Jumat, 19 Mei 2017

Strategi Tiga Kata


Apa sih, maksudnya strategi tiga kata?
Ini adalah salah satu alat bantu dalam menulis yang saya temukan dalam buku Creative Writing karya A.S Laksana.
Kadang, kalau saya bingung bagaimana memulai cerita pada naskah baru, bab baru, atau bahkan paragraf baru, strategi ini saya terapkan.
Caranya, kita ambil tiga kata secara acak. Kalau dalam buku Creative Writing, tiga kata itu adalah buku,kucing, dan nasib.
Saya akan mengambil tiga kata lain: biru, gelas, dinding.
Bagaimana menentukan tiga kata itu? Kalau saya, dengan cara melihat ke sekeliling ruangan. Jadi, apa yang ada di sekitar saya saja. Kalau kalian mau kata yang lain, silakan.
Setelah tiga kata ditemukan, kita mulai menulis. Syaratnya, ketiga kata itu harus ada dalam paragraf yang kita buat.
Kalau di buku Creative Writing, tiga kata itu ada dalam satu paragraf. Kalau saya bebas. Misalkan bisa satu paragraf, boleh. Tapi kalau terlalu panjang, dibuat dua atau tiga paragraf boleh. Yang penting tiga kata terpilih itu menjadi ide untuk memulai cerita.
Yuk, dimulai.

:::::

Birunya laut memanjakan mata Anna. Gadis berambut pendek itu menutup matanya untuk menikmati aroma pantai yang sudah lama dirindukan. Sekejap kemudian mata Anna terbuka. Kepalanya menoleh ke sana kemari. Keningnya berkerut ketika sadar pantai itu begitu sepi. Hanya ada Anna sendiri.
Tiba-tiba, Anna mendengar suara aneh yang semakin lama semakin kencang. Kesenangan yang sempat muncul berubah cepat menjadi ketakutan. Tanpa dikomando, Anna berlari menjauhi pantai. Ia berlari tak tentu arah. Takut pada sesuatu yang belum tentu ada.
Dan Anna terkesiap. Dengan napas memburu ia terbangun dari tidur. Ia lega, ternyata tadi hanya mimpi. Tangan Anna terulur mengambil gelas yang berisi air. Setelah mereguknya sampai habis, ia terdiam. Bingung apakah harus melanjutkan tidur atau tidak. Ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul tiga dini hari. Akhirnya, ia turun dari tempat tidur dan memutuskan shalat malam.

:::::

Nah, kurang lebih seperti itu.

Ini sekadar berbagi. Siapa tahu di antara kalian yang membaca tulisan ini ada yang suka menulis dan mau mencoba strategi tiga kata?

Kamis, 18 Mei 2017

[Review] A Little Princess


Judul: A Little Princess
Penulis: Frances Hodgson Burnett
Penerjemah: Teguh Hari
Penyunting: Jia Effendie dan Ida Wajdi
Penerbit: Atria
Jumlah halaman: 336 halaman
ISBN: 978-602-71458-1-8
Tahun terbit: 2015


BLURB

Sara Crewe dikirim dari India untuk bersekolah di Sekolah Asrama Nona Minchin di London. Ayahnya, Kapten Crewe, luar biasa kaya dan membelikan Sara gaun-gaun yang indah serta meminta agar anaknya diberi fasilitas mewah di sekolah itu.
Meski selalu dimanja dan bergelimang harta, Sara adalah anak yang cerdas, sopan, dan murah hati. Beberapa siswa yang lebih tua cemburu pada keberuntungan Sara dan mengejek dengan memberinya julukan “Putri Sara” mengacu pada sikapnya yang sempurna. Tetapi dia justru menjadikan hal itu sebagai pengingat untuk bermurah hati kepada orang lain.
Kemudian, Kapten Crewe meninggal dan kekayaannya habis. Keadaan berbalik 180 derajat bagi Sara. Tetapi karakternya yang kuat membuatnya mampu bertahan menghadapi kemiskinan yang tiba-tiba dan penghinaan dari teman-temannya.


CUPLIKAN KISAH

Sebenarnya, blurb novel ini sudah begitu jelas menggambarkan apa isi novel ini. Seorang gadis kecil bernama Sara, dikirim oleh ayahnya untuk bersekolah di Asrama Nona Minchin, di London. Memiliki ayah yang kaya raya dan amat menyayanginya tidak membuat Sara menjadi gadis manja yang menyebalkan. Sebaliknya, Sara tumbuh menjadi anak yang cerdas, sopan, baik hati, dan selalu ramah pada siapa saja.
Ada hal yang membuat Sara istimewa dari anak-anak seumurannya. Sara pintar berimajinasi. Dia sering mengkhayal dan menceritakan khayalannya pada orang-orang. Bagi ayahnya dan beberapa orang, Sara menyenangkan. Tetapi bagi sebagian yang lain, Sara anak aneh.
Sara memiliki dua teman baik. Mereka adalah Ermengarde yang tidak pintar, dan Lottie, gadis kecil yang cengeng. Sara sering menceritakan khayalannya kepada mereka berdua. Beberapa anak juga ikut mendengarkan, termasuk Becky, seorang pesuruh di Asrama. Meskipun banyak yang menyukai Sara, ada juga yang iri pada Sara: Lavinia dan Jessie. Mereka tidak suka dengan Sara yang memakai gaun-gaun mahal dan bersikap sangat sopan, seolah Sara adalah seorang puteri dari kerajaan. Bahkan, Nona Minchin pun tidak menyukai Sara.
Hidup Sara yang bergelimang harta berubah ketika ayahnya, Kapten Crewe, meninggal dunia. Sara bersedih, tetapi ia dapat menerimanya dengan dewasa. Bahkan ketika ia harus berubah status dari siswi menjadi pesuruh pun ia rela. Bersama Becky, ia tinggal di loteng.
Rasa sedih Sara seringkali muncul, tetapi ia berusaha berpikir positif dengan berkhayal seolah-olah ia adalah seorang puteri yang sedang ditahan di dalam penjara. Pikiran positif itulah yang membuat Sara bertahan. Meski sudah bukan lagi gadis kaya, Ermengarde dan Lottie masih mau berteman dengannya. Tetapi yang paling sering mengunjungi Sara di loteng adalah Ermengarde. Itu pun diam-diam, setelah semua orang tidur.
Suatu ketika, Sara yang sedang berada di jalan, merasa kedinginan dan lapar. Ia menemukan empat penny dan tentu saja ia merasa senang. Dengan uang itu ia dapat membeli roti kismis dan mengisi perutnya yang keroncongan karena belum diberi makan. Tetapi, ketika Sara akan masuk ke toko roti, ia melihat anak kecil yang juga kelaparan.
Ketika ia masuk ke toko roti, ia tidak langsung membeli, tetapi bertanya terlebih dahulu apakah penjual roti itu kehilangan uang sebesar empat penny. Mungkin, sikap Sara yang jujur inilah yang membuat si penjual roti memberikan enam roti kepada Sara, padahal seharusnya empat roti saja.
Setelah mendapatkan enam roti kismis, Sara menemui anak kecil kelaparan tadi. Ia memberikan lima roti dan pergi. Hal ini diketahui oleh penjual roti. Ketika ia bermaksud mengejar Sara dan memberikan roti lagi, Sara sudah tidak terlihat.
Sara benar-benar baik, bukan?
Dan kebaikannya menular pada si penjual roti itu.
Hidup Sara yang menyedihkan ini kembali berubah ketika khayalannya perlahan menjadi nyata.
Bagaimana itu bisa terjadi?
Apakah Sara hanya bermimpi?


REVIEW

Jujur saja tidak banyak yang akan saya review dari novel terjemahan ini. Saya yang belum lama mengenal buku terjemahan merasa kecewa dengan novel ini.
Novel ini memiliki cerita yang sangat bagus. Berisi pesan bahwa seharusnya, kita mencontoh Sara yang selalu berpikir positif. Dia selalu melihat semua hal dari sisi positif dan itu yang membuatnya selalu bahagia.
Akan tetapi, saya menemukan ketidaknyamanan saat membacanya. Selain banyak paragraf yang terlalu panjang (sampai dua halaman penuh), saya menemukan typo yang bertebaran layaknya ceres di atas donat. Bedanya, kalau ceres enak, kalau typo nggak!
Kebanyakan typo pada tanda kutip tutup yang tidak ada dalam dialog. Dan yang paling parah, ada kesalahan nama tokoh yang membuat saya sempat berpikir sebenarnya yang dibicarakan adalah tokoh lain.
Untuk orang yang suka membaca, typo pasti menganggu. Termasuk pada saya. Terlebih saya pernah menjadi proofreader dan juga editor beberapa buku, jadi typo yang berkali-kali membuat saya kesal dan bertanya-tanya, “Ini siapa sih, proofreader-nya? Apa editornya nggak cek lagi?”
Saya biasanya agak halus dalam mengkritisi buku, tapi kali ini rasanya kata-kata halus nggak cukup mewakili kekecewaan saya. Mohon maaf. T.T
Beberapa typo sempat saya tandai. Untuk typo kutip tutup, ada di halaman 20, 24, 25. Kesalahan nama tokoh seharusnya Sara menjadi Sarah pada halaman 34, 61, 64, 67. Spasi sebelum titik pada halaman 65. Huruf kapital pada kata ‘dia’ di halaman 67. Pengulangan huruf ‘k’ pada halaman 111. Pengulangan kata ‘tidak’ pada halaman 119.
Meski begitu, saya tidak memungkiri bahwa novel ini bagus dan untuk yang tidak peduli typo silakan membacanya. Semoga berikutnya pihak penerbit bisa memperbaiki novel ini menjadi lebih baik.


QUOTES

Walau banyak typo, tapi buku ini memuat quotes menarik juga, lho.

Kita seharusnya bersyukur jika kita disukai. (hal. 40)

Kalau kau bercerita, tidak ada yang lebih menyenangkan selain bercerita pada orang-orang yang mau mendengarnya dengan senang hati. (hal. 69)

Menjadi seorang puteri itu tidak ada hubungannya dengan penampilanmu atau apa yang kaumuliki, tetapi apa yang kaupikirkan dan apa yang kaulakukan. (hal. 73)

Segala sesuatu adalah sebuah kisah. (hal. 156)

Ketika orang menghinamu, tidak ada cara yang lebih tepat untuk membalasnya selain diam. (hal. 166)

Ketika emosimu mudah terpancing, orang akan tahu kamu lebih kuat dibandingkan mereka karena kamu mampu menahan kemarahanmu, sedangkan mereka tidak. (hal. 166)


RATING

Cover: 3/5
Tema: 3/5
Karakter tokoh: 3/5
Gaya bahasa: 2.8/5
Plot: 3/5

Overall: 2.8/5

[Review] Forever and Always


Judul: Forever and Always
Penulis: Jenny Thalia Faurine
Penerbit: Elexmedia Komputindo
Jumlah halaman: 218 halaman
ISBN: 978-602-02-7968-8
Tahun terbit: 2016


BLURB

Aku selalu menatap kamu dari dulu
lebih dari yang seharusnya
sehingga aku terluka sendirian.
Jika aku sudah bisa hidup tanpa menatapmu,
haruskah aku kembali menatamu?
Aku bukan seseorang
yang suka menyakiti diriku sendiri, Ren.
*
Dan ternyata mencintai seseorang lebih menyakitkan dibanding yang selama ini mereka duga. Seva dan Ren, dua orang teman lama yang tak pernah bertemu sejak lima tahun lalu, sore itu akhirnya mereka dipertemukan kembali.
Ada cerita di antara mereka yang belum usai. Perpisahan tak selalu jadi garis akhir sebuah hubungan.


CUPLIKAN KISAH

Cerita dimulai dengan masa saat ini. Di mana Ren dan Seva, sepasang sahabat lama, bertemu kembali di shelter TransJakarta. Mereka sepakat untuk mengobrol lebih santai di kafe Coffee Meter.
Alur pun mundur ke lima tahun sebelumnya. Saat Ren dan Seva berteman pertama kali.
Ketika itu mereka masih SMA. Ren mendekati Seva bukan karena menyukai gadis itu. Ia hanya penasaran karena Seva sangat pendiam dan jarang bicara. Berawal dari berlajar bersama, lambat laun pertemanan mereka semakin erat. Dan perlahan, Seva merasakan sesuatu yang berbeda pada Ren. Ia menyukai Ren. Sayangnya, Ren menyukai Anggi. Dan Anggi, hanya menganggap Ren teman baik. Bagi Anggi, Ren bukanlah tipenya. Tipenya adalah Vito, sahabat Ren.
Setelah lulus SMA, Ren dan Seva kuliah di tempat berbeda. Seva mulai bertemu dengan orang-orang baru. Kegan, salah satunya. Seorang laki-laki yang mengutarakan perasaannya pada Seva namun ditolak. Meski demikian, mereka tetap berteman baik.
Seva masih berharap banyak pada Ren. Namun nyatanya, perasaan Ren pada Anggi tidak pernah hilang bahkan setelah bertahun-tahun kemudian. Kenyataan bahwa Anggi akan menikah dengan Vito membuat Ren berubah.
Seva yang datang ke apartemen Ren melihat sahabatnya itu merokok dan minum alkohol. Ren patah hati. Seva, sebenarnya juga patah hati. Mereka sama-sama minum alkohol malam itu dan hal yang seharusnya tidak dilakukan pun dilakukan.
Hal yang kemudian membuat Ren dan Seva menjadi canggung.
Kecanggungan mereka hilang ketika Ren mengatakan akan menerima perjodohan yang direncanakan orangtuanya. Seva semakin terpuruk. Pernyataan cinta pun tak dapat ditahan. Ren marah, dan menjauh.
Tanpa Ren, Seva seperti hilang arah. Ada Kegan, namun kehadirannya tidak cukup menggantikan Ren.
Sampai akhirnya Ren kembali lima tahun kemudian menyatakan penyesalan.
Haruskah Seva menerima Ren kembali setelah luka yang ditorehkan laki-laki itu?
Dan bagaimana dengan Kegan?


REVIEW

Novel ini memiliki cover yang sangat manis. Bukankah begitu?
Sejak pertama kali terbit, saya sudah tertarik membelinya. Alhamdulillah ada rezeki jadi bisa beli novel ini.
Novel bertema friendzone ini ... jujur saja dan mohon maaf, tidak begitu istimewa untuk saya pribadi. Maaf sekali. T.T
Ekspektasi saya mungkin terlalu tinggi. Berharap novel ini dapat membuat saya merasa sesak berkali-kali. Namun nyatanya, tidak. Saya tidak merasakan letupan kecil atau sesak atau apa pun itu namanya saat membaca novel ini. Dari awal sampai akhir.
Di bagian tengah, di saat konflik besar muncul, saya memang kesal pada Ren. Tapi itu tidak berlangsung lama. Setelahnya biasa saja. Dan karakter para tokohnya, nyaris semua baik. Itu membuat cerita kurang greget. Oke, Ren berubah di saat konflik itu muncul, tapi pada dasarnya dia baik.
Bukan maksud saya suka pada tokoh antagonis yang alay dan hobi merisak tokoh lainnya seperti di sinetron, tetapi untuk membuat cerita semakin gereget, mungkin tokoh antagonis juga diperlukan. Dan Ren, tidak cukup untuk membuat saya merasa gereget.
Ditambah lagi, kenapa kesannya semua tokoh dalam novel ini susah move on, ya? Saya baru sadari saat mereview di Instagram, lho. Ren yang susah move on dari Anggi, Seva dari Ren, Kegan dan Seva. Hm...
Padahal, gaya bahasa dalam novel ini begitu mudah dicerna. Meski terkadang tercampur antara bahasa baku dan non-baku dalam dialog, it’s okay, karena tidak mengganggu. Saya juga menyukai banyaknya quotes dalam novel ini. Dan alur maju-mundur digunakan penulis sangat tepat. Saya bisa merasakan bagaimana ingatan masa lalu mereka muncul.


QUOTES

  • Menatap masa lalu bukanlah hal yang baik jika kamu ingin melangkah terus ke depan dengan bahu tegak tanpa kesedihan yang menggelayuti. (hal. 4)
  • Tidak ada yang lebih menyedihkan selain menjadi pengganti sementara. Yang bisa didatangi dan kemudian ditinggalkan begitu saja. (hal. 24)
  • Kadang, kebahagiaan bisa mengubah seseorang menjadi lebih baik. (hal. 33)
  • Apa manusia mampu bertahan dengan seseorang yang hatinya tak utuh lagi? (hal. 39)
  • Perempuan spesial akan selalu mendapat perlakuan spesial dan berbeda dari laki-laki yang menyukainya. (hal. 54)
  • Kalau menyangkut perasaan, jangan disamain kayak games. (hal. 57)
  • Orang jatuh cinta memang terkadang lebih mementingkan perasaan orang yang dicintainya. (hal. 80)
  • Cinta dan obsesi hanya disekat oleh dinding yang tipis. (hal. 89)
  • Pendiam bukan berarti ia tak punya hal untuk dibagi, kan? (hal. 95)
  • Perasaan itu nggak ada tolok ukur untuk untung atau ruginya. (hal. 131)
  • Ketika kita mencintai seseorang, dialah kelemahan sekaligus kekuatan kita. (hal. 159)
  • Kalau kamu tak punya alasan untuk mencintai seseorang, kamu tak butuh alasan untuk menyingkirkan perasaan itu. (hal. 170)
  • Sahabat itu bukan berarti yang selalu mendukung kamu. Dia yang memberi tahu kapan kamu harus berputar balik ke arah yang tepat. (hal. 186)


RATING

Cover: 4/5
Tema: 3/5
Karakter tokoh: 3/5
Gaya bahasa: 3/5
Plot: 4/5
Overall: 3/5



Sabtu, 13 Mei 2017

[Review] Rahasia Pelangi


Judul: Rahasia Pelangi
Penulis: Riawani Elyta dan Shabrina WS
Penerbit: Gagasmedia
Jumlah halaman: 326 halaman
Cetakan pertama, 2015
ISBN:979-780-820-3


BLURB
Katamu, ada pelangi setelah hujan.
Kau hadir, mengulurkan tanganmu.
Ajak aku melangkah, bersamamu.
Bisakah cinta menghilangkan rasa takut?
Juga memupuk rindu yang mulai bertunas di hati?
:::
Sepertimu, Anjani dan Rachel juga mencari cinta.
Namun, mereka tak pernah menduga ternyata cinta segelap hutan di tengah malam.
Sementara bagi laki-laki itu, ia baru menyadari bahwa hidup seperti hutan.
Jika tidak hati-hati, banyak ranting yang akan membuatmu terluka.
Dalam gelap hutan, akankah pelangi terlihat sama indahnya?


CUPLIKAN KISAH

Semasa kecil, Anjani pernah mengalami pengalaman buruk yang berhubungan dengan gajah dan akhirnya trauma dengan hewan berbelalai itu. Namun di kemudian hari Anjani malah bekerja sebagai mahout, perawat gajah, untuk terlepas dari traumanya.
Meskipun pekerjaan tersebut tidak mudah, Anjani menikmati. Apalagi ada Chay, mahout senior yang berasal dari Thailand dan membuat hatinya selalu hangat.
Perasaan Anjani semakin jelas ketika Rachel datang. Rachel adalah aktivis lingkungan yang bertugas meliput kegiatan Flying Squad (tim patroli gajah latih). Sebelumnya, Anjani cukup akrab dengan Rachel. Namun kemudian, ia melihat Rachel dekat dengan Chay. Apalagi Rachel dengan mudahnya memberi instruksi kepada Indro (gajah latih Chay), padahal selama ini Indro hanya menurut pada Chay. Karena rasa cemburunya itulah Anjani menjauh. Bukan hanya menjauhi Rachel, tetapi juga Chay.

Bukannya ada Rachel? Dan, dia juga sudah bisa akrab dengan Indro, kan? Kenapa tidak dia saja yang kamu ajak?” – hal. 106

Sikap Anjani yang menjauh ini dirasakan pula oleh Rachel. Akan tetapi, gadis berkarakter supel dan cuek itu tidak mau memikirkannya. Rachel berusaha untuk tetapi berpikir positif.
Anjani tidak selamanya bisa menghindari Rachel. Itu terjadi ketika tim mereka harus mengusir gajah liar yang masuk ke perkebunan sawit warga. Mereka ke sana dengan menaiki Beno, gajah yang Anjani latih.
Dan sesuatu yang buruk terjadi pada Rachel. Membuat Anjani merasa bersalah, dan membuat Rachel menutup diri.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Penasaran?

REVIEW

Sebenarnya, ini adalah buku lama. Saya baru membaca karena sebelumnya sedikit pesimis dengan temanya. Alam. Gajah. Hmmm, bukan sesuatu yang istimewa. Tetapi karena akhirnya penasaran juga, akhinya saya membaca buku ini.
Dan saya menyesal.
Menyesal karena menunda membacanya. T.T
Buku ini ... KEREN!! BAGUS!! TOP BGT!!
Serius.
Novel bertema alam saya rasa cukup jarang diangkat oleh penulis. Dari sekian banyak buku yang sudah saya baca, seingat saya ini satu-satunya novel yang membicarakan alam dan binatang.
Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama sisi Rachel dan Anjani secara bergantian, novel ini dikemas dengan sangat rapi. Tidak terjadi tumpang tindih karena dua sudut pandang yang digunakan. Bahkan perbedaan karakter mereka terasa jelas. Rachel yang supel, cuek, dan gesit. Sementara Anjani yang kalem, sensitif, dan penuh kehati-hatian. Kontras sekali, namun mereka saling melengkapi.
Konflik dalam novel ini bukan hanya percintaan biasa, tetapi juga tentang bagaimana seharusnya manusia menjaga alam dan tidak merusak habitat makhluk lainnya. Gajah yang datang dan memakan tanaman warga, itu karena habitat gajah yang diambil oleh manusia yang tamak.
 Sisi percintaan dalam novel ini benar-benar dewasa. Bukan berarti ada adegan 17+ ya, tetapi bagaimana setiap tokohnya menyikapi cinta dengan dewasa. Tidak ada jalan-jalan berdua ke mal, tidak ada nonton bareng ke bioskop lalu pulang larut, atau interaksi lainnya yang sering saya temukan di novel-novel.
Dengan menggunakan gaya bahasa yang ringan, novel ini cukup mudah dimengerti. Plotnya pun terjalin rapi. Tidak ada plot hole. Tidak ada sesuatu yang tidak penting. Semua dalam novel ini penting dan PAS.
Hanya saja, saya merasa agak lelah dengan narasi yang terlalu panjang. Saya tipe pembaca yang lebih suka dialog dan sering bosan jika membaca narasi lebih dari tiga paragraf. Ini selera saja sebenarnya, dan saya tidak menganggap ini kekurangan.

QUOTES

Ada banyak sekaliii quotes dalam novel ini. Di setiap awal bab, selalu ada kata-kata keren yang bisa dikutip. Tetapi saya hanya akan mencantumkan beberapa.
  • Kita tak bisa melarikan diri dari masa lalu. (hal. 5)
  • Alam memberi banyak hal daripada yang ia dapatkan. Sementara, kita mencari banyak alasan untuk memberi pada alam. (hal. 7)
  • Saat kerikil datang, cinta bisa bermetamorfosis menjadi rasa yang berbeda, dan jaraknya hanya tinggal selapis kertas dengan rasa benci. (hal. 109)
  • Perasaan tidak pernah bisa dianalogikan dengan dua kali dua hasilnya pasti empat. (hal. 109)
  • Siapa yang berani ngomong, harus berani menanggung akibatnya. (hal. 125)
  • Prasangka bisa mengubah setitik bara menjelma kobaran yang tak terduga. (hal. 129)
  • Semua hewan yang ada di arena sirkus adalah bukti nyata dari ekspliotasi manusia terhadap mereka. (hal. 134)
  • Jika hutan aman, penghuninya akan merasa nyaman, dan manusia pun akan merasa tenteram. (hal. 142)
  • Semakin lama kamu membiarkan dirimu terpuruk, semakin sulit buat kamu kembali bangkit. (hal. 250)
  • Jika kita terus-menerus menyalahkan diri akan sesuatu di luar jangkauan kita, bukankah itu sama artinya dengan kita meragukan Tuhan? (hal. 257)
  • Ada hal-hal yang terjadi di luar jangkauan kita. (hal. 265)


RATING

Cover: 4/5
Tema: 5/5
Karakter tokoh: 5/5
Gaya bahasa: 4/5
Plot: 4/5

Overall: 4.5/5

Rabu, 10 Mei 2017

[Review] Dessert


Judul: Dessert
Penulis: Elsa Puspita
Penerbit: Bentang Pustaka
Jumlah halaman: 318 halaman
Cetakan pertama, 2016
ISBN: 978-602-291-121-0

BLURB

Bagi sebagian orang, cinta SMA hanyalah salah satu kenangan masa remaja yang mudah saja untuk dilupakan. Namun, bagaimana jika ia kembali hadir di masa kini? Sosoknya yang sekarang jauh berbeda dibandingkan dulu. Ia lebih tampan, lebih berkarisma, dan lebih berpotensi kembali mencuri hati.

Naya begitu kaget ketika melihat Dewa kembali ke Tanah Air, setelah selama delapan tahun sekolah dan bekerja di Australia. Karena campur tangan Lulu, sahabat sekaligus partner bisnis Naya, pria itu kini membantu calon resto baru Naya dan Lulu, sebagai pastry chef. Namun, semuanya jadi tidak mudah. Di tengah kesibukan jelang pembukaan Dapoer Ketje, keduanya justru melancarkan aksi perang dingin dengan ego masing-masing.

Suasana makin parah dengan kehadiran Ava, mantan kekasih Dewa yang datang dari Australia. Juga Dipati, mantan Naya yang seorang artis. Perang dingin di antara mereka tampaknya akan meledak, memuntahkan segala ganjalan yang telah tersimpan selama bertahun-tahun. Sesuatu yang menyadarkan mereka bahwa masa lalu itu belum selesai sepenuhnya.

CUPLIKAN KISAH

Tidak seperti orang kebanyakan yang begitu mudah melupakan cinta masa SMA, Naya justru sulit. Delapan tahun berlalu dan Naya masih belum bisa move on dari Dewa. Bukan. Dewa bukan cinta pertama Naya. Dewa hanyalah laki-laki culun yang berbeda dari laki-laki lain yang pernah menjadi kekasih Naya.
Usia Dewa yang lebih muda setahun dari Naya dan karakternya yang pendiam tidak membuat Naya minder. Justru Nayalah yang mengungkapkan secara langsung perasannya kepada Dewa. Zaman sekarang perempuan memang berani, bukan?
Saat Dewa melanjutkan sekolah ke Australia, Naya terpaksa menjalani hubungan jarak jauh. Tahun pertama, baik-baik saja. Tahun kedua, Dewa mulai sulit dihubungi. Naya tidak percaya Dewa hanya sibuk. Bagaimana mungkin untuk mengirim pesan seminggu sekali saja sulit?
Dewa menghilang.
Hubungan berakhir begitu saja. Tanpa penjelasan.
Hingga akhirnya mereka dipertemukan kembali di Palembang. Naya yang resign dari pekerjaannya sebagai presenter acara kuliner, memutuskan bergabung dengan Lulu dan Arfan, yang akan membuat resto. Di sanalah ia bertemu kembali dengan Dewa.
Perang dingin terjadi. Dan cerita mengalir begitu saja hingga suasana mulai mencair. Belum cair sepenuhnya, masalah kembali muncul dengan kehadiran Dipati dan Ava di tengah-tengah mereka.
Naya tidak ingin penjelasan. Semua yang ada di antara mereka sudah usai meskipun hatinya merindukan sosok Dewa.
Namun, apakah bisa masalah selesai tanpa dibicarakan?

REVIEW

Sejak awal saya tahu akan ada seri Yummylit yang terbit, saya tidak begitu antusias. Kenapa? Karena saya tidak begitu suka membaca buku yang bertema makanan. Apa, ya ... rasanya giung gitu. Tapi serius, cover-covernya menarik sekaliii. Saya jadi penasaran juga akhirnya.
Sebelum membeli, saya mencari tahu dulu dari #booklovers yang menjadi teman saya di Instagram, buku mana yang harus lebih awal dibeli. Dan ternyata banyak sekali yang merekomendasikan buku ini.
Sebenarnya saya memang sudah tertarik dengan buku ini karena covernya yang cute sekali. Yah, meskipun saya bukan orang yang suka warna jreng, tapi tetap saja saya perempuan yang menyukai hal-hal menarik. Judulnya juga hanya satu kata, sehingga mudah diingat. Jadi, saya segera membeli ini.
Ini adalah kali pertama saya membaca tulisan Elsa Puspita. Dan bisa dibilang, saya tidak kecewa membeli buku ini. Saya setuju, buku ini bagus.
Seperti judul serinya, Yummylit, novel ini bertema makanan. Konsep makanan yang digambarkan oleh penulis begitu jelas, bukan sekadar tempelan. Karakter setiap tokohnya juga begitu kuat, didukung oleh point of view yang digunakan penulis, yaitu POV ketiga serba tahu.
Naya, digambarkan sebagai perempuan yang keras kepala, cuek, dan hobi makan. Lula, sahabat Naya yang super duper peduli pada Naya. Dewa yang irit bicara dan cool. Arfan, yang tegas namun juga cerewet. Ada juga Damar, kakak Naya, yang jail namun amat menyayangi adiknya. Dan beberapa tokoh lain yang karakternya begitu tercermin baik secara show maupun tell.
Untuk plot, saya merasakan temponya cepat, tetapi tepat. Tidak ada hal-hal yang muncul dan sia-sia. Semua berkaitan dan seimbang.
Cara penulis mendeskripsikan setting tempat cukup saya kagumi. Saya sampai dapat membayangkan dengan jelas bagaimana bentuk Dapoer Ketje secara fisik dan penasaran untuk berada di sana. Benar-benar terkesan nyata.
“Meja bar,” Naya berjalan ke salah satu sudut, “kabinet di belakangnya, semua dibikin kayak yang biasa ada di dapur. Meja-kursi di ruang makan keluarga.” – hal. 36
“Interiornya bisa pakai peralatan dapur!” tambah Lulu. “Panci, wajan, spatula, semacamnya, dipajang di dinding. Terus duplikasi bumbu-bumbu masak dari styrofoam atau apa gitu, juga digantung jadi hiasan.” – hal. 36
“Pintu dapur ada tiga. Pintu belakang, langsung mengarah ke luar; pintu depan, ada di belakang meja bar, tempat pramusaji ngasih dan ngambil pesanan buat dikasih ke pelanggan; pintu tambahan, semacam connecting door antara dapur sama ruang manajer.” – hal. 38
Yang saya sayangkan dari novel ini hanya dua hal. Pertama, ada pengulangan tentang bagaimana sosok Dewa yang sama-sama dicantumkan dalam bentuk narasi.
Sosok Dewa digambarkan sebagai laki-laki yang memiliki lesung pipit di sebelah kanan. Sebenarnya lesung pipit itu ada dua, tetapi yang sebelah kiri hanya terlihat ketika dia tersenyum lebar. Penjelasan mengenai ini diulang dua kali dan nyaris sama.
... dan satu lesung pipit di sebelah kanan. Dua, sebenarnya. Hanya saja yang sebelah kiri baru terlihat saat Dewa benar-benar tertawa lebar, yang sangat jarang dilakukannya. – hal. 56
Dewa punya dua lesung pipit sebenarnya. Hanya saja, lesung pipit di kiri tidak sejelas di kanan hingga hanya muncul saat Dewa tersenyum lebar atau tertawa lepas, tidak seperti di sebelah kanan. – 167
Sebenarnya, jika pembaca tidak begitu sadar, ini bukan masalah. Tetapi bagi yang sadar seperti saya, jujur saja ini sedikit mengganggu.
Dan kedua, saya tidak melihat korelasi yang kuat antara judul novel dengan isi. Novel ini berjudul Dessert, tetapi pembahasan tentang dessert tidak begitu banyak dan baru muncul lumayan intens di bagian tengah menjelang akhir. Ada, tetapi tidak banyak. Mungkin kalau sejak awal sudah dijelaskan, baru akan terasa pas. Ini pendapat pribadi lho, ya.
Tapi meskipun begitu, overall saya menyukai novel ini. Suka sekali, malah. ^^

QUOTES


  • Doa buruk memang tidak pernah terkabul. (hal. 55)
  • Kalau mood buruk sudah mengambil alih, mengendalikan diri menjadi pekerjaan yang cukup sulit. (hal. 64)
  • Nikahi perempuan yang menurut kamu pantas buat kamu sayangi, lindungi, dan hormati seumur hidup kamu. Nikahi dia karena kamu mau, bukan karena harus. (hal. 224)
  • Satu hubungan itu harus berjalan dua arah. (hal. 243)

RATING
Cover: 5/5
Tema: 3.5/5
Karakter tokoh: 4/5
Plot: 4/5
Gaya bahasa: 4/5
Overall: 4/5


Selasa, 09 Mei 2017

[Review] Happy Little Soul



Judul Buku: Happy Little Soul
Penulis: @retnohening
Penerbit: Gagasmedia
Jumlah halaman: 202 halaman
Cetakan kelima, 2017
ISBN: 978-979-780-886-0


BLURB

Ndak apa-apa, itu namanya be-la-jar.” Atau, “Sorry...,” seru Kirana sambil tersenyum dengan tatapan mata teduhnya yang siapa pun pasti tak bisa menolaknya.

Please ... sorry ... thank you ... adalah kata-kata tulus nan menggemaskan yang kerap disampaikan oleh Kirana ketika bermain. Baginya, belajar dari kesalahan is okay. Dan bagi Ibuk, dia justru banyak belajar tentang sabar dari sang anak, Mayesa Hafsah Kirana.

Life is an adventure. Cerita petualangan Ibuk dan Kirana di Happy Little Soul ini mengajak kita semua—kakak, adik, orangtua, calon ayah atau ibu, dan sebagai apa pun perannya—untuk belajar hal-hal sederhana mengenai kasih sayang dan bersama mewarnai kehidupan dengan lebih baik.


ISI BUKU

Seorang ibu pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Seorang ibu pasti ingin memiliki anak yang bukan hanya pintar, tetapi juga cerdas dan memiliki akhlak yang baik. Akan tetapi, tidak banyak yang paham bahwa untuk memiliki anak yang baik, maka ibu juga harus bersikap baik. Karena anak, akan selalu meniru apa yang dilakukan oleh orangtuanya.
Buku ini bukan novel, bukan pula biografi. Tetapi sebuah buku yang berisi pengalaman Retno Hening dalam mendidik anaknya, Kirana. Retno Hening, atau yang akrab disapa “Ibuk”, bukan penulis, akan tetapi beliau begitu menginspirasi karena memiliki anak yang sangat cerdas. Hal itu terlihat dari video tentang keseharian Kirana yang diunggah di akun Instagram-nya @retnohening.
Buku ini berisi sebelas bab dimulai dari kelahiran Kirana sampai usia Kirana saat ini (tiga tahun). Sebelum mengandung Kirana, Ibuk sempat keguguran dan membuatnya bersedih. Tetapi kemudian ia yakin, Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih kuat dan lebih baik. (hal. 5)
Beberapa bulan kemudian, sang suami dipindahtugaskan ke Muscat, Oman dan tidak diperbolehkan untuk membawa keluarga dalam waktu dekat. Ibuk yang memang ingin segera memiliki anak, terus berdoa kepada Allah agar diberikan. Dan alhamdulillah, Allah pun mengabulkan. Dan di minggu ke-39, lahirlah bayi kecil yang diberi nama Mayesa Hafsah Kirana.
Sejak usia Kirana 0 bulan, Ibuk tidak pernah bosan mengajaknya berbicara. Beliau yakin bahwa suara apa pun yang Kirana buat adalah sebuah komunikasi, sehingga dengan terus merespons Kirana, akan membuat hubungan mereka semakin dekat. 
Misalnya, ketika Kirana baru bangun tidur, Retno Hening akan menyapa, “Assalamu’alaikum, Nak, udah bangun, ya? ...” 
Di usia 6-12 bulan, Ibuk mulai memberikan Kirana buku yang terbuat dari kain dan berbagai macam kartu bergambar. Di saat ini, Kirana juga mulai belajar mengucapkan kata. Jika salah, Ibuk dengan cepat mengoreksinya agar tidak menjadi kebiasaan. Misalnya, ketika Kirana mengucapkan, “Yayah”, Ibuk membalasnya dengan, “Oh, Ayah. Ayah, ya.” 
Di usia 1-2 tahun, Ibuk mulai mengajak Kirana berinteraksi tanya-jawab. Bertanya tentang gambar tertentu, meminta tolong sesuatu, atau menceritakan ulang isi buku yang sudah diceritakan. Di usia 2-3 tahun, Kirana mulai banyak bertanya. Di sini, Ibuk mulai mengajak Kirana berdiskusi.
Zaman sekarang, smartphone adalah barang yang biasa. Banyak anak-anak yang diberikan smartphone agar tidak mengganggu aktivitas orangtua. Apakah Ibuk juga melakukannya?
Ya. Dengan catatan, Ibuk selalu mengawasi.
Ibuk harus memastikan bahwa apa yang Kirana tonton memanglah layak untuk ditonton anak-anak. Ketika usia Kirana masuk tiga tahun, Ibuk juga mulai mengunduh beberapa permainan edukasi di tablet. Meskipun demikian, sekali lagi, Ibuk tetap mengawasi.
Jika Ibuk terus bermain dan menemani Kirana, bagaimana dengan rumah? Siapa yang merapikan rumah?
Tentu saja Ibuk. Dan beliau mengajak Kirana berperan serta dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Beliau percaya dengan melibatkan anak, sang anak akan merasa penting. Misalnya, ketika Ibuk harus membersihkan lantai, beliau meminta Kirana mengelap lemari. Hasilnya tentu tidak bersih, tetapi di sinilah Kirana belajar untuk menolong ibunya. Kirana juga belajar memahami perintah.
Sebagaimana anak-anak pada umumnya, Kirana pun terkadang tidak mau mendengarkan perkataan Ibuk. Misalnya, ketika Kirana tidak merapikan mainannya, perintah biasa tidak akan berpengaruh. Salah satu cara Ibuk adalah dengan bernyanyi sambil merapikan mainan Kirana perlahan, membuat Kirana tertarik dan ikut merapikan mainannya.
Ibuk juga mengajarkan Kirana tiga kalimat ajaib sejak kecil: please, sorry, dan thank you. Mudahkah mengajarkan ini? Tentu saja tidak. Tetapi Ibuk tidak pernah menyerah.
Di saat sedang bermain bersama Kirana, Ibuk meminjam mainan dengan mengatakan please, lalu setelah mendapatkannya Ibuk mengatakan thank you. Lambat laun, anak akan mengerti sendiri dan terbiasa.
Ketika Kirana dapat melakukan sesuatu, Ibuk tidak lupa memujinya. Pujian akan membuat anak merasa percaya diri. Selain itu, Ibuk juga tidak ragu untuk menunjukkan rasa cintanya kepada Kirana. Beliau tidak bosan untuk mengatakan bahwa beliau menyayangi Kirana. Dengan demikian, Kirana akan merasa disayangi. Kirana juga tidak malu mengungkapkan perasaannya.
Sebagai manusia biasa, terkadang Ibuk juga merasa lelah. Adakalanya Ibuk marah ketika Kirana “mengganggu”. Misalnya, ketika Ibuk masak, lalu Kirana mengajak bermain. Atau ketika malam tiba, Ibuk mengantuk, namun Kirana tidak dapat tidur. Ibuk marah, tetapi kemudian Ibuk sadar bahwa itu tidak membuat keadaan menjadi membaik. 
Satu hal yang Ibuk tekankan dalam buku ini, yaitu pentingnya komunikasi antara orangtua dan anak. Bagaimana Kirana dapat menjadi anak yang peduli terhadap sesama? Karena Ibuk sering mengajaknya bercerita. Bagaimana Kirana dapat menjadi anak yang mau berbagi? Karena Ibuk sering mengingatkannya bahwa berbagi itu penting. Semua dilakukan dengan berkomunikasi.
Dengan komunikasi yang intensif, suara yang lembut, serta kesabaran yang penuh, seorang ibu akan dapat memahami anaknya. Berusaha untuk memahami tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa. Dari buku ini, kita bisa belajar untuk memahami anak dengan penuh cinta.

Untuk buku ini saya berikan 5 bintang!! Begitu menginspirasi.

[Review] Everything, Everything



Judul Buku: Everything, Everything
Penulis: Nicola Yoon
Penerjemah: Airien Kusumawardani
Penerbit: Spring
Jumlah halaman: 336 halaman
Cetakan pertama, 2016


BLURB

Penyakitku langka, dan terkenal.

Pada dasarnya, aku alergi terhadap seluruh dunia. Aku tidak bisa meninggalkan rumahku, dan belum pernah keluar dari rumah selama tujub belas tahun. Orang yang aku temui hanyalah ibuku dan Carla, perawatku.

Tapi suatu hari, sebuah truk pindahan tiba di rumah sebelah. Aku melongok keluar dari jendela dan aku melihat cowok itu. Dia tinggi, kurus, dan mengenakan baju serba hitam. Dia memergokuku sedang menatapnya dan dia balik memelototiku. Namanya Olly.

Mungkin kita tidak bisa memperkirakan masa depan, tapi kita bisa memperkirakan satu atau dua hal. Seperti misalnya, aku yakin aku akan jatuh cinta pada Olly. Tapi, hal itu hanya akan menjadi bencana.


CUPLIKAN KISAH

Everything, Everything, menceritakan seorang gadis 17 tahun bernama Madeline Whittier atau Maddy yang menderita penyakit langka—SCID atau Severe Combined Immunodeficiency. Bisa dibilang, Maddy alergi pada dunia dan itu membuatnya tidak pernah keluar rumah selama 17 tahun.

Seperti yang disebutkan dalam blurb-nya, hanya ada dua orang yang ditemuinya. Ibunya, yang juga seorang dokter, dan Carla, perawatnya. Awalnya, semua berjalan baik-baik saja sampai akhirnya ia bertemu dengan Olly, anak laki-laki yang menjadi tetangga barunya,

Bagaimana mereka berkenalan?

Seperti yang ada di film-film, jendela kamar mereka berseberangan dan dengan membuat tulisan pada jendela mereka bertukar alamat email. Di sinilah hubungan mereka bermula.

Lambat laun, Maddy ingin mereka bertemu. Bukan hanya sekadar chatting. Melalui bantuan Carla, dan tentunya tanpa sepengetahuan ibu Maddy, pertemuan mereka pun terlaksana. Dan satu hal yang Carla pesan adalah, tidak boleh ada sentuhan.

Cinta selalu membuat manusia menjadi berubah. Begitu pula Maddy. Perubahan sikap Maddy membuat ibunya curiga sampai akhirnya ibu Maddy mengetahui semuanya dan memecat Carla. Ibu Maddy menghadirkan perawat baru yang begitu menyebalkan dan hubungan Maddy-Olly pun merenggang.

Lambat laun, Maddy tidak tahan. Ia nekat keluar rumah dan meminta Olly membawanya ke Hawai. Maddy sudah mempersiapkan segalanya. Tiket pesawat dan penginapan. Agar Olly yakin bahwa ia akan baik-baik saja, ia bercerita tentang pil yang akan membuat tubuhnya sehat saat keluar rumah. Cerita bohong, tentu saja.

Di Hawai, mereka bersenang-senang. Dan bencana pun terjadi. Maddy sakit. Olly panik.

Bagaimana cerita selanjutnya? Silakan baca. :D


REVIEW

Novel ini bisa dibilang novel ringan. Tetapi saya masih kesulitan membaca buku terjemahan dan membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk menyelesaikannya. :D

Tapi saya puas.

Kata orang, novel ini biasa saja. Saya? Suka!!

Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama dari sisi Maddy, saya ikut terhanyut dalam ceritanya. Saya dapat membayangkan bagaimana perasaan Maddy saat ada tetangga baru yang menarik untuk diakrabi. Saya dapat membayangkan bagaimana Maddy menantikan email baru dan berbicara langsung pada Olly. Dan ketika akhirnya mereka bertemu, saya dapat membayangkan bagaimana Maddy ingin menyentuh Olly. Pokoknya, semua yang dirasakan Maddy, saya rasakan juga.

Akan tetapi, karena sangat berpusat pada Maddy, saya kurang menyelami perasaan tokoh lain. Ini memang menjadi kekurangan dalam menggunakan POV 1 sudut tertentu, sebenarnya, jadi tidak masalah. Dan karena itulah saya tidak dapat menjelaskan bagaimana karakter tokoh lain.

Untuk konflik sebenarnya tidak begitu pelik, tetapi cukup menegangkan. Dan bukan hanya itu, menjelang akhir saya merasa sangat sedih dengan kenyataan yang sebenarnya. Rasanya seperti hati ini diremas. Serius. Entah saya yang berlebihan membaca buku ini atau bagaimana, tapi rasanya memang seperti itu.


QUOTES

  • Kita tidak bisa selalu mendapatkan apa yang kita mau. (hal. 74)
  • Perbedaan antara tahu dengan melihat secara langsung sama seperti perbedaan antara mimpi terbang dengan benar-benar terbang. (hal. 82)
  • Waktu berharga. Dan tidak sopan kalau kita membuang-buang waktu orang lain. (hal. 102)
  • Hidup adalah anugrah. Jangan lupa untuk menjalani hidup. (hal. 152)
  • Jadilah gadis yang berani. (hal. 153)
  • Ada beberapa hal yang memang harus kau alami sendiri. (hal. 271)


RATING

Cover: 4.5/5
Tema: 4/5
Karakter tokoh: 3.8/5
Plot: 3.5/5
Gaya bahasa: 3.8/5
Overall: 3.8/5