Minggu, 22 Januari 2017

[Review] Hatiku Memilihmu


Judul buku: Hatiku Memilihmu
Penulis: Arumi E
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 298 halaman

Blurb

Dara Paramitha melepaskan pandangannya ke hamparan salju di Central Park. Ingatannya kembali pada dua setengah tahun lalu. Saat pertama kali bertemu Aisyah Liu, teman kuliahnya di New York yang telah menuntunnya menemukan hidayah. Lalu ingatannya beralih pada dua pemuda Amerika yang telah membuatnya merasakan getaran cinta, Richard Wenner sang arsitek mapan, dan Brad Smith personel band yang menawan.

Masa kuliahnya telah berakhir. Saatnya dia kembali ke negerinya, meninggalkan kota ini. Memilih mengabdikan ilmunya di perusahaan ayahnya. Menyisakan resah di hati dua pemuda yang sama-sama mengharapkan cintanya.

Richard tak ingin menyerah. Dia nekat menyusul Dara, sengaja bekerja di tempat yang sama, dan mencari kesempatan meraih hati gadis itu. Di belahan bumi lainnya, Brad tak bisa tenang. Kepergian Richard ke Jakarta membuatnya waswas, apalagi Richard secara terbuka menyatakan diri sebagai pesaingnya. Tak mau kalah, Brad pun mendatangi Dara dan melamarnya sekali lagi.

Kala hati tidak hanya bicara cinta, siapa yang Dara pilih? Apakah Brad yang tengah tertatih-tatih menjaga imannya, ataukah richard yang tenang namun serius berusaha mendapatkannya? Dan saat ada hati yang terluka, masih mungkinkah terjalin pertemanan di antara mereka?

Review

Novel ini bercerita tentang Dara Paramitha yang sudah menyelesaikan kuliahnya di Universitas Colombia dan kembali ke Indonesia untuk bekerja di perusahaan ayahnya. Bukan hanya harus berpisah dengan tiga sahabatnya, Aisyah, Keira dan Richard, dia juga terpaksa berpisah dari Brad, laki-laki yang dicintai dan juga mencintainya.

Jelas semua tidak mudah. Ada rasa takut di hati Dara meninggalkan Brad, dan ada cemburu yang besar di dalam diri Brad. Namun Dara menyerahkan semuanya kepada Allah. Bagaimana dia dan Brad di masa depan, semua masih rahasia. Lagi pula mereka tidak terikat hubungan sama sekali. Hanya tahu saling mencintai.

Brad adalah pemuda mualaf yang berprofesi sebagai pianis. Dia sudah pernah melamar Dara, namun gadis itu tidak memberikan kepastian. Ditinggal Dara ke Indonesia membuatnya merasa semakin tidak tenang. Apalagi saat Richard, sahabat Dara yang juga teman Brad, memutuskan untuk bekerja di Indonesia, di perusahaan ayah Dara.

Brad dan Richard memang berkompetisi untuk memenangkan hati Dara. Meski Dara sudah memilih Brad, tapi tetap saja laki-laki itu tidak tenang karena Richard bisa bertemu setiap hari dengan Dara sementara dia tidak. Dan kemungkinan Richard akan membuat Dara berpaling sungguhlah besar mengingat Richard adalah muslim yang alim. Untuk itu dia nekat datang ke Indonesia meski hanya beberapa hari.

Tidak mau menunda-nunda, dia pun menemui orangtua Dara dan melamar gadis itu. Dia berjanji akan datang setelah Idul Fitri.

Sementara itu, Richard sendiri mengakui bahwa yang dilakukannya ini (pindah ke Indonesia) adalah 
salah satu strateginya untuk mendekati Dara. Tapi sepertinya pendirian gadis itu tidak bisa diubah: tetap memilih Brad. Richard bukan tipe orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu, jadi dia hanya menunggu. Menunggu jika Brad tidak segera menikahi Dara, dia yang akan maju melamar. Apalagi melihat setelah lewat Idul Fitri Brad tidak juga muncul. Dia mulai berharap.

Ini adalah karya Arumi E yang ke sekian yang saya baca. Novel yang  incar sejak lama dan alhamdulillah saya dapatkan ketika menikah. Novel yang termasuk dalam seserahan. ^^  

Novel ini benar-benar khas Arumi. Mengalir dengan tenang. Meski temponya lambat, tetapi tetap berkesan. Bertema cinta segitiga, bercerita tentang hubungan jarak jauh. Tema yang sangat umum ini disajikan dengan cara yang berbeda oleh penulis. Sangat islami.

Setiap tokoh memiliki porsi yang pas. Tidak ada yang terlalu sedikit atau terkesan tempelan. Ini sangat penting mengingat banyak penulis yang membuat tokoh dan menghilangkannya begitu saja. Arumi tidak melakukan itu. Dia membuat tokoh-tokoh dalam novel ini berperan penting.

Sudut pandang (POV) yang digunakan penulis dalam novel ini adalah sudut pandang orang ketiga serbatahu. Membuat pembaca bisa dengan mudah mengetahui apa yang ada dirasakan dan dipikirkan oleh tokoh. Gaya bahasa yang digunakan juga ringan. Terdapat sedikit bahasa Inggris di dalam novel ini yang saya rasa mudah dimengerti dan tidak membuat kita malah sibuk mencari kamus.

Yang menjadikan kelebihan dari novel ini adalah nilai-nilai islami yang disajikan dengan sangat lembut serta kisah cinta yang manis serta romantis.

Sementara itu, kekurangannya adalah karakter yang terlalu sempurna. Terutama pada tokoh Dara dan Richrad. Dan lagi, mungkin ini bukan bagian penulis, tetapi menurut saya blurb novel ini terlalu transparan. Mungkin bisa dibuat lebih misterius. Hihihi.

Ah, saking nyamannya membaca novel ini saya malah melewatkan hal penting, yaitu lupa menandai quotes keren. Ada banyak quotes menarik dalam novel ini. Satu yang sempat saya ingat, tetapi saya lupa di halaman berapa:
“Cinta itu membebaskan.”


Untuk novel istimewa ini, saya berikan 3 bintang. : )

Selasa, 17 Januari 2017

2016? Baca Buku Apa Aja?

Nggak tau kenapa tiba-tiba pengin tau dalam setahun selesai baca berapa buku. Insya Allah mulai tahun ini mau catat buku apa aja yang selesai dibaca. Mudah-mudahan sih nggak terhenti di tengah jalan, ya. :D

Dan, ini dia buku-buku yang saya baca di tahun 2016.

Januari
  1. Totto-chan (re-read)
  2. Daddy Long Legs (terjemahan)
Februari
  1. Only You
  2. Triangular Labyrinth by Lommie Ephing
  3. Raksasa dari Jogja by Dwitasari
  4. Maya Maia by Devania Annesya
  5. The Stolen Years (terjemahan)
  6. Ai by Winna Efendi
  7. Last Foverer by Windry Ramadhina
  8. A Week Long Journey
Maret 
  1. Posesif by Christina Juzwar
  2. Meragu by Indah Hanaco
  3. The Frog Princess (terjemahan)
  4. Jodoh Untuk Naina by Nima Mumtaz
  5. Sequence
  6. Cinta Masa Lalu by Nima Mumtaz
  7. Akulah Arjuna by Nima Mumtaz
  8. Cinta Valenia by Arumi E
  9. Cruise Chronicle 
  10. Stay with Me Tonight (via IJak)
  11. Selamanya Cinta (re-read)
  12. Eclair by Prisca Primasari 
  13. Forever and Always by Jenny Thalia Faurine
  14. Betang by Shabrina WS (via IJak)
  15. Kekasih by Arini Putri dan Yudhita Hardini 
  16. Marriage of Convenience (via IJak)
  17. Prelude 
April
  1. To All The Boys I've Loved Before by Jenny Han (terjemahan)
  2. PS. I Still Love You by Jenny Han (terjemahan)
  3. Refrain by Winna Efendi
  4. Melly & Jake (via IJak)
  5. New York After Rain (via IJak)
  6. Love in Edinburgh by Indah Hanaco
  7. Forever Monday (via IJak)
  8. Fangirl by Rainbow Rowell (terjemahan)
  9. Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin by Tere Liye (re-read)
Mei
  1. Sepatu Merah (komik terjemahan)
  2. Critival Eleven by Ika Natassa 
  3. Hopeless by Collen Hoover (via IJak)
  4. Cewek-cewek Tulalit by Iwok Abqary
  5. The Vanilla Heart by Indah Hanaco
  6. So, I Married the AntiFan (terjemahan)
  7. I'll be Your Wife (terjemahan)
Juni
  1. Beautiful Temptation by Indah Hanaco
  2. Apa pun Selain Hujan by Orizuka
  3. Taktik Nulis Fiksi by Winna Efendi (non fiksi)
Juli
  1. Fly to the Sky by Momoe Rizal 
  2. Double Spin Round (terjemahan)
  3. Re-write by Emma Grace
  4. A Shoulder to Cry On by Ria N. Badaria
  5. Landline by Rainbow Rowell (terjemahan)
Agustus 
  1. Malam-malam Terang by Tasniem Rais
  2. I Need You by Yoana Dianika
  3. A untuk Amanda by Annisa Ihsani
  4. Love, Life, and Choir by Kiky Aurora
  5. FBI vs CIA by Shandy Tan (buku kedua)
September
  1. The Architecture of Love by Ika Natassa
  2. Sayap-sayap Kecil by Andry Setiawan
  3. Love in Sydney by Arumi E
  4. Bismillah, Cinta by Merry Maeta Sari
  5. Cinta Masa Lalu by Nima Mumtaz (edisi revisi)
  6. Priceless Moment by Prisca Primasari
  7. Slammed by Collen Hoover (terjemahan)
  8. Point of Retreat by Collen Hoover (terjemahan)
  9. Cute Girl vs Playboy by Intan ZS
Oktober
  1. Twins in Love by Nathalia
  2. Hijabers in Love by Okke
  3. Tomodachi by Winna Efendi
  4. Les Masques by Indah Hanaco
  5. Pinochio (terjemahan)
November
  1. The Girl on Paper by Guillaume Musso (terjemahan)
  2. Evergreen by Prisca Primasari (re-read)
  3. Angel in The Rain by Windry Ramadhina
Desember
  1. Seruak by Vinca Callitsa
  2. Look at Me by Sofi Meloni

[Review] Kaliluna: Luka di Salamanca



Judul Novel: Kaliluna: Luka di Salamanca
Penulis: Ruwi Meita
Penerbit: Moka Media
Jumlah Halaman: 270 halaman

Blurb

Mimpi Kaliluna sebagai atlet panahan berakhir setelah jiwa dan raganya tergores di sebuah malam kelam. Ia percaya, satu-satunya tempat yang dapat menyembuhkan jiwanya yang pecah adalah tempat yang asing, seperti Salamanca, Spanyol.

Tetapi berada di kota di mana sungai Tormes mengalir dan chuche memanjakan lidah, tak kunjung membuat jiwa Kali tenang. Ia harus berhadapan dengan Frida, ibu yang meninggalkannya saat kecil dan Ibai, pemuda berdarah Vasco dengan sejuta mimpi dan sebuah rahasia.

Di antara desau dedaunan pohon ceri dan harapan yang tergantung pada gembok di Pozo de los Deseos, dapatkah Kali kembali memanah bintang seperti dalam dongeng masa kecilnya atau haruskah ia remuk terinjak seperti semak conyza di pinggir dermaga?

Review

Sebelum masuk review, saya ingin mengatakan bahwa cover novel ini manis sekali. Nama tokoh utama juga unik, Kaliluna. Dan bookmark-nya ... oooh lucuuu.

Oke, kita mulai review-nya. : )

Novel ini bercerita tentang seorang gadis yang meninggalkan Indonesia untuk melupakan sesuatu yang telah mengubah hidupnya. Dan tempat yang ia tuju adalah Salamanca, Spanyol.

Cerita dimulai ketika Kaliluna untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di bandara Barajas, Spanyol. Ia dijemput oleh Frida, ibu kandung Kaliluna. Selama ini, Kaliluna tidak pernah mengenal ibu kandungnya. Yang ia kenali sebagai ibu adalah Nadia, yaitu ibu tirinya yang baik hati.

Tinggal bersama seseorang yang tidak kita kenal tentu rasanya tidak nyaman. Begitu pula yang dirasakan Kaliluna dan Frida. Kaliluna lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berdiam diri. Seringnya, Frida yang memulai obrolan dan itu membuat Kaliluna tidak nyaman.

Semula Kaliluna senang berdiri di pinggir jendela kamarnya, menatap pemandangan di luar, lalu kemudian beralih ke dermaga Sungai Tormes. Setiap hari ia selalu berada di sana. Memandang permukaan air dengan tatapan kosong. Tidak ia sadari bahwa ada seseorang yang memperhatikannya, yaitu Ibai.

Ibai diceritakan sebagai laki-laki berdarah Vasco. Ibunya memiliki penyakit mata, sehingga seringkali tidak mengenali wajah seseorang. Sejak pertama kali melihat Kaliluna, Ibai merasa tertarik. Hingga akhirnya Ibai memberanikan diri untuk menyapa Kaliluna.

Saat itu, Ibai sedang membawa busur Pilar. Ketika melihat ada yang menyapanya, Kaliluna tersentak kaget. Ditambah lagi ia melihat busur yang dibawa Ibai. Kenangan pahit seolah muncul begitu jelas di matanya. Kaliluna histeris dan akhirnya pingsan. Ibai lalu membawa Kaliluna ke dokter. Dokter mengatakan Kaliluna hanya syok. Gadis itu juga kurang makan dan memerlukan banyak istirahat.

Tidak adanya Kaliluna di rumah saat Frida pulang membuat ibu kandung Kalilunan itu panik bukan main. Untung saja Kaliluna dan Ibai datang tak lama kemudian. Kaliluna langsung beristirahat sementara Ibai berbincang dengan Frida, yang sebenarnya adalah bibi Ibai. Frida menikah dengan paman Ibai, jadi posisi Ibai dan Kaliluna sebenarnya adalah sepupu.

Ibai tidak menyerah meski Kaliluna tidak mau bertemu dengannya. Lambat laun, usaha Ibai berhasil. Kaliluna mulai mau bertemu dengan Ibai. Bahkan, saat Ibai tidak datang ke dermaga, Kaliluna menantikannya. Hubungan Kaliluna dengan Ibai ini membuat Frida khawatir. Wanita itu takut Kaliluna akan marah jika tahu bahwa Ibai adalah sepupunya. Menurut Frida, akan lebih baik jika Ibai mengatakan semua sejak awal. Namun Ibai menolak. Menurutnya, Kaliluna nyaman dengan Ibai yang bukan siapa-siapa.

Bersama Ibai, Kaliluna mengunjungi tempat-tempat di Salamanca. Salah satunya adalah Pozo de los Deseos, yaitu sumur pengharapan. Di bagian atas kiri-kanan sumur, terdapat kerangka besi dengan bentuk melengkung. Pada lengkungan itu tergantung banyak sekali gembok. Ibai menunjukkan pada Kaliluna gembok yang pernah ia pasang di sana. Gembok itu bertuliskan dua nama. Ada nama Ibai, dan satu lagi tulisannya tidak begitu jelas. Kaliluna mengira tulisannya adalah Lana. Padahal sebenarnya, Luna. Kaliluna.

Ibai memiliki teman yang ahli memanah, namanya Pilar, seorang gadis 9 tahun yang ayahnya adalah pelatih olahraga panahan di sebuah klub panah. Di klub inilah Kaliluna berusaha keras untuk menaklukkan rasa takutnya. Membuang traumanya. Dengan bantuan Ibai, Kaliluna akhirnya berhasil memegang kembali busur dan panah. Dengan bantuan Ibai, Kaliluna tidak takut lagi.

Namun kemudian, sesuatu membuat Kaliluna marah besar pada Ibai. Bagaimana kelanjutan cerita ini? Sebaiknya kalian baca saja, ya. :D

Membaca lembar demi lembar novel ini rasanya begitu kelam. Penulis mampu membuat saya merasa trauma Kali, rasa sedih Frida, juga semangat Ibai. Setiap karakter terasa begitu kuat. Ditambah lagi, tema “memanah” yang diambil penulis saya rasa sangatlah tepat, mengingat selama ini penulis lain jarang memakainya.

Novel disajikan dengan menggunakan sudut pandang (POV) orang ketiga serba tahu. Bergantian penulis menceritakan dari sisi Kaliluna, Ibai, Frida, dan tokoh lain yang diperlukan

Gaya bahasa yang digunakan penulis baku, namun tidak berat. Penulis juga tidak terlalu banyak menggunakan istilah asing, sehingga tidak membuat pembaca pusing, hehehe. Ditambah, informasi mengenai tempat-tempat di Salamanca dan sedikit sejarah kota itu, sangat memberikan pengetahuan baru bagi pembaca. Porsinya tidak terlalu banyak, juga tidak sedikit. Pas.

Saya rasa yang menjadi kekurangan di sini hanya feel yang kurang nendang. Konfliknya tidak meledak-ledak, kurang membuat gereget. Dan lagi terdapat typo yang cukup banyak. Sayangnya, saya lupa memberi tanda sehingga tidak dapat disebutkan di sini. Misalnya, tidak ada tanda spasi setelah titik. Lalu ada dialog yang salah satunya tidak ada tanda kutip.

Quotes

“Kadang seseorang harus memilih salah satu, meskipun itu akan menghancurkan pilihan satunya.” (hal. 61)

“Bukan tempat yang membuatmu tenang tapi dirimu sendiri. Bukan tempat yang mengontrol dirimu tapi dirimu sendiri.” (hal. 150)

“Kita mungkin sama-sama tidak tahu. Tapi bukankah ketidaktahuan adalah alasan untuk mencoba sesuatu?” (hal. 179)

“Hanya kamu yang tahu kapan ketakutan itu muncul. Kamu harus kembali ke titik itu dan melawannya.” (hal. 190)

“Memulai sesuatu memang berat. Percayalah setelah kamu memulai kamu akan sadar bahwa ini tidak seberat yang kamu bayangkan.” (hal. 196)

Oke, saatnya memberi bintang. Untuk novel ini saya berikan 3.8 dari 5 bintang. Sangat cocok untuk dibaca oleh kalian yang menyukai cerita-cerita lembut dan tenang.


[Review] (Me)mories


Judul Buku: (Me)mories
Penulis: Nay Sharaya
Penerbit: Grasindo
Jumlah halaman: 280 halaman

Blurb

Kau menganggapku seorang putri, bukan? Lalu, apa jadinya jika kau tahu, sosok putri yang diam-diam menyergap hatimu ini hanya seorang makhluk aneh kesepian, yang kehilangan jati dirinya. Apakah cinta akan tetap sama?

Ternyata, ini hanyalah tentang sepenggal kisah-kisah di ujung hari yang menunggu akhir. Tapi, saat ia ingin menyerah, seseorang tiba-tiba membuat janji.

“Membuat kamu aman adalah kegemaranku yang baru. Jadi siap-siap saja aku lindungi, oke?”

Hanya karena sebuah janji, sesuatu berubah. Sebuah janji yang membuatnya mulai percaya dan berharap. Namun kemudian, ia sadar bahwa sebuah janji tak akan pernah bertahan lama. Karena itu, ia memutuskan untuk menjauh dan bertahan dengan caranya sendiri.

“Pernah suatu saat aku mencoba membayangkan masa depanku. Kau tahu? Membayangkan masa depanku tanpa ada kau di dalamnya, rasanya sangat aneh.”

Review

Novel dengan cover elegan ini sudah menarik perhatian saja sejak pertama kali melihatnya. Tapi, baru sekarang saya memilikinya.

Ini adalah novel Nay Sharaya yang kedua yang saya baca setelah Take off My Red Shoes.
Novel (Me)mories dibuka dengan cerita tentang masa-masa orientasi SMA yang dialami oleh Mories (tokoh utama dalam novel ini). Bagaimana ia sering melakukan kesalahan hingga menjadi sasaran empuk panitia MOS untuk dihukum.

Berteman dengan Tiyanna yang sering membangkang panitia dan menunjukkan sikap pemberani membuat posisi Mories semakin buruk. Apalagi Alan (ketua OSIS) sangat sering bertengkar dengan Tiyanna. Sementara itu, Mories sering mendapatkan perlakuan sinis dari Chandra (ketua panitia MOS) karena setiap kali dihukum, Alan selalu menyelamatkannya. Ia sama sekali tidak sadar bahwa ia terlihat menarik di mata Alan.

Menarik karena selalu terlihat pasrah saat diperlakukan buruk oleh orang. Menarik karena memiliki ekspresi yang luar biasa datar. Cewek dingin yang membuat seorang playboy penasaran.

Alan memang dikenal sebagai Playboy di sekolah itu. Ia sendiri tidak pernah serius dalam menjalani hubungan. Saat ia tertarik pada Mories pun ia tengah berpacaran dengan Miranda. Sikap Alan yang tampak mengistimewakan Mories membuat gosip pun menyebar dengan cepat. Bahwa Alan menyukai Mories hingga memutuskannya. Dan itu terdengar oleh Miranda hingga akhirnya Miranda menyuruh teman-teman dekatnya untuk mengancam Mories.

Bukan hanya mengancam, teman-teman Miranda memperlakukan Mories dengan buruk hingga tulang hidung gadis itu patah. Mories pun segera dilarikan ke rumah sakit oleh Chandra. Karena sebelumnya sering berdebat dengan Chandra, tentu saja Mories menaruh curiga mengapa laki-laki itu sampai mau mengantarnya ke rumah sakit. Kemudian diketahui bahwa Chandra adalah orang yang mendapatkan tugas dari Pak Aksana (Papa Mories) untuk menjaga Mories.

“Kadang-kadang kita pengen membantu seseorang yang menurut kita butuh bantuan. Kadang kita pengen berada di samping seseorang dan melindungi dia sebisa kita. Tapi ternyata nggak semua orang ngerti isi hati kita.” (hal. 191)

Sebagai orangtua tunggal yang kaya raya dan merupakan pimpinan Yayasan, Pak Aksana ingin keamanan Mories terjamin. Untuk itu beliau memerintahkan Chandra untuk menjaga Mories. Ditambah lagi, beliau khawatir Mories tidak dapat mengendalikan dirinya dan membuat kekacauan seperti sebelumnya.

Mories mengidap penyakit Urbach-Wiethe disease, sebuah penyakit yang membuat penderitanya tidak memiliki perasaan takut terhadap apa pun. Inilah yang membuatnya terlihat selalu pasrah saat diperlakukan tidak baik. Namun, tindakan teman-teman Miranda terhadapnya membuat sisi jahat Mories kembali muncul. Ia akan membalas dendam kepada mereka.

“Bukankah setiap pilihan pasti akan mengorbankan pilihan yang lain?”
(hal. 265)

Seperti novel Take off My Red Shoes, novel ini memiliki sisi kelam yang cukup kuat. Saya dapat merasakan perubahan karakter Mories sebelum dan setelah ia di-bully oleh teman-teman Miranda yang cukup kuat. Selain dari sisi karakter, saya suka karena penulis tampaknya selalu mencari sesuatu yang “baru” yang belum diangkat oleh penulis lain. Meski dikemas dengan gaya teenlit, namun memasukkan unsur penyakit langka yang diderita Mories adalah ide yang segar. Saya sendiri baru tahu bahwa ada penyakit ini. XD

Hanya saja, di awal-awal, saya merasa kebingungan yang amat sangat ketika membaca novel ini. Saya baru mulai paham setelah melewati bagian Mories patah hidung. Ini setelah lewat delapan bab. Saya memang dibuat penasaran dengan sesuatu di balik sikap Mories, namun bagi saya pribadi, rasanya terlalu bertele-tele.

Dan saya rasa, cerita tentang Tiyanna di awal cerita bahwa dia itu sering membuat masalah tidak diungkap dengan total. Saya jadi bertanya-tanya sebenarnya masalah seperti apa yang dibuat oleh Tiyannya hingga membuat panitia tidak menyukainya?

Saya juga merasa ada bagian-bagian yang agak terlalu dipaksakan dan tidak dijelaskan sampai tuntas. Seperti ketika Alan membuat karya tulis, ketika Mories berhasil melampiaskan dendam dan tidak jelas nasib teman-teman Miranda berikutnya, juga ketika munculnya murid baru bernama Refan yang sepertinya hanya “bertugas” menjelaskan keadaan Mories pada Alan. Dan juga ... bagaimana nasib si dia (yang namanya tidak akan saya sebutkan)?

Meski begitu, saya dipuaskan begitu sampai di bagian ending. Penulis berhasil mengecoh saya. Tapi, mengapa settingnya harus Korea? Apakah kalau settingnya tetap Indonesia akan merusak cerita? Entahlah, penulis yang tahu. :)


Finally, saya berikan 3 bintang untuk novel pertama yang saya baca di Januari 2017 ini. ^^

Rabu, 11 Januari 2017

[Review] Critical Eleven


Judul: Critical Eleven
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-1892-9
Cetakan kesepuluh, Februari 2016
Jumlah halaman: 339 halaman

Blurb
Dalam dunia penerbangan, dikenal istiah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu.  

It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger.
In a way, it’s kinda the same with meeting people.

Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Review

Jujur, ini adalah kali pertama saya membaca buku karya Ika Natassa. Setiap kali saya ke toko buku dan melihat novel ini, saya sebenarnya selalu melirik, namun merasa bahwa ini adalah novel terjemahan dan saya mengulur-ulur waktu untuk membelinya. Saat melihat salah satu teman saya membeli buku ini, saya langsung bertanya pendapatnya. Dan dia langsung merekomendasikan buku ini untuk segera saya miliki. Jadi, setelah menabung cukup lama, saya pun akhirnya memilik si Biru yang Cantik ini.

Cerita dimulai dengan kisah Tanya Laetitia Baskoro—Anya—yang bertemu dengan Aldebaran Risjad—Ale—di pesawat dalam penerbangan menuju Sydney. Baru beberapa lembar membaca, dan hanya dari dialog antara Anya dan Ale, saya sudah dibuat jatuh hati oleh sosok Ale.

Sejak awal saya tahu akan ada hubungan spesial dari Anya dan Ale ini. Membaca blurb novelnya, saya pikir yang menjadi konflik di antara mereka adalah jarak. Ale yang berprofesi sebagai Petroleum Engineer (saya lebih suka dengan sebutan Tukang Minyak, sama seperti ketika Ale menyebut dirinya sendiri Tukang Minyak, hehe) membuatnya berjauhan dengan Anya yang bekerja sebagai konsultan. Namun ternyata saya salah menduga. Jarak sama sekali bukan penghalang karena cinta mereka begitu kuat.

Keduanya mengalami ujian yang begitu besar hingga tanpa sengaja Ale menyudutkan Anya. Membuat istri yang amat dicintainya itu memilih untuk menjauh. Tinggal satu atap, saling mengenal, namun seperti orang lain. Rasanya benar-benar menyakitkan
Cerita disajikan dengan menggunakan sudut pandang (POV) orang pertama. Bergantian dari sisi Ale dan Anya. Saya selalu mengagumi setiap penulis yang menggunakan POV orang pertama dan berhasil membuat pembaca masuk ke dalam cerita. Tetapi, biasanya kekuatan mereka hanya di salah satu sisi. Namun Ika Natassa mampu membuat semuanya seimbang.

Dari sisi Anya, saya bisa merasakan kekecewaan, sakit hati, putus asa, sekaligus benci.

Dari sisi Ale, saya bisa merasakan penyesalan yang mendalam dan cinta yang besar.

Penulis benar-benar berhasil membuat saya memahami setiap emosi yang dirasakan baik oleh Anya maupun Ale.

Bukan hanya dari sisi karakter tokoh, penulis juga berhasil dalam cara penyampaian cerita. Gaya bahasa yang digunakan penulis ringan dan mudah dipahami. Narasi ditemukan lebih dominan, namun karena penulis mengemasnya dengan amat sangat baik, saya sama sekali tidak merasa lelah membacanya. Justru menikmati. Padahal, biasanya, saya cukup sering skip setiap menemukan novel yang narasinya banyak.

Alur maju-mundur dalam novel ini juga tidak membuat saya bingung. Bahkan dari sisi konflik yang kalau diingat-ingat sebenarnya cukup kompleks, saya merasa nyaman. Sama sekali tidak pusing dibuatnya. Semua terasa natural dan tidak dibuat-buat. Termasuk penjelasan tentang kopi yang ilmunya saya dapatkan di sini. ^^

Dari semua tokoh yang ada, saya mengidolakan Ale. Bukan hanya mencintai dan menyayangi istrinya, dia juga menyayangi keluarganya. Ayahnya, ibunya, adik-adiknya, dan juga Nino—keponakannya. Ale benar-benar calon suami idaman. Ale juga sosok yang penyabar. Kalau tidak, bagaimana mungkin dia tahan tinggal satu atap dengan istrinya tanpa interaksi berarti?

Saat hubungan Ale dan Anya terlihat mulai membaik, saya ikut merasa senang. Seperti menemukan setitik cahaya dalam kegelapan. Namun saat Anya kembali meminta menjauh, saya kembali merasakan hancurnya Ale. Tetapi saya ikut mengerti bahwa Anya belum bisa menerima semuanya meski ia cinta. Karena, mengutip kata-kata Anya, kadang cinta saja nggak cukup.

Ada banyak sekali hal yang saya suka dari novel ini selain ceritanya. Pertama, covernya berwarna biru (warna favorit saya). Kedua, gaya bahasanya ringan. Ketiga, nama “Ale” cool banget. Keempat, karakter Ale yang bikin jatuh cintaaa. Kelima, ada bagian yang menjelaskan Anya dan Ale shalat. Keenam, adanya kutipan ayat dari surat Adh-Dhuha. Ketujuh, ada banyak sekali quote keren dalam novel ini.

Ini adalah beberapa quotes keren yang saya tandai dan saya pindahkan ke buku catatan khusus quotes 

  • Berani menjalin hubungan berarti berani menyerahkan sebagian kendali atas perasaan kita kepada orang lain. (hal. 8) 
  • Mau tahu apa yang lebih menakutkan? Bahwa kita sebenarnya tidak punya kendali untuk memilih mana yang bisa terus kita ingat, dan mana yang bisa kita lupakan. (hal. 22)
  • Hidup ini jangan dibiasakan menikmati yang instan-instan. (hal. 31)
  • Hal-hal terbaik dalam hidup justru seringnya harus melalui usaha yang lama dan menguji kesabaran dulu. (hal. 31)
  • Hidup memang tidak pernah sedrama di film, tapi hidup juga tidak pernah segampang di film. (hal. 40)
  • Ada banyak hal dalam hidup ini yang mungkin tidak akan dimengerti orang-orang yang belum mengalami sendiri. (hal. 93)
  • Jika sudah takdir, nggak akan ada yang bisa menghentikan seluruh semesta ini berkonspirasi untuk membuat yang harusnya terjadi itu terjadi. (hal. 210)
  • Orang yang membuat kita paling terluka biasanya adalah orang yang memegang kunci kesembuhan kita. (hal. 252)
  • Kalau memang benar-benar sayang dan cinta sama perempuan, jangan bilang rela mati buat dia. Justru harusnya kuat hidup untuk dia. (hal. 324)

Selain yang disebutkan di atas tadi, ada bagian cerita yang saya suka. Yaitu, ketika Anya berpura-pura kabur saat Ale berulangtahun. Ini semua sebenarnya adalah rencana Harris—salah satu adik Ale yang tengil. Ale (dan saya) benar-benar sangat panik. Apalagi ketika sampai di restoran tempat semua keluarga berkumpul, Anya tidak ada di sana. Rasanya hati ini benar-benar sesak (apalagi hati Ale, ya?).

Bagian ini saya bisa bayangin Reza Rahadian (pemeran Ale di film nanti) yang panik setengah mati!!

Lalu, ketika H-1 Ale akan melangsungkan pernikahan dengan Anya!! OMG!! Kalau saya jadi Anya, dan tahu semua ituuu, pasti udah pingsan.

Duuuh, nggak sabar pengin segera nonton jadinya. >_<

Dan pastinya, kali ini nontonnya lebih berkesan karena untuk pertama kalinya saya akan nonton bersama suami. ^^

Dari semua kelebihan dalam novel yang telah saya sebutkan, saya merasa porsi bahasa Inggris yang digunakan terlalu banyak. Agak kesulitan bagi orang yang pemahaman bahasa Inggrisnya setengah-setengah seperti saya ini, hehehe. Kalau sedang santai saya akan mencari tahu arti dari kata yang tidak saya mengerti. Sambil belajar juga, jadinya. Tapi it's okay. Hal ini sama sekali tidak mengurangi kekerenan novel ini.

Untuk novel yang berhasil mengaduk-aduk perasaan dan jadi ketagihan membaca karyanya Ika Natassa ini, saya berikan 4.8 bintang dari 5. Semoga saja film-nya memuaskan, seperti novelnya. Aaamiiin... :)