Selasa, 19 April 2016

Review: Love in Edinburgh

Judul : Love in Edinburgh
Penulis : Indah Hanaco
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
232 halaman

Hadiah Giveaway via Instagram





Blurb

Katya adalah karyawati toko kue di Edinburgh yang aktif sebagai relawan di beberapa badan amal.sementara Sebastian adalah pemilik perusahaan parfum yang sedang menyiapkan masa depan bersama kekasihnya.

Lewat sebuah reality show berjudul Underground Magnate, keduanya bertemu. Sejak awal, mereka punya banyak perbedaan. Katya, muslimah yang menemukan Tuhan justru saat berada jauh dari kota kelahirannya, Jakarta. Sebastian, pria Yahudi yang cenderung menjadi islamophobia usai ibunya menjadi salah satu korban runtuhnya gedung WTC. Namun, ada terlalu banyak hal tak terduga yang terjadi. Reaksi kimia di antara mereka terlalu kuat untuk diabaikan.

Ketika akhirnya Katya dan Sebastian punya kans untuk bersama, dosa masa lalu menghantui keduanya, menuntut penyelesaian. Bisakah cinta membuat mereka tetap bertahan?

----------

Katya sering mendapatkan kekerasan dari Frans. Selama berbulan-bulan ia berusaha menutupi semuanya karena cinta. Namun semakin sering ia mendapat perlakuan kasar, ia semakin tidak kuat. Ia sempat mengadu pada kakak dan kedua orangtuanya, tetapi mereka tidak percaya. Saat Katya masuk rumah sakit karena ulah Frans, ia berusaha menjelaskan semuanya pada keluarga, tetapi Frans tiba-tiba saja muncul dan berubah sikap menjadi sangat baik. Katya menjadi ketakutan dan pada akhirnya memilih untuk pergi. Ia awalnya memilih tempat sepupunya tinggal di London, tetapi rasa takut Frans akan mengejarnya sampai ke sana membuat Katya memilih Edinburgh.

Dalam perjalanan menuju Edinburgh, ia bertemu dengan Evelyn Anderson di pesawat. Evelyn adalah pemilik toko kue Sister Eve yang kemudian memperkenalkan Katya dengan banyak kegiatan amal. Evelyn membawa Katya menemui Dave Archer, pastornya, yang terbiasa menampung pengungsi dari Timur Tengah. Katya pun tinggal di salah satu kamar kompleks gereja sebelum akhirnya menyewa flat.

Katya cukup aktif di kegiatan amal, yang kemudian mempertemukannya dengan Sebastian. Pada saat itu, Sebastian mengikuti reality show untuk mencari lembaga yang tepat diberi donasi. Ia tertarik dengan reality show itu karena hubungannya dengan Bridget, tunangannya, sedang kacau, dan membutuhkan sesuatu yang bisa menjernihkan pikirannya.

Pada awal pertemuan mereka—Katya dengan Sebastian—hubungan mereka cukup baik. Sebastian ramah dan Katya menyenangkan. Namun ketika kemudian Sebastian melihat Katya shalat, ia menjadi berubah sinis. Ia membenci orang Islam sejak ibunya menjadi korban runtuhnya gedung WTC. Ia menjadi islamophobia. Namun ia tidak berlama-lama bersikap sinis pada Katya, karena ada suatu kejadian yang membuatnya sadar bahwa apa yang dirasakannya selama ini pada orang Islam adalah hal yang tidak adil. Hubungan mereka pun menjadi dekat.

Di sini, orang tidak dinilai berdasarkan agama atau asalnya. Melainkan dari apa yang dilakukan orang itu. (hal. 57)

Kau tidak boleh menilai seseorang karena hal-hal yang tidak bisa mereka ubah. Apa kau mau dinilai berdasarkan warna kulit dan kebangsaanmu? (hal. 58)

Kami tidak menoleransi segala bentuk kebencian. Di sini, kami mengajarkan untuk mengasihi orang lain tanpa syarat. (hal. 58)

Beramal akan menyeimbangkan hidup seseorang (hal. 50)

Orang yang takut pada murka Tuhan, yang menjalani agamanya sebaik yang dia mampu, takkan sanggup menjahati orang lain (hal. 89)

Setelah acara reality show selesai, Sebastian kembali ke London, akan tetapi hubungannya dengan Bridget justru semakin kacau. Perempuan itu terus menunda pernikahan karena mengejar karir, sementara Sebastian ingin segera menikah. Karena tidak menemukan solusi, mereka memutuskan untuk berpisah.

Ketika sedang patah hati, tiba-tiba Sebastian mendapatkan kabar bahwa Katya terluka. Tanpa banyak pikir ia segera terbang ke Edinburgh untuk memeriksa kondisi temannya itu. Kedatangannya membuat Katya terkejut sekaligus terharu. Di sinilah Sebastian mulai merasa bahwa ia memiliki perasaan khusus pada Katya.

Sebastian yang memiliki urusan dengan distributor prafum di Indonesia, mengajak Katya untuk ikut. Awalnya Katya ragu, namun kemudian ia memutuskan untuk menghadapi ketakutannya. Mereka pun terbang ke Indonesia. Namun hal yang mengejutkan terjadi. Frans datang menjemput Katya.

----------

Ini adalah buku Indah Hanaco yang keenam yang saya miliki. Sejak pertama kali membaca karyanya beberapa tahun lalu, Cinta Tanpa Jeda, saya langsung jatuh cinta pada tulisannya. Sejak saat itu juga saya berambisi untuk memiliki seluruh karyanya.

Love in Edinburgh termasuk novel yang unik. Bercerita tentang kisah cinta namun ada nilai-nilai islami di dalamnya. Ini kali pertama saya membaca tulisah Indah Hanaco yang ada unsur religi (meski sebenarnya penulis sudah menerbitkan beberapa novel Islami) dan saya suka bagaimana penulis menyisipkan nilai-nilai itu di dalam novel romance. Tidak terkesan mendikte, justru tanpa sadar membuat pembaca merenung. Keren.

Saya suka penulis mengangkat hal-hal yang ada menurut saya masih jarang diangkat sebagai tema, yaitu kegiatan amal. Beberapa kegiatan yang dilakukan Katya membuat saya ingin ikut menjadi relawan. Membuat saya tergerak untuk menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongan, selama saya mampu. 

Tidak seperti novelnya yang lain, di mana saya tergila-gila dengan tokoh laki-laki, di sini saya justru amat sangat kagum pada tokoh Katya. Saya merasakan perjuangan yang luar biasa yang ditempuh Katya untuk hidup sebagai minoritas. Saya juga benci amat sangat pada Frans. Meski bagian Frans hanya sedikit, tetapi sangat menegangkan.

Sayangnya, saya merasa hubungan Katya dengan Sebastian kurang "menggigit". Kalau saja lebih digali lebih dalam mengenai kedekatan mereka, saya rasa novel ini akan sempurna. Dan lagi, saya menemukan beberapa typo dalam novel ini. Tidak banyak, namun cukup menganggu. Tetapi saya rasa itu adalah bagian proofreader. :D


3,5 bintang untuk perjuangan Katya di Edinburgh :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar