Minggu, 23 Juli 2017

Pengalaman Expert Writing Class di GWP 3

Expert Writing Class
Gramedia Writing Project Batch 3

Halooo... saya mau bercerita tentang Expert Class yang baru saya ikuti kemarin, 22 Juli 2017 yang bertempat di Jakarta Creative Hub, Jakarta Pusat.
Ini adalah sebuah pengalaman yang benar-benar menyenangkan dan istimewa buat saya karena bisa lolos seleksi tahap 1 dan 2 saat mengikuti Lomba GWP 3 serta bisa bertemu dengan para coach yang keren.
Siapa saja mereka? Apa saja yang diajarkan oleh masing-masing coach?


1.     Tere Liye
Siapa sih yang nggak tahu Tere Liye? Kayaknya yang nggak suka baca buku pun minimal pernah mendengar namanya. Yap, kemarin beliau menjadi coach dan memegang kelas Ide dan Karakter.
Dari penjelasan selama 45 menit kemarin saya mendapatkan beberapa inti:
-       Segala sesuatu di sekitar kita bisa menjadi ide
-       Penulis yang baik dapat melihat sesuatu dengan sudut pandang yang spesial
-       Jangan memasukkan karakter yang tidak dibutuhkan
-       Buat karakter yang diingat pembaca
Saya pikir, belajar dengan beliau akan menegangkan. Nyatanya nggak. Saya malah asyik dan dari penyampaian beliau saya merasa sangat tidak aneh karyanya selalu “meledak” di pasaran, terlepas ada orang yang suka dan tidak suka terhadap suatu buku tertentu.
Saya juga baru tahu bahwa beliau tidak menulis menggunakan outline. Dan menurut beliau, ini bukan hal yang harus diperdebatkan. Setiap penulis punya gaya masing-masing.

2.    Aan Mansyur
Sejujurnya ... saya baru tahu Aan Mansyur ini sejak di Instagram orang banyak mengunggah cover Tidak Ada New York Hari Ini. Saya pikir itu kumpulan cerpen, tapi ternyata puisi. 
Dan apakah di Expert Class beliau mengajarkan puisi? Nggak. Beliau mengajar tentang Narasi.
Dari penjelasan beliau, ada beberapa catatan. Sebenarnya cukup banyak sih, kalau di kelas Bang Tere Liye lebih ke praktik jadi catatannya nggak banyak, hehe.
Ini adalah yang sempat saya catat:
-       Satu kalimat harus membuat pembaca ingin membaca kalimat berikutnya
-       Setiap kalimat memiliki cerita
-       Dalam satu paragraf harus ada inti cerita dan terasa plotnya
-       Dalam satu paragraf ada tiga hal:
Bagian penting (1)
Bagian agak penting (2)
Bagian nggak penting (3)
Saat menulis, gunakan rumus: 2-3-1
-   Menulis ulang bukan hanya membuat tulisanmu menjadi bagus, tapi juga mengubahmu jadi penulis bagus. *Mantap!

3.    Rosi L. Simamora
Mbak Rosi ini dulunya editor di Gramedia Pustaka Utama, sekarang juga masih menjadi editor (kabarnya freelance?) sekaligus penulis. Di Facebook banyak sekali tips menulis yang saya dapatkan dan catat. Insya Allah kalau sedang senggang saya juga akan memasukkannya ke blog, seperti yang saya unggah sebelumnya, tentang 18 Langkah Menulis Novel.

Dalam acara Expert Class kemarin, Mbak Rosi memegang kelas Plot. Beliau menganalogikan seperti ini:
Rumah punya ruangan, cerita punya bab.
Rumah ada penghuni, cerita ada tokoh atau karakter.
Rumah punya alamat, cerita punya setting.
Dan rumah punya fondasi (penyangga), cerita punya plot.
Sudah kebayang kan, plot itu bagaimana?
Apa saja catatan saya di kelas Plot ini?
-       Plot nggak bisa dilihat, tapi bisa dirasa oleh pembaca yang peka.
-       Plot menyangga cerita dari awal sampai akhir
-       Dalam plot ada tiga bagian: awal, tengah (klimaks), dan akhir.
-       Plot berbicara tentang fokus cerita
-       Plot merangkum semua hal dalam cerita, mulai dari tokoh, setting, dan lain-lain.
-       Dalam plot, logika harus jalan, tidak boleh ada kebetulan.
-       Karakter harus berubah saat diberi konflik

4.    Hetih Rusli
Ada yang tahu Mbak Hetih Rusli? Beliau adalah editor Gramedia Pustaka Utama yang sempat saya pikir ... galak. *Maaf Mbak
Saat beliau datang saya sudah deg-degan tapi ternyata ... ceria sekaliii! Benar-benar menghibur dan belajar sama beliau itu nggak terasa waktunya. 45 menit serasa 10 menit. Asik banget!!
Beliau membahas tentang Editing. Yang sempat saya catat hanya sedikit karena lebih asyik melihat beliau berbicara karena seru!! 
-       Baca
Jangan malas membaca. Kalau seorang penulis malas baca, dia nggak akan punya waktu atau cara untuk menulis. Ini dikutip dari ucapan Stephen King. Dan pesan yang beliau sampaikan adalah: Baca di luar zona nyaman! Yap, ini yang sedang saya lakukan. 😉
-       Observasi
Penulis harus tahu kenapa dia menulis. Umumnya orang menjawab:
a.    Ingin mengisi kekosongan dalam jiwa
b.    Ingin mengeluarkan ide
c.     Ingin berbagi
-       Killing Your Darling!
Jangan masukkan yang “cuma kamu suka” ke tulisan kalau itu nggak penting. Hapus!!
-       Editing
Jangan malas ngedit!
-       Re-write
Nulis ulang itu penting, lho. Kalau kata Mbak Hetih, dengan menulis ulang kita bakalan sadar, “Tulisan gue busuk, ya!” 😂
Jadi jangan bosan menulis ulang sampai bener-bener yakin itu layak kirim.

5.    Bernard Batubara
Nah ... siapa sih, yang nggak tahu Abang satu ini? Banyak banget fansnya! Saya sendiri sudah baca novelnya yang Cinta. dan langsung suka dengan gaya menulisya. Bang Benz ini aktif banget di sosial media dan berbagi tentang bagaimana penulis seharusnya menggunakan sosial media.
-    Nggak semua penulis yang followersnya banyak tapi tulisannya biasa aja, maka buku itu laku di pasaran. Jadi nggak usah sedih untuk yang followersnya cuma 200an. *Bang, followers saya aja nggak sampai 20 gimana nggak sedih? 😢 Maklum, saya baru aktifin lagi Twitter sejak pertama kali bikin..
-    Jangan semua sosial media yang dipunya dijadikan alat untuk promosi. Nanti followers kalian bosan karena isinya itu-itu aja.
-       Untuk promosi buku, jangan ujug-ujug cover. Coba mulai dari quotes yang ada di buku itu, dan terakhir cover.
-       Pasang foto muka di media sosial. Ini penting karena banyak pembaca yang pengin tahu wajah penulisnya. *Saya yang ini ragu soalnya malu 😂
-       Jangan malu mengakui diri sebagai penulis. Tulis di bio kalau kamu penulis.
-    Dua hal yang harus diingat, harus responsif dan reaktif sama pembaca. Responsif berarti ramah pada mereka, balas mention atau sekadar like. Reaktif berarti nggak langsung merespons saat ada yang nggak suka sama tulisan kita. Biarkan saja karena itu masalah selera.
-   Penulis harus siap dengan kenyataan dicaci maki saat ada yang nggak suka karyanya

Okeee, itu adalah pelajaran yang saya dapatkan dalam acara kemarin. Bangun tidur barusan rasanya kayak mimpi udah ketemu sama para coach keren. Btw saya nggak punya foto kegiatan kemarin karena kondisi hape yang ... nggak cukup layak untuk foto di dalam ruangan. Sempet sedih sih, liat yang lain foto-foto, tapi ya sudahlah. Nanti saya coba minta foto dari peserta lain untuk dimasukkan ke blog ini, ya.
Dan ... di Expert Class ini pesertanya nggak cuma dari Jakarta, lho. Bahkan ada dari Surabaya, Jogja, Malang, Solo, Padang, Pekanbaru, Medan, Jambi, Makassar, Pontianak, sampai Samarinda. Dan siapa pemenang GWP 3???

Bukan, bukan saya, hahaha... mereka adalah...
Juara 1: M. Dwipatra (Jawa Tengah)
Juara 2: Indah Erminawati (Jawa Tengah)
Juara 3: Vevina Aisyahra (Jambi)
Harapan 1: Lia Isvaricha Nurida (Banten)
Harapan 2: Anastasye Natanael (Banten)


Selamat ya buat para pemenang GWP 3. Alhamdulillah saya sama sekali nggak sedih dan kecewa kemarin, soalnya sempat baca beberapa punya peserta lain yang oke. Jadi sadar diri, hahaha. Yang jelas saya nggak akan berhenti nulis dan pengalaman kemarin pastinya nggak akan terlupakan. 💕

Jumat, 21 Juli 2017

18 Langkah Menulis Novel

18 Langkah Menulis Novel
oleh: Rosi L. Simamora

   Kalian suka menulis? Ingin menulis novel? Berikut ini adalah 18 langkah yang saya dapatkan dari akun Facebook Mbak Rosi L. Simamora.

Baca buku sebanyak-banyaknya. Kualitasmu banyak tergantung dari mutu bacamu.
Kalimat ini selalu saya ingat baik-baik karena saya pengin tulisan saya berkualitas. Dan akhirnya saya mulai memilih bacaan yang sekiranya bisa saya pelajari, bukan cuma untuk menghibur. Tapi saya juga kadang membaca buku untuk hiburan kok.

Sediakan waktu untuk menulis. Jangan menulis menuruti mood.
Apa kalian termasuk penulis moody? Kalau iya, saya juga mungkin (?). Saya nggak tahu sih termasuk penulis moody atau bukan. Ada saatnya saya tidak menulis karena ingin membaca seharian. Ada juga saatnya saya mencari buku untuk membantu saya menulis, dan ada saatnya saya nggak nulis tanpa alasan jelas. Apa ini termasuk moody

Kenali pembaca dan pasar
Kalau sasaran saya sih biasanya 16-20 tahunan. Ya jenis teenit atau Young Adult gitu. Pernah coba untuk 21-28, tapi kayaknya kurang sreg sih. Lebih nyaman remaja, hehe..

Kembangkan dulu ide sebelum dituliskan
Nah ini nih, kadang saya muncul ide langsung bikin draft baru dan akhirnya terbengkalai. Nggak bisa dicatat dulu karena saya punya rasa takut buku catatan diintip orang, hahaha. Tapi kayaknya mulai sekarang mesti dicatat dulu deh.

Tulis dalam satu kalimat, ceritamu tentang apa? Tentukan pertanyaan besar yang dituju plot atau ceritamu.
Saya biasanya nggak sampai ditulis, langsung aja bablas. Dan kayaknya itu yang bikin tulisan saya sering kali ngalor-ngidul dan lupa tujuan awal. 

Ciptakan karakter
Seringkali saya menulis saat menemukan satu karakter yang “pantas” diungkap dan nggak pakai riset kenapa dia begini-begitu. Jadinya nggak logis karakternya. Tapi sekarang-sekarang saya mulai coba untuk konsisten dengan membuat catatan karakter, jadi kalau melenceng bisa saya ubah. Setelah naskah selesai kadang saya merasa karakter kurang kuat, dan sepertinya saya masih harus banyak belajar.

Bangun latar (karakter, tempat, waktu)
Ini yang cukup sulit buat saya, terutama latar tempat. Dalam membuat narasi, rasanya saya terlalu kaku dan nggak “keluar”. Deskripsi tempat seadanya dan membuat tulisan nggak hidup. Jadinya banyak dialog. Hahaha. Saya harus banyak belajar lagi supaya bisa seimbang.

Susun plot, tambahkan sub-plot
Ini penting banget lho, Teman. Supaya nggak terjadi plot yang bolong. Kayak gimana plot bolong itu? Kalau saya sih bayanginnya gini: Saya membaca buku. Tokohnya mengalami banyak kejadian, tapi ada yang belum selesai atau belum jelas dari kejadian itu. Mengambang, membuat kita bertanya-tanya. Bener nggak ya bayangan saya? Hihi. Maaf kalau salah.

Tentukan POV (POV pertama membuat cerita lebih dalam, POV ketiga membuat cerita lebih luas)
POV mana yang lebih kamu suka? Kalau saya POV ketiga. Pernah coba pakai POV pertama kok rasanya nggak ada yang mau “diomongin”. XD

Tulis draft pertama sampai selesai
Hayooo ... siapa yang draft-nya nggak beres-beres malah numpuk di lappy? Saya!! Hahaha. Saya belum bisa konsisten untuk ngerjain satu naskah lalu beresin. Saya masih sering kena penyakit “muncul ide-buat naskah baru”.

Cek POV apakah sudah tepat?

Cek plot

Cek karakter

Cek setting

Cek tema

Edit dan revisi. Buang yang tidak perlu.
Saya termasuk yang nggak tegaan untuk buang yang nggak perlu. Makanya, kadang kalau revisi nggak beres-beres karena saya maunya yang begitu. Tapi saya mulai belajar untuk bikin file draft sebagai tempat “pembuangan” yang nggak perlu. Dan ini membantu sekali. Serius. Waktu saya nulis naskah GWP3 dan suatu saat bingung melanjutkan, saya buka file “pembuangan” lalu dapat ide, masuk-masukin lagi yang dibuang dan diganti sana-sini.

Poles lalu cek typo
Ini penting nih, Teman. Jangan sampai halaman-halaman awal kalian banyak typo. Dijamin editor males lanjutin meski sebenernya menarik. (Curcol proofreader yang bete karena lihat banyak typo. Hahaha.)
Tapi saya nggak bisa salahkan juga tentang typo ini. Kalau lihat dari sisi sebagai penulis, typo ini nyebelin banget! Adaaa aja yang terlewat. Kadang saya mengakalinya dengan pakai zoom waktu self-editing. Tapi kadang tetep aja sih, suka ada yang lolos. 😑😑

Kirim!
Untuk ngirim ini saya sering galau juga. *halah
Saya bingung kirim ke mana ya? Penerbit mana ya? Yang sering jadi pertimbangan adalah, kira-kira ada konfirmasi nggak ya? Kira-kira bakalan digantung kayak yang dulu-dulu nggak ya? Itu, sih.
Tapi akhirnya kita bakalan ngerasa ... sebutlah “sesuatu” yang bikin kita akhirnya milih penerbit “itu”. Setelah kirim, ya kita harusnya berdoa dan bersabar menunggu sambil menulis naskah lain. Tapi kadang saya malah kepikiran pengin revisi.. *lho baru aja kirim, haha.. 😂
Sekarang sih saya coba untuk menahan keinginan itu dan kerjain naskah lain.
Saat ini ada satu naskah saya yang selama tiga tahun digantung penerbit ternama. Saya udah dua kali nanya sama editornya sih katanya nanti dikabarin. Tapi nggak ada kabar sampai tahun lalu saya menyerah bertanya dan nggak mau diblacklist karena bawel, wkwkwk. Sudahlah ya, mungkin ditolak.
Intinya, setelah kirim kalian jangan diam aja. Nulis lagi!

Nah, itu tips dari Mbak Rosi yang saya dapatkan. Awalnya saya cuma tulis di buku catatan sih, tapi rasanya pengin berbagi juga sama yang lain. Siapa tahu bermanfaat. 😊 

Selasa, 18 Juli 2017

My "Babies"


Judul: I Feel You
Penyunting: Adi Prasetya
Desain Sampul: Sugeng
Penerbit: Media Pressindo
Tahun terbit: 2013
Jumlah halaman: 200 halaman
ISBN: 978-979-911-275-0






Judul: Karena Diriku Bukan Dirinya
Penerbit: BIP (Kompas Gramedia)
Tahun terbit: 2017 (format digital Scoop)
Jumlah halaman: 266 halaman

Kamis, 06 Juli 2017

[Review] Siluet



Judul: Siluet
Penulis: Resti Dahlan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 208 halaman
Tahun terbit: 2017

Blurb

Rea yang cuma tertarik untuk belajar dan bekerja harus menghadapi tingkah Kaley yang menyebalkan. Meski sudah berusaha menghindar, selalu ada kejadian yang mengharuskannya bertemu atlet renang itu. Hidup Rea yang sudah terjadwal pun nyaris berantakan karena ulah Kaley.
Lalu tiba-tiba hadir murid baru bernama Galen yang membuat gempar SMA Galariksa. Meski banyak mendapat banyak perhatian dari para siswi, cowok genius itu tampaknya cuma tertarik sama Rea dan benar-benar berusaha mendekati cewek yang terkenal arogan itu.
Kalau diganggu Kaley adalah petaka, didekati Galen adalah musibah bagi Rea. Masalahnya, Rea harus menghadapi petaka dan musibah secara berbarengan!
Namun, ternyata kegigihan Galen mendekati Rea membuat cewek itu membuka diri. Saat mereka mulai dekat, Rea harus menghadapi fakta mengenai asal-usul dua cowok itu dan masa lalunya sendiri. Hal itu membuat Rea sadar bahwa sejauh apa pun dia berlari, bayang-bayang masa lalu akan tetap menjadi siluetnya.

Cuplikan Kisah dan Review

Agar dapat kuliah di kampus incarannya dengan beasiswa penuh, Galen menerima misi yang diberikan Fensy dan Ravana untuk pindah ke SMA Galariksa, di mana Kaley, adik Galen, juga bersekolah di sana. Misi yang harus dijalankan Galen terdengar mudah, yaitu membujuk Rea untuk kembali ke keluarganya. Dia tidak menyangka ternyata Kaley memiliki masalah dengan Rea. Jelas itu mempersulit usahanya untuk menjalankan misi rahasia yang diemban.
Rea adalah salah satu siswi SMA Galariksa yang mendapatkan beasiswa dari sekolah dan mendapat julukan “anak bea” dari teman-temannya. Sifatnya yang introvert namun arogan membuat Rea tidak disukai banyak orang. Sambil bersekolah, Rea juga bekerja sambilan dan mengurusi Alda (sahabatnya) yang sedang koma. Selain Alda, sahabat Rea adalah Wibi. Diceritakan Rea bisa dekat dengan mereka karena mereka bertiga sama-sama penerima beasiswa.
Galen yang sudah pindah ke SMA Galariksa berusaha mendekati Rea perlahan. Berkali-kali Rea mengabaikannya namun akhirnya, berkat bantuan Fensy, gadis itu mulai membuka diri.
Kisah terus berlanjut sampai akhirnya Rea akrab dengan Galen dan Kaley. Biasanya, Rea dan Kaley selalu bertengkar. Tetapi suatu kejadian membuat pertengkaran berkurang, malah berganti dengan hubungan manis yang lucu.
Sama seperti membaca Mahardikans, novel ini membuat pembaca bertanya-tanya ke mana cerita akan dibawa. Ibaratnya seperti novel detektif. Sampai 11 bab, saya merasa baik-baik saja membaca novel ini. Yakin akan menemukan sesuatu menarik seperti pada Mahardikans. Tetapi entah kenapa lambat laun saya mulai merasa tidak nyaman karena potongan-potongan cerita yang terlalu cepat. Seperti menonton film, sedang seru, dipotong iklan. Sekali-dua kali, tidak masalah, tapi kalau terlalu sering jadinya kurang enak. *maaf Resti
Kedekatan Rea dengan Galen, dan Rea dengan Kaley pun saya rasa terlalu cepat. Kalau saya jadi Rea, lalu cowok yang selalu ngajak perang tiba-tiba minta saya nemenin dia, nggak akan saya terima, hihihi. Ketika Rea menerima permintaan Kaley itu saya jadi merasa ... "Oh, dia nggak segalak dan searogan itu rupanya."
Kemunculan Rexy secara tiba-tiba di bab 19 (semuanya ada 25 bab), konflik antara Rea-Merry, peran Wibi yang sekilas, lalu bagian Galen-Alda, sangat disayangkan. Kesannya tidak natural dan jadi seperti tempelan. *maaf lagi Resti..
Ketika Rea mendatangi Ravana lalu Rexy tiba-tiba muncul pun saya rasa terlalu cepat. Saya juga tidak menemukan kejelasan sikap Ravana. Bagian ini benar-benar tidak saya pahami. T.T
Dan lagi, kalau menurut saya, menebak hubungan Galen dengan Kaley lebih sulit dibandingkan menebak hubungan Rea dan Rexy. Tapi yang terjadi dalam novel ini malah sebaliknya.
Bukan hanya itu, beberapa kesalahan juga saya temukan dalam novel ini. Yang sempat saya tandai ada pada halaman 54, di mana tertulis finding machine, sementara yang saya tahu seharusnya vending machine. Lalu pada halaman 154 terdapat pengulangan kata “justru”. Pada halaman 163 pengulangan kata “yang”. Sebenarnya ada lagi, tapi saya lupa menandai. *cari proofreader Siluet
Sayang sekali. Ekspektasi saya terlalu tinggi pada novel ini. Meski begitu, saya tidak menyesal membeli dan membaca Siluet. Saya menyukai gaya menulis Resti sejak gabung di grup Facebook KANOI dan selalu berharap dapat membaca karyanya lagi dan lagi.
Jujur saja, dibandingkan Mahardikans, ide novel ini lebih segar, covernya juga sangat keren. Tapi secara keseluruhan, saya pribadi lebih suka Mahardikans.

Quotes

Uang kan nggak bakalan jatuh dari langit! Makanya lo harus usaha, bukannya tidur-tiduran. (hal. 23)

Nggak perlu kenal seseorang seumur hidupnya atau bertahun-tahun buat tahu dia baik atau nggak. Kata hati biasanya benar. (hal. 53)

Kalau kita terlalu fokus dengan kesalahan dan kekurangan orang lain, kita jadi buta sama kesalahan dan kekurangan kita sendiri. (hal. 113)

Rating

Cover: 4/5
Tema: 4/5
Karakter: 3/5
Plot: 3/5
Gaya bahasa: 4/5
Overall: 3/5


[Review] Mahardikans



Judul: Mahardikans
Penulis: Resti Dahlan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 280 halaman
Tahun terbit: 2017

BLURB

“Pertama, nggak ada yang boleh tau tentang hubungan kita. Kedua, jangan ajak gue ngobrol di sekolah. Dan ketiga, terserah lo mau berteman sama siapa aja di sekolah. Asalkan ... dia bukan anak IIS.”

Kekey sudah menduga kehidupannya akan semakin suram karena terpaksa satu sekolah dengan Elgo, musuh bebuyutannya. Tapi dia tidak menyangka rasanya akan seneraka ini. apalagi setelah ia bertemu Arky, seniornya yang super ramah dan Zammar, artis idolanya sejak kecil yang ternyata anak IIS.

Ditambah lagi permusuhan dua kubu SMA Mahardika. Elgo, Derrick, Endru, dan Abim dari kubu MIA. Sedangkan Arky, Zammar, Kevin dari kubu IIS. Kekey yang tidak tahu apa-apa mendadak terseret ke dalam pusaran pelik itu.

Apa yang harus Kekey lakukan?

Cuplikan Kisah dan Review

Cerita dimulai ketika Kekey masuk SMA Mahardikan. Di hari pertama bersekolah, Kekey melihat kerumunan di lapangan sekolah. Dia berusaha untuk mencari tahu apa yang terjadi dan ternyata Elgo (musuh bebuyutannya) sedang “bermain-main” dengan tas siswa yang tidak mengikuti kegiatan LOS (Layanan Orientasi Siswa, dulu MOS). Kekey yang geram pun maju untuk mengambil tas yang dilempar ke ring basket itu. Dengan menggunakan tongkat, Kekey berusaha membuat tas itu jatuh, namun selalu gagal. Sampai akhirnya Arky datang membantu.
Melihat interaksi Kekey dan Arky, Elgo kesal. Dia pun mengingatkan Kekey tentang peraturan ketiga, bahwa Kekey tidak boleh berteman dengan anak IIS. Arky berasal dari IIS, otomatis Kekey wajib menjauhi.
Aneh kan? Musuh bebuyutan tapi memberi peraturan yang Kekey terpaksa ikuti? Memangnya siapa sebenarnya Elgo dan kenapa Kekey menurut? Penasaran? :D
(Yap, yang memberi peraturan aneh itu Elgo. Sebenarnya saya tidak mau mengungkap ini tapi agak sulit mereviewnya kalau ditutup-tutupi. Maaf Resti. ^^)
Meski sadar kalau seharusnya Kekey menjauh dari Arky, nyatanya mereka selalu bertemu kembali. Terlebih ketika Kekey mengenal Zammar, sahabat Arky dan juga artis yang diidolakan Kekey sejak kecil. Kekey semakin tidak punya alasan untuk menjauhi mereka. Tidak peduli dengan peraturan Elgo.
Kisah terus berlanjut sampai akhirnya konflik semakin pelik. Ternyata Kekey-Elgo-Arky-Zammar memiliki keterkaitan.
Membaca novel ini seperti membaca novel detektif. Penuh dengan teka-teki. Sebagian orang mengatakan bingung di bagian awal dengan masalah-masalah yang muncul, tetapi karena saya sempat membaca cuplikan bab awalnya, saya tahu bahwa saya hanya perlu bersabar karena yakin akan ada kejutan. ^^
Walaupun termasuk kategori teenlit, tetapi novel ini bukan sekadar cinta-cintaan anak remaja. Malah bisa dibilang bagian percintaan hanya sedikit. Novel ini lebih dalam lagi. Tentang persahabatan dan keluarga.
Tokoh tambahan yang sangat banyak—terutama saat Kekey baru masuk kelas dan banyak yang bertanya padanya tentang kejadian di lapangan. Kebanyakan dari mereka hanya muncul sekali dan setelahnya hilang. Sangat disayangkan.
Meski demikian, karakter Kekey-Elgo-Arky begitu kuat sampai-sampai saya merasa mereka nyata. Hanya saja, saya agak kurang sreg dengan tokoh Zammar, yang awalnya diceritakan sebagai cowok dingin, namun saat di sekolah dan berinteraksi dengan Kekey, sikap itu tidak terasa. Dia malah terkesan ramah seperti Arky.
Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, novel ini seperti novel detektif, membuat pembaca terus menerka-nerka apa hubungan Kekey-Elgo-Arky-Zammar. Konfliknya cukup pelik, namun terselesaikan dengan baik meskipun terasa sangat cepat.
Dan sayangnya, sampai ending saya masih memiliki banyak pertanyaan tentang novel ini. Mengapa sepertinya guru tidak ada yang bisa bersikap tegas pada Elgo cs? Pak Dirga bahkan membiarkan Kekey berusaha menurunkan tas dari ring dan yang menolongnya adalah Arky, bukan Pak Dirga, guru di sekolah itu.
Lalu, sebenarnya apa masalah anak MIA dan IIS yang selalu bermusuhan? Saya mungkin terlewat informasi penting tentang hal ini.
Kenapa Tante Diba bisa bertindak “seperti itu” pada Kekey padahal dia tahu Kekey adalah orang yang penting dalam hidupnya? Memang, disebutkan alasannya, tapi kok saya kurang bisa menerima. L
Meski begitu, secara keseluruhan saya sangat menyukai novel ini karena beda dari novel teenlit lainnya yang pernah saya baca.  ^^

QUOTES

Sekeras apa pun dicari, walau di depan mata, nggak akan ketemu kalau memang bukan kehendak Tuhan. Sekecil apa pun, walau di tempat terpencil, bakal terlihat kalau memang kehendak Tuhan. (hal. 238)

Lo punya kendali penuh atas diri lo sendiri. Lo bisa milih, mau hancur atau bangkit. (hal. 257)

RATING

Cover: 3.5/5
Tema: 4/5
Karakter tokoh: 4/5
Gaya bahasa: 4/5
Plot: 4/5

Overall: 4/5