Vaginismua apa nggak bisa disembuhkan dengan obat?
Sejauh ini, yang saya
dengar dari para dokter, belum ada obat untuk menyembuhkan vaginismus.
Vaginismus itu kan
kondisi otot yang kaku, jadi gimana nih, buat ngobatinnya? Namanya dengan
dilatasi. Kalau versi saya, mudahnya sih dilatasi itu semacam terapi untuk
merenggangkan atau melenturkan otot. Menggunakan apa? Menggunakan dilator. Gambar
dilator saya insya Allah nanti saya post menyusul, ya. Semoga nggak lupa.
Dilatasi itu ada dua:
berbantu dan mandiri.
Dilatasi berbantu
berarti pasien membutuhkan bantuan dokter untuk melakukan dilatasi. Pasien
vaginismus derajat tinggi tuh jangankan dimasukkan sesuatu ke vagina, dipegang
betis aja seringnya sudah meronta sampai menendang, jadi otomatis dia harus dibius
total. So, dokter yang akan membantu dilatasi—disaksikan oleh suami
pasien dan perawat.
Setelah itu, pasien
diberi ‘PR’ untuk latihan dilatasi mandiri di rumah sampai akhirnya berhasil
berhubungan intim dengan lancar dan nyaman. Saat berdilatasi, seorang vaginismus
membutuhkan pelumas untuk memperlancar dilator masuk ke vagina. Supaya vagina nggak
lecet. Bagaimanapun juga kan vagina itu area sensitif, ya.
Jadi, gimana awalnya
bisa dilatasi mandiri?
Di awal tahun 2021
saya di-DM oleh akun Instagram @vaginismus.squad untuk bergabung dalam
grup WhatsApp penyintas vaginismus. Saya yang memang pengen banget punya circle
sesame vaginismus otomatis mau. Apalagi saya lihat akunnya memang
memberikan info tentang vaginismus.
Singkat cerita,
setelah saya gabung grup, saya heran karena saran untuk dilatasi mandiri dan
banyak yang sembuh dengan lewat dilatasi mandiri—tanpa dilatasi berbantu
terlebih dahulu. Ini sangat membantu orang-orang yang terkendala biaya untuk
dilatasi berbantu yang di tahun 2021 kalau nggak salah kisaran 30-32 juta.
Waktu itu saya
skeptis. Masa, sih? Memangnya boleh? Memangnya direkomendasikan dokter? Kalau
kenapa-napa, siapa yang akan bertanggung jawab?
Ternyata, bukan hanya
testimoni tentang dilatasi mandiri yang saya temukan di grup tersebut, tapi
kami juga diberitahu bahwa ada obgyn-obgyn yang merekomendasikan
dilatasi mandiri sebelum memutuskan untuk berbantu. Saya coba follow akun-akun
dokternya, bahkan ikut live mereka yang membahas vaginismus. Dan akhirnya
saya diskusi dengan suami, lalu… bismillah. Saya akan coba dilatasi mandiri
dulu.
Saya pun membeli
dilator 1-6 di marketplace. Harganya saya lupa. Waktu itu kayaknya
kisaran 400 atau 600ribu gitu.
Btw, waktu itu saya
dan suami sudah menabung untuk dilatasi berbantu dan baru terkumpul tiga juta
rupiah. Masih jauh dari target, kan ya. Uang itulah yang dipakai untuk membeli
dilator. Sisanya tetap ditabung, berjaga-jaga seandainya dilatasi mandiri
gagal.
Latihan Dilatasi
Mandiri
Nggak gampang untuk
memulai latihan. SAYA TAKUT BANGET.
Selama beberapa hari
saya cuma bisa arahkan dilator ke sekitar kaki dan paha.
Proses untuk memulai
dilatasi yang dialami setiap orang berbeda-beda. Ada yang cepat, ada yang
lambat. Dan saya termasuk yang lambat. Sangat lambat.
Saya sempat mikir
untuk nyerah, tapi membayangkan harus nabung 28 juta lagi rasanya berat juga.
Jadi akhirnya saya berusaha melawan rasa cemas itu sekuat tenaga.
Tapi ternyata benar,
semua butuh waktu dan keyakinan. Didampingi oleh suami yang maasya Allah supersabar,
akhirnya saya berhasil memulai dilatasi dengan dilator pertama—itu pun beberapa
tahap.
Kalau diukur dengan
jari, dilator no 1 seukuran dengan telunjuk saya. Pertama kali masuk, hanya ¼
dilator padahal rasanya udah kayak masuk semuanya. Segitu aja udah keringetan.
Nantinya coba lagi, masuk ½ dilator. Terus dan terus sampai masuk semuanya.
Kalau saran
teman-teman di grup, berdilatasi itu sebaiknya dilakukan:
1.
Setiap hari,
pagi dan malam
2.
Sekali latihan
durasinya bisa 30-45 menit
3.
Saat dilator
berhasil masuk, biarkan selama 10 menit, lalu tarik-ulur pelan-pelan.
Tapi, karena situasi
dan kondisi yang nggak memungkinkan, saya cuma bisa latihan saat malam. Itu pun
nggak bisa setiap hari karena kadang ikut ketiduran ketika ngelonin anak yang
masih bayi. Sekali latihan, saya nggak sanggup lebih dari 30 menit. Saya juga
nggak pernah membiarkan dilator ada di miss V selama 10 menit karena rasanya
nggak nyaman. Pokoknya semua saya lakukan senyamannya aja gitu.
Kalau kita udah
berhasil satu tahapan dilator, untuk naik ke tahap berikutnya harus menunggu
sampai nyaman.
Saya udah berhasil
dilator 1, sebelum naik ke dilator 2, saya harus pastikan nyaman ketika latihan
dengan dilator 1. Baru di kemudian hari saya mencoba dilator 2. Begitu seterusnya.
Saya latihan dari dilator 1-6, baru akhirnya sembuh.
Ujian saat dilatasi
mandiri
Latihan dilatasi saya
tuh nggak rutin. Kalau teman-teman lain ada yang sembuh dalam waktu 2 pekan
atau bulanan, saya justru 2 tahun. Wkwk. IYA. LAMA BANGET!
Apa ujiannya? Malas
dan down.
Malas karena saya
seringnya ketiduran ketika anak tidur, sementara kalau pagi udah sibuk ini itu.
Belum sempat latihan, anak udah bangun.
Down karena
begitu banyak teman sesame vaginismus yang sembuh dengan cepat, sementara saya
lambat. Kadang saya bisa termotivasi membaca update siapa saja yang
sembuh, kadang juga malah jadi down sampai pengen nyerah.
Saya mulai latihan di
bulan Februari 2021 dan sampai bulan Juni 2021 berhasil sampai dilator 5.
Banyak banget yang sembuh meski hanya sampai dilator 5, jadi saya nggak mau
naik lagi.
Masalahnya, saya nggak
rajin latihan. Jadi ketika memulai lagi, sedikit sulit, ya. Sulit dalam artian
gini:
Kalau biasanya saya
bisa dilator 1-5, ketika berbulan-bulan libur latihan, begitu memulai lagi saya
hanya sanggup sampai dilator 2 atau 3 karena kurang nyaman (perih). Perih, ya.
Bukan sakit. Beda.
Jadi, sejak 2021-2023,
saya terus latihan (walau nggak rajin) dilator 1-5 sambil mencoba berhubungan.
Dan selalu gagal. Saya juga keukeuh nggak mau naik dilator. Tapi, di bulan
Oktober 2023 saya memberanikan diri menghubungi ex-VG yang udah sembuh dan juga
jarang latihan karena punya anak. Saya curhat sekalian minta saran gimana biar
berhasil penetrasi. Akhirnya saya mengikuti sarannya untuk naik ke dilator 6.
Dari Oktober 2023-Desember
2023 saya terus latihan walau bolong-bolong. Desember ke Januari saya nggak
latihan karena lagi liburan ke Bandung, tapi di Januari apa yang selama ini
kami tunggu-tunggu akhirnya berhasil. Saya sembuh. Alhamdulillah…
Jadi, untuk kalian
yang lagi latihan dilatasi, tolong ingat ini:
PROSES YANG DIALAMI SETIAP
ORANG BERBEDA-BEDA.
Jangan pernah samakan
dengan orang lain karena setiap orang punya situasi dan kondisi yang berbeda
juga. Bisa jadi si A cepat dan si B lambat.
Dan itu NGGAK APA-APA.
Dulu, ada semacam
kalimat motivasi gitu di grup.
MENUNDA LATIHAN =
MENUNDA KESEMBUHAN
Iya, memang betul,
saya setuju. Tapi nggak bisa selalu dijadikan patokan. Saya bisa termotivasi
dengan kata-kata itu, tapi ketika lagi-lagi mencoba berhubungan dan gagal, saya
merasa dipojokkan karena kalimat itu seolah menuntut saya untuk sembuh dengan
cepat.
Saya akan down, menyalahkan
diri sendiri, membenci diri sendiri karena begitu lambat progresnya nggak
seperti yang lain. Tapi setelah sembuh saya sadar bahwa memang nggak bisa semua
disamaratakan.
SEKECIL APA PUN
PROGRESNYA, TETAP HARUS DISYUKURI.




