Judul: Seventeen Once Again
Penulis: Handi Namire
Penyunting: Tri Saputra Sakti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 288 halaman
Tahun terbit: 2017
Blurb
Big news!
Raka membalas perasaan Briana. Ya, Raka, ketua OSIS yang
digandrungi banyak siswi di sekolah. Raka yang juga pacar Tara, sahabat
baiknya! Eh, bukankah itu artinya Briana merebut pacar sahabatnya sendiri? Ah,
entahlah! Saat study tour, Raka berjanji akan membuat hubungan mereka
jelas.
Sayangnya, saat semua akan terjawab, Briana mengalami
kecelakaan di India. Sejak kecelakaan itu Briana sulit mengingat hal-hal yang
terjadi. Lebih menyebalkan lagi, Mama malah memindahkannya ke Bandung—jauh dari
Raka, Tara, dan teman-teman dekatnya.
Selain itu, di sekolah barunya Briana dihadapkan pada
drama menyebalkan. Ben—ketua klub penyiaran—ngotot merekrut Briana jadi
anggota! Di sisi lain, Alisha—cewek sok berkuasa—memintanya untuk menjauhi Ben!
Seolah semuanya belum cukup, Briana mulai merasakan
keganjilan pada hidupnya. Kenapa keberadaan Raka misterius? Kenapa teman-teman
Briana tidak menghubunginya lagi? Dan... benarkah Briana berusia tujuh belas
tahun?
Ulasan
Hilang ingatan. Itu adalah inti dari novel bercover pink ini. Seventeen
Once Again berkisah tentang Briana yang mengalami kecelakaan di India dan
mengalami amnesia parsial. Dia melupakan apa yang terjadi selama lima tahun
terakhir dan yang diingatnya adalah, dia berusia 17 tahun, duduk di bangku SMA
dan masih berpacaran dengan Raka.
Bukannya memberitahu Briana tentang kondisinya yang amnesia, sang Mama
malah sengaja menyembunyikan kenyataan itu. Beliau malah memindahkan Briana ke
Bandung dan memasukkannya ke sekolah di kota itu. Briana tentu saja tidak
terima, apalagi itu membuatnya berpisah dari Raka dan sahabat-sahabatnya.
Namun, semua sudah diatur dan Briana tidak bisa lagi menolak.
Di sekolah, Briana didekati cowok bernama Ben. Dia adalah ketua klub
penyiaran yang memaksa Briana menjadi anggota klubnya. Dan gara-gara didekati
Ben, Briana jadi dimusuhi Alisha—cewek yang sudah lama menyukai Ben. Namun
kemudian, Alisha mengajak Briana berteman. Dari sinilah perlahan kebenaran
terkuak. Tentang siapa sebenarnya Briana dan apa yang terjadi dengan Raka serta
sahabat-sahabatnya.
*
Ini kali pertama saya membaca tulisan Kak Handi Namire. Jujur, awal membaca
saya sempat dibuat bingung dengan alurnya yang maju-mundur dan tokohnya yang
banyak. Setidaknya dua bab awal. Tapi masuk di bab ketiga, saya mulai paham dan
menikmati kisah yang disampaikan penulis.
Penulis mengambil tema yang menarik. Setiap karakternya berkesan dan
plotnya rapi. Kebingungan Briana dengan lingkungan barunya, reaksinya saat
sekelebat ingatan muncul, sampai emosinya ketika mengetahui kebenaran begitu
natural. Sama sekali tidak terkesan dipaksakan.
Meskipun saya sedikit kurang puas dengan peran mama Briana yang hanya
sekilas, tapi bukan masalah besar sih. Oh ya, saya juga sempat menemukan
kesalahan ketik pada setting waktu yang membuat saya kebingungan. Yah,
semoga saat cetak ulang bisa diperbaiki. :D
Penulis menggunakan dua sudut pandang (PoV). Untuk prolog menggunakan PoV
1, sementara isi sampai epilog menggunakan PoV 3. Pemilihan sudut pandang yang
saya rasa sangat tepat untuk mengungkap setiap rahasia.
Penjelasan tentang dunia penyiaran juga begitu lengkap. Rasanya saya
seperti diajak mengenal klub penyiaran yang diketuai oleh Raka dan penasaran
pengin masuk ke sana. Hahaha. Tapi serius lho. Penasaran.
Quotes Favorit
“Mimpi terkadang bisa sangat kejam. Terlebih mimpi indah.
Mimpi yang membuat si pemimpi merasa terlena hingga merasa kesepian begitu
membuka mata dan menyadari kebahagiaan yang dirasakannya hanya bunga tidur
semata.” –hal. 238
Rating
Cover: 3/5
Tema: 4/5
Tokoh: 4/5
Konflik: 4.5/5
Gaya bahasa: 4/5
Overall: 4/5

Tidak ada komentar:
Posting Komentar