Jumat, 19 Juli 2024

Sembuh Vaginismus Lewat Dilatasi Mandiri

Vaginismua apa nggak bisa disembuhkan dengan obat?

Sejauh ini, yang saya dengar dari para dokter, belum ada obat untuk menyembuhkan vaginismus.

Vaginismus itu kan kondisi otot yang kaku, jadi gimana nih, buat ngobatinnya? Namanya dengan dilatasi. Kalau versi saya, mudahnya sih dilatasi itu semacam terapi untuk merenggangkan atau melenturkan otot. Menggunakan apa? Menggunakan dilator. Gambar dilator saya insya Allah nanti saya post menyusul, ya. Semoga nggak lupa.

Dilatasi itu ada dua: berbantu dan mandiri.

Dilatasi berbantu berarti pasien membutuhkan bantuan dokter untuk melakukan dilatasi. Pasien vaginismus derajat tinggi tuh jangankan dimasukkan sesuatu ke vagina, dipegang betis aja seringnya sudah meronta sampai menendang, jadi otomatis dia harus dibius total. So, dokter yang akan membantu dilatasi—disaksikan oleh suami pasien dan perawat.

Setelah itu, pasien diberi ‘PR’ untuk latihan dilatasi mandiri di rumah sampai akhirnya berhasil berhubungan intim dengan lancar dan nyaman. Saat berdilatasi, seorang vaginismus membutuhkan pelumas untuk memperlancar dilator masuk ke vagina. Supaya vagina nggak lecet. Bagaimanapun juga kan vagina itu area sensitif, ya.

 

Jadi, gimana awalnya bisa dilatasi mandiri?

Di awal tahun 2021 saya di-DM oleh akun Instagram @vaginismus.squad untuk bergabung dalam grup WhatsApp penyintas vaginismus. Saya yang memang pengen banget punya circle sesame vaginismus otomatis mau. Apalagi saya lihat akunnya memang memberikan info tentang vaginismus.

Singkat cerita, setelah saya gabung grup, saya heran karena saran untuk dilatasi mandiri dan banyak yang sembuh dengan lewat dilatasi mandiri—tanpa dilatasi berbantu terlebih dahulu. Ini sangat membantu orang-orang yang terkendala biaya untuk dilatasi berbantu yang di tahun 2021 kalau nggak salah kisaran 30-32 juta.

Waktu itu saya skeptis. Masa, sih? Memangnya boleh? Memangnya direkomendasikan dokter? Kalau kenapa-napa, siapa yang akan bertanggung jawab?

Ternyata, bukan hanya testimoni tentang dilatasi mandiri yang saya temukan di grup tersebut, tapi kami juga diberitahu bahwa ada obgyn-obgyn yang merekomendasikan dilatasi mandiri sebelum memutuskan untuk berbantu. Saya coba follow akun-akun dokternya, bahkan ikut live mereka yang membahas vaginismus. Dan akhirnya saya diskusi dengan suami, lalu… bismillah. Saya akan coba dilatasi mandiri dulu.

Saya pun membeli dilator 1-6 di marketplace. Harganya saya lupa. Waktu itu kayaknya kisaran 400 atau 600ribu gitu.

Btw, waktu itu saya dan suami sudah menabung untuk dilatasi berbantu dan baru terkumpul tiga juta rupiah. Masih jauh dari target, kan ya. Uang itulah yang dipakai untuk membeli dilator. Sisanya tetap ditabung, berjaga-jaga seandainya dilatasi mandiri gagal.

 

Latihan Dilatasi Mandiri

Nggak gampang untuk memulai latihan. SAYA TAKUT BANGET.

Selama beberapa hari saya cuma bisa arahkan dilator ke sekitar kaki dan paha.

Proses untuk memulai dilatasi yang dialami setiap orang berbeda-beda. Ada yang cepat, ada yang lambat. Dan saya termasuk yang lambat. Sangat lambat.

Saya sempat mikir untuk nyerah, tapi membayangkan harus nabung 28 juta lagi rasanya berat juga. Jadi akhirnya saya berusaha melawan rasa cemas itu sekuat tenaga.

Tapi ternyata benar, semua butuh waktu dan keyakinan. Didampingi oleh suami yang maasya Allah supersabar, akhirnya saya berhasil memulai dilatasi dengan dilator pertama—itu pun beberapa tahap.

Kalau diukur dengan jari, dilator no 1 seukuran dengan telunjuk saya. Pertama kali masuk, hanya ¼ dilator padahal rasanya udah kayak masuk semuanya. Segitu aja udah keringetan. Nantinya coba lagi, masuk ½ dilator. Terus dan terus sampai masuk semuanya.

Kalau saran teman-teman di grup, berdilatasi itu sebaiknya dilakukan:

1.    Setiap hari, pagi dan malam

2.    Sekali latihan durasinya bisa 30-45 menit

3.    Saat dilator berhasil masuk, biarkan selama 10 menit, lalu tarik-ulur pelan-pelan.

Tapi, karena situasi dan kondisi yang nggak memungkinkan, saya cuma bisa latihan saat malam. Itu pun nggak bisa setiap hari karena kadang ikut ketiduran ketika ngelonin anak yang masih bayi. Sekali latihan, saya nggak sanggup lebih dari 30 menit. Saya juga nggak pernah membiarkan dilator ada di miss V selama 10 menit karena rasanya nggak nyaman. Pokoknya semua saya lakukan senyamannya aja gitu.

Kalau kita udah berhasil satu tahapan dilator, untuk naik ke tahap berikutnya harus menunggu sampai nyaman.

Saya udah berhasil dilator 1, sebelum naik ke dilator 2, saya harus pastikan nyaman ketika latihan dengan dilator 1. Baru di kemudian hari saya mencoba dilator 2. Begitu seterusnya. Saya latihan dari dilator 1-6, baru akhirnya sembuh.

Ujian saat dilatasi mandiri

Latihan dilatasi saya tuh nggak rutin. Kalau teman-teman lain ada yang sembuh dalam waktu 2 pekan atau bulanan, saya justru 2 tahun. Wkwk. IYA. LAMA BANGET!

Apa ujiannya? Malas dan down.

Malas karena saya seringnya ketiduran ketika anak tidur, sementara kalau pagi udah sibuk ini itu. Belum sempat latihan, anak udah bangun.

Down karena begitu banyak teman sesame vaginismus yang sembuh dengan cepat, sementara saya lambat. Kadang saya bisa termotivasi membaca update siapa saja yang sembuh, kadang juga malah jadi down sampai pengen nyerah.

Saya mulai latihan di bulan Februari 2021 dan sampai bulan Juni 2021 berhasil sampai dilator 5. Banyak banget yang sembuh meski hanya sampai dilator 5, jadi saya nggak mau naik lagi.

Masalahnya, saya nggak rajin latihan. Jadi ketika memulai lagi, sedikit sulit, ya. Sulit dalam artian gini:

Kalau biasanya saya bisa dilator 1-5, ketika berbulan-bulan libur latihan, begitu memulai lagi saya hanya sanggup sampai dilator 2 atau 3 karena kurang nyaman (perih). Perih, ya. Bukan sakit. Beda.

Jadi, sejak 2021-2023, saya terus latihan (walau nggak rajin) dilator 1-5 sambil mencoba berhubungan. Dan selalu gagal. Saya juga keukeuh nggak mau naik dilator. Tapi, di bulan Oktober 2023 saya memberanikan diri menghubungi ex-VG yang udah sembuh dan juga jarang latihan karena punya anak. Saya curhat sekalian minta saran gimana biar berhasil penetrasi. Akhirnya saya mengikuti sarannya untuk naik ke dilator 6.

Dari Oktober 2023-Desember 2023 saya terus latihan walau bolong-bolong. Desember ke Januari saya nggak latihan karena lagi liburan ke Bandung, tapi di Januari apa yang selama ini kami tunggu-tunggu akhirnya berhasil. Saya sembuh. Alhamdulillah…

Jadi, untuk kalian yang lagi latihan dilatasi, tolong ingat ini:

PROSES YANG DIALAMI SETIAP ORANG BERBEDA-BEDA.

Jangan pernah samakan dengan orang lain karena setiap orang punya situasi dan kondisi yang berbeda juga. Bisa jadi si A cepat dan si B lambat.

Dan itu NGGAK APA-APA.

Dulu, ada semacam kalimat motivasi gitu di grup.

MENUNDA LATIHAN = MENUNDA KESEMBUHAN

Iya, memang betul, saya setuju. Tapi nggak bisa selalu dijadikan patokan. Saya bisa termotivasi dengan kata-kata itu, tapi ketika lagi-lagi mencoba berhubungan dan gagal, saya merasa dipojokkan karena kalimat itu seolah menuntut saya untuk sembuh dengan cepat.

Saya akan down, menyalahkan diri sendiri, membenci diri sendiri karena begitu lambat progresnya nggak seperti yang lain. Tapi setelah sembuh saya sadar bahwa memang nggak bisa semua disamaratakan.

SEKECIL APA PUN PROGRESNYA, TETAP HARUS DISYUKURI.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar