Jumat, 27 Oktober 2017

[Review] The Dead Returns



Judul: The Dead Returns
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerjemah: Andry Setiawan
Penyunting: Arumdyah Tyasayu
Penerbit: Haru
Jumlah halaman: 252 halaman


Blurb

Suatu malam, aku didorong jatuh dari tebing. Untungnya aku selamat.
Namun, saat aku membuka mataku dan menatap cermin, aku tidak lagi memandang diriku yang biasa-biasa saja.
Tubuhku berganti sosok dengan pemuda tampan yang tadinya hendak menolongku.
Dengan tubuh baruku, aku bertekad mencari pembunuhku.
Tersangkanya, teman sekelas.
Total 35 orang.
Salah satunya adalah pembunuhku.

Cuplikan Kisah dan Ulasan

The Dead Returns mengisahkan seorang anak SMA, cowok, bernama Koyama Nobuo yang jatuh dari tebing akibat didorong seseorang pada 2 September. Namun, syukurnya dia selamat. Hanya saja, ketika ia bangun, ia dikelilingi oleh dua orang yang tak dikenal tetapi mengaku sebagai orangtuanya. Saat ia becermin, barulah ia sadar kalau ia berada di tubuh orang lain—Takahashi Shinji, orang yang akan menolongnya.
Seperti pada blurb-nya, dengan tubuh Takahashi Shinjilah ia akan mencari tahu pembunuhnya. Untuk mempermudah dalam pencarian pelaku, Koyama pun pindah dari sekolah Takahashi ke sekolahnya. Ia juga berusaha agar bisa ditempatkan di kelasnya. Ia yakin, kalau pembunuhnya adalah teman sekelas, karena sebelum ia pergi ke tebing, ia mendapatkan memo di meja yang menyuruhnya ke sana.
Menjalani hidup dengan tubuh Takahashi tidaklah mudah. Bukan hanya seorang remaja yang disayangi keluarga, Takahashi juga memiliki band dan pacar. Sementara Koyama seorang cowok sederhana yang selama ini dikenal sebagai cowok suram dan selalu diabaikan.

“Sakit tahu, dianggap tidak ada padahal ada.” –hal. 100

Wajahnya biasa saja, kaku, dan selalu menunduk. Ia hanya memiliki satu teman: Yoshio. Mereka sama-sama menyukai hal-hal yang berhubungan dengan kereta. Selain Koyama, ada satu orang lagi yang selalu diabaikan. Dia adalah Maruyama Miho.
Berbeda dengan Koyama, Takahashi memiliki wajah yang menarik. Tidak ada yang berani mengabaikannya. Berkat tubuh Takahashi, ia menjadi akrab dengan Sasaki dan Arai, dua orang popular di sekolah. Bahkan seorang Maruyama yang tidak pernah bicara pun, berani menyapanya.
Di sekolah, Koyama mulai menyelidiki alibi teman-temannya pada tanggal 2 September. Ada banyak yang mencurigakan. Bahkan bukan hanya dari teman-teman sekelas, tetapi juga ibunya sendiri.
*
Ini adalah kali kedua saya membaca novel Akiyoshi Rikako dan lagi-lagi, saya dibuat terkecoh. Tema yang diangkat oleh penulis tampaknya bukan hal yang “baru” (tentang jiwa yang pindah raga), tetapi berhasil dieksekusi dengan sangat baik.
Bukan hanya mengenai misteri siapa pembunuh Koyama, novel ini juga bercerita tentang perisakan (bully). Koyama dirisak oleh teman-temannya. Bukan jenis perisakan dalam bentuk kekerasan, tetapi dalam bentuk mental. Dan menurut saya ini tidak kalah menyakitkan. Apa yang dialami Koyama ini saya yakin tidak jarang dialami oleh orang-orang di sekitar kita.
Sama seperti dalam Girls in The Dark, novel ini mengajak kita untuk menebak siapa pelaku dan alasan di balik semua yang terjadi. Tetapi Akiyoshi Rikako memang sangat hebat dalam membuat twist, saya yang awalnya berpikir, “Ah, pasti si ini! Nah, bener kan? Apa saya bilang?” langsung merasa, “Eh, eh, kok gini??”
Errr paham nggak? Hehe. Kalau kalian baca, pasti paham maksud saya. Kalau nggak paham, yuk segera baca novelnya!
Tentang alur, sebenarnya saya merasa alurnya agak sedikit lambat, tetapi itu bukan masalah besar karena dengan bahasa yang baku dan ringan, novel ini tetap asyik dinikmati. Lagi pula saya jadi lebih fokus menebak siapa pelaku.
Ada hal penting yang saya temukan saat membaca novel ini—hal yang jarang saya peroleh dari novel lain. Novel ini mengajarkan kita untuk tidak menilai seseorang dari fisiknya saja. Kita juga harus belajar untuk menerima orang lain agar bisa diterima. Dan lagi, kita harus belajar untuk peduli terhadap orang lain.  

Quotes

❤ Masing-masing rumah memiliki bau yang berbeda. –hal. 49
❤ Hidup sebagai orang lain itu sangatlah melelahkan. –hal. 53
❤ Hal yang paling menyedihkan adalah saat diabaikan waktu ada kegiatan kelompok. –hal. 98
❤Diabaikan secara tak sadar dan tanpa alasan rasanya lebih menyakitkan daripada diabaikan karena di-bully. –hal. 98
❤ Sakit tahu, dianggap tidak ada padahal ada. –hal. 100

Rating

Cover: 5/5
Tema: 3.5/5
Karakter: 4/5
Gaya bahasa: 3/5
Plot: 3.5/5

Overall: 3.5/5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar