Minggu, 31 Desember 2017

[Review] Cinta Akhir Pekan


Judul: Cinta Akhir Pekan
Penulis: Dadan Erlangga
Editor: Husfani Putri
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 344 halaman
Tahun terbit: 2015

Blurb

Arlin yakin ia telah diperkosa!
Setelah menginvestigasi dan menginterogasi keempat teman prianya yang menginap dan berpesta di suatu akhir pekan, semua punya alibi meyakinkan bahwa mereka bukan pelakunya. Lalu, siapa?
Dunia dan masa depan Arlin runtuh dalam semalam. Ia bahkan sempat memutuskan akan mengakhiri hidupnya karena tak sanggup menanggung aib dan malu.
Ketika akhirnya salah seorang mengaku sebagai pelakunya dan bersedia bertanggung jawab, Arlin tak serta merta percaya. Arlin mengenal pria itu sejak di bangku SMP, dan dia terlalu baik untuk melakukan hal sebejat itu.
Ironisnya, Arlin harus menerima pernikahannya agar benih yang ia kandung tidak dicap sebagai anak haram. Arlin bertekad melampiaskan kemarahannya dan menjadikan pernikahan mereka sebagai neraka bagi pria itu. Hingga sebuah rahasia tersibak, membuat Arlin percaya bahwa cinta yang tulus benar-benar ada.


Berawal dari Sebuah Kebohongan

Kebohongan tidak pernah menjadi hal baik. Arlin merasakan sendiri akibat dari berbohong kepada ibunya. Sebelum melewati akhir pekan di vila bersama Dita, Arlin mengatakan kepada ibunya bahwa itu adalah perpisahan di kampus dengan teman-temannya. Yah bukan kebohongan besar sih, karena yang datang ke vila itu pun memang teman-teman Arlin, hanya saja bukan teman sekelas. Mereka adalah Bisma, pacarnya Dita, Chandra, Ferdy, dan Edwin.
Kebohongan kecil Arlin ternyata menjelma menjadi hal fatal. Malam itu, dia terpaksa minum minuman beralkohol untuk pertama kalinya dan langsung ambruk. Lalu, seseorang memerkosanya. Siapa? Bagaimana bisa?

Selalu ada yang pertama untuk segala hal yang baik dan buruk. –hal. 12

Arlin sendiri mengaku benar-benar lupa akan kejadian itu. Hanya saja, dia yakin dia telah diperkosa. Bukan hanya merasakan sakit, dia juga telat datang bulan. Dan saat dicek, terbukti bahwa dia hamil.
Dengan bantuan Dita, mereka menginterogasi semua cowok yang hadir dalam acara malam itu. Tapi, semua memiliki alibi yang kuat. Yah, mana ada maling mengaku, sih? Apalagi untuk hal bejat seperti ini.
Sampai akhirnya, seseorang mengaku. Membuat Arlin benci, benci, dan sangat benci. Tapi, dia harus menikah agar anaknya tidak terlahir sebagai anak haram. Dan sebagai bentuk pembalasan dendam, Arlin memperlakukan suaminya dengan buruk. Tidak peduli meski sang suami sangat memperhatikannya.
Tapi kemudian, saat Arlin mulai merasakan debaran aneh kepada suaminya, rahasia terbongkar. Sebuah kebohongan kecil pun kembali berdampak besar.

Kebohongan tetaplah kebohongan. –hal. 18


Ulasan

Sejak pertama kali membuka lembar pertama novel ini, saya nggak bisa berhenti membaca. Memang nggak satu hari banget sih, selesainya, tapi untuk saya yang di bulan Desember ini bacanya lambat, Cinta Akhir Pekan termasuk yang saya baca dengan cepat.
Kemuraman, keputusasaan, kemarahan, bahkan kebingungan yang dirasakan Arlin benar-benar menular. Saya ikut merasakan semua itu dan... yah, bersimpati kepada Arlin.
Novel ini menggunakan POV 1 Arlin, hal yang saya kagumi karena penulisnya cowok. Nggak gampang pastinya. Tapi penulis berhasil membuat Arlin tetap terasa cewek yang galau. Saya bahkan sampai lupa kalau yang nulisnya cowok.
Sejujurnya, saya agak kurang suka baca buku yang menggunakan POV 1. Seringnya bosan dan mengantuk. Tapi, hal itu nggak saya rasakan saat membaca novel ini. Apalagi babnya pendek-pendek. Klop, deh.
Ceritanya mengalir dan enak banget dibaca. Konfliknya rumit, juga sedikit menipu. Dua kali saya tertipu. Pertama, saat masuk ke bab 27. Itu sempat mikir, “Lho, udah nih, gini doang”. Kedua, saat membaca bab 35.
Bagian yang paliiing saya suka adalah waktu Arlin dan suaminya saling tatap gitu dari tempat berbeda. Suaminya di sofa, Arlin di tempat tidur. Lalu juga waktu Arlin membuka-buka buku kenangan SMP-nya. Dua kejadian itu manis bangeeet....
Hal yang mungkin saya anggap kekurangan dari novel ini ada beberapa: Pertama, Dita. Dia ini sahabat Arlin, tapi baiknya kebangetan. Maksudnya, dia ini kok nggak ngambek sih waktu tahu kalau ada foto tunangannya bareng Arlin? Dia ini kok memaafkan begitu saja. Kan bakalan seru kalau misalnya Dita marah besar gitu.
Kedua, tentang keluarga Arlin. Di awal, mereka ini berperan sangat penting, tapi rasanya ya cuma sampai di sana. Menjelang akhir, mereka seperti nyaris tenggelam. Bukan hilang ya, tapi nyaris tenggelam.
Ketiga, tentang Edwin. Yah, rasanya agak kurang natural sih alasannya itu.
Meskipun demikian, saya suka banget sama novel ini. Puaaasss banget!! Nggak menyesal akhirnya beli. Padahal, sejak awal terbit, saya sudah tertarik dengan novel ini. Covernya cantik dan judulnya menarik. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa memiliki meski terlambat dua tahun. *nangis haru

Quotes Favorit

Kalau kamu ingin menggerakkan tubuh seseorang, jangan menarik tangannya,
tapi sentuhlah hatinya. –hal. 82

Rating

Cover: 4/5
Tema: 4/5
Karakter: 3.5/5
Gaya bahasa: 4/5
Plot: 3.5/5
Overall: 3.8/5


Tidak ada komentar:

Posting Komentar