Minggu, 31 Desember 2017

[Review] Cinta Akhir Pekan


Judul: Cinta Akhir Pekan
Penulis: Dadan Erlangga
Editor: Husfani Putri
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 344 halaman
Tahun terbit: 2015

Blurb

Arlin yakin ia telah diperkosa!
Setelah menginvestigasi dan menginterogasi keempat teman prianya yang menginap dan berpesta di suatu akhir pekan, semua punya alibi meyakinkan bahwa mereka bukan pelakunya. Lalu, siapa?
Dunia dan masa depan Arlin runtuh dalam semalam. Ia bahkan sempat memutuskan akan mengakhiri hidupnya karena tak sanggup menanggung aib dan malu.
Ketika akhirnya salah seorang mengaku sebagai pelakunya dan bersedia bertanggung jawab, Arlin tak serta merta percaya. Arlin mengenal pria itu sejak di bangku SMP, dan dia terlalu baik untuk melakukan hal sebejat itu.
Ironisnya, Arlin harus menerima pernikahannya agar benih yang ia kandung tidak dicap sebagai anak haram. Arlin bertekad melampiaskan kemarahannya dan menjadikan pernikahan mereka sebagai neraka bagi pria itu. Hingga sebuah rahasia tersibak, membuat Arlin percaya bahwa cinta yang tulus benar-benar ada.


Berawal dari Sebuah Kebohongan

Kebohongan tidak pernah menjadi hal baik. Arlin merasakan sendiri akibat dari berbohong kepada ibunya. Sebelum melewati akhir pekan di vila bersama Dita, Arlin mengatakan kepada ibunya bahwa itu adalah perpisahan di kampus dengan teman-temannya. Yah bukan kebohongan besar sih, karena yang datang ke vila itu pun memang teman-teman Arlin, hanya saja bukan teman sekelas. Mereka adalah Bisma, pacarnya Dita, Chandra, Ferdy, dan Edwin.
Kebohongan kecil Arlin ternyata menjelma menjadi hal fatal. Malam itu, dia terpaksa minum minuman beralkohol untuk pertama kalinya dan langsung ambruk. Lalu, seseorang memerkosanya. Siapa? Bagaimana bisa?

Selalu ada yang pertama untuk segala hal yang baik dan buruk. –hal. 12

Arlin sendiri mengaku benar-benar lupa akan kejadian itu. Hanya saja, dia yakin dia telah diperkosa. Bukan hanya merasakan sakit, dia juga telat datang bulan. Dan saat dicek, terbukti bahwa dia hamil.
Dengan bantuan Dita, mereka menginterogasi semua cowok yang hadir dalam acara malam itu. Tapi, semua memiliki alibi yang kuat. Yah, mana ada maling mengaku, sih? Apalagi untuk hal bejat seperti ini.
Sampai akhirnya, seseorang mengaku. Membuat Arlin benci, benci, dan sangat benci. Tapi, dia harus menikah agar anaknya tidak terlahir sebagai anak haram. Dan sebagai bentuk pembalasan dendam, Arlin memperlakukan suaminya dengan buruk. Tidak peduli meski sang suami sangat memperhatikannya.
Tapi kemudian, saat Arlin mulai merasakan debaran aneh kepada suaminya, rahasia terbongkar. Sebuah kebohongan kecil pun kembali berdampak besar.

Kebohongan tetaplah kebohongan. –hal. 18


Ulasan

Sejak pertama kali membuka lembar pertama novel ini, saya nggak bisa berhenti membaca. Memang nggak satu hari banget sih, selesainya, tapi untuk saya yang di bulan Desember ini bacanya lambat, Cinta Akhir Pekan termasuk yang saya baca dengan cepat.
Kemuraman, keputusasaan, kemarahan, bahkan kebingungan yang dirasakan Arlin benar-benar menular. Saya ikut merasakan semua itu dan... yah, bersimpati kepada Arlin.
Novel ini menggunakan POV 1 Arlin, hal yang saya kagumi karena penulisnya cowok. Nggak gampang pastinya. Tapi penulis berhasil membuat Arlin tetap terasa cewek yang galau. Saya bahkan sampai lupa kalau yang nulisnya cowok.
Sejujurnya, saya agak kurang suka baca buku yang menggunakan POV 1. Seringnya bosan dan mengantuk. Tapi, hal itu nggak saya rasakan saat membaca novel ini. Apalagi babnya pendek-pendek. Klop, deh.
Ceritanya mengalir dan enak banget dibaca. Konfliknya rumit, juga sedikit menipu. Dua kali saya tertipu. Pertama, saat masuk ke bab 27. Itu sempat mikir, “Lho, udah nih, gini doang”. Kedua, saat membaca bab 35.
Bagian yang paliiing saya suka adalah waktu Arlin dan suaminya saling tatap gitu dari tempat berbeda. Suaminya di sofa, Arlin di tempat tidur. Lalu juga waktu Arlin membuka-buka buku kenangan SMP-nya. Dua kejadian itu manis bangeeet....
Hal yang mungkin saya anggap kekurangan dari novel ini ada beberapa: Pertama, Dita. Dia ini sahabat Arlin, tapi baiknya kebangetan. Maksudnya, dia ini kok nggak ngambek sih waktu tahu kalau ada foto tunangannya bareng Arlin? Dia ini kok memaafkan begitu saja. Kan bakalan seru kalau misalnya Dita marah besar gitu.
Kedua, tentang keluarga Arlin. Di awal, mereka ini berperan sangat penting, tapi rasanya ya cuma sampai di sana. Menjelang akhir, mereka seperti nyaris tenggelam. Bukan hilang ya, tapi nyaris tenggelam.
Ketiga, tentang Edwin. Yah, rasanya agak kurang natural sih alasannya itu.
Meskipun demikian, saya suka banget sama novel ini. Puaaasss banget!! Nggak menyesal akhirnya beli. Padahal, sejak awal terbit, saya sudah tertarik dengan novel ini. Covernya cantik dan judulnya menarik. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa memiliki meski terlambat dua tahun. *nangis haru

Quotes Favorit

Kalau kamu ingin menggerakkan tubuh seseorang, jangan menarik tangannya,
tapi sentuhlah hatinya. –hal. 82

Rating

Cover: 4/5
Tema: 4/5
Karakter: 3.5/5
Gaya bahasa: 4/5
Plot: 3.5/5
Overall: 3.8/5


Jumat, 10 November 2017

[Review] A Thing Called Us



Judul: A Thing Called Us
Penulis: Andry Setiawan
Penyunting: Ayuning
Penerbit: Haru
Jumlah halaman: 290 halaman

Blurb
Ini kisah cinta yang biasa.
Tentang tiga orang sahabat.
Tentang mereka yang memendam perasaan masing-masing.
Shun, Kotoha, dan Shinji sudah berteman sejak kecil.
Sampai suatu saat, Shinji tiba-tiba memutuskan untuk menghilang dari kehidupan mereka tanpa memberi kabar secuil pun.

Setelah lima tahun berlalu, Kotoha masih menunggu Shinji pulang.
Sementara itu, Shun menunggu Kotoha melupakan pria itu.
Namun, mau sampai kapan mereka saling menunggu?
Mereka hanya bisa berharap, kisah cinta yang biasa ini tidak berakhir dengan penyesalan.


Ulasan Kisah dan Kesan

Kisah dimulai setelah lima tahun Shinji menghilang. Shun dan Kotoha yang masih bersama, sulit untuk melupakan. Apalagi Kotoha, yang bisa dibilang cinta mati kepada Shinji. Sementara Shun, tidak berhenti berharap Kotoha akan memahami perasaannya. Sebenarnya Shun sudah mengungkapkan perasaan, tetapi Kotoha selalu mengabaikan. Tidak menerima, juga tidak menolak.
Posisi Shun di sini benar-benar menyakitkan karena Kotoha mempermainkan perasaannya. Apalagi saat dia tahu ada perempuan yang menyukai Shun. Di satu sisi, dia tidak mau kehilangan Shun. Tapi di sisi lain, dia tidak bisa menerima Shun menjadi kekasihnya. Padahal, Shun selalu ada untuk Kotoha. Dia selalu menemani gadis itu. Tapi Kotoha bahkan tidak mau membaca apalagi mengangkat telepon dari Shun. Menyebalkan!
Dari awal membaca novel ini saya sudah merasakan kemuraman yang sangat kental karena langsung ditunjukkan bagaimana kondisi Shun dan Kotoha setelah lima tahun Shinji menghilang. Tapi bukan berarti suasana kelam membuat bosan, karena ada dua tokoh periang di antara mereka, yaitu Aki dan Hayato.
Aki diceritakan sebagai rekan kerja Shun, dan Hayato bos mereka. Karakter mereka yang cuek, seenaknya, menjadi pewarna tersendiri dalam novel ini.
Dengan menggunakan POV 3 serba tahu, penulis berhasil menggambarkan perasaan setiap tokoh sehingga pembaca mampu menyelami karakter mereka. Gaya bahasa yang digunakan seperti terjemahan, tapi ringan dan mengalir. Jadi tidak perlu khawatir kalau kalian tidak suka baca buku terjemahan.
Oh ya, karakter yang paling saya suka adalah Aki, seorang cewek mungil, ceriwis, dan suka susu stroberi. Sedangkan karakter yang tidak saya suka adalah Kotoha, karena yang dia lakukan kepada Shun sangat kejam!
Saya menyukai novel ini, nyaris semuanya! Cover, tema, gaya bahasa, alur, sampai penyelesaian masalah di antara mereka. Apalagi ketika bagian Shun dan keluarganya, itu benar-benar natural dan menguras emosi. Tapi, yang saya lihat kurang adalah porsi untuk Shinji. Ini kisah mereka bertiga, tapi kenapa Shinji sedikit sekali diceritakan? Bukan berarti novel ini diselesaikan dengan terburu-buru, hanya saja saya merasa kurang saja di bagian Shinji.
Meski demikian, saya suka novel ini!
Salah satu novel terbaik yang pernah saya baca.
Saya bahkan mungkin akan membacanya sekali lagi. Atau dua kali? Atau malah lebih?


Quotes Keren

Tetap saja, diabaikan itu rasanya tidak menyenangkan. –hal. 46

Murung tidak akan menyelesaikan masalah, kan? –hal. 48
Kita tidak bisa menahan perasaan kita sendiri, kan? Apalagi memaksakan perasaan kita. –hal. 50

Ada segelintir orang yang tidak ingin dibantu. –hal. 51

Kita tidak bisa tidak melakukan apa-apa jika kita menyukai seseorang, kan? –hal. 61

Dan lagi, perasaanbukan mainan. –hal. 86

Ada hubungan di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan satu kata ‘suka’. –hal. 89

Rating

Cover: 5/5
Tema: 3.5/5
Karakter: 4/5
Gaya bahasa: 4/5
Konflik: 4/5

Overall: 4/5

Kamis, 09 November 2017

[Review] Labirin



Judul: Labirin
Penulis: Aci Baehaqie
Penerbit: Bhuana Sastra
Penyunting: Jia Effendi
Jumlah halaman: 356 halaman

Blurb

Berbagai episode hidup telah dilewati Ayla, hingga pada suatu saat, ia membuat suatu keputusan yang membawanya pada penyesalan panjang dan menyeretnya menuju sebuah labirin yang rumit.

Labirin masa lalu itu harus ia lewati satu per satu, sehingga pada akhirnya, ia bisa menemukan jalan keluar, dan dengan rela melepaskan bagian yang amat berharga dalam hidupnya.

Ulasan Kisah dan Kesan

Pertama-tama, saya ucapkan kepada Kak Aci karena sudah mempercayai saya untuk mereview novel ini.
Baiklah, kita mulai mengulas novel ini. Oh ya, saya tidak akan terlalu rinci menjelaskan jalan ceritanya ya, karena sangat rawan spoiler. ^^

Labirin berkisah tentang Ayla, seorang arsitek, yang pergi ke tempat-tempat di Indonesia dan dunia untuk melupakan masa lalu. Ayla memiliki dua sahabat, Kayla dan Emi. Mereka bertiga memiliki permasalahan masing-masing.
Ayla dengan kekasihnya Anthony yang berbeda keyakinan, Kayla yang memiliki kekasih kasar, dan Emi yang menggunakan narkoba. Ada satu cowok lagi bernama Igo, sahabat Ayla juga, yang mengaku gay.
Masalah setiap tokoh dalam novel Labirin begitu rumit, pelik. Saya bahkan merasa masalah-masalah mereka tidak bisa diselesaikan dengan mudah. Apalagi tema-tema sensitif begini cukup jarang diangkat. Tetapi saya acungi empat jempol untuk keberanian penulis dan cara penulis menyelesaikannya.
Awalnya, saya sedikit kesulitan dengan alur maju-mundur yang digunakan. Tapi setelah membaca lembar demi lembar, saya mulai terbiasa.
Dari semua tokoh yang ada, saya merasa karakter paling kuat adalah Ayla, Anthony, Igo, dan Emi. Karakter mereka konsisten, terasa nyata. Apalagi Emi, yang sikapnya berubah-ubah dan emosinya tidak stabil setelah mengonsumsi obat-obatan terlarang.
Saya suka dengan pemilihan POV 1 yang digunakan penulis. Membuat saya merasakan bagaimana karakter Ayla berkembang. Gaya bahasa yang digunakan sebenarnya ringan, meskipun sesekali ada ketidakkonsistenan. Saya lupa menandai halaman berapa, tapi itu bukan masalah karena saya tetap dapat menikmati novel ini.
Hanya saja, ada hal yang membuat saya kurang puas. Karakter Kayla kurang tereksplore. Saya juga merasakan kehadirannya mulai berkurang di sepertiga menjelang ending. Sayang sekali. Dia seperti tiba-tiba hilang.
Saya berani bilang novel ini bukan sembarang bacaan. Kenapa? Karena ada banyak informasi yang bisa kita dapatkan. Bahkan juga tentang tempat-tempat yang Ayla kunjungi, seperti Milan, Florence, Granada, sampai Flores. Saya juga mendapatkan banyak sekali kalimat-kalimat perenungan dalam novel ini. Bahkan saya merasa novel ini mengisi sesuatu yang kosong di hati. Sulit dijelaskan, tapi itulah yang saya rasakan.

Quotes

Kenangan dapat membantingmu tanpa ampun ke masa lalu, meskipun dengan susah payah kau mencoba melupakannya. –hal. 2

Dalam hidup, terkadang tidak penting bagaimana kamu memulainya, yang terpenting adalah bagaimana kamu mengakhirinya. Berhasil atau tidak tergantung perspektifmu. –hal. 92

Jangan pernah melepaskan kesempatan karena waktu atau kesempatan itu tidak akan terulang lagi. –hal. 92

Hal terbaik dari ikut sayembara kan dapat pengalaman dan pengetahuan yang baru. –hal. 97

Kita akan bertemu Tuhan, masa tidak mengenakan pakaian yang terbaik? –hal. 134
Laki-laki yang baik, enggak akan menggunakan tangannya untuk berbicara, untuk didengarkan. –hal. 141

Cinta itu bukan soal membebaskan, tapi juga mengenai keegoisan. Egoislah untuk mencintai seseorang. Karena, ketika lo egois, lo bisa melakukan segala hal. Melindunginya, menyayanginya, dan menjaganya. –hal. 183

Keserakahan selalu hanya akan menghancurkan seseorang. –hal. 218

Belajar itu enggak harus di sebuah institusi. Kamu bisa belajar lewat mana saja. Lewat buku atau berbincang dengan orang asing.... –hal. 232

Selalu harus ada harga yang dibayar dari sebuah pilihan. –hal. 272

Cara untuk bahagia yang paling mudah adalah berdamai dengan masa lalu. –hal. 281

Jangan pernah menyesali semua keputusan yang kamu telah kamu ambil, karena ketika kamu sudah ada di jalan itu, there’s no way to turn back. –hal. 302

Air mata bukan lambang dari kelemahan. Di saat-saat yang tepat, di saat seperti ini, air mata bisa berbicara pada dunia mengenai betapa kuat si pemiliknya. –hal. 315

Kadang kala, di sebuah kehidupan, ada beberapa hal yang tidak ada jawabannya. –hal. 324

Terkadang, tidak semua hal butuh alasan, bukan? –hal. 324

Ada begitu banyak hal yang indah ketika kita tersesat, yaitu saling menemukan. –hal. 340

Rating

Cover: 5/5
Tema: 4/5
Karakter: 3.8/5
Konflik: 4/5
Gaya bahasa: 4/5

Overall: 4/5

Jumat, 27 Oktober 2017

[Review] The Dead Returns



Judul: The Dead Returns
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerjemah: Andry Setiawan
Penyunting: Arumdyah Tyasayu
Penerbit: Haru
Jumlah halaman: 252 halaman


Blurb

Suatu malam, aku didorong jatuh dari tebing. Untungnya aku selamat.
Namun, saat aku membuka mataku dan menatap cermin, aku tidak lagi memandang diriku yang biasa-biasa saja.
Tubuhku berganti sosok dengan pemuda tampan yang tadinya hendak menolongku.
Dengan tubuh baruku, aku bertekad mencari pembunuhku.
Tersangkanya, teman sekelas.
Total 35 orang.
Salah satunya adalah pembunuhku.

Cuplikan Kisah dan Ulasan

The Dead Returns mengisahkan seorang anak SMA, cowok, bernama Koyama Nobuo yang jatuh dari tebing akibat didorong seseorang pada 2 September. Namun, syukurnya dia selamat. Hanya saja, ketika ia bangun, ia dikelilingi oleh dua orang yang tak dikenal tetapi mengaku sebagai orangtuanya. Saat ia becermin, barulah ia sadar kalau ia berada di tubuh orang lain—Takahashi Shinji, orang yang akan menolongnya.
Seperti pada blurb-nya, dengan tubuh Takahashi Shinjilah ia akan mencari tahu pembunuhnya. Untuk mempermudah dalam pencarian pelaku, Koyama pun pindah dari sekolah Takahashi ke sekolahnya. Ia juga berusaha agar bisa ditempatkan di kelasnya. Ia yakin, kalau pembunuhnya adalah teman sekelas, karena sebelum ia pergi ke tebing, ia mendapatkan memo di meja yang menyuruhnya ke sana.
Menjalani hidup dengan tubuh Takahashi tidaklah mudah. Bukan hanya seorang remaja yang disayangi keluarga, Takahashi juga memiliki band dan pacar. Sementara Koyama seorang cowok sederhana yang selama ini dikenal sebagai cowok suram dan selalu diabaikan.

“Sakit tahu, dianggap tidak ada padahal ada.” –hal. 100

Wajahnya biasa saja, kaku, dan selalu menunduk. Ia hanya memiliki satu teman: Yoshio. Mereka sama-sama menyukai hal-hal yang berhubungan dengan kereta. Selain Koyama, ada satu orang lagi yang selalu diabaikan. Dia adalah Maruyama Miho.
Berbeda dengan Koyama, Takahashi memiliki wajah yang menarik. Tidak ada yang berani mengabaikannya. Berkat tubuh Takahashi, ia menjadi akrab dengan Sasaki dan Arai, dua orang popular di sekolah. Bahkan seorang Maruyama yang tidak pernah bicara pun, berani menyapanya.
Di sekolah, Koyama mulai menyelidiki alibi teman-temannya pada tanggal 2 September. Ada banyak yang mencurigakan. Bahkan bukan hanya dari teman-teman sekelas, tetapi juga ibunya sendiri.
*
Ini adalah kali kedua saya membaca novel Akiyoshi Rikako dan lagi-lagi, saya dibuat terkecoh. Tema yang diangkat oleh penulis tampaknya bukan hal yang “baru” (tentang jiwa yang pindah raga), tetapi berhasil dieksekusi dengan sangat baik.
Bukan hanya mengenai misteri siapa pembunuh Koyama, novel ini juga bercerita tentang perisakan (bully). Koyama dirisak oleh teman-temannya. Bukan jenis perisakan dalam bentuk kekerasan, tetapi dalam bentuk mental. Dan menurut saya ini tidak kalah menyakitkan. Apa yang dialami Koyama ini saya yakin tidak jarang dialami oleh orang-orang di sekitar kita.
Sama seperti dalam Girls in The Dark, novel ini mengajak kita untuk menebak siapa pelaku dan alasan di balik semua yang terjadi. Tetapi Akiyoshi Rikako memang sangat hebat dalam membuat twist, saya yang awalnya berpikir, “Ah, pasti si ini! Nah, bener kan? Apa saya bilang?” langsung merasa, “Eh, eh, kok gini??”
Errr paham nggak? Hehe. Kalau kalian baca, pasti paham maksud saya. Kalau nggak paham, yuk segera baca novelnya!
Tentang alur, sebenarnya saya merasa alurnya agak sedikit lambat, tetapi itu bukan masalah besar karena dengan bahasa yang baku dan ringan, novel ini tetap asyik dinikmati. Lagi pula saya jadi lebih fokus menebak siapa pelaku.
Ada hal penting yang saya temukan saat membaca novel ini—hal yang jarang saya peroleh dari novel lain. Novel ini mengajarkan kita untuk tidak menilai seseorang dari fisiknya saja. Kita juga harus belajar untuk menerima orang lain agar bisa diterima. Dan lagi, kita harus belajar untuk peduli terhadap orang lain.  

Quotes

❤ Masing-masing rumah memiliki bau yang berbeda. –hal. 49
❤ Hidup sebagai orang lain itu sangatlah melelahkan. –hal. 53
❤ Hal yang paling menyedihkan adalah saat diabaikan waktu ada kegiatan kelompok. –hal. 98
❤Diabaikan secara tak sadar dan tanpa alasan rasanya lebih menyakitkan daripada diabaikan karena di-bully. –hal. 98
❤ Sakit tahu, dianggap tidak ada padahal ada. –hal. 100

Rating

Cover: 5/5
Tema: 3.5/5
Karakter: 4/5
Gaya bahasa: 3/5
Plot: 3.5/5

Overall: 3.5/5

Minggu, 08 Oktober 2017

[Review] Bellamia


Judul: Bellamia
Penulis: Ika Vihara
Penyunting: Kuntari P. Januwarsi
Penerbit: Phoenix Publisher
Jumlah halaman: 293 halaman

Blurb

Amia selalu percayabahwa karier dan cinta tidak boleh berada dalam gedung yang sama. Interoffice romance lebih banyak membawa kerugian bagi karier seseorang. Sudah banyak kejadian pegawai mengundurkan diri setelah putus cinta dan Amia tidak ingin mengikuti jejak mereka.

Selain di kantor, di mana Gavin bisa beremu dengan gadis yang menarik perhatiannya? Gavin tidak ada waktu untuk ikut komunitas, tidak bertemu dengan teman kuliah maupun teman SMA dan lebih banyak menghabiskan hidup di kantor.
Ketika Amia patah kaki dalam simulasi terorisme, Gavin—dengan alasan bertanggung jawab sebagai atasan—mulai membuka jalan untuk mengubah pandangan Amia. Namun Amia mengajukan satu syarat.

Merahasiakan hubungan dari semua orang.

Cuplikan Kisah dan Review

Kisah dimulai dengan sosok Amia yang patah hati karena Riyad, kekasihnya, menikah dengan perempuan lain. Dia merasa sulit melupakan lelaki itu. Untung saja ada Vara, sahabat Amia, yang terus menguatkannya.
Takdir membawa Amia bertemu dengan Gavin, atasan baru di kantornya. Saat pertama kali bertemu, Amia langsung tertarik kepada Gavin, tetapi semua itu lenyap karena sikap Gavin yang sok, menyuruh melakukan hal yang bukan jobdesc-nya. Meski sebal, tetap saja Amia tidak dapat memungkiri pesona Gavin.

Sedari tadi tanpa sadar Amia sibuk melirik Gavin yang tenang menyetir dengan mata menatap lurus ke depan. Tanpa bisa dicegah, Amiaingin mengamati wajah itu lebih teliti lagi. Ingin mengingat detailnya. –hal. 15

Kalau Amia sebal, Gavin malah senang melihat gadis itu. Amia memiliki wajah yang cantik, masih muda, dan lagi memiliki kekuatan untuk menarik perhatian orang. Apalagi Amia bekerja di lingkungan yang sangat didominasi oleh laki-laki. Tak aneh kalau dia jadi bahan pembicaraan para lelaki.
Suatu hari, kantor mengadakan simulasi terorisme. Kecelakaan kecil yang dialami Amia membuatnya dan Gavin semakin dekat. Hati Amia kembali dipenuhi getar cinta, begitu juga dengan Gavin. Namun, Amia tidak mau hubungan mereka diketahui oleh orang lain.
Bukan hanya harus menahan diri saat ada karyawan kantor yang membicarakan kecantikan Amia, Gavin juga harus berjuang untuk mencairkan hati Adrien, kakak Amia, yang juga seniornya semasa kuliah dulu. Maklum, Adrien sangat menyayangi Amia dan tahu baik-buruk Gavin.
Meski tampak sederhana, ada banyak sekali masalah yang ada dalam hubungan mereka. Komunikasi, dan juga rahasia kehidupan Amia.

Hai, hai, hai... Ini kali pertama saya membaca novel karya Kak Ika Vihara. Impian saya akhirnya terwujud, hehe. Maklum, saya sudah tertarik membaca tulisannya sejak lama. :D
Novel ini mengambil tema yang cukup menarik dan masih jarang diangkat oleh penulis lain. Tentang dunia engineer dan karyawan perempuan terlibat di dalamnya. Meski membahas dunia pekerjaan, tetapi tenang saja, kalian tidak akan bosan karena interaksi Amia dan Gavin begitu hidup.
Saya pribadi melihat Amia adalah sosok yang ceria, ceriwis, penuh percaya diri, kekanakan tapi keras kepala. Gavin pun sebenarnya keras kepala, tetapi sifat ini tidak terlalu dominan. Sifatnya lebih terkesan cuek, santai, dan ambisius.
Gaya bahasa yang digunakan penulis cukup mengalir, meskipun ada banyak kalimat berbahasa Inggris yang disisipkan. Plotnya rapi dan konfliknya cukup sederhana meski terkesan rumit.
Secara keseluruhan, saya menyukai novel ini karena mengangkat tema berbeda. Hanya saja, saya sedikit banyak terganggu dengan perdebatan Amia dan Gavin yang terlalu sering. Oke sih, mungkin ini untuk memperkuat karakter, tetapi kalau terlalu sering saya jadi sedikit bosan saat mereka berdebat. Saya juga menemukan beberapa typo dalam novel ini yang sayangnya tidak sempat saya tandai. Maaf, yaaa..
Btw, kalau kebanyakan orang suka sama Gavin, saya malah tertarik sama Adrien. Sukaaa sekaliii... Pengen punya kakak kayak dia. >_<

Quotes

Sebenarnya sih ada beberapa quotes keren yang saya temukan, tapi hanya ini yang sempat saya tandai, hehehe...

❤ Hukum alam itu, semakin kamu berusaha melupakannya, semakin kuat kenangan tentang dia akan mengikutimu. –hal. 3
❤ Orang patah hati tidak boleh dibiarkan sendiri. –hal. 4
❤ Kita bukan takut untuk mencintai. Hanya lebih hati-hati memilih siapa yang layak untuk menerima cinta kita. –hal. 23
❤ Every relationship, broken or not, has made us better person. –hal. 23
❤ Hukum yang berlaku dalam cinta adalah: all or nothing. –hal.145

Rating

Cover: 4/5
Tema: 3.5/5
Karakter: 3/5
Gaya bahasa: 3/5
Plot: 3/5
Overall: 3.3/5


Sabtu, 07 Oktober 2017

[Review] Aftertaste


Judul: Aftertaste
Penulis: Sefryana Khairil
Editor: Tesara Rafiantika
Penerbit: Gagasmedia
Jumlah halaman: 364 halaman
Tahun terbit: 2017


Blurb
Narend
Buatku, memberikan kesempatan kedua hampir tak mungkin.
Untuk apa membuka kemungkinan bagi kekecewaan yang lain?
Hati yang benar-benar patah tak perlu berulang-ulang, bukan?
Namun, kali ini rasanya berbeda. Hanya saja, aku bahkan tak lagi percaya cinta dan kisah romansa itu nyata.

Farra
Aku tak pernah merencanakan menjatuhkan hati kepadanya.
Tidak juga pada sikapnya yang sedingin es itu. Setiap saat bersamanya membuatku selalu bertanya-tanya juga berangan-angan tentang cinta.
Lalu, tiba-tiba ketakutan akan harapan kosong melandaku, lagi dan lagi.
Sudah kucoba untuk menepikan segala rasa.
Namun, terkadang, hati dan keinginan tak selalu sejalan.

Aftertase mengisahkan dua orang chef yang saling jatuh cinta, tetapi tak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Masa lalu membuat mereka enggan membiarkan hati berbicara, meskipun mereka tahu tak akan sanggup untuk saling melepaskan.

Cuplikan Kisah dan Review

Farra, melamar ke Bellaria, restoran Itali, setelah resign dari tempat lamanya. Awalnya dia senang, tetapi saat ingat kalau itu artinya dia akan bekerja sama dengan Chef Narend, selebrity chef yang terkenal, mendadak dia takut. Bagaimana tidak? Banyak sekali karyawan yang mundur karena sifat Narend yang keras. Meski begitu, Farra berusaha untuk menjalani kehidupan barunya.
Narend diceritakan sebagai chef yang mengidap penyakit serius dan ditinggalkan oleh kekasihnya, Chef Cindy. Ayahnya mewariskan Bellaria kepada ia dan Praya, adiknya. Narend sangat disiplin dan perfeksionis. Meski sakit, Narend tidak ingin orang-orang tahu tentang penyakitnya.

“Kamu bisa kerja, nggak?” tanya Chef Narend.
Farra menunduk, tidak berani menjawab.
“Saya tanya, kamu bisa kerja nggak?!” Kali ini, suaranya lebih keras.
“Bi—bisa, Chef.” Farra meremas tangannya sendiri.
“Kalau bisa, kenapa pancinya masih kotor seperti ini? Lihat!”
–hal. 53

Awalnya, Narend sangat tidak suka jika ada pegawai perempuan di dapurnya. Tetapi Praya sudah telanjur menerima Farra dan Farra sudah menandatangani kontrak. Sikap Narend kepada Farra pun sangat dingin. Tetapi lambat laun hatinya mencair. Ia mulai mau membuka diri dan membuka hati.
Melihat kedekatan kakaknya dengan Farra membuat Praya cemburu. Ia terus berusaha memperjuangkan perasaannya meskipun harus bersaing dengan Narend. Bukan hanya Praya, Cindy yang kebetulan melihat Narend akrab dengan perempuan lain pun tidak suka. Padahal, ia sudah akan menikah dengan Raymond. Kecemburuan membuatnya ingin melawan Farra dalam sebuah kompetisi besar.
Bagaimana keempat tokoh ini berperan dalam Aftertaste? Dan bagaimana Narend mengatasi penyakitnya? Sebenarnya saya ingin menghadirkan cuplikan kisah lebih banyak, tapi khawatir malah terjadi spoiler, jadi segini saja, ya. :D

Meski covernya menggambarkan suasana dapur, tetapi novel ini lebih banyak bercerita tentang impian, cinta, dan persaudaraan. Pembahasan mengenai makanan memang mewarnai kisah di novel ini, tetapi tidak begitu dominan kok. Jadi tidak melulu bicara masakan dan tidak membosankan.
Dengan gaya bahasa yang ringan, penulis membuat saya cukup menikmati novel ini. Meskipun temponya agak lambat, tapi porsi narasi dan dialog pas, plotnya pun rapi. Tema yang diangkat sebenarnya cukup sederhana, begitu juga konfliknya, namun dieksekusi dengan baik oleh penulis.
Kalau sebagian orang mengatakan terganggu dengan bab-bab pendek, saya malah menyukainya. Apalagi potongannya pas, tidak menggantung tiba-tiba. Pemilihan POV 3 oleh penulis juga pilihan yang sangat tepat untuk novel ini, karena membuat pembaca mengetahui semua perasaan tokoh. Saya juga sangat suka ada kalimat-kalimat keren setiap kali perpindahan sudut pandang. Suka sekaliii....
Kalau menyebutkan hal yang kurang saya sukai dari novel ini, ada dua hal. Pertama, saya menemukan beberapa kali typo, tapi sayangnya lupa saya tandai. Dan kebanyakan kurang huruf ‘n’. Kedua, perubahan sikap Narend kepada Farra terlalu cepat dan terkesan agak terburu-buru. Ini membuat chemistry mereka kurang kuat. Meski demikian, tidak mengurangi rasa suka saya terhadap novel ini.


Quotes
Sebenarnya ada banyak banget quotes dalam novel ini dan kepengen cantumkan semua, tapi pastinya bakal butuh waktu banyak, haha, jadi sebagian aja ya!

❤ Keluarga, surga kecil yang sederhana. –hal. 36
❤ Saat kamu menikmati apa yang kamu kerjakan, semua pasti menyenangkan, kan? –hal. 65
❤ Materi sebanyak apa pun tidak akan sanggup membeli cinta dan kehangatan sebuah keluarga. –hal. 173
❤ Keajaiban selalu ada bagi mereka yang mau berusaha. –hal. 231
❤ Semangatmu bisa membunuh rasa takutmu. –hal 241
❤ Kalau sayang, ya perjuangin. –hal. 268
❤ Kalau kita ada niat menuju yang lebih baik, insya Allah, ada jalannya. –hal. 275
❤Seseorang yang mencintai dengan tulus, pasti mengikhlaskan apa pun untuk kebahagiaan orang yang dicintainya. –hal. 337


Rating

Cover: 5/5
Tema: 3/5
Karakter tokoh: 3.5/5
Plot: 4/5
Gaya bahasa: 4/5
Overall: 3.8/5