Rabu, 24 Januari 2018

[Review] Aldebaran


Judul: Aldebaran
Penulis: Malashantii
Penyunting: Tri Prasetyo
Penerbit: Gradien Mediatama
Jumlah Halaman: 296 halaman

Blurb
“Lo enggak cape, hidup seperti ini terus?”
“Hidup seperti apa?”
“Gonta-ganti perempuan enggak jelas.”
“Lo sendiri kapan, bisa menahan diri untuk enggak terlalu cepat jatuh cinta, jadi enggak perlu selalu ngerepoti gue tiap kali lo patah hati.”

Bagi Aldebaran, Siera adalah gadis yang walaupun baik hati dan jago masak, tapi berdada rata, dan tak pernah becus memilih lelaki untuk dikencani.
Kebersamaan mereka telah teruji setelah melewati beragam suka-duka dan kehilangan yang meremukkan. Aldebaran nyaris siap melakukan segala hal untuk Siera. Kecuali, saat Siera meminta hatinya.

Sekilas Kisah dan Ulasan

Novel Aldebaran berkisah tentang sepasang sahabat, Al dan Siera, yang disibukkan dengan kisah cinta masing-masing. Ada Al yang bernama lengkap Faraz Aldebaran, yang sering gonta-ganti pacar, dan juga Siera, cewek yang gampang sekali jatuh cinta.
Kisah dimulai ketika Al lagi-lagi mendapati Siera salah memilih lelaki. Berulang kali dia memperingatkan sahabatnya itu, tapi selalu tidak digubris. Seira sendiri tipe cewek yang meyakini kalau obat patah hati adalah hati yang baru. Jadi, untuk menyembuhkan lukanya, dia buru-buru mencari target lain. Seperti saat dekat dengan Ben, ternyata cowok itu malah belum bisa melupakan mantan tunangannya. Seira pun langsung dekat dengan seorang dokter yang justru melecehkannya—hal yang membuat Seira langsung trauma. Saat inilah Seira mulai bisa berpikir jernih.
Seira mulai menjaga hatinya agar tidak terburu-buru jatuh cinta. Tapi kemudian, dia menyadari kalau selama ini Al ada di sisinya dan debaran aneh itu mulai terasa. Seira jatuh cinta pada Al. Tapi Al benar-benar hanya menganggap cewek itu sahabatnya. Seira pun menjaga jarak dengan cowok itu, menjauhi lebih tepatnya.
Reffi pun muncul. Dia adalah sahabat Al yang baik, setia, dan mudah membuat orang lain nyaman. Bermula dari pertemuan tak sengaja, Reffi dan Seira menjadi dekat. Di sini, barulah Al merasa tersaingi dan tidak ingin mereka bersama.

Ini adalah kali pertama saya membaca tulisan Kak Mala. Sejak melihat cover novel ini saya sudah jatuh suka. Warnanya putih dan ungu. Cantik sekali.
Novel ini diceritakan dengan menggunakan POV tiga serba tahu, jadi pembaca dengan mudah bisa mengetahui apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh semua tokohnya, baik itu Seira, Al, Reffi, bahkan para tokoh pendukung.
Dengan bahasa yang ringan dan bab yang pendek-pendek, saya cukup menikmati novel ini. Alurnya maju-mundur, tapi tidak membuat pembaca bingung, kok. Kadang ada kan, novel yang membuat kita bingung ini settingnya kapan.
Hanya saja, saya sedikit merasa kurang nyaman dengan beberapa bagian yang memuat narasi sangat panjang, sampai 4 halaman. Ada juga yang dialognya terlalu singkat (tak-tok, saya menyebutnya). Jadi tidak ada penjelasan gitu. Misalnya, pada halaman 56:
"Ra... kalau aku enggak ada, kamu harus tetap seperti ini."
"Seperti apa?"
"Tetap ceria dan bahagia."
"Memangnya kamu enggak ada, mau ke mana?"
"Enggak ke mana-mana."

Atau pada halaman 226:
"..."
"Tapi, kalau lo berubah pikiran..."
"Al..."
"Oke, oke, sory..."
"..."
"Jangan nangis lagi kalau gitu."
"Tapi, lo datang kan besok?"
"Iya, gue pasti datang."
"Janji?"
"Janji."

Entahlah, saya merasa diperlukan beberapa penjelasan di sana.
Karakter Seira yang cengeng, Al yang cuek dan playboy, lalu Reffi yang loveable cukup kuat, tetapi entah kenapa chemistry Seira dan Al saya rasa kurang dapet. Dibanding Al, Reffi lebih terasa real. Begitu juga saat Seira menyadari perasaannya untuk Al, saya rasa sih agak terlalu cepat. Dan tentang judul, entah kenapa rasanya agak kurang pas sih karena ceritanya lebih ke Seira, hehehe. Oh ya, ada juga yang sedikit mengganjal, yaitu di bagian kalimat yang diucapkan dalam hati. Di novel ini, kalimat tersebut menggunakan kutip, lalu italic. Setahu saya sih semestinya hanya italic saja. 
Meski tidak istimewa, saya menyukai novel ini karena ada Reffi di dalamnya. :D
Dan untuk kalian yang mau membaca novel ini, saya sarankan kalian berumur 17 tahun ke atas. Tidak ada adegan yang aneh-aneh sih, tapi ada beberapa dialog yang agak menjurus, hehehe.

Quotes Favorit
Ada beberapa quotes favorit saya dalam novel ini, di antaranya:

Laki-laki sejati enggak ingkar dari janji yang sudah dia buat sendiri. –hal. 115

Perasaan manusia adalah hal yang paling tidak bisa dipastikan ketetapannya di dunia ini. –hal. 213

Memang tak pernah ada yang mudah jika sudah berkaitan dengan perasaan. Apalagi melupakan. –hal. 235

Rating
Cover: 4/5
Tema: 3/5
Karakter: 3/5
Konflik: 3/5
Plot: 3/5
Overall: 3.2/5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar