Jumat, 19 Juli 2024

Sembuh Vaginismus Lewat Dilatasi Mandiri

Vaginismua apa nggak bisa disembuhkan dengan obat?

Sejauh ini, yang saya dengar dari para dokter, belum ada obat untuk menyembuhkan vaginismus.

Vaginismus itu kan kondisi otot yang kaku, jadi gimana nih, buat ngobatinnya? Namanya dengan dilatasi. Kalau versi saya, mudahnya sih dilatasi itu semacam terapi untuk merenggangkan atau melenturkan otot. Menggunakan apa? Menggunakan dilator. Gambar dilator saya insya Allah nanti saya post menyusul, ya. Semoga nggak lupa.

Dilatasi itu ada dua: berbantu dan mandiri.

Dilatasi berbantu berarti pasien membutuhkan bantuan dokter untuk melakukan dilatasi. Pasien vaginismus derajat tinggi tuh jangankan dimasukkan sesuatu ke vagina, dipegang betis aja seringnya sudah meronta sampai menendang, jadi otomatis dia harus dibius total. So, dokter yang akan membantu dilatasi—disaksikan oleh suami pasien dan perawat.

Setelah itu, pasien diberi ‘PR’ untuk latihan dilatasi mandiri di rumah sampai akhirnya berhasil berhubungan intim dengan lancar dan nyaman. Saat berdilatasi, seorang vaginismus membutuhkan pelumas untuk memperlancar dilator masuk ke vagina. Supaya vagina nggak lecet. Bagaimanapun juga kan vagina itu area sensitif, ya.

 

Jadi, gimana awalnya bisa dilatasi mandiri?

Di awal tahun 2021 saya di-DM oleh akun Instagram @vaginismus.squad untuk bergabung dalam grup WhatsApp penyintas vaginismus. Saya yang memang pengen banget punya circle sesame vaginismus otomatis mau. Apalagi saya lihat akunnya memang memberikan info tentang vaginismus.

Singkat cerita, setelah saya gabung grup, saya heran karena saran untuk dilatasi mandiri dan banyak yang sembuh dengan lewat dilatasi mandiri—tanpa dilatasi berbantu terlebih dahulu. Ini sangat membantu orang-orang yang terkendala biaya untuk dilatasi berbantu yang di tahun 2021 kalau nggak salah kisaran 30-32 juta.

Waktu itu saya skeptis. Masa, sih? Memangnya boleh? Memangnya direkomendasikan dokter? Kalau kenapa-napa, siapa yang akan bertanggung jawab?

Ternyata, bukan hanya testimoni tentang dilatasi mandiri yang saya temukan di grup tersebut, tapi kami juga diberitahu bahwa ada obgyn-obgyn yang merekomendasikan dilatasi mandiri sebelum memutuskan untuk berbantu. Saya coba follow akun-akun dokternya, bahkan ikut live mereka yang membahas vaginismus. Dan akhirnya saya diskusi dengan suami, lalu… bismillah. Saya akan coba dilatasi mandiri dulu.

Saya pun membeli dilator 1-6 di marketplace. Harganya saya lupa. Waktu itu kayaknya kisaran 400 atau 600ribu gitu.

Btw, waktu itu saya dan suami sudah menabung untuk dilatasi berbantu dan baru terkumpul tiga juta rupiah. Masih jauh dari target, kan ya. Uang itulah yang dipakai untuk membeli dilator. Sisanya tetap ditabung, berjaga-jaga seandainya dilatasi mandiri gagal.

 

Latihan Dilatasi Mandiri

Nggak gampang untuk memulai latihan. SAYA TAKUT BANGET.

Selama beberapa hari saya cuma bisa arahkan dilator ke sekitar kaki dan paha.

Proses untuk memulai dilatasi yang dialami setiap orang berbeda-beda. Ada yang cepat, ada yang lambat. Dan saya termasuk yang lambat. Sangat lambat.

Saya sempat mikir untuk nyerah, tapi membayangkan harus nabung 28 juta lagi rasanya berat juga. Jadi akhirnya saya berusaha melawan rasa cemas itu sekuat tenaga.

Tapi ternyata benar, semua butuh waktu dan keyakinan. Didampingi oleh suami yang maasya Allah supersabar, akhirnya saya berhasil memulai dilatasi dengan dilator pertama—itu pun beberapa tahap.

Kalau diukur dengan jari, dilator no 1 seukuran dengan telunjuk saya. Pertama kali masuk, hanya ¼ dilator padahal rasanya udah kayak masuk semuanya. Segitu aja udah keringetan. Nantinya coba lagi, masuk ½ dilator. Terus dan terus sampai masuk semuanya.

Kalau saran teman-teman di grup, berdilatasi itu sebaiknya dilakukan:

1.    Setiap hari, pagi dan malam

2.    Sekali latihan durasinya bisa 30-45 menit

3.    Saat dilator berhasil masuk, biarkan selama 10 menit, lalu tarik-ulur pelan-pelan.

Tapi, karena situasi dan kondisi yang nggak memungkinkan, saya cuma bisa latihan saat malam. Itu pun nggak bisa setiap hari karena kadang ikut ketiduran ketika ngelonin anak yang masih bayi. Sekali latihan, saya nggak sanggup lebih dari 30 menit. Saya juga nggak pernah membiarkan dilator ada di miss V selama 10 menit karena rasanya nggak nyaman. Pokoknya semua saya lakukan senyamannya aja gitu.

Kalau kita udah berhasil satu tahapan dilator, untuk naik ke tahap berikutnya harus menunggu sampai nyaman.

Saya udah berhasil dilator 1, sebelum naik ke dilator 2, saya harus pastikan nyaman ketika latihan dengan dilator 1. Baru di kemudian hari saya mencoba dilator 2. Begitu seterusnya. Saya latihan dari dilator 1-6, baru akhirnya sembuh.

Ujian saat dilatasi mandiri

Latihan dilatasi saya tuh nggak rutin. Kalau teman-teman lain ada yang sembuh dalam waktu 2 pekan atau bulanan, saya justru 2 tahun. Wkwk. IYA. LAMA BANGET!

Apa ujiannya? Malas dan down.

Malas karena saya seringnya ketiduran ketika anak tidur, sementara kalau pagi udah sibuk ini itu. Belum sempat latihan, anak udah bangun.

Down karena begitu banyak teman sesame vaginismus yang sembuh dengan cepat, sementara saya lambat. Kadang saya bisa termotivasi membaca update siapa saja yang sembuh, kadang juga malah jadi down sampai pengen nyerah.

Saya mulai latihan di bulan Februari 2021 dan sampai bulan Juni 2021 berhasil sampai dilator 5. Banyak banget yang sembuh meski hanya sampai dilator 5, jadi saya nggak mau naik lagi.

Masalahnya, saya nggak rajin latihan. Jadi ketika memulai lagi, sedikit sulit, ya. Sulit dalam artian gini:

Kalau biasanya saya bisa dilator 1-5, ketika berbulan-bulan libur latihan, begitu memulai lagi saya hanya sanggup sampai dilator 2 atau 3 karena kurang nyaman (perih). Perih, ya. Bukan sakit. Beda.

Jadi, sejak 2021-2023, saya terus latihan (walau nggak rajin) dilator 1-5 sambil mencoba berhubungan. Dan selalu gagal. Saya juga keukeuh nggak mau naik dilator. Tapi, di bulan Oktober 2023 saya memberanikan diri menghubungi ex-VG yang udah sembuh dan juga jarang latihan karena punya anak. Saya curhat sekalian minta saran gimana biar berhasil penetrasi. Akhirnya saya mengikuti sarannya untuk naik ke dilator 6.

Dari Oktober 2023-Desember 2023 saya terus latihan walau bolong-bolong. Desember ke Januari saya nggak latihan karena lagi liburan ke Bandung, tapi di Januari apa yang selama ini kami tunggu-tunggu akhirnya berhasil. Saya sembuh. Alhamdulillah…

Jadi, untuk kalian yang lagi latihan dilatasi, tolong ingat ini:

PROSES YANG DIALAMI SETIAP ORANG BERBEDA-BEDA.

Jangan pernah samakan dengan orang lain karena setiap orang punya situasi dan kondisi yang berbeda juga. Bisa jadi si A cepat dan si B lambat.

Dan itu NGGAK APA-APA.

Dulu, ada semacam kalimat motivasi gitu di grup.

MENUNDA LATIHAN = MENUNDA KESEMBUHAN

Iya, memang betul, saya setuju. Tapi nggak bisa selalu dijadikan patokan. Saya bisa termotivasi dengan kata-kata itu, tapi ketika lagi-lagi mencoba berhubungan dan gagal, saya merasa dipojokkan karena kalimat itu seolah menuntut saya untuk sembuh dengan cepat.

Saya akan down, menyalahkan diri sendiri, membenci diri sendiri karena begitu lambat progresnya nggak seperti yang lain. Tapi setelah sembuh saya sadar bahwa memang nggak bisa semua disamaratakan.

SEKECIL APA PUN PROGRESNYA, TETAP HARUS DISYUKURI.

 

Sabtu, 29 Juni 2024

Selalu Gagal Berhubungan Intim? Jangan-jangan Anda Vaginismus, Seperti Saya?

 

Sebenarnya, saya udah kepengen banget nulis tentang vaginismus ini di blog. Tepatnya sejak tahun 2019, karena itu adalah tahun di mana saya tahu bahwa saya mengalami vaginismus.

Saya bahkan sudah menulis sebagian cerita pengalaman saya, tapi belum sempat diunggah karena di tahun itu saya hamil, lalu harus bedrest, lalu mulai sibuk menjadi bumil yang mageran, dan seterusnya. Sampai akhirnya terlupakan, dan baru ingat saat anak saya sebentar lagi berusia lima tahun.

Gagal berhubungan, tapi kok punya anak? Yang bener?

Iyaaa, bener kok.

Izinkan saya bercerita dari awal pernikahan. Kisah ini nyata dan mungkin saat ditulis akan panjang. Jadi, silakan bawa camilan sama minuman dulu.


Tujuh tahun menikah dan nggak pernah bisa berhubungan.

Itu yang saya alami.

Saya menikah di akhir tahun 2016. Sama kayak yang dirasakan banyak pengantin baru, saya tegang tentang malam pertama. Ah, ralat. Saya takut.

Banyak yang bilang malam pertama itu sakit sampai susah jalan, susah shalat, dan perempuan akan mengeluarkan darah. Ngeri nggak, sih? Dalam bayangan saya, darahnya sangat banyak sampai mengenai kasur.

Ternyata, ini nggak sepenuhnya benar, Teman.

Sakitnya tuh bukan sakit yang gimana gitu, tapi lebih ke nggak nyaman aja. Sementara tentang darah, nggak semua perempuan berdarah. Dan nggak berdarah bukan berarti nggak perawan. Catat baik-baik ini ya. Kalau nggak percaya, monggo luangkan waktu ke obgyn dan tanya sendiri.

Oke, balik ke rasa takut. Saya akhirnya mikir, rasa takut itu yang bikin saya nggak bisa berhubungan. Saya bold tuh. Nggak bisa, bukan nggak mau. Karena, yah saya mau. Saya menikah dengan laki-laki yang saya cintai, kenapa harus nggak mau?

Kurang rileks? Ya, mungkin. Tapi demi Allah, saya sudah berusaha untuk rileks. Saya sudah berusaha dan kalau gagal ya gimana? 

Saya mencari tahu kondisi saya ini di Google, tapi di tahun 2017 belum menemukan jawaban. Saya diarahkan ke tips malam pertama. Saya coba, tapi tetap gagal.

Satu bulan… dua bulan…

Satu tahun… dua tahun…

Apa rasa nggak rileks bisa selama itu? Saya sampai mempertanyakan apa rasa cinta dan sayang saya ke suami kurang besar sampai sulit begini? Seharusnya nggak, karena saya bahkan nggak bisa jauh dari suami.


Kenapa nggak ke dokter?

Tentu saya sudah mengajak suami ke dokter, tapi suami nggak mau dengan alasan semua suami istri pasti bisa. Saya pun setuju. Tapi, kenapa saya nggak bisa? Apa yang aneh?

“Apa yang mau ditanyakan ke dokter?” tanya Suami. “Cara gimana berhubungan? Nanti malu. Kalah kita sama anak SD.”

Saya pikir benar juga. Kami bahkan nggak nemuin jawaban tentang apa yang saya alami di Google. Yah, mungkin saya kurang jauh mencarinya, atau terlalu frutrasi sampai menyerah dan akhirnya nggak ketemu.

Jadi, dua tahun pertama menikah, kami terus berusaha mencoba dan selalu gagal.


Apa rasanya sakit?

Saya bahkan nggak ngerasain sakit karena nggak berhasil. Yang saya rasakan adalah mentok. Coba kalian tempelkan ujung telunjuk ke bibir yang tertutup rapat, tapi jangan dimasukkan. Mentok. Kayak gitu.

Kegagalan berhubungan intim bikin saya stress banget. Terutama di tahun 2018. Itu adalah tahun yang saya rasa terberat karena orang mulai banyak mempertanyakan kapan saya hamil.

Di tahun awal saya masih bisa jawab doain aja dengan agak santai, tapi di tahun kedua saya sampai menghindari banyak orang. Setiap ada yang bertanya, rasanya tuh kepengen banget teriak,

“HEH! KAU PIKIR BIKIN ANAK KAYAK BIKIN BAKWAN?”

Tapi nggak bisa. Saya hanya bisa menghindar. Kalau ada tetangga saat saya pulang kerja, saya bakalan jalan memutar. Kalau nggak bisa dihindari, saya bakalan buru-buru pergi.

Kecemasan itu bahkan bikin saya ketakutan saat berjalan sendiri, karena khawatir ada orang. Awalnya takut ada orang yang kenal dan nanya kapan hamil, lama-lama saya takut sama orang asing. Dan ini berlangsung berbulan-bulan.

Pertanyaan kapan hamil akhirnya selalu bikin saya murung dan nangis, ngadu ke suami. Suami selalu bilang, “Tenang… Nggak apa-apa, nanti bisa. Sebentar lagi bisa.”

Dan saya selalu menyahut. “Tapi sebentar lagi itu kapan? Kenapa sebentar itu lama?”

Suami meyakinkan bahwa nanti kami akan punya anak.

TAPI GIMANA BISA PUNYA ANAK KALAU BERHUBUNGAN AJA NGGAK BISA?!


Tapi akhirnya hamil?

Iyaaa! Alhamdulillah. T_T 

Padahal kami belum berhasil berhubungan dan saya nggak tahu bahwa saya hamil.

Setelah terlambat menstruasi sepuluh hari, saya mulai takut ada apa-apa. Nggak mikir hamil sama sekali wong nggak berhasil kok. Saya minta suami nemenin ke dokter. Tapi kami pikir, kayaknya harus coba testpack dulu deh. Biar bisa kasih tahu ke dokternya kalau saya nggak lagi hamil. 

Akhirnya saya pun testpack, lalu nemuin dua garis.

Saya yang Shubuh itu masih ngantuk jadi memelotot.

Saya auto teriak manggil suami. Saya minta baca ulang keterangan di kemasan. Benar kok, dua garis artinya positif. Positif itu hamil.

Kami pelukan dan nangis bareng.

TAPIII, KOK BISA?!

Saya nggak mual, nggak muntah. Tubuh saya biasa aja. Saya kerja kayak biasanya. Bedanya, saya ngantuk dan lapar terus.

Saya akhirnya minta diantar Mamah ke bidan (Btw, rumah Mamah dan kontrakan saya berdekatan). Kami datang ke dua bidan terdekat dan  puskesmas, tapi semua tutup karena memang kesiangan. Akhirnya nemuin satu bidan yang mau membukakan pintu. Saya disuruh datang lagi besok pagi-pagi untuk testpack ulang dengan membawa sampel urine bangun tidur. Dan hasilnya sama, positif.

Tapi, saya masih meragukan.

Nggak. Nggak mungkin. Mustahil.

Beberapa hari kemudian, begitu suami pulang kerja, saya minta diantar ke klinik untuk langsung nemuin obgyn. Rasanya tegang banget sekaligus takut kenapa-napa.

Setelah dicek kapan hari pertama hari terakhir menstruasi, lalu dihitung usia kandungan. Sekitar 7-8 minggu, katanya.

Dan akhirnya dipanggillah saya ke ruangan. Obgynya bukan yang biasa praktik, tapi dokter pengganti. Beliau mulai melakukan USG.

Saat saya lihat ada janin di layar lalu mendengar degup jantungnya… di sana saya percaya bahwa saya hamil. Maasya Allah… Allahu Akbar.

Selesai USG, saya akhirnya memberanikan diri nanya ke dokter, “Dok, kenapa saya hamil, ya? Soalnya belum bisa berhubungan.”

“Lho? Kok bisa? Tapi ya nggak apa-apa. Bagus, kan?”

Iya, sih, alhamdulillah. Tapi pertanyaan kenapa selalu gagal berhubungan, nggak terjawab. Saya dan suami masih penasaran.


Lalu gimana akhirnya tahu vaginismus?

Itu karena beberapa hari kemudian muncul flek. Katanya, biasa kok kalau muncul flek di awal kehamilan, tapi saya parno karena beberapa teman keguguran setelah nge-flek. Akhirnya saya kembali lagi ke klinik dan harus rutin kontrol. Sampai akhirnya dokter yang menangani saya adalah Dokter Fitria (tadinya beliau cuti dan digantikan dokter lain).

Dokter Fitria khawatir ada luka di vagina, jadi harus dilakukan USG Transvaginal. Saya nggak paham itu apa. Kaki saya dinaikkan ke alat  dan waktu dokternya mengarahkan alat USG ke kaki, saya auto menghindar. Paha saya langsung merapat. Dokter nggak bisa melakukan pemeriksaan. Dua bidan menenangkan saya, juga suami dan Mamah yang ikut masuk ruangan, tapi saya tetap nggak bisa diperiksa. Saya sampai berkeringat, jantung berdegup kencang dan mulai menggigil.

“Pak, maaf ini kalau lagi berhubungan gimana?” tanya Dokter Fitria ke suami saya.

“Ya nggak bisa, Dok. Makanya kami heran kenapa bisa hamil.”

Dokter Fitria akhirnya bilang bahwa saya vaginismus dan pemeriksaan nggak bisa dilanjutkan karena saya bisa trauma. Saya akhirnya turun dari bed dan jalan ke kursi dengan gemetar. Inget banget rasanya kaki kayak jelly.

Dokter Fitria lalu jelasin tentang vaginismus dan saya dirujuk ke temannya di RS Limijati, yang bernama Dokter Robbi. Saya juga diberitahu akun Instagram vaginismusindonesia. Dari akun tersebut, saya akhirnya tahu bahwa saya nggak aneh, saya nggak sendirian, dan yang terpenting bahwa seorang vaginismus bisa sembuh.


Jadi, vaginismus itu apa?

Vaginismus itu kondisi kakunya otot vagina sehingga nggak bisa melakukan penetrasi. Baik itu penetrasi menggunakan jari, cotton bud, atau bahkan penis.

Penyebabnya nggak diketahui.

Apa vaginismus karena pikiran atau kondisi psikologis seseorang? Jawabannya, nggak. Tapi, vaginismus bisa membuat orang jadi terganggu psikologisnya.

Kalau Dokter Robbi menggunakan cara dilatasi berbantu untuk menyembuhkan pasien, saya sembuh lewat jalur dilatasi mandiri. Ada kok obgyn yang mengizinkan dilatasi mandiri, diantaranya Dokter Yeni @dsyeni dan Dokter Eighty @eighty.mk. Masih banyak dokter lainnya, bisa cek aja akun vaginismus.squad.

Dan menurut saya, apa pun cara yang dilakukan selagi itu ada dasar dan izinnya sih nggak masalah, ya. Nggak harus diperdebatkan pro dilban atau dilman, karena bagi seorang vaginismus yang menjadi goal adalah sembuh.


Gimana pengalaman hamil saat vaginismus dan dilatasi mandiri?

Insya Allah saya bakalan cerita lagi nanti.


Btw, saya nulis novel tentang vaginismus juga, lho. Doakan ya, mudah-mudahan jadi terbit tahun ini. Aaamiiin. Baca tiga bab pertama di sini

Sabtu, 08 Oktober 2022

Penaka

PENAKA

 

Penulis: Altami ND

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 2022

 

Blurb

Pernikahannya memang baru berumur dua tahun, tapi Sofia sudah mau menyerah saja. Suaminya tidak hanya kecanduan game online, tapi juga super berantakan. Laksana bahkan beberapa kali membahayakan anak mereka tanpa sadar. Ngawur!

Karena tidak mau terjebak lebih lama, Sofia minta cerai. Ia bertekad mewujudkan impiannya agar tidak lagi merasa ketinggalan dari orang-orang di sekelilingnya. Namun, sehari setelah berikrar siap menjadi single parent, Sofia terbangun dan menyadari dirinya berubah menjadi... botol minum!

Sofia panik. Ia tiba-tiba berubah menjadi kucing, anjing, atau orang asing. Situasi ini membingungkan. Apalagi ketika ia menemukan rahasia-rahasia tak terduga dari orang-orang terdekatnya.

Lalu, bagaimana dengan rencana-rencana hidupnya? Bagaimana nasib anak semata wayangnya yang masih balita? Sofia harus segera menemukan cara untuk bisa kembali ke wujud asalnya.

 

Ulasan

Diceritakan Sofia adalah seorang ibu rumah tangga dengan satu anak balita yang sebal karena suaminya, Laksana, terlalu fokus dengan ponselnya untuk main game. Sofia gemas terhadap kebiasaan sang suami, apalagi ketika dititipkan Raisa, anak mereka, Laksana malah lalai sampai membuat anak itu terluka. Gara-gara suaminya sudah keterlaluan, akhirnya Sofia minta cerai.

“Hobi itu kegiatan sampingan, Jen. Kalau sampai mengganggu yang utama, itu sudah nggak bisa disebut hobi, tapi distraksi. Kalau udah nikah harus punya prioritas dong.” (hal. 41) 

Setelah minta cerai, dia malah berubah menjadi botol minum Laksana yang ikut pergi ke kantor. Di sana dia melihat bagaimana sang suami melewati pekerjaan. Setelah itu dia berubah lagi menjadi kucing, Jena (sahabatnya), anjing, nenek-nenek, gadis remaja... yah pokoknya random! Terkesan random, padahal Sofia itu berubah menjadi hal-hal yang muncul di kehidupannya. Ini keren sih, karena tokoh tambahan pun punya peranan penting dalam plot.

Di awal membaca novel ini, saya benar-benar dibuat kesal oleh Laksana. Dia tuh nggak peka dan sibuuuk terus sama hapenya! Saya pernah sih ada di posisi Sofia. Lagi butuh waktu untuk sekadar mandi atau makan, tapi ngelihat suami malah sibuk pegang hape, dan akhirnya saya bilang, “Kalau sibuk sama hape terus, nikah aja sama hape!”. Wkwk.

Balik ke novel Penaka, di sini tuh kalau Sofia dan Laksana ngobrol, selalu aja ending-nya malah bertengkar. Kebetulan saya memang dibesarkan oleh keluarga yang buruk komunikasinya. Yang satu pengennya dimengerti tanpa bilang, yang satu lagi nggak pekanya kebangetan. Akhirnya bertengkar tuh udah bukan lagi bumbu penyedap rumah tangga, tapi menu utama! Jadinya, ketika ‘melihat’ kehidupan Sofia dan Laksana di Penaka ini, ya benar-benar nyata. Berasa jadi Raisa! Wkwk.

Duh, maafkan nih, diselingi curcol, hehe.

Gaya bahasa di novel ini ngalir banget, jadinya pas baca tuh nggak terasa tahu-tahu udah halaman atau bab sekian. Apalagi memang konflik rumah tangga yang memang nggak mengada-ada. Karena banyak teman-teman saya juga yang mengeluh suaminya kalau udah main game atau nonton bola, main futsal, lupa segalanya.

Tadinya saya sempat khawatir ceritanya bakalan pincang karena novel ini dilihat dari sudut pandang Sofia, tetapi ternyata Laksana ikut berubah juga, lho! Dia berubah jadi anak kecil, petugas kebersihan, bahkan monyet. Gara-gara Laksana ikut berubah, pandangannya tentang rumah tangga dan repotnya seorang istri di rumah pun akhirnya diketahui. Jadinya bisa saling paham. Karena memang ya... komunikasi itu penting!

Dan novel ini tuh jadi penting juga untuk dibaca untuk kalian kaum Adam maupun Hawa.

Kalian belum nikah? Baca ini! Supaya dapat gambaran kalau menikah tuh nggak cuma uwu-uwu doang.

Kalian udah nikah? Baca ini! Ada banyak quotes keren yang bikin kita merenung dan tertampar, lalu bikin kita pengen introspeksi diri demi mempertahankan pernikahan.

 “Semua orang punya medan perangnya masing-masing. Pun yang terlihat bahagia, bukan berarti mereka selalu baik-baik saja.” (hal. 181)

 

Minggu, 28 April 2019

Berkelana ke Dunia Paralel


BERKELANA KE DUNIA PARALEL




Judul: Ceros dan Batozar
Penulis: Tere Liye
Jumlah halaman: 376 halaman
ISBN: 9786020385914
Terbit Mei, 2018

Judul: Komet
Penulis: Tere Liye
Jumlah halaman: 384 halaman
ISBN: 9786020385945
Terbit Juli, 2018

Judul: Komet Minor
Penulis: Tere Liye
Jumlah halaman: 376 halaman
ISBN: 9786020623399
Terbit Maret, 2019


Ceros dan Batozar, Komet, dan Komet Minor adalah kelanjutan dari empat novel sebelumnya—Bumi, Bulan, Matahari, dan Bintang—yang berkisah tentang petualangan tiga sekawan: Raib, Seli, dan Ali di dunia paralel. Ketiga remaja itu adalah murid SMA yang ternyata memiliki kekuatan. Raib bisa menghilang, berteleportasi, dan menyembuhkan diri serta orang lain. Seli memiliki kekuatan mengeluarkan petir. Ali mampu berubah menjadi beruang jika dia sedang marah.

Di novel-novel sebelumnya, ketiga sekawan ini berkelana ke Klan Bulan, Matahari, dan Bintang. Mereka mengejar seseorang, yaitu Si Tanpa Mahkota, yang menginginkan kekuatan tanpa batas. Si Tanpa Mahkota mencari sumber kekuatan itu di Klan Komet.

Pada novel Ceros dan Batozar terdapat dua cerita berbeda yang masih berhubungan. Pertama adalah kisah Ceros. Kedua, kisah Batozar. Pada cerita pertama, Raib, Seli, dan Ali mengikuti study tour dari sekolah. Tanpa sengaja mereka menemukan sebuah klan baru (Klan Aldebaran), yang terlacak oleh kapsul terbang buatan Ali. Dengan mengaktifkan mode menghilang pada kapsul, mereka bertiga berkelana ke tempat tersebut dan bertemu dengan si Kembar Ceros: Ngglanggeran dan Ngglanggeram. Di sini, pembaca akan melihat bagaimana pengorbanan dalam persahabatan begitu terasa.

“Ketahuilah, bukan teknik bertarung, bukan menghancurkan gunung-gunung kekuatan terbaik dunia paralel, melainkan persahabatan.”
(Ceros dan Batozar, hal. 124)

Setelah pulang dari Klan Aldebaran, Raib, Seli, dan Ali, bertemu dengan Batozar—seorang pengintai. Batozar memiliki tubuh besar, salah satu matanya rusak, dan ada luka di wajahnya. Pada cerita ini, Tere Liye memberikan penggambaran bahwa seseorang tidak bisa dinilai dari fisiknya saja. Di sini juga kita akan melihat bagaimana Raib mendapat tekanan dari Batozar untuk melakukan hal yang diinginkannya. Kisah ini benar-benar menyedihkan.

“Aku memang lemah, tapi aku akan mencoba berdiri tegak.”
(Ceros dan Batozar, hal. 298)

Novel berikutnya adalah Komet. Pada novel ini, Raib, Seli, dan Ali, pergi ke Klan Komet mengejar Si Tanpa Mahkota yang pergi ke tempat tumbuhan aneh berada. Mereka melewati tujuh pulau, mulai Pulau Hari Senin sampai Pulau Hari Minggu. Di sini, perjuangan mereka untuk sampai ke pulau tumbuhan aneh tidak mudah. Ada satu kunci yang selalu mereka pegang, yaitu berbuat baik.

“Sesuatu yang paling hebat adalah perbuatan baik.”
(Komet, hal. 87)

Sempat tersebar kabar bahwa Komet adalah buku terakhir dari seri ini. Namun ternyata tidak. Masih ada Komet Minor yang menceritakan bagaimana akhir dari kisah Raib, Seli, Ali, dan Si Tanpa Mahkota. Mereka berusaha untuk mendapatkan tiga potongan senjata yang memiliki kekuatan. Pada buku terakhir ini, nasib salah satu dari tiga sekawan di ujung tanduk, dan pembaca akan melihat bagaimana kuatnya persahabatan mereka.

“Hanya karena sesuatu itu terlihat buruk, tidak otomatis jadi buruk betulan. Pun sebaliknya, hanya karena sesuatu terlihat baik, tidak otomatis memang baik sesungguhnya. Mungkin saja ada hikmah yang tersembunyi, yang tidak kita pahami.” (Komet Minor, hal 366)

***

Tidak diragukan lagi, tulisan Tere Liye selalu memikat pembaca. Hal ini karena Tere Liye selalu mengambil ide dari hal-hal sederhana sehingga dekat dengan pembaca. Cerita pada novel berseri ini disampaikan dengan bahasa yang populer dengan kehidupan sehari-hari. Porsi showing dan telling begitu pas sehingga tidak membosankan.

Penulis juga berhasil membuat cerita terasa begitu seru dengan karakter tokoh yang berbeda-beda dan guyonan mereka yang renyah tapi menyentil. Raib memiliki karakter yang bertanggung jawab dan bijak. Namun, dia keras kepala, sulit diajak bicara dan seringkali merasa bersalah atas sesuatu hal. Seli digambarkan sebagai sosok yang cukup sensitif. Dia peragu, suka mencemaskan banyak hal dan selalu mementingkan orang lain. Sementara Ali adalah remaja laki-laki yang cuek, ceroboh, tetapi sangat pintar. Karakter mereka yang membumi membuat merasa benar-benar seperti nyata.

Secara keseluruhan, novel seri ini sangat menarik. Namun, pada novel Komet alur terasa begitu lambat. Meskipun demikian, Komet memiliki plot twist yang patut diacungi jempol. Bukan hanya itu, akhir cerita tentang Miss Selena dan tokoh-tokoh penting dari Klan Bulan, Klan Matahari, dan Klan Bintang juga tidak dijelaskan lebih lanjut, padahal mereka yang ‘mengantar’ ketiga sekawan masuk ke Klan Komet.

Tidak ada yang sia-sia. Itulah yang akan pembaca dapatkan dari novel-novel ini. Bukan hanya diajak bersenang-senang dengan petualangan Raib, Seli, dan Ali, tapi juga diajak merenung tentang kehidupan karena cukup banyak kalimat yang mengandung satire. Beberapa di antaranya:

“Lebih baik kelaparan daripada mencuri.” (Komet, hal. 86)

“Apa pun makanan yang tersedia, kamu makan saja, bukan mengomentarinya. Apalagi kamu sampai sibuk berfoto-foto.” (Komet Minor, hal. 92)

Melalui persahabatan Raib, Seli, dan Ali, pembaca diajarkan tentang bagaimana persahabatan yang tulus. Melalui petualangan mereka melawan musuh, pembaca diajak untuk memahami makna bekerja sama dan semangat untuk mencapai tujuan.

Dua kata untuk novel-novel ini: Super badasss!

Kamis, 11 Oktober 2018

Buku Mengantarkanku ke Negeri Jiran

Alhamdulillah, Sabtu (6 Oktober 2018) lalu saya dan suami akhirnya menginjakkan kaki di negaranya Upin dan Ipin. Yap! Kualumpur, Malaysia.

Ngapain ke sana? Main?

Uhm, biar gampang anggap saja begitu.

Gaya bener main sampai Malaysia! Banyak duit, ya?

Duh, jangan nyinyir dulu deh. Saya ceritain deh ya kenapa saya bisa sampai ke sana.

SEMUA BERAWAL DARI MEMBACA BUKU!

Dua tahun lalu saya mengikuti lomba menulis resensi yang diadakan oleh Kiky Aurora. Saya membeli buku Mbak Kiky, lalu memberikan ulasan tentang bukunya. Singkat cerita, saya menang! Alhamdulillaaah... Saya yang baca pengumuman sambil tiduran langsung jingkrak-jingkrak dan cerita sama orangtua.

Tapi... saya nggak bisa berangkat di tahun itu karena akan menikah. Akhirnya saya undur ke tahun 2017. Dan ternyata... ada banyak sekali halangan di tahun itu.

Saya sempat bilang sama Mbak Kiky, saya nggak akan ambil hadiahnya karena merasa nggak mungkin bisa berangkat. Supaya Mbak Kiky pun plong. Tapi alhamdulillah saya bisa berangkat di tahun 2018.

Waktu Mbak Kiky membelikan tiket, saya dan suami masih tinggal di Jakarta. Kami sepakat beli tiket dari Jakarta langsung ke KL. Daripada pulang ke Bandung dulu, nanti ribet. Siapa menduga kalau Allah punya kehendak lain? Beberapa bulan setelah beli tiket, saya dan suami justru pindah ke Bandung. Mau nggak mau deh kami harus ke Jakarta dulu.

Hal pertama yang saya rasakan ketika sampai di Kualumpur adalah... panas! Seperti di Jakarta. Dan banyak banget orang India atau Bangladesh. Di mana-mana! Awal-awal saya malah merasa ada di India, bukan di KL. Hahaha.

Jalanannya sepiii. Jauh deh sama Bandung, apalagi Jakarta. Jalan raya rasa jalan tol. Mobil ngebut-ngebut. Motor cuma sedikit dan nggak ada angkot. Kendaraan umumnya ya bus, taksi, atau kereta. Eh, ini yang saya temukan lho ya. Entah di tempat lain begini juga atau nggak.

Kami menginap di Hotel Newton, daerah Subang, Selangor, agar dekat dengan tante. Lagi pula, kami memang nggak bawa banyak bekal. Pas-pasan banget. Alhamdulillah tante traktir kami makan selama di sana. Hehe.

Hari Sabtu, saya dan suami nggak ke tempat wisata. Hanya sempat mencari tempat makan dan ke hotel untuk istirahat.

Hari Minggu, 7-Oktober-2018, barulah kami jalan-jalan ke Batu Caves. Cuma sempat datang ke satu tempat doang karena lamaaa banget dapet bus.


Untuk sampai ke Batu Caves, dari hotel saya harus jalan dulu ke halte, naik bus Rapid yang datangnya lamaaa banget. Ongkosnya 3RM. Oh ya, uangnya juga harus pas. Kalau nggak pas, kita harus nukerin uang dulu gitu.


Setelah naik bus Rapid tujuan Pasar Seni, kami naik MRT. Beli kartu dulu 20RM. Untungnya kartunya bisa dipake apa aja, jadi bisa dibilang agak hemat gitu. Naik MRT ke KL Central, lalu lanjut LRT ke Batu Caves. Di Batu Caves pun nggak lama. Cuma naik aja, liat yang lagi ibadah, terus pulang karena sudah terlalu sore.

Oh ya, ada sedikit pengalaman yang sebaiknya kalian nggak tiru.

Jadi, waktu pulang dari Batu Caves itu, saya dan suami mencari mushala. Kami sampai di stasiun Batu Caves dan nanya ke sekuriti. Terus dikasih arahan deh untuk masuk tanpa tap kartu alias nggak bayar. Ya udah, kami masuk aja, lalu ke mushala. Pas selesai shalat, LRT ke arah KL Central datang. Kami langsung aja naik. Dan saat kami sampai di KL Central, kami tap kartu untuk keluar, nggak bisa dong! Tulisannya kena pinalti gitu. Langsung deh laporan ke sekuriti. Katanya harus isi saldo lagi, padahal saldonya masih banyak.

Saya dan suami muter-muter KL Central untuk ngisi kartu. Berkali-kali nanya, berkali-kali juga dikasih arahan yang salah. Entah memang ada kesalahpahaman atau kami lagi dikerjai. Yang jelas, saya bete banget. Setelah isi saldo, kami balik lagi ke sekuriti dan disuruh bayar langsung ke... ya sebutlah loket. Kami pikir bakalan dapat denda gitu, nggak taunya nggak. Bayar ongkos dari Batu Caves ke KL Central aja, udah. Petugasnya juga nggak introgasi kenapa kami sampai kena pinalti, kayaknya mereka udah biasa aja gitu. So, jangan coba-coba curang ya, Teman. 



Lalu... Senin, 8 Oktober 2018, kami ke Petronas. Setelah foto-foto, langsung ke Masjid Jamek. Jaraknya ternyata deketan. Sayangnya, hujan. Daripada nunggu hujan lama, kami akhirnya ke Central Market. Tinggal jalan sedikit.




Di Central Market ini kami betah banget. Keliling sana-sini untuk beli beberapa titipan. Oleh-oleh? Karena kami bawa uangnya sedikit, oleh-oleh pun nggak banyak dibeli.

Kami juga sempat makan di Restoran Yusoof & Zakheer di sekitaran Central Market. Menunya nasi briyani (kata suami sih itu namanya) dan ayam goreng. Enak! Harganya standar sih, standar kalau kita makan di tempat wisata. 2 kali lipat. Wkwkwk.

Habis dari Central Market? Pulang. Itu pun udah malam dan lagi-lagi hujan besar. Begitu sampai hotel, langsung deh beres-beres karena besoknya harus meluncur ke bandara.

Selasa, 9 Oktober 2018, kami siap pulang. Sempat mengalami kejadian horor sih, di hotel. Jadi jam 2 malam tiba-tiba bel bunyi. Saya sama suami sama-sama bangun. Saya suruh suami cek, siapa di luar. Tapi ternyata nggak ada siapa-siapa. Hahaha. Kalau orang iseng, rasanya nggak mungkin deh. Jam 2 malam gitu lho. >_<

Paginya, sebelum dijemput taksi, kami makan di restoran dekat hotel. Jom Makan, namanya. Menunya nasi lemak, ayam goreng, dan 1 bakwan. Minum teh o hangat. Total jadi 9RM. Kalau pakai rupiah ya sekitar 35 ribuan.

Duuuh, rasanya belum puas di KL. Kayak mimpi ada di sana. Semoga suatu saat bisa ke sana lagi. Sopir taksi pun mendoakan agar kami ke sana lagi setelah punya anak. Aaaamiiiin!! ^^

Selasa, 10 Juli 2018

[Review] Twinwar



Judul: Twinwar
Penulis: Dwipatra
Penyunting: Miranda Malonka
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 296 halaman
Tahun terbit: 2017


Blurb

Gara dan Hisa kembar identik. Penampilan kedua cowok itu persis sama. Kerennya pun sama. Tapi minat dan kemampuan? Beda jauh! Gara berotak encer dan kemampuan akademiknya gemilang. Sementara itu, Hisa jago olahraga dan sederet trofi kejuaraan berhasil ia raih. Walaupun bersekolah di SMA berbeda, persaingan mereka tak pernah surut.

Dalam keluarga mereka, ada satu aturan yang tidak boleh mereka langgar. “Gara dan Hisa tidak boleh pacaran sebelum lulus SMA dan diterima masuk di perguruan tinggi.” Kalau sampai aturan itu dilanggar, konsekuensi yang akan mereka terima tidak main-main.

Kisah ini bermula ketika Hisa mengetahui ada foto cewek di handphone Gara. Ya, diam-diam Gara memang berpacaran dengan Dinar. Mendapati rahasia Gara, Hisa seolah mendapat senjata ampuh untuk “menghancurkan” saudara kembarnya.

Jadi, siapa bilang saudara kembar nggak bisa perang?


Ulasan

Twinwar bercerita tentang kehidupan Gara dan Hisa, saudara kembar yang selalu saja bertengkar. Pembaca langsung disuguhkan persaingan mereka berdua dan dari sana sudah bisa langsung ditebak bagaimana karakter keduanya.

Ketika Hisa memiliki rahasia Gara, dia meminta kembarannya itu untuk menggantikannya dalam ulangan sekolah. Yah, wajar sih. Hisa kan nggak pintar kayak Gara. Diancam seperti itu, tentu saja Gara pasrah. Pertukaran peran pun dimulai. Namun, inilah yang menjadi awal masalah demi masalah muncul kemudian dan semakin pelik—sampai membuat salah satu dari mereka terluka dan juga mendapatkan skorsing dari sekolah.

Sebelum membeli novel ini, saya sempat membaca lima bab awal di Gramedia Digital dan langsung suka. Gaya bahasa yang digunakan penulis sederhana, ringan dan begitu mengalir. Interaksi antara Hisa dan Gara begitu natural dan persaingan mereka begitu kental.

Ada banyak sekali pesan moral yang terdapat dalam novel ini, begitu juga sindiran.

Dan yang paling membuat saya puas adalah ketika tahu apa yang menyebabkan Gara dan Hisa bertengkar. Jujur, saya sempat berpikir akan zonk, sempat khawatir alasannya kurang kuat atau gimana... tapi ternyata itu nggak terjadi. Alhamdulillah. Hihi. Pokoknya rapi banget.

Kalau ada yang saya rasa kurang, itu adalah kemunculan tokoh bernama Akbar. Entahlah... rasanya terlalu dipaksakan gitu sih untuk saya pribadi. Tapi secara keseluruhan, saya suka.

Quotes Favorit

“Ketidakjujuran, sekecil apa pun, tetap merusak.” –hal. 154

“Lakukan aja yang terbaik yang kamu bisa. Hasilnya nggak usah kamu pikirin dulu. Seburuk apa pun hasilnya nanti, kalau kamu udah ngelakuin yang terbaik, akan jauh lebih mudah diterima dan disyukuri.” –hal. 166


Rating

Cover: 4/5
Tema: 3/5
Tokoh: 4/5
Konflik: 4/5
Gaya bahasa: 4/5
Overall: 3.8/5