Kamis, 11 Oktober 2018

Buku Mengantarkanku ke Negeri Jiran

Alhamdulillah, Sabtu (6 Oktober 2018) lalu saya dan suami akhirnya menginjakkan kaki di negaranya Upin dan Ipin. Yap! Kualumpur, Malaysia.

Ngapain ke sana? Main?

Uhm, biar gampang anggap saja begitu.

Gaya bener main sampai Malaysia! Banyak duit, ya?

Duh, jangan nyinyir dulu deh. Saya ceritain deh ya kenapa saya bisa sampai ke sana.

SEMUA BERAWAL DARI MEMBACA BUKU!

Dua tahun lalu saya mengikuti lomba menulis resensi yang diadakan oleh Kiky Aurora. Saya membeli buku Mbak Kiky, lalu memberikan ulasan tentang bukunya. Singkat cerita, saya menang! Alhamdulillaaah... Saya yang baca pengumuman sambil tiduran langsung jingkrak-jingkrak dan cerita sama orangtua.

Tapi... saya nggak bisa berangkat di tahun itu karena akan menikah. Akhirnya saya undur ke tahun 2017. Dan ternyata... ada banyak sekali halangan di tahun itu.

Saya sempat bilang sama Mbak Kiky, saya nggak akan ambil hadiahnya karena merasa nggak mungkin bisa berangkat. Supaya Mbak Kiky pun plong. Tapi alhamdulillah saya bisa berangkat di tahun 2018.

Waktu Mbak Kiky membelikan tiket, saya dan suami masih tinggal di Jakarta. Kami sepakat beli tiket dari Jakarta langsung ke KL. Daripada pulang ke Bandung dulu, nanti ribet. Siapa menduga kalau Allah punya kehendak lain? Beberapa bulan setelah beli tiket, saya dan suami justru pindah ke Bandung. Mau nggak mau deh kami harus ke Jakarta dulu.

Hal pertama yang saya rasakan ketika sampai di Kualumpur adalah... panas! Seperti di Jakarta. Dan banyak banget orang India atau Bangladesh. Di mana-mana! Awal-awal saya malah merasa ada di India, bukan di KL. Hahaha.

Jalanannya sepiii. Jauh deh sama Bandung, apalagi Jakarta. Jalan raya rasa jalan tol. Mobil ngebut-ngebut. Motor cuma sedikit dan nggak ada angkot. Kendaraan umumnya ya bus, taksi, atau kereta. Eh, ini yang saya temukan lho ya. Entah di tempat lain begini juga atau nggak.

Kami menginap di Hotel Newton, daerah Subang, Selangor, agar dekat dengan tante. Lagi pula, kami memang nggak bawa banyak bekal. Pas-pasan banget. Alhamdulillah tante traktir kami makan selama di sana. Hehe.

Hari Sabtu, saya dan suami nggak ke tempat wisata. Hanya sempat mencari tempat makan dan ke hotel untuk istirahat.

Hari Minggu, 7-Oktober-2018, barulah kami jalan-jalan ke Batu Caves. Cuma sempat datang ke satu tempat doang karena lamaaa banget dapet bus.


Untuk sampai ke Batu Caves, dari hotel saya harus jalan dulu ke halte, naik bus Rapid yang datangnya lamaaa banget. Ongkosnya 3RM. Oh ya, uangnya juga harus pas. Kalau nggak pas, kita harus nukerin uang dulu gitu.


Setelah naik bus Rapid tujuan Pasar Seni, kami naik MRT. Beli kartu dulu 20RM. Untungnya kartunya bisa dipake apa aja, jadi bisa dibilang agak hemat gitu. Naik MRT ke KL Central, lalu lanjut LRT ke Batu Caves. Di Batu Caves pun nggak lama. Cuma naik aja, liat yang lagi ibadah, terus pulang karena sudah terlalu sore.

Oh ya, ada sedikit pengalaman yang sebaiknya kalian nggak tiru.

Jadi, waktu pulang dari Batu Caves itu, saya dan suami mencari mushala. Kami sampai di stasiun Batu Caves dan nanya ke sekuriti. Terus dikasih arahan deh untuk masuk tanpa tap kartu alias nggak bayar. Ya udah, kami masuk aja, lalu ke mushala. Pas selesai shalat, LRT ke arah KL Central datang. Kami langsung aja naik. Dan saat kami sampai di KL Central, kami tap kartu untuk keluar, nggak bisa dong! Tulisannya kena pinalti gitu. Langsung deh laporan ke sekuriti. Katanya harus isi saldo lagi, padahal saldonya masih banyak.

Saya dan suami muter-muter KL Central untuk ngisi kartu. Berkali-kali nanya, berkali-kali juga dikasih arahan yang salah. Entah memang ada kesalahpahaman atau kami lagi dikerjai. Yang jelas, saya bete banget. Setelah isi saldo, kami balik lagi ke sekuriti dan disuruh bayar langsung ke... ya sebutlah loket. Kami pikir bakalan dapat denda gitu, nggak taunya nggak. Bayar ongkos dari Batu Caves ke KL Central aja, udah. Petugasnya juga nggak introgasi kenapa kami sampai kena pinalti, kayaknya mereka udah biasa aja gitu. So, jangan coba-coba curang ya, Teman. 



Lalu... Senin, 8 Oktober 2018, kami ke Petronas. Setelah foto-foto, langsung ke Masjid Jamek. Jaraknya ternyata deketan. Sayangnya, hujan. Daripada nunggu hujan lama, kami akhirnya ke Central Market. Tinggal jalan sedikit.




Di Central Market ini kami betah banget. Keliling sana-sini untuk beli beberapa titipan. Oleh-oleh? Karena kami bawa uangnya sedikit, oleh-oleh pun nggak banyak dibeli.

Kami juga sempat makan di Restoran Yusoof & Zakheer di sekitaran Central Market. Menunya nasi briyani (kata suami sih itu namanya) dan ayam goreng. Enak! Harganya standar sih, standar kalau kita makan di tempat wisata. 2 kali lipat. Wkwkwk.

Habis dari Central Market? Pulang. Itu pun udah malam dan lagi-lagi hujan besar. Begitu sampai hotel, langsung deh beres-beres karena besoknya harus meluncur ke bandara.

Selasa, 9 Oktober 2018, kami siap pulang. Sempat mengalami kejadian horor sih, di hotel. Jadi jam 2 malam tiba-tiba bel bunyi. Saya sama suami sama-sama bangun. Saya suruh suami cek, siapa di luar. Tapi ternyata nggak ada siapa-siapa. Hahaha. Kalau orang iseng, rasanya nggak mungkin deh. Jam 2 malam gitu lho. >_<

Paginya, sebelum dijemput taksi, kami makan di restoran dekat hotel. Jom Makan, namanya. Menunya nasi lemak, ayam goreng, dan 1 bakwan. Minum teh o hangat. Total jadi 9RM. Kalau pakai rupiah ya sekitar 35 ribuan.

Duuuh, rasanya belum puas di KL. Kayak mimpi ada di sana. Semoga suatu saat bisa ke sana lagi. Sopir taksi pun mendoakan agar kami ke sana lagi setelah punya anak. Aaaamiiiin!! ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar