Sabtu, 24 Februari 2018

[Review] Sepertiga Malam di Manhattan



Judul: Sepertiga Malam di Manhattan
Penulis: Arumi E
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 276 halaman

Blurb

Empat tahun sudah Brad Smith dan Dara Paramitha berumah tangga. Walau buah hati belum hadir dan Brad sering bertugas jauh selama berhari-hari, keharmonisan rumah tangga mereka tetap terjaga. Namun pada suatu hari, perkenalan Brad yang berprofesi sebagai pianis musik klasik dengan seorang gadis pemain harpa asal Belanda keturunan Jawa, mengubah segalanya.

Bagi Brad, konser di Wina—Austria itu tak beda dengan konser musik klasik lain. Tak demikian bagi Vienna van Arkel. Pertemuan dengan Brad membuatnya terpikat. Gadis itu nekat menyusul Brad ke New York agar dapat bergabung dalam orkestra yang sama.

Pada suatu kesempatan, Dara memergoki Brad duduk berdua dengan Vienna. Seberapa keras Brad meyakinkan bahwa Vienna hanya rekan musiknya, Dara tak bisa langsung percaya. Apalagi Vienna secara terang-terangan mengaku jatuh cinta pada suami Dara itu.

Tak dinyana, cobaan lain hadir. Kegelisahan Dara karena belum juga hamil membawanya pada satu kenyataan pahit yang bisa memengaruhi masa depannya bersama Brad. Keraguan pun melanda: sanggupkah Brad tetap setia dan tidak tergoda tawaran Vienna?

Di sepertiga malam, doa-doa panjang Dara lantunkan; akankah Dia berkenan mengabulkan?


Kilasan Kisah dan Ulasan

Rumah tangga yang langgeng itu nggak terjadi begitu saja. Itu butuh usaha keras. Salah satunya, butuh pasangan yang saling jatuh cinta berkali-kali dengan orang yang sama. orang yang sejak awal sudah membuatnya mengucapkan sumpah setia. –hal. 52

Novel ini adalah kelanjutan dari novel Hatiku Memilihmu yang sebelumnya sudah pernah saya review di sini.

Sepertiga Malam di Manhattan berkisah tentang kehidupan Dara dan Brad setelah empat tahun menikah, namun belum dikaruniai anak. Di Manhattan, Dara bekerja sebagai pengajar di Sekolah Matahari, sedangkan Brad tetap menjadi pianis. Karier Brad semakin baik dan dia pun sering konser di berbagai tempat sampai tidak jarang meninggalkan Dara selama beberapa waktu.

Dalam sebuah konser di Wina, Brad bertemu dengan Vienna, pemain harpa asal Belanda, tapi darah Indonesia mengalir di tubuhnya. Vienna sangat tertarik pada Brad. Bahkan, meskipun dia tahu Brad sudah menikah, dia tidak menyerah. Perjuangannya ini dibuktikan dengan kedatangannya ke Manhattan untuk bisa bergabung dengan orkestra yang sama dengan Brad.

Sampai suatu hari, Dara memergoki mereka berdua. Dara tentu saja marah besar, tetapi Vienna sama sekali tidak merasa bersalah. Vienna memang keras kepala. Dia bahkan dengan terang-terangan mengakui perasaannya terhadap Brad kepada Dara.

Kalau dilihat dari sisi tema, tentu sudah banyak novel yang bertema seperti ini, di mana pernikahan dua orang yang saling mencintai diganggu pihak ketiga. Namun, saya merasa novel ini dieksekusi dengan cukup baik oleh Mbak Arumi.

Gaya bahasanya mengalir dan ringan, jadi tidak sulit diikuti. Bab-nya cenderung pendek-pendek, dan yah saya suka itu. Ditambah lagi, ada banyak quotes di dalamnya.

Konfliknya lebih kompleks dari novel-novel sebelumnya, dan karakter tokohnya konsisten. Yah, secara kan ini sequel, dan jarak terbitnya cukup lama. Jadi, ketika saya merasakan kekonsistenan itu, saya merasa kagum. Apalagi ada Vienna, tokoh baru dengan karakternya yang keras.

Ini bukan kali pertama saya membaca karya Mbak Arumi dan lagi-lagi saya dibuat jatuh suka dengan unsur religi yang dimasukkan ke dalam tulisannya. Meski sekilas tampaknya novel ini romance biasa, tetapi sebenarnya ada nilai-nilai Islami yang dimuat dan tidak terkesan menggurui.

Hanya saja, saya agak terganggu di beberapa bagian. Pertama, pengulangan narasi di bab-bab awal. Sayangnya, lupa saya tandai halamannya. L

Lalu, porsi Vienna saya rasa kurang banyak. Kemunculannya di Indonesia juga menurut saya kurang natural. Tapi, di luar semua itu saya sangat suka novel ini. Malah, kalau membandingkan dengan karya Mbak Arumi yang sebelum-sebelumnya sudah saya baca, saya lebih suka iniii.

Allah yang paling tahu saat terbaik untuk hamba-Nya. Yang perlu kita lakukan hanya bersabar dan tetap percaya. –hal. 274


Rating

Cover: 4/5
Tema: 3.5/5
Gaya bahasa: 4/5
Konflik: 4/5
Plot: 3.5/5
Overall: 3.7/5



Tidak ada komentar:

Posting Komentar