Selasa, 10 Juli 2018

[Review] Seventeen Once Again




Judul: Seventeen Once Again
Penulis: Handi Namire
Penyunting: Tri Saputra Sakti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 288 halaman
Tahun terbit: 2017


Blurb

Big news!

Raka membalas perasaan Briana. Ya, Raka, ketua OSIS yang digandrungi banyak siswi di sekolah. Raka yang juga pacar Tara, sahabat baiknya! Eh, bukankah itu artinya Briana merebut pacar sahabatnya sendiri? Ah, entahlah! Saat study tour, Raka berjanji akan membuat hubungan mereka jelas.

Sayangnya, saat semua akan terjawab, Briana mengalami kecelakaan di India. Sejak kecelakaan itu Briana sulit mengingat hal-hal yang terjadi. Lebih menyebalkan lagi, Mama malah memindahkannya ke Bandung—jauh dari Raka, Tara, dan teman-teman dekatnya.

Selain itu, di sekolah barunya Briana dihadapkan pada drama menyebalkan. Ben—ketua klub penyiaran—ngotot merekrut Briana jadi anggota! Di sisi lain, Alisha—cewek sok berkuasa—memintanya untuk menjauhi Ben!

Seolah semuanya belum cukup, Briana mulai merasakan keganjilan pada hidupnya. Kenapa keberadaan Raka misterius? Kenapa teman-teman Briana tidak menghubunginya lagi? Dan... benarkah Briana berusia tujuh belas tahun?


Ulasan

Hilang ingatan. Itu adalah inti dari novel bercover pink ini. Seventeen Once Again berkisah tentang Briana yang mengalami kecelakaan di India dan mengalami amnesia parsial. Dia melupakan apa yang terjadi selama lima tahun terakhir dan yang diingatnya adalah, dia berusia 17 tahun, duduk di bangku SMA dan masih berpacaran dengan Raka.

Bukannya memberitahu Briana tentang kondisinya yang amnesia, sang Mama malah sengaja menyembunyikan kenyataan itu. Beliau malah memindahkan Briana ke Bandung dan memasukkannya ke sekolah di kota itu. Briana tentu saja tidak terima, apalagi itu membuatnya berpisah dari Raka dan sahabat-sahabatnya. Namun, semua sudah diatur dan Briana tidak bisa lagi menolak.

Di sekolah, Briana didekati cowok bernama Ben. Dia adalah ketua klub penyiaran yang memaksa Briana menjadi anggota klubnya. Dan gara-gara didekati Ben, Briana jadi dimusuhi Alisha—cewek yang sudah lama menyukai Ben. Namun kemudian, Alisha mengajak Briana berteman. Dari sinilah perlahan kebenaran terkuak. Tentang siapa sebenarnya Briana dan apa yang terjadi dengan Raka serta sahabat-sahabatnya.

*

Ini kali pertama saya membaca tulisan Kak Handi Namire. Jujur, awal membaca saya sempat dibuat bingung dengan alurnya yang maju-mundur dan tokohnya yang banyak. Setidaknya dua bab awal. Tapi masuk di bab ketiga, saya mulai paham dan menikmati kisah yang disampaikan penulis.

Penulis mengambil tema yang menarik. Setiap karakternya berkesan dan plotnya rapi. Kebingungan Briana dengan lingkungan barunya, reaksinya saat sekelebat ingatan muncul, sampai emosinya ketika mengetahui kebenaran begitu natural. Sama sekali tidak terkesan dipaksakan.

Meskipun saya sedikit kurang puas dengan peran mama Briana yang hanya sekilas, tapi bukan masalah besar sih. Oh ya, saya juga sempat menemukan kesalahan ketik pada setting waktu yang membuat saya kebingungan. Yah, semoga saat cetak ulang bisa diperbaiki. :D

Penulis menggunakan dua sudut pandang (PoV). Untuk prolog menggunakan PoV 1, sementara isi sampai epilog menggunakan PoV 3. Pemilihan sudut pandang yang saya rasa sangat tepat untuk mengungkap setiap rahasia.

Penjelasan tentang dunia penyiaran juga begitu lengkap. Rasanya saya seperti diajak mengenal klub penyiaran yang diketuai oleh Raka dan penasaran pengin masuk ke sana. Hahaha. Tapi serius lho. Penasaran.

Quotes Favorit

“Mimpi terkadang bisa sangat kejam. Terlebih mimpi indah. Mimpi yang membuat si pemimpi merasa terlena hingga merasa kesepian begitu membuka mata dan menyadari kebahagiaan yang dirasakannya hanya bunga tidur semata.” –hal. 238

Rating

Cover: 3/5
Tema: 4/5
Tokoh: 4/5
Konflik: 4.5/5
Gaya bahasa: 4/5
Overall: 4/5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar