Kamis, 29 Desember 2016

[Review] Seruak


Judul buku: Seruak
Penulis: Vinca Callista
Penerbit: Grasindo
Jumlah halaman: 433 halaman

Blurb
Mau tidak mau, Bonie harus berurusan dengan teman-teman barunya di Desa Angsawengi. Macam-macam pribadi, dari anak yang sangat menyenangkan sampai yang selalu menyebalkan, berinteraksi di rumah yang sama, karena kelompok mahasiswa ini sedang menjalani program Kuliah Kerja Nyata.

Di kelompok anak muda ini hadir Arbil Radeagati—seorang aktor muda yang bermaksud melarikan diri dari tekanan keluarganya, penyakit yang menggerogoti jiwanya. Dan ada pula Mada Giofrasan, sahabat masa kecilnya yang mengetahui Bonie tumbuh dari masa lalu yang gelap dan menjijikkan.

Pada awalnya, hubungan di antara kesebelas pribadi ini hanya seputar program kerja di desa serta perkembangan chemistry yang bercabang jadi persahabatan dan permusuhan. Namun, nyatanya Desa Angsawengi terlalu terkonsep. Ada orang-orang yang sengaja menakut-nakuti mereka, sistem kehidupan di sana lama-lam menjadi mencekam jiwa Bonie dan kawan-kawan. Tidak ada remaja yang tinggal di sana, malah ada kawanan anjing besar yang sering kali muncul bersama anak kecil berkepala botak, ada pula pira misterius yang selalu mengganggu dengan mesin pemotong rumputnya. Anak-anak ini terus diteror oleh penguakan rahasia yang menggiring mereka ke misteri yang nyatanya melibatkan pribadi Bonie.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ini adalah kali pertama saya membaca novel bergenre psychothiler. Jujur, awalnya agak berat bagi saya pribadi, apalagi dengan jumlah halaman yang hampir 500. Sempat pesimis tidak bisa menyelesaikannya. Kalau bukan karena even Baca Bareng di Instagram, mungkin saya akan menunda untuk membaca novel ini.


Untung saja saya tidak menunda. Karena saya pasti akan menyesal. Novel ini menarik. Membuat saya keluar dari zona nyaman namun tetap merasa nyaman.

Dari segi cover, jelas novel ini memiliki aura mistik yang kental. Warna dan ilustrasinya pas—mengerikan.

Saat membuka lembar pertama novel ini, saya menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan berat. Alasannya? Karena saya berhadapan dengan narasi yang begitu banyak dan panjang. Setelah saya lewati halaman demi halaman, perlahan saya mulai merasa asik. Mulai bisa memahami ceritanya meski kesan berat tercipta. Dan juga novel ini sangat khas ilmu psikologinya.

Kebetulan skripsi saya juga membahas Id, ego, dan super ego, jadi lumayan paham. :D (sedikit curcol boleh dong XD)

Siapa saja sebelas anak KKN di Desa Angsawengi?

Mereka adalah mahasiswa dari Universitas Palagon.

Ada Bonie yang introvert. Mada Giofrasan yang bijaksana. Kalima Faye (kekasih Mada) yang seperti seorang detektif. Nafiloka Arbil Radeagati, artis yang ingin ketenangan. Firsta Alula yang kaya raya. Fabyan Sadamelik yang menyenangkan. Jiana Aryon yang supel. Chamae Trileon yang jago masak. India Catur yang katanya memiliki indera keenam. Dwi Dwayanto yang ambisius, dan Natanina yang menarik.

Dari sebelas tokoh yang memiliki karakter kuat itu, saya tertarik pada Fabyan. Dia kocak banget! Memang beneran sih yang karakternya kayak Fabyan gitu bikin orang gampang suka dan sayang. Ya, ya, ya, saingan saya banyak, ada Lula, Jiana, Nina, India, dan mungkin juga kamu. Haha. But I don’t care. XD

Banyak kejadian aneh yang dialami oleh kelompok itu. Mulai dari Nenek Layli yang terkesan menyeramkan, berlanjut pada anjing-anjing yang mengejar, lalu Arbil yang melihat seorang laki-laki dengan pemotong rumput di tangannya. Juga Nenek Golok, yang tampak lemah namun ternyata sangat kuat saat melempar goloknya.

Saya juga tidak menyangka bahwa akan ada nyawa yang hilang di antara mereka. Saya pikir, itu tidak akan terjadi. Tapi benar-benar mengerikan. Dan saya merasa mual saat ada tokoh (di luar anak KKN) yang dengan santainya merekam setiap nyawa yang hilang.

Siapa sangka kejadian demi kejadian itu nyatanya sudah direncanakan?

Penulis menggunakan dua sudut pandang pada novel ini. Sudut pandang orang pertama dengan memakai kata ganti “saya” dan sudut pandang orang ketiga yang menceritakan kesebelas mahasiswa KKN.

Seperti dalam cuplikan berikut:

“Jendela kamar ini tidak ditutup rapat, entah siapa yang terakhir kali ingat untuk menutupnya sebelum tidur, otak saya pun terlalu lelah untuk sekadar mengacuhkan apakah angin malam yang menyeruak lewat jendela akan menyakiti engsel-engsel pinggang dan kaki saya atau tidak. Jadi, setelah tidak berhasil membangunkan Nina, Arbil berguling menghadap ke dinding kamar, lalu sudut matanya tertarik oleh goyangan gorden yang meliuk-liuk pasrah dikontrol semilir angin penyelinap, sampai akhirnya Arbil mendapati gambaran samar sosok manusia yang berdiri di luar jendela kamar.”  (hal. 346)

Saat penulis menggunakan POV pertama, saya terus berpikir, siapa sebenarnya “saya” yang dimaksud penulis—yang membuat kelompok itu mengalami hal buruk? Semula, saya menduga “saya” adalah orang lain. Bukan salah satu dari sebelas mahasiswa KKN. Lambat laun (seperti cuplikan di atas) saya disadarkan bahwa dugaan saya salah.

“Saya” pastilah salah satu dari mereka. Tapi siapa? Sungguh, saya penasaran.

Ada hal-hal yang masih menjadi tanda tanya bagi saya pribadi. Kenapa semua tokoh yang ternyata punya hubungan di masa lalu ini bisa berada dalam kelompok yang sama? Settingan atau kebetulan? Lalu bagaimana kisah Nenek Golok berikutnya? Sayang sekali kalau dihilangkan begitu saja. Dan kejadian tsunami, rasanya agak terkesan dipaksakan.

Sepertinya saya harus baca ulang novel ini untuk menyempurnakan pemahaman tentang hubungan setiap tokoh. Belum tahu kapan, tapi sudah saya niatkan untuk baca ulang. :D

Di balik kelebihan novel ini, kekurangannya hanyalah kebetulan yang menurut saya sangatlah banyak. Bagaimana mungkin orang-orang yang memang memiliki keterkaitan satu sama lain bisa berada dalam satu kelompok? Kalau saja diungkap bahwa ada dalang di balik pembuatan anggota kelompok itu, mungkin bisa lebih masuk akal? (Hihihi, maafkan pembaca yang sok tahu ini.)

Selain karakter dan konflik yang saya sukai, novel ini juga memiliki banyaaak quote keren.
  •  Ketakutan lebih gampang diciptakan daripada kebahagiaan. (hal. 4)
  • Menjadi berbeda itu tidak selalu salah. (hal. 24)
  • Siapa dirimu adalah apa yang temanmu ceritakan tentangmu kepada temannya. (hal. 31)
  • Ada tipe teman yang menyenangkan sejak awal perkenalan. (hal. 32)
  • Katanya mahasiswa, kok percaya takhayul. (hal. 46)
  • Manusia memang berharga, selalu ada yang memiliki harga lebih bagi seseorang. (hal. 104)
  • Sugesti memang luar biasa. Kita pikir bahagia, kita bahagia. Kita pikir kita bisa, kita bisa. Kita pikir kita cinta, kita mencinta. (hal. 130)
  • Perempuan bukanlah mutlak simbol kelemahan. (hal. 143)
  • Orang ketiga dalam komunikasi kerap menjadi pemicu kesalahpahaman. (hal. 282)
  • Rumah, tempat manusia merasa selamat. (hal. 416)
  • Seseorang menyebut orang lain jahat itu karena enggak sejalan sama pemikirannya, padahal dia juga bisa jadi jahat karena bertentangan sama pola pikir orang lain. (hal. 428)


Finally, saya berikan 3,8 bintang dari 5 untuk novel genre thiller pertama yang saya baca dan miliki. ^^

Rabu, 14 Desember 2016

[Review] The Girl on Paper


Judul Buku: The Girl on Paper
Penulis: Guillaume Musso
Penerjemah: Yudith Listriandri
Penerbit: Spring
Tebal: 448 halaman

Blurb

Gadis itu terjatuh dari dalam buku.

Hanya beberapa bulan yang lalu, Tom Boyd adalah seorang penulis miliader yang tinggaldi Los Angeles dan jatuh cinta pada seorang pianis ternama bernama Aurore. Namun, setelah putusnya hubungan mereka yang terekspos secara publik, Tom menutup dirinya, menderita writer's block parah, dan tenggelam dalam alkohol dan obat terlarang.

Suatu malam, seorang gadis asing yang cantik muncul di teras rumah Tom. Dia mengaku sebagai Billie, karakter dalam novelnya, yang terjatuh ke dunia nyata karena kesalahan cetak dalam buku terakhir Tom.

Meskipun cerita itu gila, Tom harus percaya bahwa gadis itu benar-benar Billie. Akhirnya mereka membuat perjanjian. Jika Tom mau menulis novel agar Billie bisa kembali ke dunianya, Billie akan membantu Tom untuk mendapatkan Aurore kembali.

Tidak ada ruginya, kan? Iya, kan?
___________________________

Ini adalah pertama kalinya saya membaca buku terjemahan Prancis. Dan juga, saya belum lama mau membaca novel terjemahan. 'Virus' ini ditularkan oleh salah seorang sahabat dunia maya saya dari Jogja yang sangat menyukai novel-novel terjemahan.

Novel ini memiliki cover yang okeeeeeeeeeeee bangeeeeetttt!!! Sukaaaakkkk!! Dan bookmark-nya juga lucu. Selalu suka sama bookmark Penerbit Spring sih, sebenernya. Selalu oke. Beda dari yang lain. Hehehe.

Semula saya memang bisa dibilang anti dengan novel atau buku terjemahan. Entah ini karena waktu kuliah saya baca novel terjemahan (Arab) dan membingungkan, atau memang hanya karena saya tidak terbiasa. Bagi kalian yang sama seperti saya, masih pemula dalam melahap novel terjemahan, jangan khawatir. Novel The Girl on Paper ini bahasanya sangat ringan, kok.

Bercerita tentang Tom, seorang penulis yang gara-gara patah hati karena ditinggalkan Aurore, seorang pianis, hingga mengalami WB (Writer's Block). Hidup Tom amat sangat berantakan sejak ditinggalkan oleh Aurore. Meski begitu, ia mempunya dua sahabat yang amat menyayanginya--Milo dan Carole.

Suatu hari, Tom dikejutkan oleh kemunculan seorang gadis yang mengaku Billie--tokoh dari buku terakhirnya yang mengalami kesalahan cetak. Dari lima ratus halaman novel Tom, yang tercetak hanya setengahnya. Dan itu terhenti di halaman 266, pada sebuah kalimat yang belum selesai:

Billie menyeka matanya yang menghitam oleh lelehan maskara.
"Kumohon, Jack, jangan pergi seperti ini."
Namun, pemuda itu sudah mengenakan mantelnya. Ia membuka pintu tanpa sekalipun menatap kekasihnya.
"Kumohon," seru gadis itu, jatuh

Meski Tom berusaha untuk tidak percaya, namun Billie berhasil membuktikan bahwa ia memanglah Billie yang ada dalam novel. Karakter yang dibuat Tom dan ingin kembali ke dunianya. Dan hanya Tom yang bisa membantunya dengan cara menulis kembali. Hingga akhirnya mereka melakukan perjalanan panjang dan terciptalah sebuah kesepakatan seperti yang terdapat dalam blurb. Tom mengembalikan Billie ke dunia-nya, dan Billie akan membuat Tom kembali pada Aurore.

Konflik semakin seru saat Billie sakit. Rambutnya mendadak menjadi putih. Ia juga memuntahkan sesuatu yang seperti tinta. Ini membuat Tom panik. Dan saat diperiksa, sesuatu mencengangkan bagi Tom karena disimpulkan oleh Milo bahwa Billie akan kembali menjadi karakter di atas kertas. Dunia fiksi ingin mengambil kembali apa yang menjadi haknya.

Jelas saja Tom panik. Apalagi saat sebuah e-mail mengabarkan bahwa pihak penerbit sudah menghancurkan pada seluruh buku volume kedua Tom yang cacat. Totalnya 99.999. Masih terisa satu buku yang menjadi alasan Billie masih hidup. Itu artinya, mereka harus menemukan buku tersebut. Tom harus membuat kelanjutan ceritanya.

Dan buku itu adalah buku milik Tom. Sayangnya, buku itu sudah dibuang. Yang menarik, buku itu berkenalan ke sana kemari. Setiap kali 'disusul', buku itu sudah berpindah. Bagian ini benar-benar bikin gereget. Asliii. Hahaha.

Penulis menggunakan dua sudut pandang dalam novel ini. Yaitu sudut pandang orang pertama (saat bercerita tentang Tom), dan sudut pandangan orang ketiga (saat bercerita tentang tokoh lain). Mungkin bagi kalian yang belum pernah membaca novel dengan dua sudut pandang, akan sedikit bingung. Tapi jangan tutup buku kalian begitu saja karena saya jamin akan menyesal. XD

Yang membuat saya tercengang adalah bagian ending. Mantaaap. Ngakak sendiri. Makanya, kalian baca dong. Biar kita ngakak sama-sama. :v :v :v
_______________________________________

Quotes Favorit:


  • Hidup tidak seperti yang ada dalam buku (hal. 19-20)
  • Apa kau tahu kenapa dia menulis? -- Apa maksudmu? -- Aku tahu Tom suka membaca, tapi menulis adalah hal lain. (hal. 60)
  • Memang lebih mudah menimpakan kesalahan pada orang lain. (hal. 144)
  • Semua orang harus bertanggungjawab atas kesalahannya. (hal. 193)
  • Rasanya, sulit untuk mempercayai sesuatu yang tak biasa. (hal. 219)
Novel ini sukses bikin saya susah move on. Jadi saya beri 4.5 bintang untuk The Girl on Paper. ^^


Senin, 07 November 2016

"Anakku" ke Luar Negeri

Mbak Kiky Aurora emang baiiik banget.

Hari itu, saya buka Facebook dan lihat statusnya yang mempersilakan enam orang yang ingin karyanya dibawa jalan-jalan ke beberapa negara. Dia menyebutkan negara yang akan dikunjungi, beberapa di antaranya, Istanbul, Jerman, Paris dan Amsterdam. Saya jelas berminat dong. Langsung deh inbox Mbak Kiky dan besoknya, langsung kirim novel saya beserta surat pendek yang isinya harapan agar novel saya dibawa serta jalan-jalan. XD

Sempat bingung awalnya pilih negara mana. Istanbul atau Jerman, ya? Masalahnya, dua negara itu termasuk dalam list yang ingin saya kunjungi (entah kapan, ini hanya cita-cita :D)

Setelah minta saran Mr. TKP, akhirnya saya memilih Istanbul.

Dan inilah fotonya ...




Cantik kaaan fotonya... :D  <3

Daaaaaaaaaannnnnnnnn ......... beberapa hari kemudian saya dapat kiriman lagi. Malam itu saya sedang sedih-sedihnya, ada masalah gitu, deh. Eh ternyata dapat kejutan berupa foto novel saya di Tembok Berlin dan Brandernburg, Jermaaaaannnn.... <3




Gimana nggak happy kalau gini, kan? Alhamdulillaaahhh... Allah Maha Baik. Minta satu, dikasih dua. Pesan ke Istanbul, dikasih bonus Jerman. XD

Seneng banget liat buku saya jalan-jalan. Untuk sementara "anak" dulu deh, yang ke luar negeri. Siapa tau kan, nanti "ibunya" bisa ikut. ^^ Aaamiiin.... ^^

Jumat, 04 November 2016

Lomba Resensi Novel Love, Life, and Choir

Ini adalah cerita saya saat mengikuti lomba resensi novel Love, Life, and Choir yang diadakan oleh penulisnya, Kiky Aurora. :)

Saya mengenal Mbak Kiky lewat foto-fotonya yang diunggah di Facebook dan selalu merasa 'iri'. Kapaaan saya bisa berkunjung ke luar negeri. Hingga akhirnya saya mendapatkan info tentang lomba resensi novel pertamanya dengan hadiah sebagai berikut:

Juara 1: Tiket PP ke Kualalumpur
Juara 2: Biaya pembuatan paspor
Juara 3: Uang tunai/pulsa 100 ribu rupiah

Tanpa banyak pikir, saya langsung beli ke penerbit. Nggak muluk-muluk, target saya adalah juara 2. Saya pengin punya paspor meski entah kapan saya bisa pergunakan. Yang penting punya dulu, begitu mikirnya waktu itu.. XD

Begitu novel saya baca, saya berencana untuk langsung posting resensinya. Tapi begitu melihat resensi peserta lain, saya minder. Beberapa hari hasil resensi saya teronggok begitu saja di laptop, berpikir untuk apa saya ikutan kalau hanya untuk mengecewakan diri sendiri? Mustahil menang.
Tapi pada akhirnya saya kirim juga dengan pemikiran, "Lakukan ini untuk penulisnya. Sebagai bentuk penghargaan untuk penulis."

Hari demi hari berlalu. Saya lupa dengan lomba itu.

Hingga akhirnya, pada 26 September 2016, saya tiba-tiba ingat lomba itu. Masih teringat jelas di benak saya, saat itu pagi hari. Saya sedang bersiap-siap ke sekolah, sambil memakai jilbab.

"Kalau nggak salah pengumuman lomba resensi belum diumumin, deh."

"Eh, udah, jangan mikir apa-apa. Kamu itu kalau inget lomba yang kamu ikutin, pasti kalah. Selalu gitu. Stop. Jangan pikirin lagi. Kamu udah kalah."

Kata-kata itu hanya berasal dari hati. Saya pun melupakan kembali lomba itu.

Siang harinya, saat saya sedang mengetik naskah, laptop tiba-tiba mati. Padahal sudah bagian ending. Dan belum saya save. Jadi, apa yang saya tulis, hilang begitu saja. Saya kesal saat itu. Rasanya ingin menangis. Dan saya pun kembali menulis dengan sisa ingatan yang ada.

Saat akan tidur siang dan saya masih kepikiran naskah itu, tiba-tiba ada notifikasi email. Tercantum bahwa Mbak Kiky menandai saya dalam fotonya.

Ah, ini pasti titipan foto novel di Istanbul, pikir saya saat itu. Tapi bukannya Mbak Kiky baru berangkat Oktober, ya?

Jadi saya pun membuka Facebook (masih dalam posisi tiduran). Coba melihat foto apa yang di-tag. Daaan. ta-daaa ....



Begitu melihat fotonya, saya langsung terduduk. Ya Allah ... ini beneran? Saya baca berkali-kali. Takutnya mimpi. Keempat kalinya baca, saya yakin itu bukan mimpi. Saya malah bolak-balik di rumah, bingung harus gimana saking kagetnya. Saya bahkan nggak bisa komen apa-apa.

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

Alhamdulillah ...

Bisa ke luar negeri adalah salah satu resolusi saya di tahun 2016. Resolusi yang saya buat asal-asalan. Maksudnya, termasuk hal yang mustahil terwujud. Tapi apa sih, yang nggak mungkin bagi Allah? Semua mungkin. Kita tinggal perlu percaya pada mimpi-mimpi kita. Cita-cita kita. Harapan kita.

Mengutip kata-kata A. K. dalam buku Aku Doamu,

"God is always on time." Allah selalu tepat waktu.

Hari ini, 4 November 2016, saya selesai mengurus paspor. Sekarang menabung untuk bekal di sana dan terus berdoa agar dimudahkan. Perjuangan belum selesai. Tidak akan pernah selesai. Kembali berserah kepada-Nya. 


Kamis, 03 November 2016

Review: Love, Life, and Choir

Judul buku: Love, Life, and Choir
Penulis: Kiky Aurora
Penerbit: Stiletto Indie Books

237 halaman

Catatan: Ini postingan lama. Sebelumnya diposting di Facebook. :)

Aku tahu Mbak Kiky Aurora sebagai traveler. Selalu jatuh cinta sama foto-fotonya yang ada di luar negeri. Jadi, waktu tahu Mbak Kiky terbitin buku indie, langsung tertarik. Ditambah lagi ternyata ada lomba bikin review. Sebagai orang yang hobi baca, hadiah yang didapat dari baca buku bukan hal yang utama. Yang paling penting adalah punya bukunya. :D

Awalnya aku pikir novel ini bersetting luar negeri atau kisah yang berhubungan dengan hobi traveling penulisnya, tapi ternyata settingnya di Jogja dan isinya tentang cinta. Ya, okelah, nggak masalah. Toh, Jogja salah satu kota yang aku suka... <3
Langsung masuk ke review ya.

Novel ini memiliki tiga judul cerita. Judul pertama adalah Kali ini Bukan Tentang Ariel. Bercerita tentang Reni yang masih sulit move on dari Ariel, kekasihnya yang sudah tiada. Pertemuan dengan Andro di kampus membuat Reni merasakan sesuatu yang baru. Semakin sering bertemu, Reni semakin sulit mengendalikan perasaannya. Perasaan yang ia ingin simpan hanya untuk Ariel. Sama dengan Reni, Andro pun tertarik dengan gadis itu. Ia bahkan rela datang ke rumah Reni untuk menunjukkan keseriusannya. Namun Reni tetap sulit menerima Andro. Sekeras apa pun usaha Andro, Reni tetap tidak mau mengkhianati Ariel. Apakah Reni akhirnya menerima Andro? Hm, baca sendiri, ya. :D

Judul kedua adalah Akhir Penantian Tara. Dalam judul ini penulis bercerita tentang Tara yang mencoba mendekati Nicko. Karakter mereka bertolak belakang. Tara yang berani menunjukkan perasaan dan Nicko yang pemalu (serius, ini bikin gereget). Karena Nicko tidak juga mengatakan perasaanya, akhirnya Tara menyatakan perasaan lebih dulu. Bagaimana tanggapan Nicko? Baca sendiri juga, ya. Yang pasti ada kejutan menjelang ending!

Judul ketiga adalah Mengejar Cinta Nugie. Bercerita tentang Devi yang jatuh cinta pada Nugie, padahal Nugie lebih muda dari dia. Hubungan mereka dekat, tetapi Nugie tidak ingin menjalin yang lebih jauh dengan Devi. Menurut Devi, ini ada hubungannya dengan Alvin. Hm, siapa Alvin? Yang jelas, Nugie dan Alvin ini membuat Devi menjadi sedih. Setiap kesedihan ada obatnya. Dan obat itu adalah Pram. Laki-laki yang menjadi penghuni kost di belakang rumah yang dikontrak Devi bersama teman-temannya.

Cover
Aku suka pemilihan warna pada cover novel ini. Menarik dan terang. Penuh semangat. Tetapi, aku agak kurang suka sama ilustrasinya. Menurutku kurang meremaja. :)

Tokoh dan Karakter
Aku menyukai karakter-karakter yang dibuat penulis. Kuat dan konsisten. Reni yang galau. Andro yang penuh semangat. Tara yang berani. Nicko yang pemalu. Lalu ada Devi yang terus mengejar Nugie, dan Nugie yang menghindar. Pokoknya semua pas. Ngena banget. Hanya saja, yang aku sayangkan adalah di sini terlalu banyak tokoh pembantu yang (menurutku, sih) sebenarnya kalau beberapa dihilangkan nggak jadi masalah.

Konflik
Setiap judul memiliki konfliknya tersendiri. Konflik dalam novel ini cukup kuat. Yang sedikit mengganggu adalah porsi pembahasan tentang “cinta” yang terlalu banyak. Mungkin ini masalah selera, ya. Aku sendiri lebih suka yang konfliknya beragam. Misanya, ada cinta, persahabatan, keluarga. Di cerita ketiga, Mengejar Cinta Nugie, aku dipuaskan karena penulis membuat konflik antara Devi dengan teman-temannya yang tidak suka Devi pulang malam.

Gaya Bahasa
Gaya bahasa dalam novel ini ringan, tetapi ada beberapa bagian yang bahasanya menjadi baku. Ini cukup mengganggu menurutku karena bahasa baku dan non baku menjadi tercampur.

Contoh bahasa non-baku dalam novel ini:
“Aku mengenal dia, Mbak. Dia baik banget. Udah kayak abangku sendiri. Mbak tahu kan, aku nggak pernah dekat sama abang kandungku. Lagian Mas Alvin itu pinter, pernah ikut pertukaran mahasiswa ke Jepang. Dia pinter bahasa Jepang. Aku juga pengen bisa, pengen tahu Budaya Jepang.” (hal. 164)

Contoh bahasa baku dalam novel ini:
“Aku tak hendak ke mana-mana,” sahut Devi, heran. (hal. 179) “Aku masih berpikir, apakah aku sungguh akan menjadikanmu kekasihku, ataukah tetap sebagai kakakku.” (hal. 180)

Kesimpulan
Secara keseluruhan, aku suka novel ini karena menghibur dan memiliki tema yang beda. Cinta dan paduan suara. Serasa balik ke dunia—eh usia—remaja. Hohoho. Cocok untuk kalian yang sedang falling in love. Untuk yang susah move on, yang jatuh cinta sama orang super dingin, atau malah sama yang anggap kalian cuma kakak.. XD. Aku hanya butuh waktu satu hari untuk menyelesaikannya.

Ah ya, dari ketiga cerita yang ada dalam novel ini, aku lebih suka cerita ketiga. Alasannya, seperti yang sudah dibahas, konfliknya lebih banyak. Malah aku berharap untuk judul ketiga ini dibuat satu novel utuh sama Mbak Kiky. *dilemparkeTurkiii* ^^V

Finally, 3 bintang untuk novel Love, Life, and Choir. Semangat Mbak Kiky, semoga ada kelanjutan kisah Devi sama Pram *tetepmaksa* :v :v


Minggu, 07 Agustus 2016

Review: Malam-Malam Terang



Judul: Malam-Malam Terang
Penulis: Tasniem Fauzia Rais dan Ridho Rahmadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
244 halaman

Hadiah Giveaway via Instagram





Aku dapat novel ini gara-gara menang GA yang diadain di Intagram.
Waktu tahu ternyata penulisnya anak keempat Bapak Amin Rais, aku kaget dan bangga, soalnya keluargaku pengagum beliau. ^^

Waktu baca review novel ini, aku langsung ngerasa, lho, ini gue banget!

Tokoh Tasniem yang pintar tapi ujian akhir malah nggak bisa masuk ke sekolah favorit, terus lanjutin ke luar negeri dan di sana kebingungan karena bahasa terbatas, kangen keluarga, ditambah harus kerja sampingan supaya bisa pulang ke Indonesia. Semua itu gue banget meski aku sendiri nggak ngalamin semuanya. :v

Maksudnya, dulu, nilai ujian akhir aku pun jelek.

Sedikit curhat, dulu bergitu lulus SD, aku sekolah di pesantren. Di sana, harusnya aku lanjutin sampai tamat SMA, tapi karena NEM-ku anjlok waktu SMP, aku pindah sekolah. Malu. Kalau Tasniem ke luar negeri, aku sih masih di dalam negeri, hehe.

Di SMA, nilaiku mulai membaik. Lanjut kuliah di dalam negeri. Alhamdulillah sekarang udah selesai. Aku pengin banget bisa lanjutin kuliah di luar negeri, tapi terkendala bahasa. Jujur, bahasa Inggrisku jelek banget. Ditambah lagi aku nggak biasa jauh dari rumah. Bayangan tentang aku yang ada di luar negeri, seolah tergambar lewat cerita Tasniem.

Sekarang, yuk, kita kupas tentang buku ini.

Di atas udah digambarkan sedikit ya, tentang isi buku ini. Aku nggak akan bahasa ceritanya detail karena nanti malah spoiler. :v

Aku nggak tahu ini bisa disebut novel atau autobiografi. Kayaknya sih autobiografi, karena ini rasanya kisah nyata Tasniem. Terlihat dari banyak narasi yang dituliskan di sini dan sedikit dialog. Apakah ada unsur fiksinya atau nggak, aku nggak tahu.

Nggak ada buku yang sempurna. Akan selalu ada kelebihan dan kekurangan.

Buatku, kelebihan buku ini karena bisa memberikan motivasi kepada pembaca yang ingin berhasil. Amanatnya amat sangat kuat, agar kita nggak diam saja kalau mau berhasil. Selalu ada usaha sebelum kita sampai di puncak.

Karena aku menganggap buku ini adalah autobiografi, aku nggak akan bahas tentang unsur intrinstiknya terlalu banyak.

Buku ini memakai sudut pandang orang pertama. Memang, rata-rata penulis yang pakai POV pertama akan lebih banyak bercerita tentang dirinya, itu sudah pasti. Tapi untuk pembaca yang lebih suka banyak dialog sepertiku, membaca narasi berlembar-lembar rasanya lelah.

Penulis lebih banyak telling daripada showing. Ada bagian-bagian yang menurutku akan lebih ‘terasa’ dengan cara showing. Seperti ketika Tasniem menjelaskan watak sahabat-sahabatnya, bangunan sekolahnya, itu semua dijabarkan dalam narasi. Akan lebih baik jika pembaca tidak ‘tahu segalanya’ di awal.

Aku juga menyayangkan tidak adanya footnote padahal ada bahasa asing (bahasa Jawa dan Inggris) dalam buku ini. Di awal-awal,  Tasniem, menjelaskan kembali arti bahasa asing itu dalam paragraf. Rasanya, lebih enak jika diberi footnote saja.

“40 taon kepungkur deweke pindah menyang Singapura karo bojone, Nduk. Saiki wes dadi wong kono.” 40 tahun sudah sahabatnya itu pindah ke Singapura bersama suaminya. (hal. 22)

Nah, kalau terjemahannya dibuat footnote, akan lebih enak dibaca, sepertinya.

Penulis juga menulis beberapa pengulangan cerita yang menurut aku sih nggak begitu diperlukan. Seperti pada halaman 74, saat Tasniem mengingat kembali misteri Mr. Fawson, pada halaman 82 saat Tasniem teringat bagaimana ia bisa sampai ke Singapura, dan pada halaman 197 tentang perbedaan keyakinan antara Tasniem dan ketiga sahabatnya.

Dalam beberapa bagian juga ada paragraf yang terlalu panjang. Aku pernah dikasih saran oleh seorang penulis, katanya usahakan menulis satu paragraf nggak lebih dari 6 baris. Seorang editor juga mengatakan, paragraf yang terlalu panjang akan membuat pembaca menjadi lelah.

Oh ya, bagian yang paling aku suka dari buku ini adalah kisah Tasniem lulus ujian dengan nilai terbaik. Waktu Tasniem di wisuda, rasanya ikut deg-degan. Juga saat Tasniem ketemu sama Ridho. Aaah, sweet banget. Malah pengen ada lanjutan kisah Tasniem dan Ridho, hehehe.

Buku ini juga memuat banyak quote keren.

“... Dan yang namanya memulai, bagi siapa saja, tidaklah mudah.” (hal. 34)

“... jangan takut karena benar. Angkat dagumu, katakan pada dunia bahwa kamu benar, kalau tidak orang jahat akan senang menunjukkan bahwa kamu salah.” (hal. 51)

“Jangan takut gagal, kecuali kalau kamu takut sukses.” (hal. 66)


Meskipun ada beberapa hal yang bikin aku lelah bacanya (ini urusan selera kok), aku rekomen banget buku ini untuk kalian yang pengin dapat motivasi. Serius.

Finally ... 3,5 bintang untuk Malam-Malam Terang. ^^

Selasa, 19 April 2016

Review: Love in Edinburgh

Judul : Love in Edinburgh
Penulis : Indah Hanaco
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
232 halaman

Hadiah Giveaway via Instagram





Blurb

Katya adalah karyawati toko kue di Edinburgh yang aktif sebagai relawan di beberapa badan amal.sementara Sebastian adalah pemilik perusahaan parfum yang sedang menyiapkan masa depan bersama kekasihnya.

Lewat sebuah reality show berjudul Underground Magnate, keduanya bertemu. Sejak awal, mereka punya banyak perbedaan. Katya, muslimah yang menemukan Tuhan justru saat berada jauh dari kota kelahirannya, Jakarta. Sebastian, pria Yahudi yang cenderung menjadi islamophobia usai ibunya menjadi salah satu korban runtuhnya gedung WTC. Namun, ada terlalu banyak hal tak terduga yang terjadi. Reaksi kimia di antara mereka terlalu kuat untuk diabaikan.

Ketika akhirnya Katya dan Sebastian punya kans untuk bersama, dosa masa lalu menghantui keduanya, menuntut penyelesaian. Bisakah cinta membuat mereka tetap bertahan?

----------

Katya sering mendapatkan kekerasan dari Frans. Selama berbulan-bulan ia berusaha menutupi semuanya karena cinta. Namun semakin sering ia mendapat perlakuan kasar, ia semakin tidak kuat. Ia sempat mengadu pada kakak dan kedua orangtuanya, tetapi mereka tidak percaya. Saat Katya masuk rumah sakit karena ulah Frans, ia berusaha menjelaskan semuanya pada keluarga, tetapi Frans tiba-tiba saja muncul dan berubah sikap menjadi sangat baik. Katya menjadi ketakutan dan pada akhirnya memilih untuk pergi. Ia awalnya memilih tempat sepupunya tinggal di London, tetapi rasa takut Frans akan mengejarnya sampai ke sana membuat Katya memilih Edinburgh.

Dalam perjalanan menuju Edinburgh, ia bertemu dengan Evelyn Anderson di pesawat. Evelyn adalah pemilik toko kue Sister Eve yang kemudian memperkenalkan Katya dengan banyak kegiatan amal. Evelyn membawa Katya menemui Dave Archer, pastornya, yang terbiasa menampung pengungsi dari Timur Tengah. Katya pun tinggal di salah satu kamar kompleks gereja sebelum akhirnya menyewa flat.

Katya cukup aktif di kegiatan amal, yang kemudian mempertemukannya dengan Sebastian. Pada saat itu, Sebastian mengikuti reality show untuk mencari lembaga yang tepat diberi donasi. Ia tertarik dengan reality show itu karena hubungannya dengan Bridget, tunangannya, sedang kacau, dan membutuhkan sesuatu yang bisa menjernihkan pikirannya.

Pada awal pertemuan mereka—Katya dengan Sebastian—hubungan mereka cukup baik. Sebastian ramah dan Katya menyenangkan. Namun ketika kemudian Sebastian melihat Katya shalat, ia menjadi berubah sinis. Ia membenci orang Islam sejak ibunya menjadi korban runtuhnya gedung WTC. Ia menjadi islamophobia. Namun ia tidak berlama-lama bersikap sinis pada Katya, karena ada suatu kejadian yang membuatnya sadar bahwa apa yang dirasakannya selama ini pada orang Islam adalah hal yang tidak adil. Hubungan mereka pun menjadi dekat.

Di sini, orang tidak dinilai berdasarkan agama atau asalnya. Melainkan dari apa yang dilakukan orang itu. (hal. 57)

Kau tidak boleh menilai seseorang karena hal-hal yang tidak bisa mereka ubah. Apa kau mau dinilai berdasarkan warna kulit dan kebangsaanmu? (hal. 58)

Kami tidak menoleransi segala bentuk kebencian. Di sini, kami mengajarkan untuk mengasihi orang lain tanpa syarat. (hal. 58)

Beramal akan menyeimbangkan hidup seseorang (hal. 50)

Orang yang takut pada murka Tuhan, yang menjalani agamanya sebaik yang dia mampu, takkan sanggup menjahati orang lain (hal. 89)

Setelah acara reality show selesai, Sebastian kembali ke London, akan tetapi hubungannya dengan Bridget justru semakin kacau. Perempuan itu terus menunda pernikahan karena mengejar karir, sementara Sebastian ingin segera menikah. Karena tidak menemukan solusi, mereka memutuskan untuk berpisah.

Ketika sedang patah hati, tiba-tiba Sebastian mendapatkan kabar bahwa Katya terluka. Tanpa banyak pikir ia segera terbang ke Edinburgh untuk memeriksa kondisi temannya itu. Kedatangannya membuat Katya terkejut sekaligus terharu. Di sinilah Sebastian mulai merasa bahwa ia memiliki perasaan khusus pada Katya.

Sebastian yang memiliki urusan dengan distributor prafum di Indonesia, mengajak Katya untuk ikut. Awalnya Katya ragu, namun kemudian ia memutuskan untuk menghadapi ketakutannya. Mereka pun terbang ke Indonesia. Namun hal yang mengejutkan terjadi. Frans datang menjemput Katya.

----------

Ini adalah buku Indah Hanaco yang keenam yang saya miliki. Sejak pertama kali membaca karyanya beberapa tahun lalu, Cinta Tanpa Jeda, saya langsung jatuh cinta pada tulisannya. Sejak saat itu juga saya berambisi untuk memiliki seluruh karyanya.

Love in Edinburgh termasuk novel yang unik. Bercerita tentang kisah cinta namun ada nilai-nilai islami di dalamnya. Ini kali pertama saya membaca tulisah Indah Hanaco yang ada unsur religi (meski sebenarnya penulis sudah menerbitkan beberapa novel Islami) dan saya suka bagaimana penulis menyisipkan nilai-nilai itu di dalam novel romance. Tidak terkesan mendikte, justru tanpa sadar membuat pembaca merenung. Keren.

Saya suka penulis mengangkat hal-hal yang ada menurut saya masih jarang diangkat sebagai tema, yaitu kegiatan amal. Beberapa kegiatan yang dilakukan Katya membuat saya ingin ikut menjadi relawan. Membuat saya tergerak untuk menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongan, selama saya mampu. 

Tidak seperti novelnya yang lain, di mana saya tergila-gila dengan tokoh laki-laki, di sini saya justru amat sangat kagum pada tokoh Katya. Saya merasakan perjuangan yang luar biasa yang ditempuh Katya untuk hidup sebagai minoritas. Saya juga benci amat sangat pada Frans. Meski bagian Frans hanya sedikit, tetapi sangat menegangkan.

Sayangnya, saya merasa hubungan Katya dengan Sebastian kurang "menggigit". Kalau saja lebih digali lebih dalam mengenai kedekatan mereka, saya rasa novel ini akan sempurna. Dan lagi, saya menemukan beberapa typo dalam novel ini. Tidak banyak, namun cukup menganggu. Tetapi saya rasa itu adalah bagian proofreader. :D


3,5 bintang untuk perjuangan Katya di Edinburgh :)