Kamis, 06 Juli 2017

[Review] Siluet



Judul: Siluet
Penulis: Resti Dahlan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 208 halaman
Tahun terbit: 2017

Blurb

Rea yang cuma tertarik untuk belajar dan bekerja harus menghadapi tingkah Kaley yang menyebalkan. Meski sudah berusaha menghindar, selalu ada kejadian yang mengharuskannya bertemu atlet renang itu. Hidup Rea yang sudah terjadwal pun nyaris berantakan karena ulah Kaley.
Lalu tiba-tiba hadir murid baru bernama Galen yang membuat gempar SMA Galariksa. Meski banyak mendapat banyak perhatian dari para siswi, cowok genius itu tampaknya cuma tertarik sama Rea dan benar-benar berusaha mendekati cewek yang terkenal arogan itu.
Kalau diganggu Kaley adalah petaka, didekati Galen adalah musibah bagi Rea. Masalahnya, Rea harus menghadapi petaka dan musibah secara berbarengan!
Namun, ternyata kegigihan Galen mendekati Rea membuat cewek itu membuka diri. Saat mereka mulai dekat, Rea harus menghadapi fakta mengenai asal-usul dua cowok itu dan masa lalunya sendiri. Hal itu membuat Rea sadar bahwa sejauh apa pun dia berlari, bayang-bayang masa lalu akan tetap menjadi siluetnya.

Cuplikan Kisah dan Review

Agar dapat kuliah di kampus incarannya dengan beasiswa penuh, Galen menerima misi yang diberikan Fensy dan Ravana untuk pindah ke SMA Galariksa, di mana Kaley, adik Galen, juga bersekolah di sana. Misi yang harus dijalankan Galen terdengar mudah, yaitu membujuk Rea untuk kembali ke keluarganya. Dia tidak menyangka ternyata Kaley memiliki masalah dengan Rea. Jelas itu mempersulit usahanya untuk menjalankan misi rahasia yang diemban.
Rea adalah salah satu siswi SMA Galariksa yang mendapatkan beasiswa dari sekolah dan mendapat julukan “anak bea” dari teman-temannya. Sifatnya yang introvert namun arogan membuat Rea tidak disukai banyak orang. Sambil bersekolah, Rea juga bekerja sambilan dan mengurusi Alda (sahabatnya) yang sedang koma. Selain Alda, sahabat Rea adalah Wibi. Diceritakan Rea bisa dekat dengan mereka karena mereka bertiga sama-sama penerima beasiswa.
Galen yang sudah pindah ke SMA Galariksa berusaha mendekati Rea perlahan. Berkali-kali Rea mengabaikannya namun akhirnya, berkat bantuan Fensy, gadis itu mulai membuka diri.
Kisah terus berlanjut sampai akhirnya Rea akrab dengan Galen dan Kaley. Biasanya, Rea dan Kaley selalu bertengkar. Tetapi suatu kejadian membuat pertengkaran berkurang, malah berganti dengan hubungan manis yang lucu.
Sama seperti membaca Mahardikans, novel ini membuat pembaca bertanya-tanya ke mana cerita akan dibawa. Ibaratnya seperti novel detektif. Sampai 11 bab, saya merasa baik-baik saja membaca novel ini. Yakin akan menemukan sesuatu menarik seperti pada Mahardikans. Tetapi entah kenapa lambat laun saya mulai merasa tidak nyaman karena potongan-potongan cerita yang terlalu cepat. Seperti menonton film, sedang seru, dipotong iklan. Sekali-dua kali, tidak masalah, tapi kalau terlalu sering jadinya kurang enak. *maaf Resti
Kedekatan Rea dengan Galen, dan Rea dengan Kaley pun saya rasa terlalu cepat. Kalau saya jadi Rea, lalu cowok yang selalu ngajak perang tiba-tiba minta saya nemenin dia, nggak akan saya terima, hihihi. Ketika Rea menerima permintaan Kaley itu saya jadi merasa ... "Oh, dia nggak segalak dan searogan itu rupanya."
Kemunculan Rexy secara tiba-tiba di bab 19 (semuanya ada 25 bab), konflik antara Rea-Merry, peran Wibi yang sekilas, lalu bagian Galen-Alda, sangat disayangkan. Kesannya tidak natural dan jadi seperti tempelan. *maaf lagi Resti..
Ketika Rea mendatangi Ravana lalu Rexy tiba-tiba muncul pun saya rasa terlalu cepat. Saya juga tidak menemukan kejelasan sikap Ravana. Bagian ini benar-benar tidak saya pahami. T.T
Dan lagi, kalau menurut saya, menebak hubungan Galen dengan Kaley lebih sulit dibandingkan menebak hubungan Rea dan Rexy. Tapi yang terjadi dalam novel ini malah sebaliknya.
Bukan hanya itu, beberapa kesalahan juga saya temukan dalam novel ini. Yang sempat saya tandai ada pada halaman 54, di mana tertulis finding machine, sementara yang saya tahu seharusnya vending machine. Lalu pada halaman 154 terdapat pengulangan kata “justru”. Pada halaman 163 pengulangan kata “yang”. Sebenarnya ada lagi, tapi saya lupa menandai. *cari proofreader Siluet
Sayang sekali. Ekspektasi saya terlalu tinggi pada novel ini. Meski begitu, saya tidak menyesal membeli dan membaca Siluet. Saya menyukai gaya menulis Resti sejak gabung di grup Facebook KANOI dan selalu berharap dapat membaca karyanya lagi dan lagi.
Jujur saja, dibandingkan Mahardikans, ide novel ini lebih segar, covernya juga sangat keren. Tapi secara keseluruhan, saya pribadi lebih suka Mahardikans.

Quotes

Uang kan nggak bakalan jatuh dari langit! Makanya lo harus usaha, bukannya tidur-tiduran. (hal. 23)

Nggak perlu kenal seseorang seumur hidupnya atau bertahun-tahun buat tahu dia baik atau nggak. Kata hati biasanya benar. (hal. 53)

Kalau kita terlalu fokus dengan kesalahan dan kekurangan orang lain, kita jadi buta sama kesalahan dan kekurangan kita sendiri. (hal. 113)

Rating

Cover: 4/5
Tema: 4/5
Karakter: 3/5
Plot: 3/5
Gaya bahasa: 4/5
Overall: 3/5


Tidak ada komentar:

Posting Komentar