Sebenarnya, saya udah
kepengen banget nulis tentang vaginismus ini di blog. Tepatnya sejak tahun
2019, karena itu adalah tahun di mana saya tahu bahwa saya mengalami vaginismus.
Saya bahkan sudah
menulis sebagian cerita pengalaman saya, tapi belum sempat diunggah karena di
tahun itu saya hamil, lalu harus bedrest, lalu mulai sibuk menjadi bumil
yang mageran, dan seterusnya. Sampai akhirnya terlupakan, dan baru ingat saat
anak saya sebentar lagi berusia lima tahun.
Gagal berhubungan, tapi
kok punya anak? Yang bener?
Iyaaa, bener kok.
Izinkan saya bercerita
dari awal pernikahan. Kisah ini nyata dan mungkin saat ditulis akan panjang. Jadi,
silakan bawa camilan sama minuman dulu.
Tujuh
tahun menikah dan nggak pernah bisa berhubungan.
Itu
yang saya alami.
Saya
menikah di akhir tahun 2016. Sama kayak yang dirasakan banyak pengantin baru,
saya tegang tentang malam pertama. Ah, ralat. Saya takut.
Banyak
yang bilang malam pertama itu sakit sampai susah jalan, susah shalat, dan perempuan
akan mengeluarkan darah. Ngeri nggak, sih? Dalam bayangan saya, darahnya sangat
banyak sampai mengenai kasur.
Ternyata,
ini nggak sepenuhnya benar, Teman.
Sakitnya
tuh bukan sakit yang gimana gitu, tapi lebih ke nggak nyaman aja. Sementara tentang
darah, nggak semua perempuan berdarah. Dan nggak berdarah bukan berarti nggak
perawan. Catat baik-baik ini ya. Kalau nggak percaya, monggo
luangkan waktu ke obgyn dan tanya sendiri.
Oke,
balik ke rasa takut. Saya akhirnya mikir, rasa takut itu yang bikin saya nggak
bisa berhubungan. Saya bold tuh. Nggak bisa, bukan nggak mau. Karena,
yah saya mau. Saya menikah dengan laki-laki yang saya cintai, kenapa harus nggak
mau?
Kurang rileks? Ya, mungkin. Tapi demi Allah, saya sudah berusaha untuk rileks. Saya sudah berusaha dan kalau gagal ya gimana?
Saya
mencari tahu kondisi saya ini di Google, tapi di tahun 2017 belum menemukan
jawaban. Saya diarahkan ke tips malam pertama. Saya coba, tapi tetap gagal.
Satu
bulan… dua bulan…
Satu
tahun… dua tahun…
Apa
rasa nggak rileks bisa selama itu? Saya sampai mempertanyakan apa rasa cinta
dan sayang saya ke suami kurang besar sampai sulit begini? Seharusnya nggak,
karena saya bahkan nggak bisa jauh dari suami.
Kenapa
nggak ke dokter?
Tentu
saya sudah mengajak suami ke dokter, tapi suami nggak mau dengan alasan semua suami
istri pasti bisa. Saya pun setuju. Tapi, kenapa saya nggak bisa? Apa yang aneh?
“Apa
yang mau ditanyakan ke dokter?” tanya Suami. “Cara gimana berhubungan? Nanti malu.
Kalah kita sama anak SD.”
Saya
pikir benar juga. Kami bahkan nggak nemuin jawaban tentang apa yang saya alami
di Google. Yah, mungkin saya kurang jauh mencarinya, atau terlalu frutrasi sampai
menyerah dan akhirnya nggak ketemu.
Jadi,
dua tahun pertama menikah, kami terus berusaha mencoba dan selalu gagal.
Apa
rasanya sakit?
Saya
bahkan nggak ngerasain sakit karena nggak berhasil. Yang saya rasakan adalah
mentok. Coba kalian tempelkan ujung telunjuk ke bibir yang tertutup rapat, tapi jangan
dimasukkan. Mentok. Kayak gitu.
Kegagalan
berhubungan intim bikin saya stress banget. Terutama di tahun 2018. Itu adalah
tahun yang saya rasa terberat karena orang mulai banyak mempertanyakan kapan
saya hamil.
Di
tahun awal saya masih bisa jawab doain aja dengan agak santai, tapi di
tahun kedua saya sampai menghindari banyak orang. Setiap ada yang bertanya, rasanya
tuh kepengen banget teriak,
“HEH!
KAU PIKIR BIKIN ANAK KAYAK BIKIN BAKWAN?”
Tapi nggak bisa. Saya hanya bisa menghindar. Kalau ada tetangga saat saya pulang kerja, saya bakalan jalan memutar. Kalau nggak bisa dihindari, saya bakalan buru-buru pergi.
Kecemasan itu bahkan bikin saya ketakutan saat berjalan
sendiri, karena khawatir ada orang. Awalnya takut ada orang yang kenal dan nanya
kapan hamil, lama-lama saya takut sama orang asing. Dan ini berlangsung berbulan-bulan.
Pertanyaan
kapan hamil akhirnya selalu bikin saya murung dan nangis, ngadu ke suami. Suami selalu
bilang, “Tenang… Nggak apa-apa, nanti bisa. Sebentar lagi bisa.”
Dan
saya selalu menyahut. “Tapi sebentar lagi itu kapan? Kenapa sebentar itu lama?”
Suami
meyakinkan bahwa nanti kami akan punya anak.
TAPI
GIMANA BISA PUNYA ANAK KALAU BERHUBUNGAN AJA NGGAK BISA?!
Tapi
akhirnya hamil?
Iyaaa! Alhamdulillah. T_T
Padahal
kami belum berhasil berhubungan dan saya nggak tahu bahwa saya hamil.
Setelah terlambat menstruasi sepuluh hari, saya mulai takut ada apa-apa. Nggak mikir hamil sama sekali wong nggak berhasil kok. Saya minta suami nemenin ke dokter. Tapi kami pikir, kayaknya harus coba testpack dulu deh. Biar bisa kasih tahu ke dokternya kalau saya nggak lagi hamil.
Akhirnya
saya pun testpack, lalu nemuin dua garis.
Saya
yang Shubuh itu masih ngantuk jadi memelotot.
Saya
auto teriak manggil suami. Saya minta baca ulang keterangan di kemasan. Benar kok,
dua garis artinya positif. Positif itu hamil.
Kami pelukan dan nangis bareng.
TAPIII, KOK BISA?!
Saya
nggak mual, nggak muntah. Tubuh saya biasa aja. Saya kerja kayak biasanya. Bedanya, saya ngantuk dan lapar terus.
Saya
akhirnya minta diantar Mamah ke bidan (Btw, rumah Mamah dan kontrakan saya
berdekatan). Kami datang ke dua bidan terdekat dan puskesmas, tapi semua
tutup karena memang kesiangan. Akhirnya nemuin satu bidan yang mau membukakan pintu. Saya
disuruh datang lagi besok pagi-pagi untuk testpack ulang dengan membawa sampel urine bangun tidur. Dan hasilnya
sama, positif.
Tapi, saya masih meragukan.
Nggak. Nggak mungkin. Mustahil.
Beberapa hari kemudian, begitu suami pulang kerja, saya minta diantar ke klinik untuk langsung nemuin obgyn. Rasanya tegang banget sekaligus takut kenapa-napa.
Setelah dicek kapan hari pertama hari
terakhir menstruasi, lalu dihitung usia kandungan. Sekitar 7-8 minggu, katanya.
Dan
akhirnya dipanggillah saya ke ruangan. Obgynya bukan yang biasa praktik, tapi
dokter pengganti. Beliau mulai melakukan USG.
Saat
saya lihat ada janin di layar lalu mendengar degup jantungnya… di sana saya
percaya bahwa saya hamil. Maasya Allah… Allahu Akbar.
Selesai
USG, saya akhirnya memberanikan diri nanya ke dokter, “Dok, kenapa saya hamil,
ya? Soalnya belum bisa berhubungan.”
“Lho?
Kok bisa? Tapi ya nggak apa-apa. Bagus, kan?”
Iya,
sih, alhamdulillah. Tapi pertanyaan kenapa selalu gagal berhubungan, nggak terjawab.
Saya dan suami masih penasaran.
Lalu
gimana akhirnya tahu vaginismus?
Itu
karena beberapa hari kemudian muncul flek. Katanya, biasa kok kalau muncul flek
di awal kehamilan, tapi saya parno karena beberapa teman keguguran setelah nge-flek.
Akhirnya saya kembali lagi ke klinik dan harus rutin kontrol. Sampai akhirnya dokter
yang menangani saya adalah Dokter Fitria (tadinya beliau cuti dan digantikan
dokter lain).
Dokter
Fitria khawatir ada luka di vagina, jadi harus dilakukan USG Transvaginal. Saya
nggak paham itu apa. Kaki saya dinaikkan ke alat dan waktu dokternya mengarahkan
alat USG ke kaki, saya auto menghindar. Paha saya langsung merapat. Dokter nggak
bisa melakukan pemeriksaan. Dua bidan menenangkan saya, juga suami dan Mamah
yang ikut masuk ruangan, tapi saya tetap nggak bisa diperiksa. Saya sampai
berkeringat, jantung berdegup kencang dan mulai menggigil.
“Pak, maaf ini kalau lagi berhubungan gimana?” tanya Dokter Fitria ke suami saya.
“Ya
nggak bisa, Dok. Makanya kami heran kenapa bisa hamil.”
Dokter
Fitria akhirnya bilang bahwa saya vaginismus dan pemeriksaan nggak bisa dilanjutkan
karena saya bisa trauma. Saya akhirnya turun dari bed dan jalan ke kursi
dengan gemetar. Inget banget rasanya kaki kayak jelly.
Dokter
Fitria lalu jelasin tentang vaginismus dan saya dirujuk ke temannya di RS
Limijati, yang bernama Dokter Robbi. Saya juga diberitahu akun Instagram
vaginismusindonesia. Dari akun tersebut, saya akhirnya tahu bahwa saya nggak aneh,
saya nggak sendirian, dan yang terpenting bahwa seorang vaginismus bisa
sembuh.
Jadi,
vaginismus itu apa?
Vaginismus
itu kondisi kakunya otot vagina sehingga nggak bisa melakukan penetrasi. Baik
itu penetrasi menggunakan jari, cotton bud, atau bahkan penis.
Penyebabnya nggak diketahui.
Apa vaginismus karena pikiran atau kondisi psikologis
seseorang? Jawabannya, nggak. Tapi, vaginismus bisa membuat orang jadi
terganggu psikologisnya.
Kalau Dokter Robbi menggunakan cara dilatasi berbantu untuk menyembuhkan pasien, saya sembuh lewat jalur dilatasi mandiri. Ada kok obgyn yang mengizinkan dilatasi mandiri, diantaranya Dokter Yeni @dsyeni dan Dokter Eighty @eighty.mk. Masih banyak dokter lainnya, bisa cek aja akun vaginismus.squad.
Dan
menurut saya, apa pun cara yang dilakukan selagi itu ada dasar dan izinnya sih
nggak masalah, ya. Nggak harus diperdebatkan pro dilban atau dilman, karena
bagi seorang vaginismus yang menjadi goal adalah sembuh.
Gimana
pengalaman hamil saat vaginismus dan dilatasi mandiri?
Insya Allah saya bakalan cerita lagi nanti.
Btw, saya nulis novel tentang vaginismus juga, lho. Doakan ya, mudah-mudahan jadi terbit tahun ini. Aaamiiin. Baca tiga bab pertama di sini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar