nggak
sempet beli makanan juga.” (hal. 79)
Selain itu, saya
juga menemukan beberapa typo dan sayangnya tidak saya tandai. Hanya ingat typo
dalam sapaan mamanya Dylan. Terkadang ditulis Ibu Rima, terkadang ditulis Bu
Rima.
Mungkin ini memang disesuaikan dengan situasi dan kondisi, tetapi seingat saya (dan juga dapat bocoran dari editor) penggunaan bahasa haruslah konsisten. Kecuali narasi dan dialog. Mohon maaf kalau saya salah.
Tetapi di luar itu, saya menyukai novel Merry Maeta Sari dan tidak kapok membaca karya-karyanya yang selalu ‘berisi’.
QUOTES
- Setan benar-benar pintar menelusup mencari ruang kosong di hati manusia untuk senantiasa mengeluh dan mengeluh. (hal. 46)
- Siapa bilang menangis itu tidak berguna? Semua orang butuh menangis untuk membasahi mata dan jiwa-jiwa yang kering. (hal. 78)
- Hakikat pernikahan adalah menggenapkan yang belum genap dan menyempurnakan yang kurang sempurna. (hal. 105)
- Memberikan yang terbaik bukan hanya berarti tentang sebuah kemampuan, bukan juga hanya tentang materi. (hal. 117)
- Dia wanita, dan dia harus diperlakukan secara baik-baik, kan? Diutamakan kenyamanan dan keamanannya. (hal. 181)
- Sakinah itu bukan label. Tapi ia adalah proses. Proses sepanjang pernikahan itu sendiri.” (hal. 199)
- Pernikahan bukan hanya tentang keserasian dan kecocokan. (hal. 200)
- Setiap orang punya masa lalu. Dan nggak semuanya bagus. Yang penting itu gimana dia mau belajar dan memperbaiki dirinya. (hal. 201)
- Kebaikan kan, harus disegerakan. (hal. 218)
- Nggak ada pernikahan yang sempurna. (hal. 230)
- Pernikahan adalah proses pembelajaran. (hal. 230)
RATING
Cover: 4/5
Tema: 3.5/5
Karakter: 4/5
Gaya bahasa:
3.8/5
Plot: 3.8/5
Overall: 3.8/5

Tidak ada komentar:
Posting Komentar