Judul: Mayday, Mayday
Penulis: Laili Muttamimah
Proofreader: Abdurraafi Andrian
Jumlah halaman: 344 halaman
Tahun terbit: 2018
Blurb
Dalam dunia penerbangan, istilah mayday digunakan
oleh pilot ketika pesawat sedang dalam keadaan darurat. Dalam kehidupan, setiap
orang pasti pernah mengalami momen itu. Bagi Alana, momen tersebut terjadi pada
usianya yang kedelapan belas.
Tadinya hidup Alana nyaris sempurna. Dia diterima di
sekolah calon pramugari, punya Roby si pacar setia, juga dikelilingi oleh teman
dan keluarga yang selalu mendukung. Namun dia tak pernah menduga akan
dilecehkan oleh kawanan perampok.
Awalnya Alana hanya memberitahu hal itu pada Benji,
sahabatnya. Tapi ternyata masalahnya belum selesai. Belakangan Alana tahu
dirinya hamil. Dia makin tertekan karena Roby meminta putus dan keluarganya
amat murka.
Lantas, apa yang harus Alana lakukan untuk mengatasi
momen mayday dalam hidupnya?
Ulasan
Mayday, Mayday berkisah tentang Alana memiliki mimpi menjadi pramugari. Dia
harus menjalani tes calon pramugari dan setelah lulus harus mengikuti pelatihan
selama beberapa bulan. Dengan penyampaian yang lugas saya merasakan kalau
penulis tidak main-main dalam riset.
Alana adalah tokoh utama dalam novel ini. Dia perempuan cantik, berambisi
menjadi pramugari dan akhirnya lolos seleksi hanya dalam sekali tes! Sayang,
kebahagiaan Alana sirna ketika dia mengalami pelecehan seksual dan... hamil.
Roby, kekasih Alana yang sebenarnya dia baik, tapi ternyata membuat saya
kecewa. Saya benar-benar kesal respons Roby ketika dia tahu apa yang terjadi
dengan Alana. Padahal saya sempat berharap dia ini tokoh cowok yang bakalan saya
suka nantinya. :(
Lalu Glo, sahabat Alana yang mengambil jurusan Hukum di salah satu kampus
di Malang bersama Roby. Glo ini sempat membuat saya merasa... terkecoh (?), yah
semacam itulah. Oh ya, saya merasa peran Glo ini kurang sih, padahal kan dia
sahabat Alana dan menurut saya semestinya dia agak menonjol.
Kemudian ada Benji, teman kecil Alana yang kuliah jurusan kedokteran. Cowok
intovert ini suka musik klasik dan bisa main piano. Keren kan ya!! Waktu baca
bab-bab awal, saya agak mengabaikan dia. Siapa sangka ternyata saya malah suka
sama dia.
Menurut saya konflik novel ini cukup berat. Alana bukan hanya menjadi
korban pelecehan seksual, dia juga diputuskan oleh Roby dan dijauhi Glo.
Bahkan, dia diacuhkan oleh ayahnya sendiri. Belum lagi dia harus menghadapi
tatapan sinis para tetangga. Duuuh, pokoknya nggak enak banget.
Alana memang sempat merasa sangat down, tapi dia bisa bertahan
karena ada ibu dan Benji yang mendukungnya. Saya bisa melihat secara jelas
kasih sayang ibu Alana dan teman kecilnya itu.
Meskipun konfliknya cukup berat, tapi penulis menyampaikan dengan gaya
bahasa yang ringan, sehingga kisah Alana ini mudah diikuti. Jadi nggak perlu
khawatir.
Dari beberapa tokoh dalam novel ini, sosok yang paling saya suka adalah
Benji. Dia calon dokter, pintar, bisa main piano, dan selalu ada di samping
Alana. Gimana nggak suka, kan?
Novel ini memakai PoV 1 (Alana) dan menurut saya sebenarnya ini adalah
pilihan yang sangat tepat karena penulis bisa dengan leluasa menggambarkan
perasaan tokoh utama. Sayangnya, dengan masalah yang datang bertubi-tubi, ‘kehancuran’
Alana kurang terasa untuk saya pribadi. Feel-nya kurang nendang gitu.
Meski begitu, saya tetap menyukai novel ini dan mengharapkan ada kelanjutan
kisah Alana, entah itu tentang mimpinya yang sempat terkubur atau tentang kisah
cintanya. Hihihi.
Oh ya, novel ini mengingatkan saya pada Dark Love karya Ken Terate. Kalau
kalian pernah baca Dark Love dan suka, kemungkinan besar kalian juga bakalan
suka novel ini.
Quotes Favorit
“Kalau orang-orang terdekat lo memang sayang sama lo,
mereka nggak akan pernah biarin lo berjuang sendirian.” –hal. 130
“Kita nggak bisa tutup mulut orang lain ketika mereka
mencela kita, tapi kita bisa tutup telinga kita buat nggak dengerin celaan
itu.” –hal. 275
“Kita memang nggak bisa menyenangkan semua orang dan
nggak dilahirkan buat melakukan itu. Tapi, akan selalu ada orang-orang yang
bahagia karena kita hadir dalam hidup mereka, walaupun kita merasa nggak pernah
melakukan hal yang hebat buta orang-orang itu.” –hal. 287
Rating
Cover: 4
Tema: 4
Tokoh: 3
Konflik: 3
Gaya bahasa: 4
Overall: 3.5

Tidak ada komentar:
Posting Komentar